
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta
Setelah menempuh perjalanan jalur darat selama lima belas menit mereka sudah sampai di bandara. Dengan segera mereka turun dari mobil dan masuk karena sebentar lagi jadwal penerbangan mereka.
Setelah melakukan beberapa rangkaian prosedur, mereka memutuskan untuk duduk sembari menunggu pemberitahuan saat akan berangkat.
Perjalanan kali ini akan memakan waktu. Karena dari Bandara Soetta membutuhkan waktu lebih kurang sembilan jam menuju Bandara Baru King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi.
Dengan menunjukkan surat izin dokter tentang keamanan Zahwa di bawa terbang, dengan mudah mereka masuk dan duduk tenang di dalam pesawat.
Zahwa memejamkan matanya kuat dan menggenggam erat tangan Akhtar saat pesawat lepas landas. Memang bukan kali pertama baginya naik pesawat tapi tetap saja, Zahwa akan merasakan kaki nya lemas dan jantung nya berdetak kencang saat pesawat take off maupun ketika landing.
Akhtar merasakan ketakutan Zahwa menarik bidadari hatinya itu kedalam pelukannya. Setelah posisi pesawat sudah normal, barulah Zahwa keluar dari dekapan Akhtar.
"Ahh..." Zahwa mengalihkan pandangannya ke luar jendela
" Yank.. tidak tidur saja? InsyaaAllah.. nanti sampai di Jeddah sudah seger"
"Em.. nanti deh Bib, aku mau liat pemandangan dari atas aja, belum ngantuk" ucap Zahwa dengan wajah memohon.
"Baiklah.. jangan lama-lama ya, nanti lehernya pegal"
"Iya..."
"Nih pakai lagi" Akhtar melingkarkan tasbih digital berwarna hitam pada jari telunjuk Zahwa.
"Oh iya.. lupa pakai setelah tadi di lepas. Makasih sayang..." Ujar Zahwa menggesekkan hidungnya dengan hidung Akhtar
Akhtar hanya tersenyum sambil mengelus kepala Zahwa. Ia mengeluarkan earphone nya dan mendengarkan murattal untuk mengisi waktunya.
Lima belas menit kemudian, Zahwa menggoyangkan lengannya, sambil mengelus perutnya.
"Mau makan apa?" Tanya Akhtar dengan segala kepekaannya
"Em.. apa aja deh, tapi yang mengenyangkan ya"
Akhtar memanggil seorang pramugari yang berjualan mendorong troli berisi banyak makanan. Ia mempersilahkan Zahwa membeli apa yang ia mau asalkan tidak berlebihan.
Zahwa menikmati setiap makanan yang ia kunyah hingga lama kelamaan mulutnya lelah membabat habis makanan di depannya dan akhirnya membuat matanya ngantuk.
Akhtar dengan sigap memperbaiki kursi penumpang Zahwa agar ia bisa beristirahat dengan tenang, tak lupa memakaikan selimut pada Zahwa agar tidak merasa kedinginan.
Mengecup pelan kening sang istri, dengan tangan saling menggenggam keduanya memutuskan untuk mengistirahatkan badan sebelum nanti akan mulai perjalanan darat ketika sampai di Jeddah.
Sedangkan di depan mereka,
"Yah.. Bunda bahagia Zahwa mendapatkan lelaki yang tepat" ucap Bunda Fatimah bersandar pada bahu Ayah Ali
__ADS_1
" Sebagai seorang Ayah, siapa yang tidak ingin putri yang sangat di sayangi nya di jaga dan di miliki oleh laki-laki yang baik, yang shalih dan bertanggung jawab serta mampu membimbingnya ke jalan yang di Ridhai Allah dan bersama menuju Syurga-Nya. Dan Allah telah menakdirkan Akhtar menantu kita sebagai lelaki pilihan itu"
"Menantu yang dulu nya sama sekali belum pernah kita lihat wajahnya kini dengan berani meminta alih tanggung jawab menjaga putri kita. Alhamdulillah..kita harus banyak-banyak bersyukur atas nikmat, rahmat, dan rezeki yang Allah berikan pada kita" mata Ayah Ali tampak berkaca-kaca.
Pikirannya kilas balik memutar segala memory pertumbuhan Zahwa mulai dari lahir hingga sampai saat ini ia menjadi wanita dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.
"Sungguh ya Rabb, tidak ada yang lebih berhak di puji selain engkau. Alhamdulillah.. hamba bersyukur engkau percayakan hamba mendidik Zahwa hingga ia menemukan lelaki yang tepat menjadi pendamping hidupnya" batin Ayah Ali
"Ayah, selalu sedih kalau bahas Wawa. Sudah Yah, jangan nangis, malu sama cucu. Hehehe" canda Bunda Fatimah lalu menghapus air mata di sudut mata pria tampan yang menjadi Ayah dari anak-anaknya ini.
Berbeda dengan Ayah Ali dan Bunda Fatimah, justru Umi Alya sedang duduk sedikit gelisah, membuat Buya Firman menggelengkan kepalanya geli.
"Umi.. sudah lah.. lebih baik kita istirahat. Menantu pasti baik- baik saja"
"Abi.. Umi khawatir Nak Mary apakah baik-baik saja, nyaman tidak duduk nya atau punggung nya pegal? Umi takut cucu Umi kenapa-napa"
"Zi sebagai suaminya ada di sampingnya, apa yang harus kita khawatirkan. Nak Mary mungkin sudah tidur nyenyak saat ini, sekarang Umi juga harus istirahat, supaya tenaganya terkumpul sebelum kita sampai di tanah suci nanti"
"Abi.. boleh ya.. Umi lihat ke depan. Menantu Umi baik-baik saja atau gimana"
"Umi.. huffttt..." Buya Firman menghembuskan nafasnya membuat Umi Alya langsung kicep. Memang tidak salah mertua mengkhawatirkan menantunya. Tapi ini Umi sangat over protektif pada Zahwa.
