Salah Khitbah

Salah Khitbah
160. SK 2 : KISAH INI SELESAI


__ADS_3

"Seperti yang sudah di taqdirkan oleh Allah SWT, jauh sebelum manusia itu lahir, semua sudah tertulis di lauhul mahfudz. Sama halnya seperti kisahku dan istriku. Yang harus terhenti sampai disini. Sebagaimana yang sudah di tetapkan oleh-Nya.


Awalnya saya tidak terlalu mengidahkan kata-katanya yang selama ini ternyata mengisaratkan akan pergi, dan ternyata kini ia benar-benar pergi. Meninggalkan dua buah hati kami yang masih kemerahan, untuk saya rawat sendiri.


Setelah proses persalinan itu, ternyata Allah lebih menyayanginya. Ternyata Allah lebih mencintainya hingga memanggilnya kembali ke sisi-Nya"


Setelah Zahwa tidak sadarkan diri, Dokter langsung melakukan penanganan terhadapnya. Dadanya bergemuruh melihat sang istri tak kunjung membuka matanya. Usai semuanya di bersihkan, Zahwa di pindahkan ke ruang perawtan, sedangkan kedua baby mereka di tempatkan di ruangan khusus karena mereka juga masih butuh penanganan.


Dokter sudah berusaha sebisa mungkin namun belum ada perubahan. Akhtar hampir putus asa, namun ia di kuatakan oleh tatapan mata bening anak-anak nya.


Selagi Zahwa di tangani, Akhtar pergi ke Masjid yang berada tepat di samping Rumah sakit ini. Ia numpang membersihkan diri, lalu menenangkan diri dengan bersujud di hadapan Rabb nya.


Lama Akhtar baru beranjak dari sujud terakhirnya, ia tergugu mengadu, memohon pertolongan pada yang Maha Berkuasa.


'Ya Allah, hamba sungguh tidak berdaya, hamba sungguh tiada berkuasa kecuali hanya Engkau tempat mengadu dan meminta. Ya Rabb, hamba tengah Engkau beri ujian, Engkau beri teguran. Hamba mohon, berikanlah kesempatan hidup sekali lagi untuk istri Hamba ya Rabb. Hanya engkau lah yang mampu menolong dan mengangkat ujian ini kembali. Berikanlah pertolongan mu kepada Hamba . Ya Allah Engkau yang memberikan ini, Hamba Mohon tanpa mu tiada lagi yang bisa mengangkatnya ujian ini. Berikanlah kesempatan pada hamba dan istri hamba untuk merawat anak-anak kami ya Rabb'


Hatinya sedikit lega setelah berlari kepangkuan sang Khaliq. Akhtar beranjak dari sujud nya dan menyelesaikan ibadahnya. Dalam lamunan tasbihnya, seseorang datang dan mengelus pundaknya. Dengan sedikit terkejut Akhtar menoleh untuk melihat siapa yang datang padanya.


“Pak Bathur” ucapnya lirih


“Allah bersama kita nak, Allah bersama kita” ucap Pak Bathur memeluk Akhtar. ia memposisikan dirinya sebagai orang tua dan Akhtar sangat mengerti itu. Benar, saat ini ia butuh dukungan dari orang terdekatnya untuk membantunya bangun dari keputusasaan-nya, serta memberikan kekuatan untuk nya bisa melewati semua ini.


Akhtar tidak bisa menyembunyikan air matanya yang terus mengalir begitu saja. Pak Bathur menemaninya hingga ia merasa tenang untuk kembali ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, Akhtar di panggil oleh seorang perawat. Ia mengatakan bahwa ini adalah saat bagi twin untuk menerima asupan pertama dari ibunya. Seketika hati Akhtar kembali melecos, kedua bayi mereka yang baru saja hadir di dunia harus ikut merasakan kesedihan ini.


Akhtar kembali menemui Dokter untuk mengetahui perkembangan kondisi Zahwa.


“maaf pak, namun kondisinya tetap sama belum ada perkembangan, atau lebih tepatnya, setelah kami periksa kembali istri anda mengalami koma pasca melahirkan”


Lagi-lagi kabar buruk selalu menghantamnya, seolah semuanya ingin memutar balikkan dunianya.


“mengapa jadi begini? Astaghfirullah, ampuni hamba ya Rabb, harusnya hamba tidak mengeluh, harusnya hamba sadar bahwa ini adalah taqdirmu” ucap nya dalam hati.


