
Drrt...drrttt....
Dering ponsel membuat meja di bawahnya ikut bergetar. Zahwa yang sedang mengeringkan rambutnya, melirik sejenak ke arah ponsel itu melalui pantulan kaca.
Karena merasa tanggung sedikit lagi rambutnya akan kering jadi ia tidak buru-buru melihat siapa yang menelponnya, hingga panggilan itu berhenti dengan sendirinya.
Selesai dikeringkan, Zahwa lanjut menyisirnya. Kau ia keluar dari kamar berjalan menuju dapur yang ada di lantai dua untuk memasak makanan. Jujur saja ia sangat lapar saat ini, karena tadi malam ia sangat mengantuk ditambah ia sangat malas ingin mengunyah makanan jadi Zahwa memutuskan untuk meminum susunya saja.
Lima belas menit kemudian, Zahwa sudah selesai dengan ritual memasaknya. Ia bergeser sedikit untuk mengambil piring. Tapi entah kenapa tangannya tiba-tiba tidak bertenaga. Ulu hatinya terasa sakit. Fokusnya terganggu disebabkan perasaannya yang mendadak tidak enak. Alhasil piring itu jatuh lalu pecah membuat beling piring kaca itu berserakan di lantai.
"Astaghfirullah'adziim" ucap Zahwa bergetar
Zahwa mencoba menurunkan badannya untuk mengambil pecahan kaca itu, tetapi perutnya menolak saat akan menunduk ia merasakan sakit yang teramat di perutnya sampai membuatnya meringis kesakitan
"Awhhsss..." Dengan sisa tenaga yang ada Zahwa menggeser kursi dan mendudukan dirinya di sana.
Selang beberapa menit, rasa sakitnya mereda. Tapi hatinya tetap tidak nyaman. Ia berdiri dengan hati-hati untuk menyalin sarapannya ke tempat lain. Setelah itu dengan sedikit memaksa tubuhnya untuk memakan makanan itu.
...
Sedangkan di tempat lain, di waktu yang sama. Seorang suster sedang panik. Tiba-tiba saja, kondisi pasieannya semakin kritis. Tidak ada bunyi yang terdengar dari mesin yang terhubung dengan badan pasiennya. Suster semakin takut saat paseiennya tiba-tiba bernafas dengan tersenggal-senggal.
Ia mencari sesuatu di dalam ruangan itu. Saat ia membuka laci, ia menemukan kartu nama keluarga pasien.
Beruntungnya hari ini ia sedikit nakal membawa ponsel saat bertugas, namun itu adalah sebuah keberuntungan ia bisa menelpon keluarga pasien untuk memberitahukan keadaannya.
Tuut...tutt...tutt.....
Suster itu mendesah kecil, panggilannya tidak di angkat. Ia segera memencet tombol darurat memanggil dokter. Tak lama setelahnya Dokter pun datang langsung memeriksa kondisi pasiennya.
Pak Bathur yang saat itu akan ke ruangan Akhtar melihat Dokter masuk ke dalam ruangannya. Perasaannya tidak enak ia mempercepat langkah kakinya. Sesampainyabdi depan ruangan Akhtar ia berpapasan dengan salh seorang suster.
"Ada apa Sus? Ada apa dengan pasien di dalam?"
"Bapak keluarganya? Ya, saya asistennya"
__ADS_1
" Lebih baik Bapak bicara langsung saja nanti dengn Dokter. Untuk saat ini kami belum bisa menjelaskan"
Pak Bathur mengangguk mengerti. Tanpa pikir panjang Ia langsung menghubungi Zahwa.
Tuutt...tutt....
Tidak ada balasan sama sekali
Ia mencoba lagi- tetap sama tidak di angkat.
...
Zahwa yang sudah selesai dengan sarapannya. Kembali lgi ke kamar, kini ia berpikir kembali apakah ia harus ke perusahaan atau tidak. Walaupun sesjujurnya ia lelah, namun tanggung jawabnya besar.
Zahwa membuka lemari pakaian untuk mengganti bajunya. Saat memilih pakaian yang bergantungan di depannya. Matanya menangkap sebuh kaos yang sering di pakai Akhtar saat berada di rumah.
Tangannya meraih kaos itu, ia menghirup aroma khas dari kaos itu, lalu memeluknya seakan ia membayangkan tengah memeluk pemilik kaos itu.
Mengingat Akhtar lagi-lagi perasaanya tidak enak. Ia keluar dari wardobe dan duduk di sofa. Jantungnya bergegup kencang entah apa yang ia khawatirkan.
Dering ponsel nya mengalihkan perhatiannya. "Pak Bathur is calling"
"Sepagi ini?"
Belum sempat ia menjwab telpon itu, panggilannya terlebih dulu terputus. Ia membuka log panggilannya. Betapa terkejutnya, melihat tiga panggilan tak terjawab dari nomor tak di kenal dan sebelas panggilan tak terjawab dari Pak Batur.
Zahwa kembali cemas, khawatir terjadi sesuatu pada Akhtar. Entah mengapa firasatnya sangat kuat mengarah pada hal itu.
" Ya Allah.. mengapa hatiku gelisah. Yaa rabb" bibirny terus berdzikir untuk menenagkan hati nya.
...
"Tuan, maaf anda di panggil Dokter ke dalam"
Tanpa pikir panjang Pak bathur langsung masuk ke dalam ruang rawat Akhtar.
__ADS_1
"Dokter apa yang terjadi?"
"Mm..maaf Tuan. Tapi, dengan berat hati kami harus mengatakan ini. Bahwa..."
Deg!
"Ti-tidak, tidak mungkin. Dokter anda jangan bercanda. Ya Allah.. Dokter ulangi bahwa yang anda katakan tadi tidak benar. Katakan Dokter! katakan!"
"Tenanglah Tuan, tapi kami sudah melakukan semampu yang kami bisa, namun Tuhan berkehendak lain"
" Dokter anda jangan kurang ajar. Periksa lagi, tidak mungkin Dokter"
"Aarrgghh.. ya Allah.. bagaiman caraku memberitahu nona Zahwa. Ia pasti akan sangat terguncang dengan kabar ini"
Pak Bathur terduduk lemah. Jantungnya masih berdegup kencang. Jujur ia masih sangat shock.
Beberapa saat kemudian. Ia memberanikan diri untuk mencoba menelpon Zahwa lagi.
Dengan tangan bergetar dia menekan nama Zahwa di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam. Ada apa Pak? S-saya melihat banyak panggilan tak terjawab dari Anda. Apa terjadi sesuatu?" Balas Zahwa di sebrang sana
"Nona.. a a a a "
"Ada apa Pak? Bicaralah yang benar" Zahwa semakin tak tenang
" N-nona detak jantung nya berhenti"
Deg!
Prangg....
TBC
__ADS_1