
"Ayah.. jangan lupa nanti jemput Bunda ya.." ucap Bunda Fatimah sembari memasukkan berkas-berkas penting yang akan di bawa Ayah Ali ke kantor ke dalam tas kerjanya.
"Bunda telpon saja, biar nanti Ayah langsung datang"
"Begitu pun jadi. Baiklah nanti Bunda telfon"
"Iya. Ayah harus segera berangkat. Bun.. Ayah pergi, jaga diri baik-baik" ujar Ayah Ali berpamitan kepada Ayah Ali
"Iya.. Ayah juga hati-hati.."
Setelah Ayah Ali berangkat, Bunda Fatimah dengan terburu pergi ke kamar untuk mengecek list semua keperluan untuk acara nanti.
Dring...dring.... Telpon masuk
"Ya.. Assalamu'alaikum"
" Wa'alaikumussalam. Dengan Ibu Fatimah?"
"Iya benar ini saya"
"Em.. begini Bu, kami sudah mengkonfirmasi pesanan Ibu. Kira-kira apakah semua sample yang kami kirimkan sudah cocok Bu?"
"Em.. sudah Bu. Tapi saya request dekor yang tidak terlalu ramai tapi elegan dan islami ya Bu"
"Oh.. begitu. Baik Ibu, itu bisa di sesuaikan. Ada lagi bu?"
"Dan untuk cendramata nya, saya minta yang pas untuk anak-anak juga ya Bu. Sekitar 200 pcs. Sepertinya sudah semua, itu saja Bu"
"Baik Ibu.. semua pesanan ibu sudah kami catat dan akan kami siapkan segera ya Bu."
"Baik Bu. Terimakasih sebelumnya. Untuk pembayaran nanti Suami saya yang urus ya langsung ke sana"
"Baik Ibu, untuk masalah itu bisa di selesaikan setelah acara, baik Ibu itu saja. Kami akan mempersiapkan seluruhnya secepatnya"
"Terima kasih ya..Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Tit..telpon terputus.
Bunda Fatimah mencentang seluruh perlengkapan kebutuhan yang sudah ready. Kini Bunda Fatimah tinggal mempersiapkan untuk masalah catering.
Sesuai dengan jam yang di rencanakan Bunda Fatimah, Ayah Ali di telpon untuk segera menjemput Bunda Fatimah di rumah. Mereka akan janjian dengan Azzam dan Helwa untuk membeli hadiahnya.
Dengan antusias semua orang mempersiapkan kejutan untuk Zahra dalam rangka kepulangan Zahra setelah tamatannya dari pondok dan bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
__ADS_1
Mereka bangga dengan Zahra yang dulu sangat anti pondok kini bisa menyelesaikannya tanpa paksaan. Bagaimana pun juga dulu semua orang kalah telak dengan jawaban Zahra yang keras kepala tidak ingin mondok. Dan sekarang sudah banyak perubahan Zahra ke arah yang positif setelah ia belajar di pesantren.
Bukan mereka saja, Zahwa dan juga Akhtar tengah berbelanja untuk memberikan Zahra hadiah. Segala yang Zahra inginkan mereka beli khusus di hari spesialnya.
Di usia kandungan Zahwa yang kini enam bulan, membuat ia sering merasa cepat lelah dan merasa kesusahan dalam melakukan apapun. Untuk jalan saja, kakinya terasa sangat cepat kram, dan kini kakinya dan sebagian dari tubuhnya membengkak seiring bertambahnya usia kandungannya.
Seperti saat ini, mereka tengah makan di sebuah restoran cepat saji. Mereka berakhir disini di karenakan Zahwa yang kelelahan juga Zahwa lapar, sebab mulutnya yang selalu ingin mengunyah makanan.
Setelah ia selesai makan, ia mengeluarkan secarik kertas yang berisi hadiah yang ingin ia berikan kepada Zahra sang adik tersayang.
Berkeliling selama setengah hari sudah cukup bagi Zahwa mendapat apa yang ia inginkan. Ia membeli banyak sekali barang untuk Zahra.
Zahwa membelikan sejadah, mukena, tote bag, abaya, kacamata, topi, jacket, pakaian atasan juga bawahan, buku diary, sepatu, berbagai jenis hijab, aksesories, tas, alat tulis yang unik menurut Zahwa, kaligrafi bertuliskan nama Zahra, karpet, celak, hena, make up dan yang terakhir ia membelikan sepuluh box Turkish Delight untuk Zahra dan seluruh keluarga di rumah.
Semua yang ia beli adalah barang barang yang Zahra sukai dan tentu sesuai dengan seleranya. Cukup 1 koper hadiah yang ia terbangkan dari Turki ke Indonesia untuk sang adik tercinta.
