
Setelah Akhtar dan Zahwa selesai sholat Ashar berjamaah. Akhtar mengajak Zahwa jalan-jalan.
"Sayang, mau jalan-jalan? Saya mau ngajak kamu ke suatu tempat"
"Jalan-jalan?"
"Iya"
"Baiklah Ayo" Zahwa langsung mengalungkan tangannya ke lengan Akhtar.
Setelah pintu di kunci, mereka terus berjalan dengan saling bergandengan menikmati angin sore. Hawa dinginnya sekitar pegunungan, membuat Zahwa semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Akhtar.
Sesekali senyum terbit di bibir keduanya. Sesekali juga mereka tak sengaja saling tatap lalu tersenyum bersama. Rumput hijau sebagai pijakan sangat kering karena sudah 3 minggu tidak turun hujan. Membuat sore yang mereka lalui ini sangat cerah.
Beberapa warga tampak memberi salam dan menyapa pada mereka. Kehadiran mereka di sambut baik oleh warga setempat.
Zahwa yang merasa lelah terus berjalan akhirnya berhenti sejenak dan mengatur pernafasannya.
"Ada apa Queen? Kamu lelah sayang?" Tanya Akhtar mengelus kepala Zahwa yang sedang duduk di atas batu.
"Kita mau kemana sebenarnya Bib? Iya, Cukup lelah karena sudah lama tidak jalan santai sejauh ini, tidak saat waktu mondok dulu" ucap Zahwa
"Emm.." Akhtar melihat jalan di depannya, lalu kembali menatap Zahwa
"Sebentar lagi sayang.. sabar ya.. kita akan sampai" ucap Akhtar tersenyum
"Masih jauh dari sini?" Tanya Zahwa
"Tidak"
"Ohh..sebentar" Zahwa meluruskan kaki nya dan menekan kedua lututnya beberapa kali.
"Kaki mu sakit Queen?? Baiklah ayo naik"
Zahwa tersentak melihat Akhtar sudah berjongkok membelakangi nya.
"Eh..mau ngapain ?"
" Saya pengen menggendong kamu"
"Loh? Gapapa Bib.. tidak usah.. aku masih bisa jalan kok sayang.." tolak Zahwa
"Sayang..ayolah naik, jangan menolak saya ya"
"Aku berat Bib.." ucap Zahwa malu-malu
"Kata siapa? Tidak, kamu tidak berat kok. Sudah ayo naik" Titah Akhtar
"Sayang.." panggil Akhtar saat merasa istrinya itu masih diam
__ADS_1
"I-iya Bib" Zahwa memeluk Akhtar dari belakang, setelah itu ia merasa dirinya naik ketas karena Akhtar perlahan mulai berdiri.
"Sayang..malu di lihat orang.." bisik Zahwa membenamkan wajahnya di pundak Akhtar
"Tidak ada orang"
"Tau darimana?"
" Iyalah, mereka sudah saya usir" jawab Akhtar lalu terkekeh
"Hiss.." desis Zahwa lalu ikut terkekeh
"Bagaimana? Sudah siap tuan putri?"
"Sudah"
"Bismillah" setelah itu Akhtar mulai melangkahkan kakinya. Berjalan sambil menggendong sang istri.
Sungguh sore yang indah untuk keduanya.
Akhtar berbelok ke daerah persawahan. Tak lama mereka sudah sampai di sebuah pondok di pinggir sawah dan terdapat sungai di sebrang nya.
Akhtar mendudukan Zahwa di sebuah batu, membiarkan kaki istrinya itu mengayun-ayun di permukaan air.
Yaah..kalau sudah halal yah mau melakukan apa pun bebas basbasbas hehe. Author sendiri pun bingung kepada dua orang ini.
"Eumm..enak" ucap Zahwa saat merasakan manis nya daging ikan yang baru saja di tangkap itu.
Akhtar tersenyum lalu mengelus kepala sang istri. Setelah memakan ikan bakar alakadarnya itu. Mereka kembali bermain air hingga puas.
Hamparan sawah hijau, hawa dingin dan air jernih mengalir membuat pikiran tenang berada di sana.
