Salah Khitbah

Salah Khitbah
98. SK 2 : UJIAN YANG BERAT


__ADS_3

Sesuai dengan perjanjian awal. 1 jam setelah sampai di rumah Ustadz Maulana, mereka berpidah ke kediaman Kiyai Kholid.


Saat memasuki tempat tinggal beliau, sungguh dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Rumah tidak ada yang mengurus, Kiyai yang tidak ada merawat, sampai pada kondisi Kiyai yang sangat membuat shock.


Pertama kali Kiyai Kholid melihat wajah Akhtar, mata nya langsung berkaca-kaca. Teringat akan sahabat karibnya yang tidak lain adalah kakek Akhtar.


Melihat keadaan Kiyai Kholid, ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di sana dengan beliau, ia tidak tega membiarkan Kiyai Kholid sendirian di rumah. Ya walaupun akan ada yang bantu beres-beres dan mengurus beliau, tapi tentu tidak akan memuaskan jika mereka merawat beliau dengan waktu yang singkat tidak full seharian, tidak lain karena ada kegiatan dan tanggung jawab lain.


Tempat yang sudah disiapkan untuk Akhtar tidak jadi di tempati.


Kiyai Kholid di rawat dengan baik oleh Akhtar, sebagaimana ia memperlakukan Abi nya sendiri. Urusan Ma'had juga ia tangani dengan sebaik mungkin. Rumah yang tidak hidup kini jadi lebih bersih dan lebih asri karena ia menanam beberapa tanaman di sekitarnya.


• * * •


2 bulan telah berlalu, begitulah hari-hari yang di jalani nya saat dirinya berada jauh dari sang istri. Mereka akan saling menelpon jika Kiyai Kholid sedang beristirahat, atau memang jika pada saat itu ia sedang senggang dan dapat sinyal yang bagus.


Itupun harus Akhtar yang menelfon terlebih dahulu, tidak bisa jika dari kota menelpon padanya.


'sungguh ujian yang berat' bagi kedua pengantin baru tersebut


***


Sedangkan di tempat lain, Zahwa sedang menunggu telfon dari suaminya, Akhtar.


Ini sudah lewat waktu biasanya, mulutnya memang menguap tapi matanya tidak mengantuk. Masih setia ia menunggu panggilan dari sang pemilik hati.


Matanya mulai menganak, ia sangat merindukan suaminya. Karena tak kunjung menerima panggilan. Ia memutuskan untuk membuka lemarinya.


Matanya mengabsen satu persatu baju milik Akhtar. Hingga tatapannya terhenti pada sebuah kemeja putih berliris biru samar, dan kaos putih.


Tangannya terulur mengambil keduanya. Setelah itu ia menghirup aroma pakaian itu, aroma yang melekat pada Suaminya.


Air matanya menetes, sungguh ternyata ini sangat berat. 2 bulan terpisah jarak cukup mengguncang jiwa kedua anak manusia ini.


Ia kembali duduk bersandar di dipan ranjang, masih dengan memeluk kedua benda itu. Matanya terpejam menikmati bau seseorang yang sangat ia rindukan. Yang namanya selalu ia langitkan mengharap keselamatan dan kesehatan seseorang di ujung sana.


Suara ketukan pintu membuat kedua matanya kembali terbuka.

__ADS_1


"Nak..ini Umi.." suara Umi terdengar dari balik pintu.


"Iya Umi, masuk saja" sahut Zahwa


"Umi masuk ya.." muncul lah Umi lalu menutup kembali pintunya.


Zahwa memperbaiki posisi duduknya. Menyambut Umi yang juga duduk dari sisi sebelahnya.


"Belum tidur?"


Zahwa menggeleng pelan.


"Huuh..." Umi menghela nafas pelan. Lalu mendekat dan menarik Zahwa kepelukan nya.


Umi mengelus-elus rambut menantunya dengan penuh kasih sayang. Menciumi puncak kepalanya agar ia lebih tenang.


"Hiks..hiks..hik...hiks.." tak lama keluarlah isakan yang sedari tadi ia tahan.


Umi mempererat pelukannya pada Zahwa, dan mengusap lengannya. Menyalurkan kekuatan dan memberikan ruang untuk menantunya mengeluarkan sesak di dadanya.


"Hssttt..iya sayang.." lirih Umi


"Hiks..hiks.." ia mengelap air matanya dengan kemeja Akhtar yang ia genggam sedari tadi.


Setelah beberapa saat, tidak terdengar lagi suara isakan pilu dari Zahwa. Hanya sedikit sesenggukan yang menyebabkan bahunya menaik-naik ke atas.


"Sstt...keluarkan sayang..keluarkan.."


"Hiks..hu'ummmmhh.."


"Sudah?"


"Sudah Umi"


Umi meletakkan kepala Zahwa di pahanya. Tetap terus mengelus rambut hitam panjang itu. Mengusap lengan yang memeluk kemeja anaknya itu.


Umi tau apa yang ia rasakan, dan justru Umi sudah lebih dulu merasakan hal seperti ini, ya.. walau tidak sampai selama Zahwa rasakan.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya sayang... Zi tidak kemana-mana, hanya sebentar"


"I-itu tidak sebentar Umi... Tidak tau kapan suami Mary akan kembali.." balasnya dengan suara bergetar


"Kamu tenangkan diri kamu sayang..tarik nafas ..buang.. perbanyak istighfar" ujar Umi yang langsung di lakukan oleh Zahwa.


Umi menceritakan hal-hal lucu tentang masa kecil Akhtar dulu pada Zahwa, berharap ia sedikit terhibur. Ya.. memang se di kit.. kerena Zahwa hanya menyunggingkan senyumnya mendengar cerita Umi.


Entah di menit ke berapa tapi matanya sudah tertutup,kesadarannya mulai terlelap, tapi sesenggukan nya masih ada. Hembusan nafas teratur itu mulai berhembus.


"... Lalu bagaimana pendapat mu nak?" Tanya Umi pada Zahwa.


Merasa tidak ada jawaban atau gerakan apapun. Umi melihat menantunya sudah terlelap dengan mata sembab, hidung dan bibir memerah.


Karena elusan kasih sayang Umi di kepala nya, berangsung-angsung meluluhkan kesadarannya untuk beristirahat. Dan kini benar ia sudah tertidur di pangkuan Umi.


Umi menatap iba pada menantunya. Ia merebahkan kepala Zahwa di bantal lalu menyelimutinya.


Zahwa menggeliat sedikit saat Umi menyelimutinya, tidur nya semakin nyaman dan begitu pula ia semakin memeluk erat kemeja Akhtar.


Umi melihat kemeja di pelukannya dengan senyum miris. Setelah mencium keningnya, dan mengganti lampunya dengan lampu tidur. Ia meninggalkan kamar itu tak lupa menutup pintunya.


Setelah sampai di kamar


"Bagaimana Mi?menantu kita sudah tidur?" Tanya Buya


"Sudah Bi, ia tidur memeluk kemeja Zi. Sepertinya ia sangat sangat merindukan Zi. Kasihan menantu kita Bi. Umi sedih melihatnya." Jawab Umi dengan raut wajah sedih


Buya Firman membalas ucapan Umi dengan memeluknya dari samping dan mengusap lengannya.


"Ini ujian bagi mereka, sayang.." final Buya.


"Hem..ujian yang berat.. kasihan anak menantuku "


***


Jejaknya Bundaaa✨

__ADS_1


__ADS_2