
AKU TIDAK INGIN
Ciiiittt.....
Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Hanya butuh waktu 5 menit mereka sudah sampai, karena memang mereka sedang berada di pusat kota, jadi mudah saja jika menemukan rumah sakit.
Dugh!
Akhtar menutup pintu mobil dengan menyikutnya. Secepatnya ia berlari masuk.
"Dokter.. suster.." hanya dengan 1 kali panggilan , sudah ada seorang perawat yang menghampiri Akhtar tak lupa membawa brankar dorong.
" Mari pak, sebelah sini" ucap perawat tersebut mengarahkan jalan sambil terus mendorong brankar tersebut.
"Silahkan anda tunggu di luar, kami akan melakukan tugas kami" ucap Dokter yang sudah sedia di tempat
Akhtar hanya bisa diam mengangguk padahal dalam hatinya ia sangat khawatir.
"Ya Allah.. lindungi lah istri dan calon anak hamba.." bisik nya dalam hati
Bibir nya bergetar, berdzikir, merayu sang pemilik hidup untuk memberikan keselamatan pada orang yang sangat ia cintai juga calon anak nya.
Mataya terpejam kuat, tandanya ia sangat khusyu, sangat-sangat menaruh harapan penuh pada sang Khaliq.
***
Sedangkan di sudut ruangan lain. Kedua orang berbeda gender ini sedang bersitegang. Ya, kembali pada Zahra dan Fakhri.
"Sekarang kamu tidak bisa melarikan diri lagi. Kamu dengarkan penjelasan saya dulu" ucap Ustadz Fakhri tegas tapi mata nya tetap fokus ke objek lain.
"Awas, Zahra mau lewat, Zahra mau pulang" Ucap Zahra bergeser sedikit dan kan melewati Ustadz Fakhri. Tapi sebelum itu, pria berbadan tinggi tersebut kembali menghalangi jalannya.
"Kamu dengarkan saya dulu , yang dikatakan Ibu itu memang benar"
"Lalu apakah aku butuh itu??? Tidak"
"Saya belum selesai bicara. Walaupun itu benar, tapi saya sudah mengikhlaskannya saat saya mendengar ia di lamar setelah tamat dari Pesantren. Saya sudah melupakannya. Karena saya yakin itu cuma perasaan suka sesaat"
__ADS_1
Zahra melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang pandangannya acuh.
"Oh..." " Sudah selesai kan? Sekarang awas.. aku mau pulang"
"Biar saya antar"
"Tidak perlu , aku bisa sendiri" ketus Zahra lalu pergi meninggalkan Ustadz Fakhri
"Tunggu!" Zahra menghentikan langkahnya tanpa berbalik
" Apakah kamu sedang cemburu?" Tanya Ustadz Fakhri menatap punggung wanita muda itu.
Hening!
"Apakah aku bisa di katakan seperti itu?"
"Mungkin saja"
"Maaf, anda salah. Aku tidak cemburu, tapi-"
"Tapi apa?"
" Maaf"
"Aku ingin bertanya, apa maksud lain mendekatiku? Apakah aku di jadikan pelampiasan karena Kakak ku??"
"Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?" Tanya Ustadz Fakhri heran
"Tentu bisa! Karena kedatangan Kakak kembali menemui ku dan mengatakan ingin menikahi ku, setelah Kakak mundur kan dari Kak Zahwa"
"Astaghfirullah'adziim, hentikan Zahra. Saya sudah bilang kalau sudah sedari dulu saya melupakan Kakak mu, dan sekarang saya tulus, beri'tikad baik memang ingin menikahi mu? Tidak ada yang salah. Sekarang saya tanya, apakah kamu mau menerima saya??"
"Maaf, aku tidak ingin menikah secepat ini" ucap Zahra setelah itu pergi meninggalkan tubuh pria yang mematung mendengar jawabannya.
"Heh? Sabar Fakhri mungkin dia memang bukan jodoh mu" gumam nya menertawakan kebodohan ini.
***
__ADS_1
Zahra melewati setiap ruangan rumah sakit sambil termenung. Memikirkan kembali ucapannya.
Apakah perkataan nya salah?? Terlalu kejam kah?? Apakah menyakiti hati beliau?? Apakah keputusannya sudah benar? Apakah tadi di kekanakan??
"Aarrghhh aku akui aku masih kekanakan. Bodoh!bodoh!bodoh! Zahra! Harusnya kamu fikir dulu sebelum bicara" gerutunya berjalan nunduk sambil memeluk tote bag nya
Tampak nya wanita muda ini sangat kebingungan, ia tidak tau harus apa, ia tidak tau bagaimana bersikap yang seharusnya.
"Akhirnya aku mengalah. Aku bodoh tidak mau masuk pesantren dulu. Jika aku mau, aku pasti tidak meng-abu seperti ini dalam memutuskan dan menyikapi hal apa pun" batin nya sendu.
Ia mengangkat kepalanya dan berjalan lebih cepat.
"Eh?" Ia berhenti saat melewati sebuah gang. Ia mundur beberapa langkah dan menajamkan penglihatannya.
"Hah? Kak Akhtar? Itu Kak Akhtar kan?? Kenapa Kak Akhtar ada di sini? Siapa yang sakit??"
Tak ingin mati penasaran, ia memutuskan untuk mendekat dan memastikan sendiri.
"Kak Akhtar?"
Pria tampan rupawan yang sedang gelisah itu membuka matanya perlahan.
"Dik Zahra"
_
_
_
Gimana Mommiss??? Zahra nya ga mau nikah dulu. Baik nya kita apain mereka berdua???
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YAA... KARENA DUKUNGAN DARI KALIAN SEMUA Menjadi PENAMBAH IMUN OTHOR BUAT LANJUTIN CERITA INI.
YANG JADI SILENT READERS TOLONG HARGAI KARYA KAMI SEBAGAI PENULIS YANG BERNIAT MENGHIBUR DAN BERBAGI DI SINI.
CUKUP TEKAN TOMBOL LIKE SETELAH BACA, GA SUSAH KOK, GA SAMPE SEDETIK. TOLONG YAA 🙏🏻
__ADS_1
TERIMA KASIH .