Salah Khitbah

Salah Khitbah
128. SK 2 : PENYELIDIKAN


__ADS_3

Ceklek~


Pintu terbuka, tampak dua pria berdiri tegak dengan tatapan sayu membidik seorang wanita yang tengah terbaring di atas brankar.


"Zi..." Panggilan lembut membuat pria berparas rupawan ini menoleh. Menatap wanita yang telah berjuang melahirkannya ke dunia ini.


Ia mendekati kedua orang tuanya dan mencium tangannya


"Kapan Umi dan Abi sampai?"


"Baru saja, bagaimana keadaan putri Umi. Apa kata Dokter?"


"Istri Zi baik-baik saja Umi. Umi tidak perlu khawatir. Zi minta do'a nya saja. Agar kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya"


"Aamiin" lirih mereka serempak


"Tentu nak, do'a Umi selalu menyertai anak-anak Umi" ucap Umi Alya mengelus puncak kepala Akhtar.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Buya Firman


Akhtar menatap seluruh orang yang berada di ruangan tersebut, mereka tampak menantikan jawaban yang akan keluar dari bibirnya.


Akhtar menceritakan semua yang ia tau, dan juga pengakuan yang ia dapatkan dari ibu-ibu yang membantunya tadi untuk membawa Zahwa.


Azzam yang baru tiba, langsung saja mengepalkan tangannya. Melihat amarah suaminya Helwa menggenggam kepalan tangan itu dan mengelus dada suami nya lembut.


"Apakah Zahwa belum sadar dari tadi?" Tanya Azzam tertahan


" Dia beri obat tidur agar bisa istirahat Bang" jawab Akhtar


Azzam mendekat kepada Akhtar dan membisikkan sesuatu membuat tubuh Akhtar menegang.


"Baiklah, saya percayakan pada Abang. Tapi sejauh ini saya merasa tidak punya seperti yang Abang katakan"


"Baiklah, hubungi ane kalau Zahwa sudah sadar"


Akhtar mengangguk


Setelah berpamitan pada semua orang, Azzam pergi menyelidiki siapa yang berniat jahat pada Adiknya.


"Kak.. ini minum dulu. Zahra udah belikan tadi" Zahra menyodorkan air mineral pada Akhtar. Ia tau Akhtar pasti butuh air untuk menenangkan pikirannya.


"Terimakasih Dik" Akhtar menerima air itu dan meminumnya.


Benar saja setelah ia minum rasanya oksigen kembali tersalurkan ke otaknya membuat Akhtar merasa sedikit lebih tenang. Mereka setia menunggu Zahwa hingga siuman.


***


Sedangkan di tempat lain. Seorang pria tengah menatap bunga-bunga di taman belakang rumah sakit dari jendela ruangan ibunya.


Kata-kata wanita muda itu terngiang-ngiang di pikirannya. Ia menjadi bingung sendiri. Apakah Zahra mengatakan itu karena Zahra tidak suka dengannya atau memang benar Zahra tidak ingin menikah di usia muda.


Pikirannya kalut, bleng begitu saja. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Zahra sungguh telah mengaduk-aduk pikiran dan perasaannya.


"Uhuk...uhuk..." Suara batuk dari ranjang pasien. Membuat kaki jenjangnya melangkah besar mendekati cinta pertamanya.


"Ibu.. ini.. minum dulu" ia membantu Ibu nya minum agar tenggorokannya tidak kering.


"Ri.. apa yang kamu pikirkan nak .. mengapa wajah mu kusut sekali"


Pandangannya bertemu dengan mata sayu itu. Tak lama ia menggeleng.


"Tidak ada Bu.."


"Jangan bohong, Ibu tidak bisa kamu bohongi"


Ustadz Fakhri menyunggingkan senyumnya. Dan memijat kaki Ibunya.


"Ibu suka sama Zahra"


Deg! Tangan kekar itu berhenti dari kegiatannya.


