
***
TUKK
Tak sengaja sebuah batu mengenai kepala si preman yang menarik tangan bocil itu.
"Awss..akhhh si*l" Umpat si preman. Ia meringis kesakitan dan melepas tangan bocil itu.
Memang dasar bocil yang cerdik, ia tau kalau ia sedang di tolong saat ini, ia mencari dimana org yang menolognya.
"Pisshhtt.. pisshhtt..." Bisik Zahra, berharap anak itu mendengarnya.
Ting! Mata mereka bertemu. Dengan diam-diam anak itu berlari ke arah Zahra.
"Kamu tidak apa-apa?"
Anak itu menggeleng.
"Heyy...mau lari kemana kau" pekik si preman
"Ohh ya Allah..bagaimana ini" Zahra panik sendiri.
Preman itu menghampiri mereka, saat mereka akan lari, tali tas Zahra di tarik oleh salah satu preman.
"Aaaa..." Jerit Zahra saat merasa langkahnya di tahan dari belakang.
"Eitt...mau lari kemana anda? Sok jadi pahlawan kau wanita bod*h?" Ledek si preman.
Di preman ingin memenarik lengan Zahra untuk mengikatnya.
"Heyy..lepasss"
Bugh!bugh!bugh!
Ia menginjak-injak kaki si preman namun tidak mempan sama sekali.
"Diam kau! Berani-berani nya kau membantu bocah ini maka rasakan akibatnya. Ahahaha. Hiyaaaa" preman itu sudah mengangkat tangannya.
BUGH!
Belum sempat preman itu melumpuhkan Zahra, tiba-tiba kaki seseorang menunjang perut si preman hingga terjungkal.
"Aarrgghhh..." Si preman yang satu nya lagi mencoba menyerang orang itu namun, gerakan orang itu lebih cepat. Ia membuka helm nya dan melemparkannya ke kepala di preman.
Rasa sakit menjalar di kepala si preman ia merasa pusing.
Zahra terperangah melihat itu. Pakaian serba hitam, jacket hitam, sepatu hitam, dan juga motor ninja hitam.
"Ya Allah...Dewa dari mana ini. Damage nya bukan main eyyy" gumam Zahra terpesona.
Orang itu menyisir rambutnya dengan jarinya lalu menyibakkan nya ke belakang, setelah itu ia mengangkat kepalanya. Terpampang lah sudah siapa orang yang menolongnya itu.
"Hah? U-u-ustadz Fakhri!?" Pekik nya terkejut
"Kenapa dia menjelma bak dewa angin seperti ini? " Zahra menggelengkan kepala nya.
"Awass.." teriak Ustadz Fakhri saat melihat ia akan di serang dari belakang.
Dengan gerakan cepat satu tangan Zahra menangkis nya. Berganti membuat Ustadz Fakhri terperangah.
Jadilah adu jotos di sana.
Zahra melototkan matanya saat melihat bocil yang ia selamat kan, bahkan rela membahayakan dirinya itu pergi begitu saja. Ia ingin mengejarnya namun sebelum itu preman gondrong itu sudah menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Mau kemana kau, Hah?" Bentak nya
"Dih..gaya nya bentak-bentak, preman doang kok. Zahra bisa! Zahra bisa! Aduh..gimana ini?? Ah bismillah ajalah" batin Zahra mencari akal
"Ehh...?? Om, kenapa bentak-bentak sih? Telinga aku sakitt tau ga sih?" Jawab Zahra
"Apa perduli ku, jangan lari kau!"
"Ehh..aku mau lari kemana Om? Kan jalannya di halangi sama Om"
"Oh iya yah...yaudah deh silahkan lewat" balas si gondrong polos
"Aahh..tengkyuu Om.."
"Ehh..Bod*h, kenapa kau lari. Jangan kabur kau!" Bentaknya saat menyadari ke bodohan nya
"Yang bodoh di sini siapa sih Om? Aku atau Om? Kan tadi Om yang kasih jalan lewat sama aku? Hihh..masih muda tapi udah pikun" ejek Zahra dapat keberanian entah dari mana.
Ustadz Fakhri yang mendengar itu menahan tawanya yang hampir meledak mendengar percakapan Zahra dan preman gondrong itu.
"Aku tidak pikun, bod*h"
"Ah terserah lah. Itu rambut kenapa panjang banget, kalah sama rambut aku. Omini laki apa bukan sih? Wah di curigai nih"
"Eh saya laki-laki tulen. Kamu ga tau apa kalau ini itu rambutnya rangsel" bentaknya
"Rangsel? Rapunzel kali Om. Dih, gaya nya" ucap Zahra menyebutkan salah satu karakter film kartun yang sangat ia sukai dulu. Seorang anak remaja yang memiliki rambut yang sangat panjang...
