
***
'Siapa dia?' aku bertanya-tanya, tidak pernah sekalipun aku berinteraksi dengan wanita dengan reaksi berlebihan seperti ini.
Cukup lama aku terdiam, hanya untuk mendengar kan percakapan Umi dan dia.
"Wa'alaikumussalam warahmatullaah... sudah siap nak? Baiklah sebentar ya..nak Mary duduk dulu atau mau ngemil ambil saja di dapur"
"Baik Umi, Zahwa ke dapur saja"
"Iya nak silahkan. Umi tidak lama koq"
Setelah itu tidak terdengar lagi suara nya. Dia tidak berbicara banyak jadi hanya percakapan singkat saja dengan Umi.
"Zi.."
"Zi..kamu masih di sana nak?"
"Akhtar Qabeel Alfarezi"
"Eh i-iya Umi... Zi masih di sini" sahut ku gelagapan. Panggilan Umi tidak ku dengarkan, gagal fokus karena suara wanita itu sangat terngiang-ngiang.
"Umi mau pergi?" Tanya ku basa-basi
"Hm..."
"Ada acara apa? Dengan siapa? Eh!" Aku menutup mulut ku setelah sadar apa yang aku ucapkan. Umi pasti bisa menebak kalau aku penasaran dengan wanita yang berbincang dengan Umi tadi.
Ia dapat mendengar kekehan kecil dari Umi. Setelah itu menjawab.
"Dia itu anak Umi"
"Umi adobsi adik untuk Zi?" Ucapan Akhtar membuat Umi di seberang sana tepuk jidat.
'dasar Akhtar sama seperti Abi nya yang akan menjadi kaku seketika jika berkenaan dengan wanita' batin Umi
"Allah Kareem...dia itu calon menantu Umi"
"Ohh...Hah?"
Umi tertawa kecil. "Dia orang nya nak. Dia lah yang Umi maksud. Umi sangat ingin jika dia, gadis shalihah itu menjadi menantu Umi"
__ADS_1
"U-umi sedang tidak becanda 'kan?"
"Untuk apa Umi becanda jika menyangkut masa depan mu nak, ada ada saja."
"Umi akan berikan namanya. Pikirkan lah baik-baik. Mengerti anak Umi?"
"Baiklah. Terserah Umi saja, asal Umi bahagia"
Tak lama setelah itu kami mengakhiri telfon nya, karena akan ada kesibukan masing-masing. Setelah itu aku bersiap karena akam mengisi di sebuah Ta'lim.
Saat sedang dalam perjalanan menuju pertemuan dengan guru-guru besar dapat ku rasakan ponsel ku bergetar. Namun karena setelah itu guru-guru besar sudah hadir aku mengabaikannya. Hingga dalam 2 hari aku tidak membuka aplikasi membalas pesan milikku.
1 bulan berlalu, aku bahkan tidak kepikiran tentang pesan Umi. Karena saat membuka aplikasi pesan Umi sudah tenggelam di timbun pesan-pesan lain yang baru masuk. Hingga membuat aku lupa akan pesan Umi.
Hingga suatu hari, ketika aku selesai sholat Tahajjud aku tertidur saat sedang berdzikir.
Aku bermimpi, di pertemukan dengan seorang wanita. Ketika itu ia masuk ke rumah ku begitu saja, tidak ada siapa-siapa di sana keculai hanya kami berdua. Dia datang membawakan sorban lalu memakaikannya di pundakku.
Aku menyambutnya dengan senyum merekah menghiasi bibir ku. Setelah itu aku memberikan tangan ku lalu di ciumnya lah dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu ia merapikan kancing pakaian ku. Lalu ku balas dengan mencium keningnya. Mata kami bertemu, berpandangan cukup lama seolah tidak ingin memutusnya sampai kapan pun. Dan itu membuat aku sangat hafal dengan mata yang sangat indah itu. Aku menyukai nya.
"Allahu akbar...allahu akbar..."
Setelah sholat subuh, Aku memutuskan untuk pergi ke salah satu rumah guru ku Alim Ulama, seorang imam besar.
Aku mengatakan perihal minpi ku itu padanya. Selama itu aku selalu menanti jawabnnya, sudah tiga hari namun tak kunjung berkabar. Hingga akhirnya. Aku menemuinya dia salah satu Majelis. Dengan sedikit perasaan tidak enak, aku memberanikah diri bertanya.
Dan dia memberikan jawaban yang penuh teka teki. Intinya begini.
"Akan ada sesuatu yang baik, tapi kamu harus bersabar"
Yang membuat aku bingung, mengapa aku memimpikan wanita yang bahkan sama sekali tidak pernah aku berinteraksi dengan mereka. Dan kini aku mendapatkan jawaban yang kembali harus aku pecahkan sendiri.
Sepulang dari sana, aku teringat akan pesan Umi. Segera aku membuka pesan itu dan benar Umi mengirimkan nama wanita itu.
*Zahwa Mary Equeena*
"Queen" gumam ku tanpa sadar.
Sejak saat itu, aku terus berdoa, bermunajat kepada Allah. Meminta kepastian dan jawaban. Dan dapat aku rasakan setiap selesai istikharah, hatiku sudah mantap untuk menerima perjodohan sepihak Umi, hati ku sudah mantap dengan wanita bersuara lembut itu.
__ADS_1
2 minggu berlalu...
Sepulang dakwah dari Mesir, aku langsung balik ke Turki karena akan ada kajian bersama dengan Guru-Guru besar.
Saat aku baru sampai di rumah, aku mendapat telpon dari Umi..
"...."
"Umi..maaf. Setelah sebulan dari terakhir Umi menghubungi Zi barulah Zi membuka pesan dari Umi. Dan di sini Zi juga sedang memantaskan diri Umi. Zi sempat lupa Umi"
"..."
"Umi jangan begitu pada Zi..yakinlah Zi pasti akan- ",
"..."
"A-apa?!"
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Maaf apabila ada kesalahan di bab ini ya🙏🏻
Jejak jangan lupa yaa
Ramein komennya yuk.
__ADS_1
Semangat puasanya💙