
"K-Kak Fahri..."
Tes..
Tes...
Tes...
"Zahra?" Ustadz Fakhri mengangkat kepalanya dann melihat Zahra berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Zahra berbalik dan bersiap berlari dengan kencang.
"Zahra.. tunggu.. jangan lari..."
Tes...
Tes...
"Zahra..."
"Abi.. ayo ikut Bubu.." rengek Qyla pada Ustadz Fakhri
"Baiklah.. ayo"
Byuuurrrr!!!
Ustadz Fakhri berlari sambil menggendong Qyla mengejar Zahra yang berlari sangat kencang.
"Huh..huh..huh..." Nafas Ustadz Fakhri memburu saat mereka sudah berhenti
"Gimana Kak?? Kena hujan ga?" Tanya Zahra sambil mengibaskan pakaiannya
"Sedikit" jawab Ustadz Fakhri
"Qyla gimana?"
"Tidak basah Bubu..."
"Aduhh... Bubu lagi.. harus berapa kali Kakak bilang. Nama Kakak itu Zahra bukan-"
JEDERRR!!!
"aaaa..." Teriak Zahra dan Qyla bersamaan membuat Ustadz Fakhri menutup kedua telinganya.
"Astaghfirullahal'adziim... Kalau lagi ada petir itu baca Subhana man sabbahat lahu, bukannya malah menjerit" ucap Ustadz Fakhri, Zahra hanya mengeluarkan cengiran khasnya
"Emang itu tadi subahallah subhanallah itu artinya apa sih Kak?"
"Bukan Subhanallah tapi Subhana man sabbahat lahu"
"Nah iya itu maksud Zahra"
"Artinya, Maha suci zat yang mana petir bertasbih kepada-Nya"
"Ohh.. oke.. makasih ilmu nya Kak.. Zahra akan baca itu lagi Subhana man sahabat-"
"Subhana man sabbahat lahu"
"Ehehe iya, Subhana man sabbahat lahu"
"Hmm bener"
__ADS_1
"Ehehehe"
Mereka menunggu hujan mereda di sebuah kios pinggir jalan. Dengan cuaca yang mulai dingin, membuat Zahra terbayang akan ranjang Queen size nya. Ia sedang berangan bergulung-gulung di dalam bed cover di tengah cuaca dingin.
"Ahh... Kaya nya enak" gumamnya tanpa sadar sambil memeluk kedua lengannya.
"Hem?? Apa? Kamu ingin sesuatu?"
"Ehh bu-bukan Kak.. ti-tidak apa-apa kok.. heheehe"
Krukkk..krukk....bunyi perut Zahra terdengar jelas
"Astaghfirullah... Ni perut bunyi lagi aelah.." gumam Zahra sepelan mungkin mengeluarkan kesahnya . Sedangkan Ustadz Fakhri menahan tawanya
"Ayo.." ucap Ustadz Fakhri tiba-tiba
"Kemana?"
"Saya tau tempat makan di dekat sini"
"Hah?? Ouhh.. hu'um" Zahra mengangguk malu, yaa menurut saja. Karena ia memang sudah lapar sejak tadi.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, kini mereka sudah sampai di sebuah tempat makan sederhana. Yaa tidak sebuah rumah makan atau restoran. Hanya sebuah gerobak mie sop beserta tendanya yang di buat di depan ruko kosong.
Mereka masuk ke dalam dan langsung memesan 2 mie sop dan satu mie kuning untuk Qyla.
"Tidak ada masalahkan, kalau makannya disini?" Tanya Ustadz Fakhri saat mereka sudah duduk si kursi masing-masing
"Tidak apa-apa kak, ehehe" Zahra tersenyum cangung. Jujur saja ia sangat gugup saat ini.
Ya.. memang bukan pertama kalinya ia makan bersama Ustadz Fakhri, tetapi yang kedua kalinya. Tapi sekarang beda, sejak ia menyimpan rasa pada ustadz Fakhri membuat ia tidak bisa bar-bar seperti biasanya. Dan tentu saja, jika orang yang mengenalnya sehari-hari akan tertawa terbahak-bahak melihat zahra sok malu seperti ini.
(Padahal emang malu ya kan Ra, ihihih)
Tak lama, pesanan mereka datang. Pelayan meletakkan mangkuk pesanan mereka tepat di depan masing-masing.
