Salah Khitbah

Salah Khitbah
87. SK 2 : MALAM PERTAMA YANG TERTUNDA


__ADS_3

...Udah ada peringatan loh ya!...


...Bacanya pelan-pelan biara tidak terasa cepat selesai. Okee ...


***


#Sebelumnya.


Ceklek~


Akhtar membuka pintu dengan perlahan. Ia takut jika Zahwa sedang beristirahat dan akan terganggu karenanya.


Ia melihat Zahwa sedang berdiri menatap jejeran kitab pada rak buku di salah satu sudut khusus di kamarnya.


Dengan langkah pelan ia mendekati Zahwa. Ia melihat istrinya itu tidak menyadari kehadirannya. Ia dengan tenang memeluk Zahwa dari belakang.


Membuat istrinya itu tersentak kaget sebentar namun tak lama kemudian Zahwa bisa mengontrol dirinya.


"Kenapa belum tidur hm?" Bisik Akhtar meletakkan dagunya di bahu Zahwa.


"Belum ngantuk" ucap Zahwa mengelus pipi Akhtar yang memeluknya.


"Yakin, belum ngantuk? "


Zahwa terdiam sejenak. "Sebenarnya aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak ada, Bib..hadehh itu saja tidak mengerti" gumam Zahwa dalam hati


"Hu'um" Zahwa mengangguk.


"Di sini, ngapain?"


"Tidak ada, hanya ingin melihat. Awalnya begitu melihat semua kitab ini ingin sekali membacanya, tapi bingung mau mulai dari mana" ucap Zahwa


"Sebentar yaa.. hmm...nah itu dia. Baca itu saja" tunjuk Akhtar pada sebuah kitab.


"Ohh yang itu?"


"Iya"


"Memangnya mengenai apa Bib?" Tanya Zahwa sebelum mangambil kitab itu.


"Kisah-kisah pada Zaman Rasulullah SAW, tau kisah layla majnun 'kan?"


"Sedikit"


Kemudian Akhtar menceritakan kisah dimana ada seorang orang gila yang berhasil membuat Rasulullah tertawa.


Zahwa dan Akhtar pun tertawa membayangkan itu. Ingin membaca kisah lain, Zahwa meraih kitab tersebut dan kemudian menurunkannya. Siapa sangka, ternyata buku itu berhubungan dengan buku yang lain. Hingga teman-temannya jatuh dan menimpa tangan dan kaki Zahwa.


"Aaa..sakit Bib..." jerit Zahwa sangat sebuah ujung buku mengenai tulang jari kaki nya.


"Tahan lah..ini hanya sebentar..jangan ribut..tenang ya.." Ucap Akhtar mengangkat kitab-kitab tebal itu. Saat Zahwa mengaduh sakit.


Ia menyuruh Zahwa tenang agar ia tidak menjerit meringis terlalu keras, jika ada yang mendengar pasti ekspektasi orang yang mendengar mereka tentang kejadian yang sebenarnya terjadi sangat berbeda.


"Hiks..hiks..Bib.." ringis Zahwa


"Kenapa lagi?" Tanya Akhtar. Merasa karena buku tebal yang bercover keras itu sudah ia angkut semua.


Zahwa menunjuk kakinya.


"Astaghfirullah..maaf sayang.." ucap Akhtar lalu mengangkat kaki nya yang menginjak kaki Zahwa yang sakit. Ia terus meringis tulang jari-jari kakinya masih terasa sakit.


Akhtar membawa Zahra duduk di kursi toilet.


"Tenang sayang..." Ucap Akhtar mengelus pipi Zahwa. Lalu mengurut kaki Zahwa pelan.


"Aaa..pelan-pelan Bib, sakiit.."


Tanpa mereka sadari ada yang mendengar percakapan mereka itu.


Abi Firman berencana mengambil berkas pesantren di ruangan atas yang satu lantai dengan kamar Akhtar. Namun saat akan menaiki tangga ketiga terakhir.


Abi Firman menelan ludah nya suara percakapan itu. Kaki nya menggantung satu di udara. Ia mengusap telinga nya dan terkekeh mendengar apa yang ia dengar barusan.


"Ehehehe...aduh...aduh..dasar pengantin baru!" Ucap Abi Firman.