"Suka-suka Ku!"
"Gini aja deh Om, kita main yuk?"
"Mau main apa lagi kau"
"Ini nih ya, pertama om letakin kayu itu di atas sini" tunjuk Zahra pada permukaan tong kaleng berukuran jumbo yang menjadi pembatas mereka
"Udah kan? Nih aku tantang ya Om. Om harus ngikutin kemana aja jari ku ini bergerak, kalau Om bisa. Berarti Om paling ganteng, paling keren, paling bestt" ucap Zahra lalu itu menghadap sebentat ke belakang dan melakukan gerakan pura-pura muntah.
"Siap ya Om"
"Hmm. Cepetan bocah"
Zahra mulai menggerak-gerakkan jari nya ke sana kemari, ke samping kanan, kiri, atas, tengah, maju,mundur dan terakhir ke bawah. Zahra mendekatkan jarinya ke arah kayu di depan mereka. Saat kepala preman itu menunduk. Kesempatan itu ia gunakan untuk memukulkan kepala preman itu ke kayu tersebut.
"Maaf ya Om"
...BUGH!
"Aawwhh...berani kau ngerjain aku Ha?" Gertak si preman merasakan sakit di kening nya.
" Kan tadi aku udah minta maaf, Aih... Maaf lagi ya Om"
Zahra mendorong preman itu hingga jatuh terlentang ke belakang setelah itu ia mendorong tong kaleng itu menimpa preman itu.
"Aaaaa..." Jerit si gondrong saat merasakan sakit di bagian intinya yang tertimpa tong besar itu dengan keras.
"ahahahaha" Zahra segera mendekat pada Ustadz Fakhri yang juga sudah melumpuhkan preman yang satu nya.
"Ihh...Kak...bagaimana ini?" " Gumam Zahra. Saat mihat kedua preman itu mencoba bangkit.
Namun sebelum itu, tiba-tiba...
"Itupak orang nya" suara si bocil terdengar kuat
__ADS_1
Ahh ternyata ia lari untuk mencari polisi. Dan benar kini ia datang membawa polisi untuk mengamankan kedua preman yang sangat meresahkan warga itu.
Setelah mengurusi preman dan bocil itu. Zahra ingin pulang naik taksi.
Namun di tahan oleh Ustadz Fakhri, sebelum pulang Ustadz Fakhri membawanya makan sebentar lalu mengantarnya pulang.
Selam makan dan perjalanan pulang. Zahra selalu mencuri-curi pandang pada Ustadz Fakhri dan memuji ketampanannya dalam hati.
FLASHBACK OFF
***
"ahh...Bunda..ada apa dengan anak mu ini" jerit Zahra di kamar nya.
Ia menutup wajahnya sangat mengingat beberapa kali ia terciduk memandangi Ustadz Fakhri yang berujung ia salah tingkah sendiri.
Ia berguling-guling di ranjangnya menahan malu mengingat itu.
"Huwaa..."
Duk!
"Aaakh...pantat ku...sakiit..." Pekiknya mengadu kesakitan saat ia jatuh terguling ke bawah dari atas ranjang.
***
Sedangkan di tempat lain.
Kedua pasangan baru suami istri itu tengah melakukan sesuatu di kamar mereka. Awalnya mereka tertawa bersama. Namun ujung-ujungnya entah apa yang terjadi.
Ada ringisan mengaduh sakit terdengar.
"Aaa..sakit Bib..."
"Tahan lah..ini hanya sebentar..jangan ribut..tenang ya.."
"Hiks..hiks..Bib.."
"Tenang sayang..."
Tanpa mereka sadari ada yang mendengar percakapan mereka itu.
Abi Firman menelan ludah nya mendengar itu. Kaki nya menggantung satu di udara. Ia mengusap telinga nya dan terkekeh mendengar apa yang ia dengar barusan.
"Ehehehe...aduh...aduh..dasar pengantin baru!" Ucap Abi Firman.
Lalu putar balik dan turun kebawah, dan mengurungkan niat awalnya naik ke atas.
(Aduuhh...Abi...jangan bilang kalau apa yang Abi pikirkan sama dengan yang di pikirkan oleh para Readers 🙈🤣)
_
_
_
_
Hemm, gimana?? 🤣
Serius nih ya, kali ini Author serius. Nanti malem beneran dah iya beneran nanti malem yak✌🏻🤣
Nungguin ya?? Ahahaha sabar..sabar..tahan..tahan..yaa jangan ada yang kabur dulu🤣
__ADS_1
Otak nya di cuci dulu gih😝, kalian sama Abi sama saja😌👀
Minta jejak nya dong...👉🏻👈🏻