Mereka bercada tawa bersama, saling mencipratkan air, dan berlarian di jalanan tengah sawah adalah hal sederhana yang mereka lakukan tapi membawa kesan tersendiri bagi keduanya. Hal sekecil itu sudah cukup membuat Zahwa bahagia.
Di hargai, di perlakukan dengan baik dan lembut, di sayangi, di cintai, dan di bahagiakan. Sungguh nikmat Tuhan mu yang manalagi yang kamu dustakan?
Hari semakin sore, kedua nya memutuskan untuk kembali kerumah kayu.
Ada seorang bapak melintas di pinggir jalan. Membuat Akhtar meninggalkam Zahwa sebentar.
Tak lama, Akhtar kembali dengan membawa sebuah sepeda yang mungkin ia pinjam pada bapak tadi.
"Ayo naik"
"Memangnya bisa?"
"Tentu" singkat Akhtar. Setelah itu ia membantu Zahwa naik.
Zahwa melingkarkan tangannya di perut sang suami karena takut jatuh saat Akhtar mulai mengayuh pedal sepedanya.
__ADS_1
Akhtar hanya tersenyum tipis, merasakan dirinya di peluk dari belakang oleh sang istri tercinta sudah sangat membuatnya amat bahagia.
Kletak..kletak..kletak...
Bunyi sepeda saat melewati jalan berbatu.
"Bib..hati-hati..." Ujar Zahwa dari belakang khawatir.
"Iya sayang.."
. . .
"Alhamdulillah..sudah sampai..hati-hati sayang" ucap Akhtar pada Zahwa
"Ahh..sudah sampai"
Akhtar memarkirkan sepeda itu di depan rumah. Setelah itu mengajak Zahwa untuk bebersih sebentar.
"Bib..disini ada minum tidak?"
"Ada sayang. Ayo kita ke dapur" Akhtar menarik tangan Zahwa menuju dapur.
"Terimakasih sayang.." ucap Zahwa menerima gelas dari Akhtar
"Sama-sama habibati" jawab Akhtar membuat Zahwa tersipu.
"Ahahaha masyaaAllah...senang sekali melihat wajahmu yang memerah itu sayang"
" Ihh Bib.." rengek Zahwa malu dan menyembunyikan wajahnya
***
Ma Syaa Allah..baru kurleb lima hari Author ngilang udah pada nyariin ya? Bagaimana jika nhilangnya satu bulan? Wah.. mungkin kalian pada kabur ya.. hhaha.
Sebelumnya maaf ya.. karena Author jarang up. Bener-bener sibuk banget dan sedikit susah nyuri waktu untuk nulis, di tambah mood Author yang kaya bunglon berubah-ubah, eehehe. Dan maaf di tulisan Author banyak typo nya 🙏🏻
Tapi tenang aja ya. Karya ini akan up sampai tamat kok. Oh iya, sedikit meluruskan ya..
Fatih itu adalah keponakannya Buya Firman okeeyy atau sepupu dari Akhtar. Mengapa ia dekat dengan Umi Alya? Ya iyalah kan bibi nya😁 juga kerena ia lebih memilih mondok di pesantren Buya.
Dan dimana Fatih sekarang? Fatih sedang mengajar dan mengejar cintanya di Mesir yang tak lain adalah murid nya sendiri 😝😆.
Jadi, selamat berjuang A' Fatih.. nanti kirim undangannya ke sini aja ya biar readers pada tau tuh xixixixi
Dan.. juga masih banyak yang bingung kenapa bab kemarin di ulang. Sebenarnya itu bukan keinginan Author. APK nya lagi eror dan saat mengetik bab 91, itu di bab 90, dan Bab 90 nya hilang begitu saja. Author tidak tau kenapa bisa begitu.
Karena banyak readers baru yang mampir ke karya Author, masa tidak ada bab 90 nya. Itu sebabnya bab 90 Author up ulang. Maaf ya.. atas ketidaknyamanannya🙏🏻
So, jangan lupa tinggalin jejak yaaa✨
__ADS_1