Lalu Buya Firman balik kanan(grak!) Memutuskan untuk turun ke bawah dan mengurungkan niat awalnya naik ke lantai atas.


Ia berpikir bahwa anak dan menantu nya itu sedang melakukan sesuatu yang ada di fikirannya sejak mendengar suara itu. Ia tidak ingin menganggu acara keduanya dan kembali ke kamar nya.


Sesampainya di kamar..


"Loh Abi? Mana berkas yang ingin di bawa besok?" Tanya Umi Alya


"Abi, tidak jadi mengambilnya"


"Kenapa?"


"Ka-karena di-di atas..."


"Apa, Bi? Memangnya ada apa di atas?"


"Itu Umi..itu...ah sudah lah kita tidur saja" ucap Buya Firman lalu naik ke atas ranjng dan memeluk Umi Alya.


" Ohhh...Umi tau" ucap Umi sumringah


"Hm?" Jawab Abi dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Kita akan segera memiliki cucu ya, Bi?" Ucap Umi dengan semangat.


Buya Firman tersenyum kecil. Cup! Buya Firman mencium Umi sekilas


"Kita do'akan saja" gumam Abi Firman.


***


Kembali lagi pada pasangan pengantin baru itu.


"Bagaimana? Sudah tidak nyeri lagi 'kan?" Zahwa mengangguk.


Akhtar menyimpan minyak kayu putih itu di meja rias lalu berdiri di belakang Zahwa.


"Hijab nya di buka ya" izin Akhtar. Zahwa mengangguk.


Iya, Zahwa memakai hijab instannya karena di rumah ada mertuanya jadi ia memakainya.


Akhtar mengambil sisir lalu menyisir rambut panjang Zahwa. Jangan ditanya bagaimana jantung keduanya saat ini. Tidak terkontrol lagi, bahkan keduanya dapat mendengar detak jantung mereka yang beradu.


Zahwa tidak berani menatap Akhtar lewat pantulan cermin. Ia menundukkan wajahnya.


"Selesai" gumam Akhtar saat melihat rambut Zahwa sudah lurus dan rapih.


Akhtar menciumi rambut Zahwa, sesekali ia mengecup belakang telinga Zahwa.


"B-Bib..geli.."


"Hm?"


"Geli Bib.." ucap Zahwa pelan.


Akhtar melingkarkan tangannya di bahu Zahwa.


"Queen..."


"Iya Bib?"


"Mari kita shalat 2 rakaat dulu "


Zahwa yang mendengar itu seketika konek kemana arah pembicaraan Akhtar.


"Baiklah... A-aku mau berwudhu dulu" Akhtar melepas pelukannya. Zahwa dengan cepat pergi ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi ia menguncinya dan bersandar di pintu sambil memengangi dadanya yang dag dig dug.


"Huhh..huh..ya Allah..apakah Habibie akan meminta hak nya sekarang?" Batin Zahwa. Ia melirik kakinya yang gemetaran sama seerti tangannya.


Setelah diri nya sudah sedikit tenang, ia membersihkan dirinya, mencuci wajahnya dan menyikat giginya. Setelah itu ia berwudhu.


Ceklek~


Zahwa keluar dari kamar mandi dan ia melihat sepasang sejadah sudah di bentangkan dan ia melihat Mukena yang tadi ia pakai juga sudah tergeletak di sana.


'pantas saja Habibie mengajakku, ternyata dia melihat Mukena ini. Sudah pasti dia tau kalau aku sudah bersih' batin Zahwa memakai Mukenanya.


Tak lama Akhtar datang sudah selesai dengan sarungnya.


"Loh?" Ucap Zahwa pelan


"Kamu lama sekali di kamar mandi nya" jawab Akhtar seakan tau apa yang ada di pikiran istrinya.


Setelah itu mereka sholat sunnah 2 rakaat berjamaah, yang seharus nya mereka lakukan 1 minggu yang lalu.


Saat sholat telah selesai, Akhtar berbalik dan memberikan tangannya pada Zahwa.


Zahwa menerimanya dengan senang hati dan mencium punggung tangan suami nya itu sedikit lama. Akhtar tersenyum. Lalu ia menyentuh kening Zahwa seraya membaca doa


“Allahummaa innii as-aluka min khairihaa wa khairi maa jabaltahaa alaihi Wa ‘audzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa jabaltahaa alaihi.”



​Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk kebaikan dirinya dan kebaikan tabiat (sikap atau perilaku) yang dia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya (keburukannya) dan kejelekan tabiat (sikap atau perilaku) yang ia bawa".


"Duduklah di sana" tunjuk Akhtar pada ranjang.


Glek!


Zahwa menelan salivanya.


"Ya Allah, sekarang kah?" Batinnya. Perasaan was-was dan takut kini menyerang dirinya namun itu di kalah kan oleh rasa gugup yang lebih mendominasi.


Zahwa mengangguk, setelah melipat Mukena nya dia naik ke atas ranjang dan duduk di sana sesuai dengan perintah sang Suami.


Ia menekuk kedua lututnya dan mengalungkan tangannya di sana.


Setelah itu Akhtar datang mendekat padanya dan meraih kedua tangannya.


"Assalamu'alaikum ya Zaujati" ucap Akhtar pelan memberi salam pada sang istri


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabaraktuh ya Zauj" jawab Zahwa.


Akhtar tersenyum setelah itu ia memeluk Zahwa. Keduanya terdiam beberapa saat. Akhtar menutup matanya sesat menikmati aroma lembut dari parfum yang Zahwa pakai sebelum Akhtar datang tadi.


"Sayang..." Panggil Akhtar


"Iya sayang.." jawab Zahwa lembut, mendongakkan keplanya menatap suaminya sambil tersenyum manis. Membuat Akhtar melayang, karena baru pertama kalinya istrinya itu memanggilnya 'sayang'


" Kamu tau? Saya sangat mencintai kamu, tentu karena-Nya yang telah menyatukan kita. Dalam sebuah pernikahan tidak mungkin hanya akan ada cerita suami istri yang bahagia saja. Setiap rumah tangga pasti memiliki lika-likunya sendiri"

__ADS_1


Cup! Akhtar mencium kening Zahwa untuk menjeda ucapannya.


" Dan saya yakin dengan pilihan saya untuk mempersunting mu dulu, menjalani kehidupan baru dalam lembaran baru hidup kita, bisa menyelaikan masalah dengan baik tanpa ada keributan dan hal hal yang tidak diinginkan. Dan saya ingin kamu lah yang akan melahirkan keturunan saya, merawat mereka, membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang, kelak menjadikan mereka anak yang shalih dan shalihah. Bersediakah kamu menjadi Ummah dari anak-anak saya?" Tanya Akhtar lembut menyentuh qalbu.


Zahwa tersentuh dengan penuturan Akhtar. Matanya berkaca-kaca. Matanya menatap tangan Akhtar yang masih mengelus tangannya. Lalu kembali menatap suami nya dengan senyum manis.


" Tentu sayang. Jadikan aku Ummah untuk anak-anak kita" ucap Zahwa melingkarkan tangannya pada badan Akhtar.


Akhtar mengecup kening istrinya itu lama. Tes! Air mata haru yang tadi ia tahan kini sudah terjun bebas seketika, keluar dari mata indahnya.


"Terimakasih sayang" Akhtar menciumi kedua pipi Zahwa, hidungnya, dan terakhir bibir ranum milik istrinya itu.


Zahwa mematung saat benda kenyal itu kini bergerak mencoba menerobos masuk ke dalam habitat benda tak bertulang itu.


Ia memejamkan matanya dan membuka sedikit bibirnya, memberikan jalan pada suaminya untuk mengabsen benda-benda yang ada di dalam mulutnya.


Zahwa adalah orang yang sudah mempelajari hal seperti ini dalam kitab khusus pada saat di pesantren dulu, tentu ia sudah tau bahwa ini adalah ajakan suaminya meminta bersenggama dengannya.


Bismillah dengan senang hati ia menerimanya, memberikan yang terbaik, menebus rasa bersalahnya seminggu yang lalu karena kedatangan tamu bulanannya.


_


_


Ia menyibakkan rambut panjang istrinya ke samping, lalu ia menciumi belakang telinga, pundaknya dan tengkuk istrinya. Mencoba memancing syahwat istrinya itu.


