Salah Khitbah

Salah Khitbah
34. SK : TUNGGU AKU KEMBALI


__ADS_3

...H A P P Y R E A D I N G...


...****************...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


BUGH...


Zahwa menabrak sesuatu.


"uhh..." kepalanya pusing. Perlahan matanya terbuka dan melihat apa yang terjadi, ia terkejut kepalanya menabrak sebuah dandang berjalan. Oh tidak bagaimana bisa? Tak lama dandang itu mulai turun menyentuh tanah dan terlihatlah...


"Ustadz Fakhri!" pekik Zahwa


upss...dia kelepasan dengan segera ia menunduk.


Ustadz Fakhri yang mendengar suara itu pun menegakkan badannya kembali.


"loh..? anti ? " Ustadz Fakhri menunjuk kerarah Zahwa


" I-iya Ustadz..." jawab Zahwa pelan


"Nah..kebetulan anti di sini, apakah tadi anti mendengar suara?" tanya Ustadz Fakhri dengan ekspresi bingungnya


"suara? " beo Zahwa


"Iya..sepertinya tadi ana menabrak sesuatu tapi tidak tau entah apa" Ucap Ustadz Fakhri


"Dandang ini sangat besar sehingga menghalangi pandangan ana ketika berjalan" lanjutnya lagi


"huhuhu...Ustadz yang antum tabrak itu ana" batin Zahwa mengadu


Melihat Zahwa hanya diam menunduk Ustadz Fakhri kembali bertanya


"apakah anti mengetahui sesuatu?"


"emm..e- anu Ustadz..e- suara itu berasal dari akibat benturan kepala ana dengan gagang dandang itu" jawab Zahwa ragu


"hah!! sawak?" (beneran) ucap Ustadz Fakhri kaget


"na'am Ustadz" Zahwa mengangguk kecil


"oh..tidak, apakah anti baik baik saja? kepala anti tidak luka 'kan? tidak ada yang tergores 'kan? semua aman 'kan?" tanya Ustadz Fakhri bertubi-tubi sambil mengecek keadaan Zahwa khawatir.


Bukannya menjawab Zahwa justru menahan tawa. Andaikan saat ini ia tidak memakai niqab mungkin Ustadz Fakhri akan melihat ia di tertawakan.


"Bagaimana? tidak apa apa 'kan?" tanya nya lagi


"eh i-iya Ustadz ana baik-baik saja, la ba'sa" ucap Zahwa


"Alhamdulillah..syukurlah. Aseef jiddan ana tidak memperhatikan jalan"


"na'am Ustadz, la ba'sa. Kalau begitu ana pamit dulu, Assalamu'alaikum "

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


Setelah kepergian Zahwa, Ustadz Fakhri menatap kepergiannya dan beralih pada dandang di depannya.


"hem..gara-gara antum gadis pujaan ana kejedot kepalanya. Lagian kenapa antum besar sekali sih sudah berat menghalangi jalan pula, bagaimana kalau tadi Hiya(dia) kenapa-kenapa? " ucap Ustadz Fakhri menunjuk-nunjuk benda mati di hadapannya.


"Ada apa Ustadz?" tiba-tiba Ustadz Fauzan sudah berada di samping Ustadz Fakhri dengan membawa beberapa sendok besar.


"Astagfirullah..." ucap Ustadz Fakhri mengelus dadanya kaget.


"Ti-tidak ada apa apa Ustadz"


"Lalu kenapa anta marah-marah sendiri? ada masalah? atau sini ana bantu mengangkatnya" ucap Ustadz Fauzan menawarkan bantuan


"ohoho...La Ustadz, ana tidak apa-apa. Syukron bantuannya ana kuat, hanya dandang saja ana bisa. Nih.." ucap Ustadz Fakhri dengan menunjukkan kedua otot lengannya. Membuat Ustadz Fauzan geleng-geleng kepala


"Beik, kalau begitu ana duluan yah. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" Ustadz Fauzan berlalu. Dan Ustadz Fakhri kembali mengangkat dandang itu untuk di bawa ke ndalem.


***


.


.


.


.


.


Kini semua para santri dan santriwati sudah mengambil barisan untuk melepaskan Kang Fatih ke Kairo. Semua berjejer rapi, dengan menggunakan pakaian putih. Memang setiap Santri yang akan pergi melanjutkan pendidikan ke luar negri akan merasakan hal seperti ini juga jadi bukan hanya untuk keluarga ndalem saja.


