Salah Khitbah

Salah Khitbah
78. SK 2 : DI UJI TAQDIR


__ADS_3

***


Sedangkan di tempat lain...


"Hmm..saya mau tanya sesuatu sama kamu" ucap Akhtar setelah diam beberapa saat.


"Tentang?"


"Fatih"


DEG! Mendengar nama Fatih dari mulut suaminya membuat Zahwa menelan berat saliva nya.


"A-ada apa de-dengan nya?" Tanya Zahwa gugup menatap mata Akhtar yang juga menatapnya serius.


"Kenapa raut wajahnya berubah seperti itu?" Batin Akhtar


"Kenapa gugup?"


"Hah? Ti-tidak koq" ucap Zahwa mengalihkan pandangannya ke depan


"Kenapa aku harus gugup, kan sudah tidak ada apa-apa" batin Zahwa


"Mau tanya apa Bib?"


"Apa benar kalau--"


Drrtt...drrtt...


Suara dering telpon menghentikan ucapan Akhtar.


Kedua menoleh bersamaan.


"Sebentar ya" ucap Akhtar mengusap puncak kepala Zahwa lalu berdiri agak berjarak mengangkat telponnya.


Zahwa menatap punggung suaminya yang tengah serius mengangkat telpon itu, ia tidak mengerti apa yang di bicarakan mereka, karena Akhtar berbicara dengan bahasa turki.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" ucap Akhtar menutup telponnya.


"Sudah?" Tanya Zahwa melihat Akhtar yang datang dan duduk kembali di sampingnya.


"Hm, baiklah saya cuma mau tanya apa benar Fatih pernah mengkhitbah mu?"


Deg!


"Kheem..." Zahwa berdehem menghilangkan kegugupannya.


"Kenapa Habibie bertanya seperti itu?"


"Saya cuma mau tau, tidak apa-apa jawab lah"


Zahwa mengangguk pelan.


"Benar?"


"Iya benar, dia pernah mengkhitbah ku. Tapi Habib jangan khawatir jangan pikir yang macam-macam. Aku dan dia sudah tidak ada kaitan apa pun lagi. Yang terpenting sekarang Habib yang sudah menjadi suami ku" ucap Zahwa panjang lebar


Zahwa menatap takut pada ekspresi Akhtar yang berubah.


"Apa aku salah bicara?" Gumam Zahwa


"B-Bib...kenapa diam?"

__ADS_1


"Hem? Tidak ada. Berarti itu benar ya? Baiklah saya beruntung karena telah berhasil mendapatkan kamu" ucap Akhtar dengan sedikit raut wajah cemburu.


" Kan sudah taqdir Bib"


" Ya benar, Takdir juga menguji kesabaran saya tapi sepertinya itu tidak berlangsung lama. Buktinya saya sudah menjadi suami kamu saat ini" Ucap Akhtar tersenyum.


"M-maksud nya?"


"Baiklah sini saya jelaskan" Akhtar menarik Zahwa ke dadanya lalu ia melanjutkan kalimatnya sambil mengusap-usap rambut Zahwa


"Dulu Umi pernah menelpon saya, dan ya.. begitulah bertanya kapan akan membawakan menantu untuknya. Tapi Umi bilang kalau ia punya kandidat ia sangat ingin jika seseorang itu menjadi menantunya. Ia mengatakan semua kriteria, sifat, perilaku, dan segala hal tentang orang itu pada saya"


"Hm lalu" ucap Zahwa sedikit ketus membuat Akhtar terkekeh sebelum melanjutkan ucapannya.


"Entah sebuah kebetulan tiba-tiba suara orang itu terdengar saat telfon masih tersambung. Saya yang tidak sengaja mendengar suara nya tiba-tiba menjadi deg degan. Tidak biasanya saya seperti itu dan setelah orang itu pergi, Umi mengatakan jika dialah orang nya. Sejak saat itu saya sering memasukkan namanya di sepertiga malam saya dan Alhamdulillahnya di ijabah oleh Allah" ucap Akhtar tersenyum


Zahwa bangun dari tempatnya dan terduduk dengan muka di tekuk jangan lupakan ekspresi cemburunya.


"Lalu kemana dia sekarang? Apa jangan-jangan dia kabur di hari pernikahan kalian?" Ucap Zahwa ketus


"Eh?kamu kenapa?"


"Apa nya yang kenapa? Udah sana sama dia saja. Berarti nikah sama aku terpaksa ya, huh!"


Matanya sudah mengembun, membuat Akhtar menahan senyumnya. Ia tau sekarang istri nya ini sedang salah paham dan berakhir cemburu tidak jelas.


" Siapa yang terpaksa. Dan kamu tau orang itu - - "


"Sudah lah " Zahwa memotong cepat dan segera beranjak, air matanya meluruh seketika.


Akhtar melihat itu segera mengejarnya masuk ke dalam. Zahwa sedang merapihkan bantal Humaira dan dari belakang ia dapat merasakan sesuatu yang melingkar di perut nya.


Akhtar memeluk Zahwa yang membelakanginya.


"Tidak ada yang marah" jawab Zahwa ketus


"Ahahahaha...." Akhtar akhirnya tertawa membuat Zahwa memicingkan matanya dan memukul pelan lengan Akhtar


"Huusstt..nanti Maira bangun"


Akhtar menghentikan tawanya. Dan membawa Zahwa duduk di sisi ranjang. Zahwa menurut namun ia membelakangi suaminya


"Dosa loh membelakangi suami" tegur Akhtar.


"Tau, sebenernya tadi juga yakin ga yakin mau membelakangi" batin Zahwa. Segera ia berbalik dan menghadapkan dirinya menghadap Akhtar namun memalingkan wajahnya tidak menatap suaminya.


"Coba lihat sini" bujuk Akhtar


"Tidak"


"Ohh...ini sih minta di cium " goda Akhtar


Namun Zahwa tidak peduli ia tetap tidak menghadap Akhtar.


"Biasanya juga main uyel-uyel pipi aja, tumben oake permisi. Dasar!" Batin Zahwa menganggap ucapan Akhtar main-main dan akan seperti biasa memainkan pipinya yang cubby itu.


"Gak"


"Lihat saya!" Titah Akhtar


"Hemm" Zahwa menoleh malas

__ADS_1


"Orang itu adalah - - "


"Aku tidak mau dengar, Bib" potong Zahwa


"Yakin? Nanti kamu nyesel loh"


"Siapa juga sih yang mau dengar tentang begituan" ucap Zahwa pelan tapi terdengar oleh Akhtar


Akhtar menarik pinggang Zahwa sehingga wajah mereka berdekatan bahkan hidung mancung mereka hampir bersentuhan.


"Kalau suami bicara jangan di potong sayang..kalau kamu potong kamu tidak akan tau yang sebenarnya" ucap nya lembut.


Satu tangan Akhtar terangkat mengelus pipi putih bersih itu. Deru nafas Akhtar menyapu wajah Zahwa.


"Orang itu adalah kamu istriku..."


Jleb! Zahwa merasa sangat tersudutkan oleh pemikirannya sendiri. Bagaimana bisa ia cemburu terhadap dirinya sendiri. Ia sangat malu, sungguh malu.


Cup!


Belum selesai keterkejutannya tadi kini ia kembali menegang kala sebuah benda kenyal menyentuh bibir ranum miliknya.


Blush! Pipinya memerah seketika. Walaupun hanya kecupan kecil saja mampu membuat jantungnya berolahraga di tempat.


"Ciuman pertama ku!" Batin Zahwa terkejut


Entah keberanian darimana Akhtar tanpa berfikir bisa melakukan itu. Padahal sebenarnya jika di tanya apa yang ia rasakan ketika berada di dekat Zahwa ia panas dingin. Namun di balik sikap wibawa dan pembawaannya yang tenang yang selama ini melekat dalam dirinya, akhirnya ia bisa menutupi kegugupannya itu.


Zahwa menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Akhtar. Dan menetralkan perasaannya yang tidak karuan.


"Huuuu...huukks..hukss..Umm...Ma..Mmmaa...Ma.." tiba-tiba Humaira merengek mencari Umma nya. Ia merangkak ke arah Akhtar dan Zahwa setelah itu ia berdiri dan mengalungkan tangannya pada leher Akhtar.


"Om..Um-mma...huuhuhuhuu...Umma"


Kedua nya terkejut, dengan cepat Zahwa bangkit dari dada Akhtar dan menoleh pada Humaira.


"Ehh...Maira sudah bangun"


"Hu'um...Aunt Wa..Umm...Mma.. manna?"


"Umma nya lagi pergi, nanti pulang koq. Humaira mau minum susu?"


"Mau Umma...huaaa"


"Loh??"


"Iya sayang..nanti Umma pasti datang ke sini. Bagaimana kalau Humaira minum dulu lalu mandi setelah itu kita jalan-jalan di depan sembari menunggu Umma datang?" Bujuk Akhtar dengan memberikan penawaran


"Hmm..." Humaira nampak berpikir dengan memiringkan kepalanya


"Baikndlah...Maila mau"


"Alhamdulillah...begitu dong..anak pinter aamiin" ucap Akhtar mencium Humaira


Zahwa menatap haru pada Akhtar yang sangat menyayangi Humaira dan sangat pandai mengambil hati anak kecil. Satu kata untuk Akhtar IDAMAN . Valid no debat!!


"Yasudah, kita keluar yuk. Mungkin jiddah (nenek) sedang ada di bawah " ajak Zahwa


"Ayuukk"


.

__ADS_1


Jejak nya jangan tinggal loh


__ADS_2