Akhtar meraih tangan Zahwa lalu mengecupnya agak lama. Ia memandangi wajah pucat yang sudah memberikannya dua anak sekaligus itu. Pada akhirnya tangisan pilu itu tak dapat lagi terbendung. Pikirannya melayang pada saat ia koma dulu, ternyata inilah yang dirasakan oleh istrinya dan itu berlangsung selama tiga bulan lamanya.


Tapi ketika ia merasakan hal yang serupa, baru beberapa jam setelah ia diberitahu oleh Dokter. Ia seperti seseorang yang tidak tau harus melakukan apa. “aku bersaksi kamu adalah wanita baik, kamu adalah wanita kuat, kamu adalah wanita shalihah”


Malam harinya


Akhtar dikejutkan oleh kedatangan seluruh keluarga ke kerumah sakit. Ia yang baru saja melaksanakan sholat Maghrib di samping brankar sang istri langsung membukakan pintu saat mendengar suara yang sangat ia kenal.


“Umi..Abi…” ucapnya lirih saat melihat kedua orang tuanya berada di hadapannya.


“a-assalamu’alaikum Ayah.. Bunda..” sapa Akhtar melihat kedua mertunya juga berda di sana.


“nak…” ucap umi bergetar


“silahkan masuk” Akhtar mempersilahkan semua orang masuk kedalam


Tanpa babibu seluruhnya langsung mendekat ke ranjang pasien, dimana disana terdapat putri mereka yang sedang bertaruh nyawa hidup dan mati. Akhtar hanya menunduk di belakang, ia tak sanggup melihat raut kesedihan di wajah semua orang.


“Nak Ayah percaya taqdir Allah. Ayah ingin kamu juga bisa sabar menerimanya” Akhtar mendongak menatap Ayah Ali yang berbicara tanpa ekspresi di depannya. Setelahnya ia membalas pelukan dari sang Ayah mertua.


“InSyaaAllah” sahutnya lirih


Sedangkan kaum hawa, terutama Bunda Fatimah sedang menangis sambil memeluk putrinya. Begitupun dengan Umi Alya yang terdiam sambil mengelus kepala menantu kesayangannya. Setelah semuanya sudah dapat mengendalikan perasaan masing-masing. Mereka duduk di sofa ruangan tersebut.


“dimana cucu Bunda” ucap Bunda Fatimah memecah keheningan


“ada di ruangan khusus bayi, belok kanan dari ruangan ini Bunda”


“antarkan kami kesana” ucap Umi Alya. Akhtar mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya. Setelah ia meminta seorang perawat untuk menjaga Zahwa, semuanya berjalan di belakang Akhtar menuju ruangan cucu mereka.


Setelah sampai disana, semuanya kaget dan tampak bingung, karena terdapat dua box bayi yang tertera nama mereka berdua sebagai orang tuanya.


“Zi? Yang mana cucu Abi?” Tanya Abi Firman mewakili yang lainnya


“keduanya Bi, Alhamdulillah kami dikaruniai sepasang bayi kembar” ucap Akhtar berhasil membuat semuanya kembali berseri sambil mengucap syukur . Mereka memeluk Akhtar secara bergantian setelahnya.


“kenapa tidak pernah memberitahu kami, nak?” Tanya Umi Alya

__ADS_1


“itu.. keinginan Umma nya anak-anaknya yang memang ingin memberikan kejutan kepada seluruh keluaga. Tapi..” Ayah Ali menepuk pundak Akhtar mengisyaratkan bahwa tidak usah dilanjutkan, kami semua mengerti.


“MasyaaAllah…” semua berdecak kagum menatap pada kedua bayi mungil itu.


Disaat semuanya sedang asik dengan kedua bayi mungil itu, seorang perawat datang kesana dengan tergesa-gesa. Membuat semua orang dilanda kebingungan.


“maaf tuan-tuan, nyonya. Tapi pasien mendadak kritis” ucap nya hati-hati


Tanpa pikir panjang, Akhtar langsung berlari menuju ruang rawat Zahwa.


Di Sana sudah ada Dokter yang sedang memeriksa keadaan Zahwa. Seketika wajah Dokter mendadak pucat, ia mengeceknya sekali lagi, mulai dari detak jantung, respon mata, sampai denyut nadi.


