
***
"Zahwa..Zahra aku tidak bisa membedakan mereka karena ada kemiripan di wajah mereka. Dan Zahwa kecil sangat menjaga pandangannya hingga aku tidak dapat mengenali wajahnya lagi. Padahal dulu aku juga berencana menjodohkan Fatih dengannya" sambung Abi Sam.
Semua menatap ke arahnya.
"Hah. Aku juga berfikir begitu" lirih Ayah Ali
"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Ummah yang sudah pusing dengan semua yang terjadi. Sedangkan Fatih hanya mengedikkan bahunya
"Sebaiknya kita pertemukan mereka saja dulu" saran Abi Sam.
Setelah beberapa kai diskusi akhirnya mereka setuju. Untuk mempertemukan mereka.
***
Keesokan harinya.
Semua orang kini berkumpul di meja makan.
Kali ini suasana sedikit mencair, karena mereka berusaha untuk tidak ribut saat makan.
"Kak Wawa kapan kakak pulang? Semalam aku ingin bertemu tapi Kakak sedang istirahat" ucap Zahra dengan normal
"Uhuk..uhuk...ha? Apa de?"
"Kapan Kakak pulang semalam?"
"Ohh..itu Akak pulang saat sebelum atau ba'da dzuhur. Kakak lupa, udah cape soalnya" jaeab Zahwa dengan tersenyum manis
"Oohh baiklah."
"Inih makan gorengannya Kakak udah masakin tadi" Zahwa mengambilkan sebuah gorengan ke ouring Zahra.
"Makasih Kak" ucap Zahra
"Sama-sama" jawab Zahwa kembali tersenyum manis dan kembali menatap piringnya
Zahra masih menatap Zahwa dengan tatapan sendunya.
"Ya Allah..Kak Wawa...kau sungguh baik, bahkan kau sudah terluka. Hatimu juga pasti hancur sama seperti ku, kau sangat menyayangi ku. Setelah semua ini apakah kau masih akan tetap menyayangiku?" Batin Zahra menatap Zahwa nanar.
"Ra.." panggilan Ayah Ali menyadarkan lamunannya.
"I-iya Ayah?" Jawab Zahra gelagapan.
"Zahwa dan Zahra ikut Ayah setelah ini ke ruang keluarga ya"
"Baik Ayah" jawab mereka kompak.
Setelah selesai makan, membereskan meja dan mencuci piring. Zahwa menyusul Zahra yang sudah di ruang keluarga bersama Ayah Ali.
"Ada apa Yah?" Tanya Zahwa saat sudah duduk di hadapannya.
" Nanti Zahwa dan Zahra ikut Ayah ke luar sebentar yah"
"Loh? Memangnya ada apa Yah?"
"Tidak ada, hanya ingin bertemu teman Ayah saja"
" Oohh..baiklah Yah"
"Kalian bersiap-siap setengah jam lagi kita berangkat ya"
"Baik Yah" mereka bergegas ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Tiinggg!!!
Sebuah pesan masuk ke dalam handphone Zahra.
Ia meletakkan kembali hijab pashmina yang sudah siap ia lilitkan ke kepalanya. Dan meraih handphone itu di atas nakas.
📱Senia
📩 Ra
^^^📱Zahra^^^
^^^📤salam dulu Nia^^^
📱Senia
📩 Eheheh iya maaf. Assalamu'alaikum Zahra...
^^^📱Zahra^^^
^^^📤Wa'alaikumussalam, ada apa?^^^
📱Senia
📩Ada waktu luang ga?
^^^📱Zahra^^^
__ADS_1
^^^📤always^^^
📱Senia
📩Nonton yuk
^^^📱Zahra^^^
^^^📤Maaf ga bisa. Aku mau pergi sama Ayah^^^
📱Senia
📩Tumbennnn, ngapain?
^^^📱Zahra^^^
^^^📤 Ga tau. Katanya mau ketemu temennya. Kak Zahwa juga ikoot kok^^^
📱 Senia
📩 Ooh oke deh
^^^📱 Zahra^^^
^^^📤Yaa. Maaf ya^^^
Ia menutup hpnya dan kembali fokus pada hijabnya.
Setelah seleaai ia kembali melihat penampilannya. Lalu ia segera turuh ke bawah.
"Sudah siap?" Tanya Ayah Ali saat sudah melihat kedua putrinya
"Sudah Ayah"
***
Kini mobil Syeena sudah berhenti di suatu tempat.
'Bling's Cafe&Resto' tertera pada papan yang tergantung.
"Ayo turun" ajak Ayah Ali
Mereka turun bersama-sama. Mereka di sambut oleh sang Manager Cafe. Dan di tuntun ke ruang VVIP.
Saat Zahra dan Zahwa masuk. Seseorang keluar dari sana. Membuat Zahra dan Zahwa terkejut. Melihat siapa orang yang ada di dalam sana.
Awalnya Zahwa ragu untuk lanjut melangkah namun, karena dorongan lembut dari Ayah Ali di bahunya membuat Zahwa pasrah dan melanjutkan langkah kecilnya.
Setelah mereka masuk sempurna. Ayah Ali menutup pintunya. Membuat ketiga orang itu lagi-lagi terlonjak kaget.
"Kalian selesaikam masalah kalian" ucap Abi Sam
"Kalian sudah sama-sama dewasa. Bijaklah mengambil keputusan. Ayah tau kalian pasti bisa" lanjut Ayah Ali
Setelah itu pintu di kunci dari luar. Dan kedua pria paruh baya itu pergi ke luar dan minum kopi disana. Jangan lupakan mereka bercerita-cerita sambil bercanda tawa. Membiarkan anak-anak mereka menyelesaikan masalah sendiri dan belajar dewasa menentukan pilihan.