Sungguh hari ini sangat berat untuk mereka, bisa di bilang hari kesedihan. Lebay...


Linda dan Dini berjalan bergandengan ke barisan, berbeda dengan Zahwa yang bergabung dengan para panitia pengurus lainya. Di barisan lain.


.


.


.


.


Kini semuanya sudah siap, Setelah acara salam salaman. Kang Fatih akan di antar ke mobil oleh Buya, Umi dan pengurus lainnya. Dan diikuti oleh seluruh rombongan santri dan Santriwati.


Kang Fatih melewati Zahwa yang sedang menunduk. Sesaat keduanya eye kontak dengan jantung berdegup kencang dan perasaan tak karuan.


deg... deg.. deg... deg


"Nak..." Buya Firman menepuk pundak Kang Fatih, seketika mereka tersadar dan langsung memutuskan kontak matanya.


Zahwa menunduk malu


"Tiga tahun ana di Kairo untuk memantapkan ilmu ana. Selama tiga tahun itu ana ingin memantaskan diri ana untuknya. Dan selama itu ana tidak ingin anti menaruh harapan pada ana karena semua kembali lagi taqdir sudah di garis oleh Allah. Ana hanya berharap jika gadis kecil itu bersedia menunggu ana dan datang mengkhitbahnya. Jika anti memang di taqdirkan untuk ana maka kita akan di pertemukan dalam ikatan suci pernikahan"


Kata-kata dalam surat itu berputar putar di kepalanya. Kini pandangannya blur... entah mengapa gelisah melanda hatinya. Ada setitik ketakutan dalam hatinya akan hal yang bahkan belum terjadi.


Kini keluarga ndalem sudah berada di dekat mobil. Kang Fatih tampak menyalami satu per satu anggota keluarganya. Sebelum ia masuk ke mobil ia menatap semua para santri yang selama ini sudah berteman dengannya.


Setelah beberapa wejangan dari orangtuanya, Kang Fatih mengangguk paham dan langsung memeluk Ummah yang sudah berkaca-kaca sedari tadi.

__ADS_1


"Ummah jangan nangis...nanti cantik nya hilang" ucap Kang Fatih menghapus air mata Ummah dengan kedua ibu jarinya.


Ummah membalasnya dengan mengecup kedua pipi dan kening Kang Fatih, lalu tersenyum hangat berusaha tegar melepas anaknya.


"Ummah baik-baik saja, kalau sudah sampai kabari Ummah ya anak Sholeh nya Ummah...Fi amanillah..sayang.." ucap Ummah menunjukkan senyum terbaiknya. Membuat Abi Sam cemburu dan merangkul bahu Ummah agar merapat pada nya. Buya Firman dan Umi Alya hanya bisa tersenyum geli dan menggelengkan kepala.


Setelah memeluk semua anggota keluarganya Kang Fatih beralih pada seluruh santri.


"Fi Amanillah Kang..." ucap para santri serempak.


Suara rebana terdengar berbunyi sebagai salam perpisahan yang dimainkan oleh beberapa santri.


Kang Fatih memberikan senyum tipisnya dan melambaikan tangannya pada seluruh orang yang ada di sana. Lalu ia masuk ke dalam mobil dan membuka kaca dan kembali melambai pada mereka semua.


Pak supir membunyikan klakson mobil dan mendapat anggukan dari Buya Firman dan Abi Samsyir.


Perlahan mobil melaju dan meninggalkan lapangan itu


Ummah tampak tak bisa menahan air matanya lagi. Ia sesenggukan di dalam dekapan Abi Sam.


***


Di dalam mobil, Kang Fatih tampak melirik kaca spion dan matanya langsung menangkap satu objek yang sama sedang menatap kepergiannya juga.


Ia terus memperhatikannya, karena objek tersebut bergeming dari tempatnya. Perasaannya bergejolak, hingga pandangannya pada kaca spion itu putus tatkala sudah terhalangi gerbang pesantren.


Kini mobil sudah keluar dari Pesantren Al-Anshor, dan akan berbalik arah menuju Bandara.


"Tunggu aku kembali adik kecil, aku akan segera mengkhitbah mu"


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Like ...


...Komen...


...plowerr...


...atau kopi......


...bagi-bagi dung.....

__ADS_1


...Jangan lupa jejaknya tinggalin yaw:)...


__ADS_2