Salah Khitbah

Salah Khitbah
93. SK 2 : FI AMANILLAH SAYANG


__ADS_3

"hiks..hikss...hiks.." isakan kecil Zahwa terdengar berbisik di pelukan Akhtar


Kepalanya di usap-usap dan sesekali di kecup untuk menenangkannya.


Tidak ada yang bisa mencegah suami nya pergi kali ini, ya memang mudah saja untuk mengizinkannya pergi, tetapi jika sudah tiba saat seperti ini, dialah yang paling berat untuk berpisah walau sebentar.


Didekapnya tubuh kekar itu, seolah tak ingin melepaskan pergi jauh darinya. Wajahnya di gesek-gesekkanya ke dada bidang di hadapannya itu menghapus air mata yang terus saja mengalir.


Keningnya di cium lama, matanya terpejam menikmati benda kenyal yang mendarat di kening mulusnya itu. Untuk beberapa waktu kedepan, ia tidak akan mendapatkan ciuman itu.


"Ssstt...sudah?" Akhirnya pria bertubuh kekar itu bersuara


Melonggarkan sedikit pelukannya, ia menghapus jejak air mata dengan ibu jari nya, lalu mengecup bibir merah muda itu.


Ya ini adalah saat pemberangkatan Akhtar harus pergi merawat Kiyai Kholis yang sedang sakit


"Saya pergi ya..baik-baik di sini, perhatikan kesehatan jangan sampai sakit ya. Kalau ada apa-apa kabari saja"


"Hiks..hemm. Kalau sudah sampai jangan lupa hubungi aku ya Bib. "


"Tentu, nanti saya akan hubungi kamu kalau sinyal bagus dan waktu yang memungkinkan" ucap nya lembut


"Janji!?"


"InsyaaAllah..ya sudah kalau begitu saya berangkat sekarang ya Humaira..agar tidak macet saat di jalan"


"Hem..fi Amanillah sayang...aku menunggu mu. Ummuuaachh...ummuach..umuucah." sebuah kecupan ia berikan di kening dan berkali-kali di bibir sang suami.


"Jangan menguji ku sayang.. saya akan segera berangkat ini..bisa-bisa nanti saya terlambat karena mengulang yang tadi malam" ucap Akhtar menggesek-gesekkan hidung mereka


"Hihihihi..tidak apa-apa. Aku siap melayani mu suamiku.." ucap Zahwa memerah menahan malu.

__ADS_1


"Cup! Cup! MasyaaAllah.. pandai sekali kamu sayang. Mengapa saat-saat begini kamu malah membuat ku gemas dan tidak ingin meninggalkan mu, hemm? Padahal saya harus segera pergi" Ucap Akhtar mengecup pipi kemerahan Zahwa dan membuat air muka Zahwa berubah sendu di ujung kalimatnya.


Akhtar yang melihat itu kembali memeluknya erat.


"Sabar ya.. tidak lama kok. Hanya sebentar"


"Hemm..ta-"


Tok..tok..tok...


Suara ketukan pintu membuat Zahwa menghentikan ucapannya.


" Nak..supir sudah menunggu di bawah.." suara Umi terdengar memberi tahu.


" Baiklah, ayo kebawah" ajak Akhtar


**


**


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab serentak kedua wanita yang ia cintai itu.


Perlahan mobil Akhtar meninggalkan Rumah dan lama-kelamaan keluar dari kawasan pesantren.


Zahwa masuk setelah mobil yang ditumpangi Akhtar hilang dari pandangannya.


"Nak..Umi ke kamar dulu ya, Umi ingin istirahat" pamit Umi pada Zahwa


"Baik Umi, mari Mary antar" ucap Zahwa lalu memapah Umi masuk kedalam kamar.


Zahwa menata letak bantal Umi dan menyelimuti Umi agar Umi nyaman beristirahat.

__ADS_1


"Terimakasih sayang.."


"Iya Umi..sama-sama" jawab Zahwa tersenyum


"Zahwa pamit keluar ya Umi, selamat beristirahat" setelah itu Zahwa pergi keluar dari kamar Umi.


Zahwa kembali ke kamarnya, karena benar-benar ia tidak memiliki kegiatan hari ini. Bosan duduk di balkon. Ia masuk ke dalam dan pandangannya tertuju pada perpustakaan mini milik suaminya.


"Daripada kepikiran terus coba aku alihin dengan membaca buku" pikirnya.


Ujung jari-jarinya meraba buku-buku itu. Pilihannya jatuh pada kitab yang berjudul ' tuntunan awal membina rumah tangga yang baik' kira-kira begitulah yang bisa ia tangkap dari awal halaman judul buku itu.


Ia tertarik ingin membacanya, ia membawa buku itu ke sofa dan duduk di sana, dan mulai membaca buku itu.


15 menit berlalu ia membaca buku tersebut. Saat ini matanya seperti terhipnotis ingin tidur. Namun, karena masih asyik membaca, ia terus lanjut membaca.


Sepersekian detik berikutnya, ia mendapatkan sebuah lipatan kertas gambar kaligrafi saat akan membalik halaman selanjutnya.


Rasa penasaran menggerogoti jiwanya. Ia membuka lipatan kertas itu. Nampaklah sebuah kaligrafi yang bertuliskan. 'ana uhibbuka fillah Gus' dengan berbahasa Arab.


Deg!


Jantung nya berpacu cepat saat melihat sebuah nama di ujung bawah kanan kertas itu. 'Aleeyaa 🌈❤️'


Apa ini? Siapa dia?


Batinnya bertanya-tanya. Otaknya berfikir keras mengabsen seluruh anggota keluarga Akhtar yang ia tau. Namun gagal, tidak ada yg ia ingat ada kerabat Akhtar bernama Aleeyaa..


Sangking lelahnya ia ketiduran di sofa tersebut masih dengan memeluk buku itu.


***

__ADS_1


nb: kembali mengingatkan tidak ada poligami 🙂


Minta jejaknya dongg✨


__ADS_2