Ketika barang sampai, supir datang menjemput koper itu dan membawanya ke rumah Sheena. Sesampainya di rumah, Bunda Fatimah menguarkan Turkish Delight terlebih dahulu dari dalam koper. Kemudian menyimpan koper tersebut ke kamarnya.
Sebelum seluruh barang-barang itu akan dikeluarkan saat hari H lusa nanti
***
Hari H
Singgah sebentar di rumah Bibi Fatya dan Paman Afnan sebelum mereka pulang ke rumah. Di rumah itu mereka memberitahukan perkembangan Zahra selama menimba ilmu di sana, dan Zahra pun tak segan mengeluarkan uneg-uneg dan kekesalan yang ia miliki selama ia belajar di sana.
"Kak,.. kami benar-benar puas dengan perubahan Zahra dan sangat senang dengan kebetahannya belajar di sini. Bahkan selama 1 tahun itu identitasnya pun tidak ia umbar. Zahra memang benar-benar sama seperti santri dan santriwati lainnya"
Pernyataan dari kedua Bibi dan Pamannya sungguh berhasil membuat Zahra malu. Bagaimana pun ia setuju dengan hal itu, karena ia benar-benar merasakan menjadi seorang santri yang tidak memiliki orang dekat di dalam Pesantren ini. Jadi prestasi dan pencapaiannya murni dari usaha dan kerja kerasnya sendiri.
"Bunda? Ini apa?" Tanya Zahra sambil mengangkat sebuah paperbag ke pangkuannya.
Bunda Fatimah dan Ayah Ali saling tatap untuk sejenak sebalum kemudiam menjawab " itu baju Zahra nak, kita mau ada acara"
"Sekarang Bunda?"
"Iya. Nanti kita ganti pakaiannya"
" Butik AlQaf?" Pekik Zahra saat melihat merk paper bag di depannya.
"Iya.. Butik AlQaf, butiknya Ustadz Fakhri"
"Hah? A-apa?"
"Loh.. kamu ga tau?"
__ADS_1
"Engga, yang kemarin kan recomendasi butiknya langsung dari teman Zahra. Di suruh ke sana, biar samaan semua" sahut Zahra yang masih kaget dari belakang
"Bunda juga baru tau kemarin sih, waktu jemput baju kamu ini"
"Hmm.. "
.
FLASHBACK
Saat sedang melihat list perlengkapan suprise untuk Zahra. Bunda Fatimah tertatik melihat list teratas bertuliskan "wardobe".
Bunda Fatimah bingung ingin memakai butik yang mana untuk mengurus kostum mereka. Bunda Fatimah pergi ke kamar Zahra dan melihat koleksi gaun pesta Zahra. Matanya tertuju pada gaun yang Zahra pake saat menjadi briesmaid beberapa waktu lalu.
Tangan Bunda Fatimah terangkat melepas gaun tersebut dari gantungannya. Matanya jeli melihat setiap inchi jahitan dan potongan gaun Zahra.
"Rapi, bagus, hasilnya cantik dan sesuai ekspektasi.. emm pakai jasa mereka aja kali ya"
Akhirnya Bunda Fatimah memutuskan untuk pergi ke butik AlQaf langsung. Sesampainya di sana, Bunda Fatimah di sambut oleh pegawai butik dan dilayani sebagai customer.
Saat hendak pulang, Bunda Fatimah kembali bertemu dengan Ibu dari Ustadz Fakhri. Berbasa-basi sedikit untuk menghilangkan kecanggungan. Apalagi ia tau bahwa Zahra sangat mengenal ibu di hadapannya ini.
"Ibu mau ke sini juga?"
"Iya Bu.. ahaha.. nak Zahra nya kemana?"
"Zahra kan lagi di pondok Bu. Ibu juga suka hasil pakaian di butik ini?"
Ibu itu tersenyum. "Saya tidak akan membuka Butik ini jika rancangan dan produk yg di hasil kan butik ini tidak bagus bu"
Bunda Fatimah tertegun " jadi Butik ini, milik ibu ?"
"Ini Butik yang saya bangun bersama suami saya, dan sekarang di kembangkan oleh anak saya, Fakhri. Alhamdulillah.. saat ini ia sedang di luar kota untuk membuka 2 cabang lagi Bu"
"Alhamdulillah..semoga semuanya lancar ya Bu" balas Bunda Fatimah
Ia cukup kagum dengan kegigihan Ustadz Fakri yang meninggalkan keinginannya dan lebih memilih mengamvangkan usaha kedua orang tuanya dan bahkan kini sudah memiliki canag diuar kota.
Mereka anjut berbincang banyak hal di ruangan Ibu Ustadz Fakhri.
FLASHBACK OFF
.
"Pantas saja tidak kelihatan di sini, ternyata lagi keluar kota" batin Zahra
__ADS_1