Salah Khitbah

Salah Khitbah
143. SK 2 : IBUNYA


__ADS_3

"sayang.. kita belum hubungin Abi dan Ayah. Mungkin saat ini mereka sudah sampai" ucap Zahwa sambil menyodorkan piring berisi sarapan yang baru ia masak.


"Semalam saya sudah coba hubungi tapi tidak tersambung. Mungkin jaringannya sedang bermasalah. Kita akan coba hubungi lagi setelah ini" Zahwa mengangguk setuju


"Eh?" Zahwa kaget pinggangnya di tarik sehingga ia terduduk di pangkuan Akhtar


"Bib.. aku berat loh" ucap Zahwa mengusap rahang tegas Akhtar


"Baru mau jalan 5 bulan, hanya perasaan mu saja" jawab Akhtar santai


Pagi itu mereka makan saling menyuapi sampai makanan habis. Setelah itu Akhtar menmerintahkan Zahwa duduk diam di kursi sedangkan ia membereskan meja dan mencuci piring kotor.


"Aku mau nelpon Bunda"


"Baiklah ayo kita hubungi mereka"


Akhtar menghidupkan laptop dan menghubungi orang tua mereka yang berada di Indonesia.


"Tuut...tuut...tutt.." bunyi sambungan telpon


"Assalamu'alaikum.."


Senyum Zahwa merekah seketika "wa'alaikumussalam Bunda... Bunda dan Ayah sudah sampai??"


"Alhamdulillah.. sudah sayang.. perjalanan kalian aman kan? Nak Akhtar, Wawa baik-baik saja kan selama perjalanan"


"Alhamdulillah.. atas izin Allh kita semua selamat sampai tujuan Bunda"


"Alhamdulillah..."


"Haloo anak ayah, bagaimana rumah baru nya? Nyaman?" Tiba-tiba Ayah Ali datang dari belkang dan duduk di samping Bunda


"Alhamdulillah nyaman Yah. Tapi..."


"Tapi apa sayang??"


"Tapi asalkan Ayah tau menantu Ayah ini tidak pernah membiarkan Wawa melakukan apapun sendiri. Pasti selalu saja di larang, padahal kan Wawa tidak bisa jika hanya diam saja" ucap Zahwa merengut


Terlihat wajah bahagia, senyum Ayah Ali di layar.


"Itu tanda sayang suami mu kepada mu nak. Ia tidak ingin kamu kelelahan" senyum kemenangan mengembang di bibir Akhtar setelah mendengarkan penuturan Ayah Ali


"Tar.." panggil Ayah Ali


"Iya Ayah"


"Apakah wawa sama seperti Bunda mu waktu hamil yang Ayah ceritakan beberapa waktu lalu?" Tanya Ayah Ali


"AHAHAHAH" tawa kedua orang dewasa itu pecah membuat wanita di samping mereka heran sendiri


"Ada apa Ayah?"


"Apa yang Ayah katakan pada menantu kita hum??" Tanya Bunda Fatimah dengan tatapan tajamnya


"Tidak ada, Ahahaha"


"Ayah..."


"Ini urusan laki-laki. Iya kan menantu"

__ADS_1


Akhtar mengangguk sambil menahan tawanya.


"Apakah obrolan ini hanya akan di isi dengan tawa kalian saja?" Tanya Zahwa kesal


"Maaf sayang... Oh iya. Apakah Firman sudah kalian hubungi?"


"Setelah ini kami akan menghubungi Abi, Yah"


"Iya nak"


Percakapan mereka pun berlangsung sampai rindu Zahwa terobati setelah itu mereka menelpon Buya Firman dan Umi Alya. Mereka berbincang sepuasnya.


***


2 minggu kemudian


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam anak Bunda" jawab Bunda Fatimah sambil merentangkan tanganya menyambut Zahra yang baru saja balik dari pondok.


"Bunda... " Ucap Zahra manja


"Udah sana bebersih dulu, habis itu turun ya.. kita makan bersama"


"Syiapp Bunda"


Bunda Fatimah menatap sendu kearah Zahra yang berlari kecil menaiki tangga.


"Bunda, temen aku yang mau nikah. Yaa gitu deh aku salah satu briesmaid nya. Dan nanti aku mau ke konveksi butik AlQaf. Buat ngukur bajunya, Bunda temenin yaa"


"Oo gitu, okee nanti jam 3 kita berangkat"


.


Di butik AlQaf


Zahra dan Bunda Fatimah telah tiba di butik yang di maksud temen Zahra. Sedampainya disana, Zahra di kejutkan dengan seorang wanita yang berdiri di depan butik tersebut.