"Ibu bicara apa, baru juga Ibu ketemu satu kali sama dia" ucap Ustadz Fakhri kaget


"Kalau kamu ada rasa, berjuang nak.. minta sama Allah.. do'a, ikhtiar.. jangan merenung. Zahra tidak akan kamu miliki kalau kamu tidak merayu penciptanya. Kalau kamu cinta, perbaiki dulu cintamu pada-Nya. Setelah itu, jika taqdir, kalian pasti akan bersatu"

__ADS_1


Hati Ustadz Fakhri menghangat, Ibunya memang paling peka dan tau apa yang ada di pikirannya.


Ibunya sangat perasa dan tau apa yang sedang di butuhkan nya.


"Ibu rasa kamu lebih mengerti apa yang harus kamu lakukan"


Ustadz Fakhri tersenyum lalu mengangguk.


"Fakhri minta do'a nya Bu"


"Selalu nak" tangan yang tidak mulus lagi itu mengusap kepala anak semata wayangnya dengan penuh kasih.


Kini jiwanya semakin menggebu-gebu setelah mendapatkan semangat dari Ibunya. Sungguh restu dan do'a Ibu adalah kunci dari lancarnya segala urusan seorang anak.


***


Azzam tengah berdiri di depan sebuah komputer bersama rekannya. Ia menatap serius pada setiap pergerakan yang di tunjukan di layar.


Alisnya menyatu kala melihat dua orang anak tengah mendekati Adiknya. Azzam menoleh pada salah satu temannya. Pria tersebut langsung membaca ekspresi kedua anak tersebut.


Ya, Azzam sedang melihat rekaman cctv jalanan yang sangat pas membidik lokasi kecelakaan Adiknya.


"Heh, dasar pemain amatir" desis Azzam


"Pak, di sini tidak ada apa-apa dan terlihat aman-aman saja" ucap sang Asisten


"Lanjutkan" titah Azzam


"Tunggu, sebelum di lanjut. Aku menemukan kejanggalan pada kedua anak tadi. Coba putar 2 menit kebelakang" ucap pria itu


Asisten Azzam langsung menuruti perintah teman Bosnya itu.


"Tidak kah kalian melihat, wajah mereka dan kegugupan gerak-gerik mereka" ucap nya


"Heh, aku ane sudah sadar dari tadi. Ane meinta mu membaca ekspresi mereka untuk melihat apakah mereka termasuk atau tidak"


"Jawabannya antara iya dan tidak" jawab pria itu


"Jawab yang jelas"


"Ssstt.. ayo lanjukan vidio nya" rekaman itu pun di lanjutkan.


" Jelaskan" ucap Azzam melihat ekspresi temannya


" Oke, yang pertama. Kedua anak tadi mendekati Zahwa untuk meminta. Tapi ekspresi gugup dari wajah mereka yang pucat juga kaki mereka yang bergetar membuat aku yakin kalau kedua nak tersebut di manfaatkan seseorang untuk menjalankan rencananya


Kedua, setelahZahwa menawarkan makanan pada mereka ekspresi lega sangat jelas tergambar di wajah lugu mereka. Tapi mereka juga tidak bisa menyembunyikan perasaan was-was dan gelisah saat masuk ke dalam elwarung tersebut


Dan ini yang paling penting. Setelah kedua anak itu masuk. Tak berselang lama. Datang segerombolan orang mendekati Zahwa dan fokus pada wanita yang memakai kemeja kotak itu. Coba zoom pergerakan tangannya. Di detik berikutnya ia tampak sengaja menyenggol Zahwa dengan berlari, saat Zahwa mulai limbung ia gunakan kesempatan itu untuk mendorong Zahwa.


Jadi jelas, ini rencana wanita itu. Dan karena wajahnya tidak terlihat, jadi kita tidak tau siapa dia"


Azzam mengetuk-etukan jarinya ke atas meja.


"Baiklah sekarang ane mengerti, dia menggunakan kedua anak itu untuk mencelakai Zahwa. Tapi sepertinya kedua anak ini tidak mau melakukannya dan rencana nya gagal. Jadi ia terpaksa menggunakan tangannya sendiri untuk mencelakai Adikku"


Kedua rekannya mengangguk mengerti.