Sedangkn di dalam ruangan. Suasana tampak canggung. Tidak ada yang berani membuka percakapan.
Zahwa duduk dengan gelisah. Zahra berdebar-debar. Dan Fatih hanya bisa beristighfar.
"Kheemmm" Zahra berdehem memecah keheningan.
"Emm...Kak..ga ada niat buat pesen makanan gitu?" Tanya Zahra pada Zahwa
"Kamu laper?"
"Enggak"
"Trus?"
"Ngantuk!" Jawab Zahra sebal. Pasalnya ia sedang bertanya serius namun Zahwa malam bertanya yang lain.
"Ohh.." singkat Zahwa membuat Zahra melongo.
"Kak.." rengek Zahra
"Hmm?"
"Laper...pesen makan ya ..." Rengek Zahra
"Ohh..kamu laper. Kenapa ga pesan aja" ucap Zahwa yang baru sadar
"Kakak tadi dimana saja? Dari tadi Zahra juga susah bilang koq"
Mereka terus berinteraksi menghiraukan pria tampan di hadapan mereka yang menyaksikan mereka dengan senyum tipis. Agaknya ia menikmati kegugupan Zahwa
"Ah.. iya kah? Maaf.. ya yaudah.. kita pesen ya..mb- "
"Mbak tolong bawakan buku menunya" ucap Fatih memotong ucapan Zahwa.
Sesaat mereka saling menatap. Lalu kembali melempar sembarang pandangannya. Dan hal itu tak luput dari perhatian Zahra. Ia hanya menghela nafas kecil.
Mereka makan dalam kecanggungan. Setelah selesai makan mereka berucap hamdalah.
__ADS_1
Suasana kembali heningg..
"Kak" " Dek.."
Mereka bertiga berucap bersamaan.
"Duluan saja" ucap Zahwa pada Fatih
"Tidak..silahkan" tolak Fatih
Melihat keduanya saling tuduh, akhirnya Zahra yang bicara
"Biar aku saja duluan"
"Silahkan" ucap Fatih dan anggukan dari Zahwa
" Kak..kakak tau kan aku sudah di khitbah oleh orang tua Kak Fatih.." ucap Zahra memulai pembicaraan.
Zahwa yang tadinya menatap Zahra kini menunduk. Matanya terasa panas.
"Kak..lihat Zahra.."
Zahwa menahan dengan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di saat yang tidak tepat.
"I-iya..Kakak tau itu. Dan sebentar lagi...ka-ka-kalian akan me-menikah" ucap Zahwa dengan suara bergetar.
"Zahwa.." lirih Fatih
"Zahra...ada yang harus kamu ketahui" ucap Fatih ceoat pada Zahwa. Ia tau Zahwa pasti akan menahannya jika ia minta persetujuan Zahwa terlebih dahulu.
"Apa Kak?"tanya Zahra tenang. Walaupun saat ini dia juga sedang menahan sakit
"A-aku..Zah-Zah-Zahwa...Kami- "
"Kakak berencana ingin mengkhitbahnya setelah pulang dari Kairo" potong Zahra cepat dengan sekali tarikan nafas.
Membuat Fatih dan Zahwa sama-sama menahan nafas mereka.
"Zahra..."
"Tapi Ummah dan Abi Kak Fatih salah mengkhitbah. Itu kah? Itukan yang ingin Kak Fatih sampaikan pada Zahra?" Ucap Zahra tidak mengidahkan panggilan Zahwa
"Ka-kamu..sudah tau?"
"Ya , aku sudah mengetahuinya. Bahkan sudah memikirkannya"
"Tapi asal Kakak tau. Sejak dulu aku sudah sangat mencintai Kak Fatih. Saat Kak Fatih memarahi ku di perusahaan dulu, di situ aku sudah jatuh hati pada Kakak. Dan saat orang tua Kak Fatih datng mengkhitbah. Jujur aku sangat senang sekali. Aku sangat bahagia doa-doa ku di jawab oleh Allah" Jelas Zahra panjang lebar
Mendengar itu hati Zahwa kembali bimbang. Luka hatinya semakin menganga lebar. Dilema yang sangat menyakitkan. Adiknya sangat bahagia, dan dia sendiri?
"Kak Zahwa tau? Aku juga tau penantian Kak Wawa terhadap Kak Fatih selama ini. Zahra tau itu"
Ia diam. Membuat Fatih dan Zahwa yang tadi menunduk menatap pada Zahra yang menatap mereka secara bergantian.
Tik
Tik
Tik
Tik
Tik
"Maka dari itu Zahra ingin menyatukan kalian. Kak Zahwa sudah sangat menyayangi Zahra, jika nanti gara-gara ini kasih sayang Kak Wawa pada Zahra akan berkurang, maka Zahra tak ingin itu terjadi. Maka dari itu, Kak Zahwa menikahlah dengan Kak Fatih"
ucap Zahra tenang dengan senyum kecil terbit di bibir mungilnya.
.
JEDEERRRRRR!!!
.
.
.
.
MAU DI LANJUTT GA NIH??
KALAU LANJUT TAU DONG HARUS NGAPAIN YA KAN! KENCENGIN
LIKE
KOMEN
KOPI MA KEMBANGNYA YA...
MAAF LAMA, DI SINI HUJAN JADI JARINGANNYA MINTA DI TIMPUK :) LAMA DEH UP NYA. MAAF BILA BANYAK TYPO :)
SELAMAT MENUNGGU....BUDAYAKAN LIKE SEBELUM ATAU SESUDAH MEMBACA🌻
__ADS_1
Tabarakallah💙