Dokter menggelengkan kepalanya lemah, bibirnya bergerak pelan entah mengatakan apa. Lalu berbalik menatap Akhtar


“Allah lebih sayang padanya. Istri anda telah meninggal dunia secara terhormat Tuan”


DUARRR!!!!!!!!


Tidak ada angin tidak ada hujan, tapi Akhtar merasa bagai di sampar petir hingga membuatnya seperti patung tak bernyawa.


“innalillahi wainna ilaihi raji’un”


BRUK! Bunda Fatimah pingsan di pintu, sesaat setelah Dokter menyampaikan kabar duka.


Semuanya diam tak bergerak, syok akan kabar yang baru saja di dengar oleh telinga masing-masing


“tuan, kami turut berduka cita. Semoga anda dan keluarga diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini” ucap sang Dokter membungkuk menyadarkan Akhtar


“ti-tidak tidak mungkin. Saya salah dengar kan Dok. Tidak! itu tidak benar kan Dokter. Istri saya masih bisa sadar kan Dok” Tanya Akhtar masih tak percaya apa yang dikatakan oleh Dokter


Abi Firman datang memeluknya sambil membisikkan kenyataannya pada Akhtar dan memintanya agar tidak menentang kuasa Allah.


Akhtar melepaskan pelukannya lalu menghampiri jasad Zahwa, ia menggoyangkan badan Zahwa dan memintanya untuk bangun. Berulang kali ia memanggil namun tidak ada respon sama sekali.


Semuanya terisak disamping ranjang pasien, sama seperti Akhtar, Bunda dan Umi Alya pun sama masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada hingga membuat keduanya menangis tak bersuara.


Ayah Ali terduduk di lantai mendengar putrinya sudah tak bersamanya lagi. Hati Ayah mana yang tak hancur saat putrinya meninggalkannya untuk selamanya. Tiba-tiba Akhtar keluar dari ruangan tersebut pergi entah kemana menyisakan tanda tanya dibenak semua orang.


Tak lama beberapa orang masuk ke ruangan yang tengah di selimuti duka. Mereka datang dengan perasaan bahagia ingin bertemu dengan orang yang mereka sayangi setelah sekian lama tak bertemu, mereka tak lain dan tak bukan adalah Azzam, Helwa dan Zahra.


“Ayah, apa yang terjadi?” tanya Azzam melihat situasi yang tidak biasa. Helwa pun begitu, firasat buruk berputar-putar di kepalanya. Sedangkan Zahra sudah merasa deg-degan menanti apa yang akan ia dengar selanjutnya.


Suara Ayah Ali tercekat di tenggorokan, membuatnya kesulitan untuk berbicara.“Wa- wawa kita su-sudah dipanggil sa-ma Allah”


Deg! Ketiganya menatap Ayah Ali tak percaya


“apa maksud Ayah?”


“Wawa sudah meninggalkan kita nak, Allah memanggilnya setelah ia melahirkan kedua keponakan mu”


“ WAWA!”


“GAK MUNGKIN, Kak Wawaa” tangis Zahra histeris berlari memeluk kaki Zahwa.


Helwa merangkulnya dari belakang sambil menangis. Sedangkan Azzam mendekat mengelus wajah Adiknya yang sudah tak bernyawa. Mereka sangat terpukul dengan kepergian Zahwa.


Seluruhnya larut dengan kesedihan dengan berlinang air mata mereka menatap bahkan masih memanggil-manggil Zahwa, tak lama mereka dikejutkan dengan derap langkah kaki yang bersahutan dengan suara tangisan bayi.


Semuanya menoleh kearah pintu, mereka terkejut ternyata itu Akhtar yang datang membawa kedua anaknya ke ruangan itu. Ia menerobos masuk dan mendekat ke tubuh Zahwa.


“sayang.. ini anak-anak kita. Apa kamu dapat mendengarkan tangisan mereka? Sayang iyakan? Kamu mendengarnya kan. Sayang.. tolong jawab, tolong bantu aku mendiamkan mereka. Tolong bangun, demi mereka. Tidakkah kamu lihat bagaimana mereka masih membutuhkanmu dalam hidup mereka ?” ucap Akhtar seolah sedang berbicara kepada Zahwa


“nak, apa yang kamu lakukan. Mereka tidak baik berada di sini” ucap Umi Alya yang justru kurang setuju dengan tindakan Akhtar yang sangat nekad membawa anak mereka keluar dari ruangan khusus itu tanpa perlindungan apapun.