" Maaf.. Umi kan cuma khawatir" cicit Umi Alya menunduk
"Tidak apa-apa, Abi paham. Jika setelah melihatnya Umi akan tenang dan mau beristirahat, silahkan, silahkan lihat menantu kesayangan Umi baik-baik saja tau tidak"
"Hmm, tapi cepat. Hanya melihat ya.. Mi"
"Iya Bi.. em.. makasihh Bi.. Umi liat Mary dulu ya"
Umi Alya berbalik setelah melihat Akhtar dan Zahwa tertidur pulas. Hatinya kini lega, benar hanya dengan melihatnya saja, sudah membuat hatinya tenang..
MERTUA IDAMAN! FIX NO DEBAT
***
Jeddah, Arab Saudi
Seperti yang di katakan tadi, setelah sembilan jam pesawat landing di Jeddah, Arab Saudi.
Saat nya mereka akan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan Bus menuju Kota Madinah Al-Munawwarah untuk beristirahat di hotel setelah sebelumnya bertemu dan menerima layanan kedatangan di Saudi.
"Uugghh.." Zahwa meregangkan otot-ototnya ketika badannya sudah terbaring di ranjang hotel.
Duduk diam selama perjalanan sukses membuat seluruh tubuhnya kaku.
"Yank.. keluarkan seperlunya saja ya.." seru Zahwa dengan mata terpejam ketika mendengar Akhtar membuka koper.
__ADS_1
Suaminya itu pasti ingin berganti pakaian, jadi ia ingin mewanti-wanti barang-barang mereka tidak ada yang tercecer.
4 hari menetap di Madinah dengan segala ibadah yang di lakukan cukup membuat hati siapa saja bergetar. Sungguh nikmat terbesar di beri kesempatan bisa Shalat di Masjid Nabawi.
Dan juga berkesempatan untuk berziarah dan melaksanakan Shalat sunnah di samping makam Baginda Nabi Muhammad SAW.
Tidak ada pekerjaan dan niat yang sia-sia, semua pasti dapat imbalannya. Seperti mereka yang sekaligus dapat berziarah ke makam Khalifah Abu Bakar As-Siddiq RA juga khalifah Umar Bin Khattab RA. Yang keduanya berada di samping makam Rasulullah SAW.
Air Mata tak hentinya mengalir, badan selalu merinding dan lemas tidak berdaya ketika mengetahui betapa kecil nya diri ini ketika berada dekat dengan mereka para Sahabat-Sahabat Rasul.
Setiap Zahwa menangis, ia akan merasakan perut nya kram. Sepertinya si jabang bayi juga turut terharu dan senang ketika di ajak Abi dan Umma nya berziarah ke makam orang-orang mulia tersebut.
Seperti saat ini, Zahwa merasakan perutnya tertekan, padahal tidak ada yang menyenggolnya. Di sampingnya ada Akhtar dan Ayah Ali.
"Awwssh...huhh..huuff..tenang ya nak.. tenang ya sayang..." Batin Zahwa sambil terus mengelus perutnya. Berharap anaknya yang ada di dalam sana mendengar perkataannya.
Melihat Zahwa yang mula mengeluarkan keringat dingin segumpal dari pori-porinya. Membuat Akhtar langsung meminta izin pada keempat orang tuanya lalu menuntun Zahwa sedikit jauh dari kerumunan.
"Sayang... Apa kita balik saja ke hotel? Sepertinya kamu sudah lelah"
Zahwa menggeleng " A-aku tidak mau balik ke hotel, ki-kita kan mau ziarah ke makam Baqi" lirih Zahwa sambil meremas sisi gamisnya
"Kita masih punya waktu besok, kita kembali ke hotel ya.. tolong dengar kan saya Queen. Lihat, kaki nya sudah bengkak" pinta Akhtar
"Baiklah" ucap Zahwa pelan
***
📿just information📿
-مجرد معلومات-
*Makam Baqi adalah pemakaman utama yang terletak di Madinah, Arab Saudi, berseberangan dengan Masjid Nabawi di mana Nabi Muhammad dikuburkan. areal pemakaman yang menyimpan jasad sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Terletak di bagian timur Masjid Nabawi, pemakaman yang memiliki areal 174.962 meter persegi dan selalu disesaki pengunjung.
Makam Al-Baqi' pada 2008 hanya berupa lahan kosong setelah perataan oleh pihak kerajaan pada 1926. Makam Baqi mengalami pembongkaran pada tahun 1806, dibangun kembali pada pertengahan abad ke-19 kemudian dibongkar untuk kedua kalinya pada tahun 1925 atau 1926. Makam Baqi menjadi salah satu destinasi di Madinah yang selalu dikunjungi jamaah umrah.
Di antara keistimewaan Baqi adalah, penghuni makam Baqi termasuk yang pertama kali akan dibangkitkan dari dalam kubur.
Rasulullah SAW berjanji untuk menziarahinya. "Siapa yang bisa meninggal di Madinah, silahkan meninggal di Madinah. Karena aku akan memberikan syafaat bagi orang yang meninggal di Madinah."
(HR. Turmudzi 3917, dishahihkan an-Nasai dalam Sunan al-Kubro (1/602) dan al-Albani).
__ADS_1