"Bunda, kaya nya aku kenal ibu itu deh" ucap Zahra berdiri di belakang Bunda Fatimah


"Kenal di mana??"


"Di rumah sakit"


"Yasudah, ayo kita samperin mana tau ibu itu masih ingat sama kamu" Zahra mengangguk setuju


"Assalamu'alaikum Bu.. ibu masih ingat aku ga?" Sapa Zahra


"Wa'alaikumussalam warahmatullah.. emm wajag kamu seperti tidak asing nak. Dimana kita terakhir kali bertemu?"


"Ibu sudah ga ingat sama-"


"Nak Zahra?!" Seru ibu tersebut


"Iya bu, ini Zahra heheh"


"MasyaaAllah.. nak Zahra.. kemana aja. Katanya kemarin mau silaturrahmi lagi" ucap ibu tersebut menatap kagum pada Zahra. Karna ia ingat terakhir bertemu saat Zahra menjenguknya di rumah sakit masih memakai style gaul, tapi kini ia sedang memakai abaya.


"MasyaaAllah.. cantiknya nambah" batinnya bedecak kagum

__ADS_1


"Emm.. maaf bu. Selama ini Zahra ada di pondok. Jadi ga pernah ketemu ibu lagi. Eh ngomong-ngomong ibu udah sehat ?"


"Alhamdulillah nak.. sudah. Atas izin Allah dan di rawat sama anak ibu Fakhri, ibu sudah sehat"


Bunda Fatimah yang mendengar ibu tersebut menyebut nama 'Fakhri' membuat ia menatap ibu tersebut.


"Ibu nya Fakhri?"


"Iya. Ini Ibunya nak Zahra?"


"Iya bu saya Bunda nya Zahra" hawab Bunda Fatimah berjabat tangan dengan ibu Ustadz Fakhri.


"Oh iya nak ibu lagi buru-buru. Lain kali kita sambung ya. Mari bu... Saya pamit ya.. Assalamu'alaikum"


"Hati-hati bu.. wa'alaikumussalam"


"Zahra, itu ibunya Ustadz Fakhri?"


"Iya Bunda"


"Kok ga bilang dari tadi?"


"Yaa... Lupa. Emang kenapa Bun?"


"Em..aa.. tidak ada. Mari masuk" ajak Bunda Fatimah


"Kok ibunya sendirian. Ustadz Fakhri kemana?" Batin Zahra bertanya-tanya. Pikirannya pun melayang entah kemana. Bayang-bayang pesan yang ia terima beberapa waktu lalu pun kembali menggentayangi kepalanya.


"Modelnya samain dengan yang lain saja, tapi tetap model syar'i ya.."


"Baik bu" ucap si pegawai mencatat permintaan pelanggan mereka kali ini


"Zahra setuju kan?" Zahra diam saja


"Ra.. Zahra??"


"Eh, iya Bunda.. iya.. iya.. Zahra setuju kok" ucap Zahra terbata ia ketahuan melamun.


***


Setelah pulang dari butik, Zahra langsung masuk ke kamarnya. Ia mengingat kembali dari awal pertemuannya dengan Ustadz Fakhri hingga kini tidak ada kabar apapun lagi.


"Zahra.. ingat apa kata ustadzah kemarin. Sebaiknya kamu memperbaiki diri dulu. Masalah jodoh jangan khawatir. Pasti datang yang baik kalau kamu baik" gumamnya berbicara pada diri sendiri.


"Aarrgghhhh..." Karena kesal dengan dirinya sendiri ia melempar bantal sofa ke lantai


***


Sedangkan di pulau yag berbeda dengan Zahra. Seorang lelaki tengah sibuk mengembangkan usahanya.


Seharian ini ia sibuk dengan rapat sana sini, juga pertemuan pertemuan penting demi terwujudnya tujuannya kali ini.


Matanya menatap arloji yang melingkar di tangannya. Kini sudah masuk waktu shalat. Ia kembali ke mobil untuk pergi ke masjid.


Sebelum menyalakan mobilnya, ia menatap buku diary yang bertajuk 'Tajwid Cinta' di halaman depannya.


Senyum tipis tersungging di bibirnya. Jarinya mengelus perlahan buku tersebut.


"Aku akan menunggu waktu dimana kamu sudah siap menerima ku. Tunggu aku dengan segala persiapan yang aku siapkan untuk melamarmu"

__ADS_1


__ADS_2