“Umi, tidak ada alasan bagi istriku untuk meninggalkan Zi dan anak-anak kami yang masih membutuhkan kasih sayang nya”


“tapi, nak. Tempat ini sangat berbahaya untuk mereka. Mereka masih kecil. Dan tempat ini tidak cocok untuk kedua anakmu”


“ Umi. Mengertilah. Istriku harus bangun, sayang.. bangun.. sayang.. hikss”


Tolong, siapapun. Semua Orang pasti akan ikut menangis melihat Akhtar yang seperti ini, berusaha membangunkan istrinya yang tidak akan bisa membuka mata antuk selamanya.

__ADS_1


Ia merasa separuh nyawanya hilang, benteng pertahanannya benar-benar hancur dengan kepergian sang belahan jiwanya. Ia menangis tegugu sambil terus melakukan hal yang sama berulang kali.


“ZI, CUKUP! KAMU HARUS SADAR, BAHWA ISTRI MU TELAH TIADA. JANGAN KAMU MENJADI PENENTANG TAQDIR ALLAH. TIDAKKAH KAMU TAHU BAHWA REZEKI, JODOH, DAN KEMATIAN SUDAH DI ATUR OLEH ALLAH DAN KITA TAU BAHWA ITU SEMUA BISA DATANG DENGAN TIBA-TIBA DAN CARA YANG TAK DISANGKA-SANGKA. TUGAS KITA HANYA MENERIMANYA, BUKAN UNTUK MERATAPI DAN MELUPAKAN KEIMANAN KITA KEPADA-NYA ” Abi Firman berucap dengan tegas. Ia sangat geram dengan anaknya yang tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.


Hening!


Ucapan sang Abi berhasil membuat Akhtar tertampar, dan akhirnya menyadari bahwa semuanya telah berakhir. Telah berakhir.


Beberapa saat kemudian, anak-anaknya terdiam di gendongannya. Setelahnya ia beristighfar. Azzam datang mendekat padanya “jangan seperti ini, ane tidak ingin adik yang paling ane sayangi ikut menangis gara-gara melihat ente seperti ini. Dan jangan egois sehingga melupakan kondisi kedua ponakan ane ini” setelah berucap seperi itu, Azzam mengambil alih keduanya lalu memberkannya kepada Helwa dan Ayah Ali.


Setelahnya mereka mengantar twin kembali ke tempat semula.


Kini ia telah melapangkan hati menerima ketetapan-Nya yang telah memberikan garis taqdir seperti ini pada kehidupan rumah tangganya. Semuanya telah mencoba mengikhlaskan kepergian Zahwa walaupu masih terasa berat dan sulit. Hingga mereka bergerak untuk melakukan kewajiban terakhir mereka kepada Zahwa yaitu mengurus fardu kifayah-nya.


***


Saat pemakaman tengah berlangsung, Akhtar mengadzani istri tercinta untuk yang terakhir kalinya dengan derai air mata. Isakan tangis mengiringi proses penutupan makam bidadari mereka. Proses pemakaman berlangsung hingga selesai, setelah sebelumnya semua fardu kifayah sudah di lakukan.


Setelah semuanya kembali, Akhtar masih duduk dengan setia di samping makam sang istri. Ia mengusap nisan yang bertuliskan nama indahnya.


“Sayang.. mungkin sekarang kita bukan suami istri lagi di dunia , tapi yakinlah namamu akan tetap ada dalam hati saya. Setelah sekian panjang perjalanan cinta kita, saya menemukan kesetiaan dan kesabaran dalam dirimu. Serta segala perilakumu yang selalu meninggalkan kesan kepada saya. Kamu adalah wanita shalihahku. Kamu adalah ibu terhebat bagi anak-anak kita. Semoga kelak putri kita juga memiliki akhlak yang baik dan sikap penyayang sama sepertimu. Dan juga putra kita yang senantiasa akan selalu menjadi pelindung untuk Zahwa kecil kita. Dan nanti merek akan terus mengirimkan doa cinta untuk Umma mereka di setiap sujud terakhir mereka. ”


“ketahuilah sayang, bahwa kamu adalah orang yang beruntung. Kamu termasuk salah seorang yang meninggal secara terhormat. Kamu meninggal dalam keadaan syahid. Karena kepergianmu setelah melahirkan anak-anak kita. Dan semoga kamu mendapatkan seperti apa yang telah dijanjikan Allah kepadamu”


Setelah selesai mengungkapkan isi hatinya, Akhtar bangkit dan berjalan perlahan dengan berat hati meninggalkan pusara bidadari hatinya.