"Hemmpt.." gumam Zahwa tertahan. Memang dasar tubuhnya yang sensitive, langsung bereaksi saat Akhtar melakukan itu.


"B-bib.." ucap Zahwa pelan nyaris tak terdengar saat Akhtar mendekapnya.


"Siap sayang..?" Bisik Akhtar


Zahwa hanya mengangguk.


Tik! Lampu padam. Hanya lampu tidur yang menyala. Membuat pencahayaan sangat minim.


'Bismillah' Akhtar menarik selimut lalu membuka satu persatu pakaian istrinya lalu langsung melipatnya walau tidak di lipat rapi. Saat istrinya sudah polos


"Lakukanlah.." pinta Akhtar. Zahwa yang mengerti hanya mengangguk.


Menahan rasa malu dan gugup, perlahan ia menanggalkan pakaian suami nya juga yang langsung di lipat lalu mereka letakkan di lantai.


Keduanya sudah dalam keadaan polos dalam satu selimut. Akhtar meletakkan bantal di bawah Zahwa lalu mengambil kain untuk menutup kepala keduanya.


Setelah itu selesai. Akhtar mendekatkan bibinya ke telinga Zahwa, lalu membimbingnya agar membaca doa bersama sebelum berjima' .


بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


Latin: Bismillahi Allahumma jannibnaas syaithoona wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.


Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”


Setelah di rasa istrinya sudah siap untuk ia gauli, Akhtar merapatkan tubuhnya pada Zahwa. Dengan perasaan berdebar-debar, Perlahan ia membuka paha istrinya lebar-lebar. Membuat Zahwa menahan malu dan menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.


Akhtar membaca ta’awudz dan basmalah. Setelah itu mencoba untuk memasuki istrinya untuk yang pertama kalinya.


"sayang...maaf mungkin akan sedikit sakit" bisik Akhtar. Zahwa mengangguk dan sudah bersiap-siap menunggu kehadiran suaminya.


Zahwa mer*mas kain sprei di kedua sisinya untuk menyalurkan rasa sakit yang menjalar di bagian bawah nya


"Lirih kan suara mu sayang... " Pinta Akhtar


Ruangan yang tadinya dingin oleh AC kini berubah gerah oleh kedua manusia yang menempatinya.


Ibadah yang membawa kenikmatan bagi dua anak manusia yang telah halal, sudah terlaksana. Akhtar sudah memberikan nafkah batinnya pada Zahwa.


اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصهْرًا وَكَانَ رُبُّكَ قَدِيْرًا


“Segala puji milik Allah yang telah menciptakan manusia dari air, untuk kemudian menjadikannya keturunan dan mushaharah. Dan adalah Tuhanmu itu Mahakuasa.”


Dzikir Akhtar dalam hati saat ia memberikan benih cintanya pada istinya.


Setelah itu Akhtar mengecup kening sang sitri lama.


"Terimakasih sayang... terima kasih telah menjaga kehormatan mu hanya untuk suami mu. Semoga di dalam sini segera tumbuh keturunan yang shalih. Aamiin" ucap Akhtar tulus seraya mengusap lembut perut Zahwa.


"Sama-sama sayang. Aamiin" jawab Zahwa lirih. Lalu memejamkan matanya sejenak.


Kamar atas, dalam rumah ndalem, pondok pesantren Al-Anshor menjadi saksi bisu atas malam panjang yang di lewati oleh kedua pengantin baru itu.


***


Assalamu'alaikum, apa kabar?


Nungguin ya?😌


Nulis ini tuh kemaren begadang, sampe telat sahur. Ehh ga up, review nya lama. Sampe 3 hari, belum up juga.


Pas tadi datang pemberitahuannya. Ehh..di tolak. Siapa sih yang ga kesel😌. Akhirnya langsung Author revisi dan jadi lah ini.


Harusnya bab ini tuh ada 2k620 kata. Ehh sekarang.. hm... Sudah lah.


Maaf telah membuat kalian menunggu. Author tau koq, kalian bukan ga sabar nunggu author up tapi ga sabar nunggu part ZaTar kan? Haahh😌


Oke deh sekian babayy


Jejak nya jalan tinggal yaa✨

__ADS_1


__ADS_2