
"hm lumayan, ini enak loh" ucap Ayah Ali membuat semua orang terkejut. Kini semua mata tertuju pada Ayah Ali.
"iya..ini memang benar-benar enak" susul Azzam yang sudah mencicipi nya. Tadi saat melihat Ayah Ali yang mencicipi kedua kalinya ia memutuskan untuk mencicipinya juga. Dan ternyata....Wah...ini sangat enak.
"Ha?? Seriusan Bang???" tanya Zahra
"iya... dek..coba deh" ucap Azzam
Kini Bunda Fatimah dan Zahra buru-buru mengambil masakan Zahwa juga , tak sabar ingin membuktikan sendiri penilaian Ayah Ali juga Azzam. Bisa saja kan mereka melakukan itu karena ingin menyenangkan Zahwa saja , itu yang dipikiran mereka tadi.
"eemm....wenak tenan iki" ucap Zahra dengan logat yang tidak pas dan jatuhnya terkesan aneh dan lucu, tentu saja itu berhasil mengundang gelak tawa seisi ruangan.
"sejak kapan bisa bahasa daerah dek??" ledek Azzam
"ahh...Abang tidak tau ya , kalau Bi Surti itu gitu ngomongnya kalau ada makanan enak , pasti bilangnya gitu" ujar Zahra polos.
"ahahahahah"
"kirain bisa dek..Zahra..Zahra.."
"ehehehe" Zahra tersenyum menyengir kuda.
"Wahh...anak Bunda..hebat" ucap Bunda Fatinah akhirnya bisa berbicara setelah guyonan mereka tadi .
"Benerkan Bund? Ayah ga bohong . Ini itu enak" ucap Ayah Ali dengan bangganya pada putrinya.
"iya..iya Ayah ini memang enak " tukas Bunda Fatimah.
"Oh..iya kok bisa Wawa yang memasak?" tanya Azzam
...***...
FLASHBACK ON
Zahwa turun dari kamarnya dan berjalan ke dapur. Perutnya terasa keroncongan setelah seharian tidur. Sholat? oh tidak dia sedang di liburkan, jadi tidak ada yang membangunkannya , mereka juga berfikir jika Zahwa butuh istirahat karena kelelahan.
Ia melihat tidak ada orang di bawah , ia memasuki dapur dan terlihat segala bumbu masakan dan bahan-bahan makanan telah berserakan di atas meja khusus. Ada beberapa yang sudah dirajang tinggal di tumis, ada juga yang baru akan di olah pertama kali dan terlihat ayam yang sedang di goreng dengan api kecil.
"loh..Bunda kemana ini?" tanya Zahwa pada dirinya sendiri , ya karena tidak ada lagi orang selain dirinya di sana.
Ia memunculkan kepalanya dari pintu dapur dan celingukan mencari Bunda Fatimah . Tapi nihil , tidak ada siapa-siapa.
Melihat bahan makanan yang terpampang di depan matanya , tangannya seolah gatal untuk menyentuh mereka dan mengolahnya. Karena tidak sabaran, ia melanjutkan masakan Bunda Fatimah yang tertunda.
Dengan baik ia melakukan semuanya, hati-hati saat menambahkan garam agar rasanya pas. Setelah semuanya selesai ia sajikan di meja makan.
Bunda Fatimah tiba-tiba datang entah dari mana kaget melihat tadi bahan mentah yang ia tinggalkan untuk menuntaskan hajatnya di kamar mandi , kini bagai di sulap hidangan sudah jadi siap disantap.
FLASHBACK OFF
......***......
"emm...tadi itu setelah Wawa bangun , Wawa langsung mandi lalu turun kebawah ingin mencari makanan , ehehe. Melihat tidak ada siapa-siapa di dapur dengan sayur berserakan , ya sudah Wawa coba bantu olah saja" ucap Zahwa hati-hati
"loh?? Bunda kemana tadi?" tanya Zahra
__ADS_1
"jadi Bunda ke kamar mandi karena udah kebelet, trus Bunda ga hati-hati buka kerannya, baju Bunda basah . Ya sudah Bunda mandi saja sekalian. Setelah selesai berpakaian Bunda ingat ayam masih di penggorengan , walupun dengan api kecil tapi Bunda lama di kamar mandi pasti akan gosong. Saat Bunda kembali ke dapur ehh... semua sudah masak ternyata, dan yang bikin Bunda kaget Wawa ada disitu berarti dia yang memasak , tidak mungkin Bi Surti kan? sedang beliau lagi pulang kampung" jelas Bunda Fatimah
"ooohh..."semua kini menganggukkan kepala tanda mengerti
"Kak Wa~"
"Ayo kita makan malam dulu , keburu dingin" ucap Ayah Ali memotong perkataan Zahra dengan tidak sabar ingin makan masakan Zahwa .
