Salah Khitbah

Salah Khitbah
90. SK 2 : JALAN-JALAN 1


__ADS_3

***


"Andai kamu mengatakannya sejak dulu, tentu saya akan menyetujuinya"


"Tidak apa-apa lah sekarang saja. Terimaksih sudah mengizinkan aku memakai niqab Bib. Minta ikhlas minta Ridhonya" ucap Zahwa mencium punggung dan telapak tangan Akhtar berkali-kali.


Akhtar tersenyum dan membalas dengan mencium kening dan puncak kepala Zahwa berkali-kali.


Mereka keluar bersama-sama, setelah mengunci rumah mereka langsung menuju parkiran. Umi? Umi sudah terlebih dahulu pergi tepat saat Akhtar baru saja sampai di rumah.


Zahwa menunggu dengan duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Sesekali ia membalas sapaan salam para santri yang berpapasan dengannya.


Bruumm...brumm..brrumm...


Deru kenderaan mendekat mengalihkan perhatian Zahwa. Alisnya terangkat melihat Akhtar sudah naik di atas motor gede nya.


"Ayo sayang..naik"


"Loh sayang, ini milik siapa?"


"Milik saya, siapa lagi"


Zahwa memandang motor itu dan mengingat-ingat sesuatu.


"Tidak pernah melihatnya?" Tanya Akhtar. Zahwa mengangguk tebakan suaminya benar.


"Memang ini tidak berada di sini, tapi di tempat lain. Dan tadi saya sudah meminta orang untuk mengantarkannya kemari" ucap Akhtar tidak mengatakan jelas tempatnya.


"Ohh begitu ya, pantas saja" ujar Zahwa

__ADS_1


"Ayo sayang..naik. Tidak apa kan kita memakai motor?"


"Beik..beik..tentu tidak apa-apa" Zahwa naik ke atas motor dengan bantuan Akhtar. Setelah memastikan istrinya aman di dudukannya. Perlahan Akhtar melajukan motornya meninggalkan kawasan pesantren.


Banyak para santri yang menatap iri pada mereka. Terlebih para santri abadi yang dulu dangat tidak menyukai Zahwa.


Ya pernikahan Zahwa dan Akhtar memeang sudah tersebar di pesantren. Walaupun mereka belum mengadakan walimatul 'ursy, tapi berita pernikahan mereka yang tiba-tiba mampu mengejutkan setiap yang mendengarnya. Tidak ada yang menyangka bahwa Zahwa akan menikah dengan putra pemilik pesantren ini. Bahkan sampai ada yang pingsan mendengar berita itu, pasalnya banyak yang tidak tau bahwa Akhtar adalah Anak dari Buya Firman, mengingat dirinya yang tinggal di Turki dan jarang pulang ke pesantren.


Zahwa menyerngit saat menyadari Akhtar tidak membelokkan motornya ke arah jalanan kota. Ia tidak berani bertanya, memilih diam dan menunggu.


Motor terus melaju, tidak cepat. Berada di kecepatan 20km/jam. Ya, Akhtar ingin menikmati perjalanan mereka.


Zahwa memejamkan matanya menikmati semilir angin mengibaskan kain yang di pakainya.


Zahwa tersentak membuka mata spontan memeluk Akhtar saat motornya goyang melewati jalan berbatu. Akhtar terkekeh kecil melikat semua tingkah istrinya dari kaca spion.


Pandangan mereka bertemu disitu, segera Akhtar memutus pandanganya dan kembali dengan muka datarnya.


Hingga sampai pada suatu tempat yang suhu udaranya lebih dingin. Membuat Zahwa memberanikan diri memeluk Akhtar lebih erat.


Akhtar mengeleus punggung tantan Zahwa yang melingkar di perutnya, memberikan kehangatan pada sang pujaan hati. Ahhh sungguh romantis.


Ia sudah tidak tahan ingin bertanya. Alhirnya mengeluarkan suara


"Bib..? Masih lama kah?"


"Tidak" singkat Akhtar. Membuat Zahwa semakin jengkel.


Ia diam tidak bertanya lagi. Memilih menyandarkan kepalanya pada punggung Akhtar dan mengabsen setiap padi yang bergoyang.

__ADS_1


***


Zahwa mengangkat kepalanya saat merasakan motor berhenti.


Dirinya mematung melihat sebuah rumah kayu yang sangat indah. Di tumbuhi tanaman dan bunga di depannya. Dengan furniture rotan di depannya. Terdapat ayunan dan batu sebagai pijakan menuju pintu. Halaman yang di lapisi dengan rumput hijau, sangat menyejukkan.


Zahwa tersentak saat tangan dingin Akhtar masuk mengelus pipinya. Ia kaget Akhtar sudah turun menyisakan dia sendiri yang masih diam mematung.


"Ayo sayang..kenapa diam? Tidak ingin masuk?"


"Ah mau.." ucap Zahwa. Setelah itu ia turun dan menyambut lengan Akhtar dengan melingkarkan tanganya di sana.


"Terimakasih paman" ucap Akhtar pada seorang pria paruh baya yang baru saja datang memberikan kunci rumah itu.


"Sama-sama Nak"


"Dia siapa Bib?" Tanya Zahwa saat pria itu sudah pergi


"Dia adalah paman yang menjaga rumah ini. Dia beserta istrinya membantu membersihkan di sini. Mereka orang baik, sudah lama ikut bekerja dengan keluarga."


"Ohh begitu. Dan... Rumah ini?"


"Ikhh..banyak nanya kamu ya. Sini!" Ucap Akhtar menarik hidung mancung Zahwa sekaligus menggiringnya masuk ke dalam.


***


Jejaknya jangan tinggal yaa✨


Maaf ada kesalahan nihh..kalian baca bab sebelumnya ya...

__ADS_1


bab 90 nya ke hapus, dan author ngetik bab 91 di bab 90, trus kehapus gituu...engga tau dah kenapa.


maaf ya.. bab ini harus terbalik. 🙏🏻


__ADS_2