Setelah sampai di parkiran, ternyata Azzam masih berada di sana menunggunya. Azzam menepuk pundak Akhtar sebentar lalu mereka kembali ke rumah.


Seminggu kemudian,


Akhtar masuk kedalam kamar setelah lelah berdiri di atas balkon. Ia mendekati kedua anaknya yang tengah tertidur lelap di atas ranjang nya bersama mendiang istri tercinta, perlahan ia mencium kening mereka secara bergatian


“semoga kalian menjadi anak-anak ahlul Qur’an, menjadi anak yang berbakti dan senantiasa selalu mendoakan kedua orang tuanya. Aamiin” Akhatar berucap sambil mengelus kepala mereka dengan sayang.


“bismillaahirrahmaanirraahiim, assalamu’alaikum anak Abba Zavier Malik Alfarezi. Semoga kelak kamu menjadi pemimpin yang baik dan penyayang. Jaga adik ya, namanya Zahwa Khansa Nadira. Assalamu’alaikum putri Abba, semoga kamu mewarisi sifat Umma sebagaimana kamu mewarisi namanya. Semoga kalian menjadi anak yang shalih dan shalihah. Aamiin”


Tak lama kedua bayi itu terbangun dan ingin berebut didekapan sang Abba dengan tangisan mereka yang saling bersahutan. “ahahahaha. Sabar sayang, keduanya akan tetap bersama Abba” tak lama keduanya tampak tenang dipangkuan sang Abba yang masih setia menimang mereka.


Akhtar berjalan dan berhenti di depan sebuah bingkai foto yang berisikan foto dirinya dan belahan jiwanya. Zahwa Mary Equeena.


Inilah hidup, sebuah perjalanan yang bisa saja singkat, bisa juga panjang. Tergantung pada siapa yang menjalaninya dan bagimana taqdir mengirinya.semua yang kita rencanakan semua yang kita ingin kan tak selamanya akan berjalan mulus seperti yang kita bayangkan. Keikhlasan dan kesabaran adalah kunci dari setiap cobaan yang diberikan. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa sabar dan ikhlas dalam menghadapi permasalahan dan cobaan hidup dari Allah SWT. Amiin AmiinYa Rabb.


***


Seorang wanita akan dianggap sempurna jika ia telah menjadi seorang ibu. Tentunya bagi seorang wanita sendiri menjadi seorang ibu nerupakan anugerah yang luar biasa.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk Abdullah bin Tsabit, ketika itu beliau sedang pingsan karena sakit. Di tengah-tengah itu, ada orang yang menyinggung masalah mati syahid.


Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang kalian anggap sebagai mati syahid?”


Merekapun menjawab, ‘Orang yang mati di jalan Allah.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengarahan,


الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ


“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah: Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).


Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari,


لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى وَمَلَائِكَته عَلَيْهِمْ السَّلَام يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْجَنَّةِ . فَمَعْنَى شَهِيد مَشْهُود لَهُ


“Karena Allah Ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.”


(Syarh Shahih Muslim, 2: 142, juga disebutkan dalam Fath Al-Bari, 6: 42).


Ibnu Hajar menyebutkan pendapat lain, yang dimaksud dengan syahid adalah malaikat menyaksikan bahwa mereka mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir hidup yang baik). ( Fath Al-Bari, 6: 43)


Hadist diatas menegaskan bahwa seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, kematiannya akan dianggap sebagai mati syahid.


Sebab ia telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa melahirkan sang buah hati tercinta ke dunia ini.


Hal ini tentu menjadi sebuah keistimewaan tersendiri bagi kaum wanita terutama yang sedang mengandung. Agar tidak takut dan menikmati segala proses kehamilan dan melahirkan dengan senang hati.

__ADS_1


Sebab segala sesuatu yang sudah menjadi ketentuan hanya Allah SWT yang mengetahuinya.


*Kisah ini selesai ~


__ADS_2