"ihh....Ayah.." rengek Zahra
"sudah lah dek, nanti saja ngocehnya. Kita makan dulu " ucap Azzam
"hmmm, Huh!" ucap Zahra ngambek
"hihihihihi" semua nya cekikikan melihat Zahra , kalau tadi Ayah Ali tidak memotong perkataan Zahra mungkin sampai makan malam selesai , ocehannya tidak akan ada habis nya .
Sungguh Zahra berbeda dengan Zahwa dan Azzam yang pendiam.
"ck..ck..ck..ck...."
Kini semua pun makan malam dengan nikmad.
...:***:...
Setelah Makam malam selesai , mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga. Zahra menghidupkan TV nya dan menonton kartun kesayangannya. Semua mata tertuju pada dua sosok bocil permanen yang tidak akan ada tanda-tanda keduanya akan beranjak dewasa.
"ihh..ini kapan sih besarnya ,masa ga besar-besar? jadi kecil mulu" tanya Bunda Fatimah
"aduhh Bunda...kalau mereka besar mereka bukan Upin&Ipin lagi dong" sahut Zahra
"Udin&Idin" jawab Azzam
"berarti kalau udah besar nanti mereka bakal jadi tukang bubur ayam dong" ucap Zahwa
"Ha?!?"
"bubur ayam??"
"iya, ehe"
"itu mah Mang Udin Wa , ahahahahh" jawab Ayah Ali
"ohh Mang Udin yang disimpang itu ya yang jual bubur ayam , eheheheh" sahut Bunda Fatimah terkekeh mengingat penjual makanan langganannya.
"Bagus dong berarti ga lama lagi mereka bakal naik haji" ucap Zahra
"naik haji??"
"iya~"
"Tukang Bubur Naik Haji , pukul delapan malam" sambung suara dari iklan televisi yang di lewati Azzam saat mengganti siaran.
"Ahahahahahahaha..." gelak tawa pecah seketika memenuhi seisi ruangan.
"aduh..aduh..perut Zahra sakit..ehehe..ahahh" ucap Zahra berguling-guling di lantai dengan satu tangannya memegangi perutnya dan satu lagi sesekali menyeka sudut matanya.
__ADS_1
"aduuhh .... udah..udah.. udah ya...Zahra sudah jangan berlebihan" tegur Ayah Ali
"hemptt" Zahra seketika diam
"Tau tidak, tertawa itu tidak boleh berlebihan" ucap Ayah Ali , semua mengangguk kecuali Zahra
"Orang yang banyak tertawa terbahak-bahak dapat mematikan hati.Menangis dan tertawa asalnya adalah bagian dari fitrah manusia. Namun bila menangis dan tertawa secara berlebihan maka itu adalah perbuatan yang melampaui batas. Sebuah hadist menjelaskan Rasulullah SAW bersabda, “dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Tirmidzi)." ucap Ayah Ali semua mendengarkan dengan seksama.
"Rasulullah saw tidak pernah tertawa terbahak-bahak, beliau Rasulullah SAW paling besar tertawanya dengan senyuman lebar"sambung Zahwa yang mendapat elusan di kepalanya dari Azzam.
"emmm...Wawa Adik Abang memang pintar" batin Azzam
"Bagaimana itu , hanya dengan senyum lebar. Mana bisa aku tidak tertawa puas dan hanya tersenyum. Itu mah bukan tertawa namanya. Ini masih di rumah , disekolah aku berbeda lagi malah lebih parah dari ini, untung saja mereka tidak mengetahuinya" batin Zahra berucap Syukur
Berbeda dengan Zahwa yang senang dan bersemangat mendengarkan atau mencari tau tentang keseharian amalan-amalan ringan Rasulullah , berbeda dengan Zahra yang ketika bercerita sejarah Islam atau Tarikh , ia selalu kalah dengan matanya yang tiba-tiba mengantuk. Padahal setelah itu ada makanan enak , mata nya langsung bersinar terang, rasa kantuknya pada Tarikh tadi hilang begitu saja.
"Oleh karena itu, tertawa boleh-boleh saja yang penting jangan berlebihan, karena jika berlebihan bisa mematikan hati" ucap Ayah Ali lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Like nya jangan di kacangin , kasyian Kacang lagi mehong
__ADS_1