"Siapa kamu sebenarnya" gumam Azzam


***


30 menit kemudian..


Kini bulu mata lentik itu mulai mengerjap manja. Kelopak mata yang berat, terpaksa untuk di buka.


Merasakan tangannya perih ia melirik, jarum infus yang menancap di tangan kirinya.


Bau antiseptik rumah sakit mendominasi indra penciumannya. Mata itu kini terbuka sempurna dan mulai bekerja sama dengan otak untuk mengembalikan kesadarannya.


"Emmh.." lirih nya menggeser sedikit punggungnya.


Melihat tubuh Zahwa bergerak, sontak semua mendekati ranjang pasien.


"Wawa.. sudah bangun nak"

__ADS_1


"Kak Wawa"


"Sayang..."


Zahwa menatap satu persatu orang di hadapannya. Tak lama bibir tipis itu tersenyum.


"Wawa dimana? Kok banyak orang?" Tanya nya


Ayah Ali dan Bunda Fatimah menggenggam tangannya


"Kita di rumah sakit sayang.." jawab Bunda Fatimah


"R-rumah sakit?" Bibinya kembali bergetar


Ingatan beberapa tahun silam kembali melintas di pikrannya.


"Z-za zza"


Cup


"Sayang.. tadi mau minum kan. Ini minum dulu"


Akhtar segera mencium kening Zahwa dan menyodorkan pipet untuk mengalihkan ketakutan Zahwa.


Zahwa mengangguk dan mulai menyeruput air mineral sedikit demi sedikit


"Sudah??" Ia kembali mengangguk


"Ada yang sakit nak?" Tanya Umi Alya mengelus tangan Zahwa


"Engga Umi, cuma rasanya lemas aja" ucap Zahwa pelan


Semua mengangguk


"Sampai kapan Wawa akan tidur di sini?" Tanyanya lagi


"Kita pulang besok ya sayang. Kamu isirahat dulu di sini ya. Kalau ada yang sakit katakan ya" ucap Akhtar mengelus pipi mulus itu.


"Kenapa lama sekali. Bunda.. Wawa tidak mau lama-lama di sini.. hiks" rengek nya


"Sayang.. Wawa nginep satu malam aja kok. Tunggu badan Wawa fit dulu ya nak"


Bibirnya mengerucut, matanya mendelik sebal


"Baiklah sekarang Wawa mau apa? Mau makan atau istirahat lagi nak?" Tanya Buya


"Eh Abi? Abi di sini juga"


"Daritadi kami semua ada disini Kak Wa.." sahut Zahra


"Iya nak, kita di sini kok nemenin kamu" jawab Ayah Ali


Matanya tampak melihat keseluruh ruangan, yang sejak tadi ia cari keberadaannya. Biasanya ketika ia sedang dalam keadaan begini, orang itulah yang paling cepat ada di samping nya.


Seketika bibinya membentuk lengkungan ke bawah, saat tidak menemukan seseorang yang cari


"Cari siapa Dik?" Tanya Helwa


"Kak.. B-bang-"


"Assalamu'alaikum.. Wawa... Abang datang..." Ucap seseorang yang baru saja membuka pintu dengn hebohnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


"ABANG....." Ucap Zahwa riang


"Iyaaa adikku sayang..." Senandung Azzam lalu mendekati Zahwa. Tangannya mengelus puncak kepala Zahwa dan menciumi keningnya.


Matanya memicing saat bertemu tatapan elang pria di sebrang nya. Dalam hati ia tertawa geli.


"Hahahaha... Cemburu saja, wajah mu tetap datar. Tapi matamu tidak bisa bohong adik ipar. Haha" batinnya tertawa jahat


Akhtar mengalihkan pandangannya dan berucap


"Kepada pembaca setia SALAH KHITBAH jangan lupa tinggalkan jejaknya. Agar mbak Author semakin rajin menceritakan kisah kami"

__ADS_1


Zahra mengambil alih " ayoo dong.. puasin Author tercinta dengan like, komen, vite dan follow nya..."


💙


__ADS_2