"Terimakasih" ucap Ustadz Fakhri tiba-tiba di sela mereka makan
"Untuk?"
"Karena telah menjaga Qyla"
Hati Zahra terasa melecos mendengar itu, entah kenapa ia tidak terima kalau Ustadz Fakhri sudah memiliki anak.
"Oh iyaa.. Kak tadi Qyla mau di tabrak sama segerombolan anak SMA yang geng motor itu. Zahra udah teriak supaya mereka berenti, tapi engga juga. Dan malah.. tadi - "
Brum....bruumm..brummm....
Suara mobil satpol PP lewat membawa para geng motot yang dikatakan Zahra.
"Nah.. itu Kak.. itu mereka. Mereka yang tafi hampir nambrak Qyla. Uhh.. ketangkep juga kan kalian" ujar Zahra menggebu-gebu
Ustadz Fakhri tersenyum tipis, saangat tipis.
Dibalik kekhawatirannya akan cerita Zahra tadi. Ia bersyukur karena Zahra telah menyelamatkan Qyla. Melihat wajah tulus Zahra membuat Ustadz Fakhri merasakan sesuatu yang berbeda di lubuk hatinya.
"Kak.." "kak.." "haloow.. masih sadar kan?" Tanya Zahra. Tangannya sudah melambai-lambai di depan wajah Ustadz Fakhri.
"Eh? Iya... Em.. Terimakasih karena sudah menyelamatkan Qyla. Jika kamu tidak ada di sana. Entah bagaimn nasib Qyla sekarang" ucap Ustadz Fakhri menatap Qyla sendu
"Dia adalah hidup saya, separuh jiwa saya" lanjutnya parau
__ADS_1
"S-sama-sama Kak.."
Ustadz Fakhri tersenyum tulus " yuk, lanjut makannya. Keburu dingin"
Zahra mengangguk lalu kembali menyendokkan mie ke mulutnya.
"Kak.. Zahra boleh bertanya ga?"
"Silahkan"
"Tapi akan dijawab kan"
"Klau saya mampu, In Syaa Allah saya akan jawab"
"Hu'um. Kak... Qyla ini anak Kakak ya???" Tanya Zahra pelan
"Hm? Ha-hahahaha" tawa Ustadz Fakhri pecah mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Zahra
"Loh.. kok ketawa sih? Pertanyaan Zahra salah ya??"
"Tidak, tidak ada yang salah"
"Lalu kenapa ketawa?"
"Abis wajah kamu lucu saat bertanya tadi. Ahaha"
Blush.. muka Zahra memerah
"Ishh..."
"Hm.. baiklah, iya memang Qyla itu anak saya"
Duss... Hati Zahra melecos kedua kalinya
"O-oh.. jadi Qyla itu memang anak Kakak ya. Trus Istri Kakak mana??? Kok ga ikut? Oh iya nanti Istri Kakak bakal marah ga kalau aku makan sama Kakak kaya gini? Kakak udah izin belum sa-"
"Hey..hey.. jangan panik begitu. Nih ya, saya kasih tau. Saya itu belum punya Istri, saya belum menikah"
"Loh.. tapi Qyla.."
"Ia.. dia memang anak saya. Tapi lebih tepatnya anak kakak kandung saya. Tentu anak saya juga bukan?"
Jrengg!! Hati Zahra yang tadinya melecos kini mekar kembali
"Oh.. jadi ponakan toh. Iya..iya..iya..iya.." ucap Zahra senyum-senyum sambil menganggukan kepalanya
"Trus Kakak kenapa belum nikah, menurut Zahra kakak itu udah cocok loh jadi suami. Nih ya, banyak yang bilang, dulu, waktu kak Zahwa masih mondok, santriwati pada gosip bilang kalau kakak itu, calon suami idaman. Gitu"
"Ohh gitu?"
"Iya" Zahra menganggukkam kepalanya
"Trus.. kenapa Kakak ga nikah" tanya Zahra lagi penasaran.
" Kamu kapan siap nya?"
Eh
***
Uhuk..uhuk.. Ustadz Fakhri maksudnya apa coba tuh. Ahahhah kasih tau dong sama Zahra maksud Ustadz Fakhri apaan 🙈🤭.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya...