Salah Khitbah

Salah Khitbah
88. SK 2 : LDR ?


__ADS_3

***


Zahwa membuka matanya. Ia melirik jam dinding yang jarumnya sudah berpindah 30 menit sejak ia memejamkan matanya.


Ia merasakan sakit di seluruh badannya terutama bagian intinya. Ia menggenggam selimut yang membalut dirinya setelah itu ia melirik sebentar pada suaminya.


Ia turun perlahan dan berjalan dengan tertatih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Akhirnya dengan perjuangan menahan perih ia sampai di kamar mandi.


Setelah ia hilang di balik pintu, Akhtar membuka matanya. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


Sebenarnya ia kasihan melihat istrinya seperti itu namun ia juga mengerti bahwa istrinya itu masih malu dan pasti akan menolak bantuannya. Itulah sebabnya ia pura-pura tidur saat Zahwa bangun.


Padahal saat Zahwa masih terlelap ia asik memandangi wajah cantik itu.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka ia kembali berpura-pura. Tak lama ia merasakan ranjang bergerak. Setelah memastikan istrinya menutup matanya ia memeluk Zahwa dari samping.


"Shitt.!!!" Desis Akhtar kembali memanas saat mencium aroma shampo yang dipakai Zahwa.


Zahwa yang belum tertidur kembali terbangun saat Akhtar kembali menc*umbunya.


"Aahh..." Satu desahan lolos dari bibirnya saat Akhtar terus memancing syahwatnya.


"B-bib..sa-sayangngg..tadi sudah" gumam Zahwa terbata-bata mulai terpancing.


"Sayang..tau tidak? Allah itu sangat suka yang ganjil-ganjil. Jadi..." Belum selesai Akhtar berbicara ia sudah kembali menindih tubuh Zahwa.


"Ya sayang.." bujuk Akhtar. Zahwa hanya mengangguk pelan tanda setuju.


Akhtar tersenyum menang. Ia kembali menanam benih cintanya di rahim sang istri.


***


Keesokan pagi nya...


"Hiihh..." Gumam Zahwa bergidik ngeri menatap tubuh bagian atasnya di penuhi dengan stempel khusus dari sang suami di pantulan cermin.


Ia menaikkan resleting gamisnya kembali. Setelah itu memakai khimarnya. Mengoleskan tipis lip balm color agar bibirnya tidak terlihat pucat. Setelah itu ia keluar dari kamar.


Bugh! Ia menabrak sesuatu di hadapannya saat baru saja membuka pintu.


Belum sempat ia mengangkat kepalanya, tubuhnya sudah terlebih dahulu berada dalam dekapan. Setelah beberapa detik ia mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata elang sang suami.


Cup! Satu kecupan mendarat di keningnya.


"Sudah bangun?"


"Kenapa tidak membangun kan ku Bib? Pasti Umi masak sendirikan pagi ini!?" Ucap Zahwa merajuk yang menjawab pertanyaan Akhtar dengan pertanyaan juga.


"Afwan sayang...kamu terlihat sangat lelap, saya tidak tega membangunkan mu" ucap Akhtar lembut


Blusshh!! Pipi Zahwa memerah. Ingatannya kembali pada tadi malam saat mereka memadu kasih pertama kalinya.


Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Akhtar.


"Iihhh...sudah Ah. Awas, lepas Bib..aku mau temui Umi di bawah" ucap Zahwa melepas pelukannya


"Bib..awass duluu..." Ujar Zahwa karena Akhtar menahannya


"Tidak, nanti saja. Umi juga sedang berada di kamar. Kita masuk saja"


"Ehh..tidak, tidak mau, a-aku ma-mau ngambil minum iya minum"


"Di dalam juga ada sayang...ayo"


Zahwa menggaruk kepalanya.


"Bib, aku cuma mau ke bawah sebentar"


"Tidak, nanti saja. Ayo masuk kamar"


"Aa..mau ngapain? Tidak mau"


"Ayo"


"Bib.."


"Ayoo sayang.."


"Sayang..baru juga mau keluar kamar masa di suruh masuk lagi?" Rengek Zahwa. Ia tau apa yang akan terjadi di dalam jika mereka masuk ke kamar.


" Ayo masuk"


"Ngga, ngapa-ngapain 'kan?"


"Tergantung"


"Ya Allah, perasaan ku tidak enak" batin Zahwa

__ADS_1


"Aaaaa", jerit Zahwa saat merasa tubuhnya melayang. Akhtar sudah menggendong tubuh mungil nya.


***


"Umi, segini cukup??" Tanya Zahwa menunjukkan banyak gulai yang ia masukkan kedalam rantang.


"Iya sayang sudah, segitu saja" balas Umi


"Baik, Umi"


"Oh iya nak, Zi sudah bilang kalau ia akan pergi ke kota Q?"


"Hmm, sudah Umi" jawab Zahwa pelan.


"Begitulah nasib menjadi istri pendakwah, di tinggal-tinggal dinas, hehe" ucap Umi terkekeh


Zahwa tersenyum getir.


"Selama ini Umi begitu?"


"Hufftt..iya sayang. Itulah sebabnya Umi selalu merasa kesepian disini. Abi pergi, suami mu di Turki. Tapi Umi bersyukur sekarang sudah ada kamu" ucap Umi mengusap lengan Zahwa


"Iya Umi, Mary di sini koq sama Umi. Kita ini sama seperti para istri tentara Umi. Mereka juga di tinggal suami mereka kalau tugas menjaga keamanan negara, menciptakan keamanan"


"Iya sayang kamu benar, bedanya kita menegakkan agama dan menyebar syiar. Kita doaan saja para membela agama tetap istiqomah dan lelah nya menjadi lillah. Aamiin" "aamiin"


"Yuk sayang, sepertinya Abi dan Zi sudah menunggu di depan"


"Iya Umi, duluan saja. Mary menaruh ini dulu"


Setelah meletakkan piring kotor di wastafel, Zahwa termenung sebentar. Perkataan Akhtar saat di kamar tadi kembali terlintas di pikirannya membuat kesedihannya kembali mencuat.


***


Saat di kamar.


"B-bib turunin.." ucap Zahwa menggerak-gerakkan kaki nya


Akhtar terus melangkahkan kakinya dan berhenti di ranjang. Ia duduk dengan tetap menggendong Zahwa.


"Eehh mau kemana? Tetap diam di sini" titah Akhtar menahan Zahwa yang hendak beranjak dari pangkuannya.


Zahwa patuh, ia diam kedua tanya nya memegang bahu lebar suaminya.


"Queen..saya ingin mengatakan sesuatu" ujar Akhtar pelan menatap sayu pada istrinya.


"Iya, katakan saja sayang.." ucap Zahwa lembut


"Tau Kiyai Kholid?"


Zahwa mengangguk. "Kiyai besar di kota Q itu bukan Bib?"


"Benar, beliau dulunya adalah sahabat karib mendiang Kakek, yang menemani masa-masa sulit beliau dan yang membantu juga mendorong almarhum untuk mendirikan pesantren ini seperti keinginannya. Namun baru 3 tahun ia berjaya di sini, Allah sudah lebih dulu memanggilnya"


"Ya Allah.." gumam Zahwa


"Saat ini Kiyai Kholid sedang sakit, tidak ada yang merawatnya, saya di telfon oleh salah satu orang kepercayaan beliau tadi. Dia mengatakan bahwa saya di cari oleh beliau dan meminta saya datang ke sana"


Zahwa terdiam menatap lekat mata Akhtar.


"Berapa lama?" Tanya Zahwa mengerti tujuan suaminya.


"Saya juga tidak tau sayang..mudah-mudahan saja beliau cepat pulih"


"Aamiin. Kalau Bib pergi aku akan di sini? Tidak bisakah aku juga ikut ke-kesana? M-maksud ku..."


"Sayang...saya mengerti maksud kamu. Tapi Nyai sudah meninggal, tidak ada wanita disana... Terlebih ma'had tersebut khusus ikhwan, tidak ada akhwat disana. Bagaimana bisa kamu ikut?"


"Saya janji setelah Kiyai Kholid sembuh saya pasti akan pulang. Tentu saja pulang, karena separuh jiwa saya ada disini" jelas Akhtar mengelus pipi gembil di depannya itu.


"Hm" gumam Zahwa pelan


"Kenapa hem?"


"Hm? Tidak ada" singkat Zahwa


"Saya pasti kembali, sabar ya. Hanya sebentar" ujar Akhtar memeluk Zahwa membenamkan kepalanya di dada sang istri


"Hm"gumamnya lagi menahan suara nya yang bergetar.


"Mengapa hm hm terus?"


"Tidak"


" Sayang.."


"Apa"

__ADS_1


"Kenapa hm?"


"Tidak ada"


"Yakin?"


"Hm. Oh ya kapan pergi nya?"


"Em..besok Yank"


"Ha?, Be-besok?"


"Huumm"


Zahwa mengangkat kepala Akhtar dari dadanya.


"Secepat itu?"


"Iya, karen saya di telfonnya juga tadi sebelum subuh"


"Ya Allah, Bib.." " hiks.." satu isakan yang ia tahan akhirnya keluar juga.


"Hey..ada apa?"


"Bib..ayolah..baru juga mau jalan 2 minggu. Masa' ia aku sudah di tinggal sih..hiks.."


"Sayang..jangan begini. Mau bagaimana lagi?"


"Bib..kota Q itu jauh juga sedikit terpencil.. hiks"


"Iya sayang"


"Ki-kita LDR-an ?"


"Seperti itulah"


"Tapi berapa lama Bib..hiks..hiks.."


"Tidak tau sayang..tidak sampai satu tahun koq"


"Ya Allah.. lama nya..hiks..hiks..Bib.."


"Ada apa?kangen ya?" Goda Akhtar


"Tidak!" Ketus Zahwa cemberut menghapus kasar air matanya.


"Lalu? Yakin ini tidak akan rindu?"


"Tidak tau ah!" Zahwa membuang wajahnya


Hening! Tidak ada terdengar bujukan dari Akhtar. Ia asyik menatap wajah cemberut tapi tetap cantik sang istri yang akan ia tinggalkan untuk sementara waktu.


"Huh..masa' tidak di bujuk lagi sih? Tidak tau apa ini sangat menjengkelkan, hiks..aku tidak suka, tidak! Tidak sama sekali, huhuhu" gumam Zahwa tak bersuara.


"Sayang..suaminya disini loh..bukan di situ" akhirnya suara berat itu kembali terdengar.


Zahwa bergeming. Dasar ya perempuan, mau nya di bujuk tiba di bujuk jual mahal. Wahai para kaum adam perbanyak sabar deh, xixixi


"Queen.." Akhtar menarik pinggang Zahwa.


"Sayang..kamu-"


"Hiks..hiks..sayang..hiks.."


Akhtar tersenyum dan mengelus kepala sang istrinya yang membenamkan wajahnya dan menangis di ceruk lehernya.


***


Loh loh? Masa Zahwa mau di tinggal mulu?


Baru juga manis-manisan semalem udah mau ditinggal lagi.


Sebelumnya maaf yaa Author jarang up, ini berawal dari Bab sebelumnya. Cerita sedikit yaa..


Jadi Author itu nulis dari 2 minggu lebih kemarin. Karena Bab MP itu ada adegan 21+ nya (kata pihak MT, padahal itu tipiiss banget) heran kenapa review lama lewat sehari. Nah ana revisi lah kan, oke nunggu lagi besoknya. Eh masih sama, revisi balik. Itu mulu kerjaan di ulang-ulang sampe 3 hari eh masih aja status review.


Aithor jadi males lah kan, datang lah notif bilang kalau itu mengandung unsur dewasa. Revisi..lagi sampe nunggu 3 hari lagi. Nah itu tuh yang bikin lama bet. Aih..akhirnya revisi lagi jadi lah Author bagi jadi 2 bab, berpikir bisa lah mempermudah naik up. Eh nunggu lagi 1 hari end esok nya baru bisa. Toz 1 minggu ngurus MP ZahTar aduhh ada ada aja๐Ÿคฆ


Padahal awal nulis itu tuh belain begadang tengah malem biar engga telat up. Dari situ lah Author jadi males up dan ga mikirin ide lagi. Di tambah sibuk dunia RL. Dekat lebaran sampai saat ini sudah lebaran.


Untuk itu Author minta maaf sebesar-besarnya untuk kita semua apabila ada salah kata dan hal yang kurang berkenan. Terlebih pada karya Author yang mungkin terkesan muter-muter yak heheh. Ini juga nyempetin begadang karena jadwal tidur Author tiba-tiba jet leg karena sering begadang sibuk di RL. Buat kue? Tidak. Author ga bikin kue, ribet, beli aja simple hehehe.


Maaf belum bisa up kaya dulu, terimakasih yang masih setia. Di tunggu komen nya. Setelah itu pasti up koq tapi belum bisa rutin yaa.. tau lah keluarga besar ga bisa bebas kaya hari biasa๐Ÿ™๐Ÿป wahh panjang loh curhat nya gapapa lah biar Author tenang sudah jelasin alasan tidak up ke kalian.


ุชูŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู‘ูŽุง ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุชูŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู’ ูŠุงูŽ ูƒูŽุฑููŠู’ู…ู ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงุกูุฏููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููŽุงุฆูุฒููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู‚ู’ุจููˆู’ู„ููŠู’ู†ูŽ ูƒูู„ู‘ู ุนุงูŽู…ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู.


Minal Aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaโœจ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


Wassalam๐Ÿ™๐Ÿปโ˜บ๏ธ


__ADS_2