
Bunda Fatimah kembali mengajak Zahra seperti tujuan awal. Ia membawa Zahra ke kamarnya sendiri.
Ia membuka lemari yang jarang Zahra buka, dan mengeluarkan sebuah koper dari sana. "Bunda? Koper? Untuk apa?" Tanya Zahra penasaran
"Duduk sini" panggil Bunda Fatimah menepuk karpet di sampingnya.
" Kamu tutup mata dulu" titah Bunda Fatimah. Zahra menurut dengan cepat menutup matanya rapat rapat.
1..
2..
3...
"Ini dia!!!!"
Zahra membulatkan matanya melihat koper itu berubah menjadi seperti hampers setelah di buka.
"Woww... I-ini" tunjuk Zahra
"Ini hadiah dari Kakak dan Kakak ipar mu. Mereka mengirimkan hadiah ini sebelum hati ulang tahun mu. Walaupun mereka tidak bisa hadir, tapi mereka bisa mengirimkan satu koper hadiah hanya untuk mu" ucap Bunda Fatimah
"Hiks...hiks.. Kak Wawa....hiks... aaa" Zahra menangis bombay merasakan betapa sayang dan cintanya Kakak nya kepadanya.
Ia dapat membayangkan perjuangan Kakaknya membeli ini semua dengan berjalan membawa kandungan enam bulan di perutnya. Untuk tidur saja susah, bagaimana dengan berjalan mengelilingi toko membelikan barang-barang ini untuk nya.
"Kak Wawa... Hiks... Bunda... Zahra mau peluk Kak Wawa.. hiks.. hiks.."
Bunda Fatimah mengelus punggung Zahra sembari tersenyum tipis. Kini anak-anak nya bukan balita lagi yang belum mengerti apa apa.
Tapi mereka semua sudah dewasa bahkan ada yang sudah memberikan cucu untuk nya.
Ia senang karena mereka lebih terbuka menunjukkan kasih sayang mereka satu dengan yang lainnya. Tanpa ada yang di tutup tutupi, dengan begini justru persaudaraan mereka akan semakin erat.
__ADS_1
Zahra berniat ingin mengucapkan terimakasih kepada kedua kakak ya nya yang berada di luar benua besok pagi. Karena Zahra yakin saat ini mungkin kedua kakaknya itu sedang sibuk dengan pekerjaan mereka . Itu sebabnya ia berniat menelpon mereka besok pagi. Saat di sana sudah malam, waktu bersantai mereka.
***
Hari ini adalah hari penamatan siswa/i Ma'had yang didiami Fatih. Murid yang kemarin tidak ikut pembelajaran selama hampir satu semester karena kecelakaan. Bersama Fatih di waktu libur mereka menuntaskan pelajaran yang tertinggal.
Jadi murid privatnya itu bisa ikut wisuda dengan teman-temannya yang lain.
Seluruh rangkaian acara wisuda sudah berjalan lancar, dan di lanjutkan sesi foto di luar gedung. Fatih membereskan barang-barang nya karena ingin segera cepat sampai di apartemen.
Namun saat akan meninggalkan gedung, langkah Fatih terhenti saat murid privatnya itu meminta agar mereka berfoto bersama dengan kedua orang tuanya.
Karena merasa tidak enak untuk menolak, Fatih setuju melakukan sesi foto dengan keluarga muridnya itu.
Orang tua wanita itu sangat berterimakasih, berulang kali mengucapkan terimakasih atas bimbingan dan usaha Fatih dalam mengajari anak mereka. Bahkan Fatih bisa saja bekerja di tepat lain yang lebih menjanjikan. Tapi demi anak mereka Fatih rela menjadi guru privat anak mereka.
Setelah beberapa gambar di dapatkan, Fatih pait undur diri. Di jalan raya, taxi ia berhentikan dan memberi alamat apartemennya kepada sang supir. Hanya butuh lima belas menit. Ia sudah sampai di tempat tinggalnya.
Dengan langkah besar ia memasuki kediamannya selama beberapa tahun ini, dengan gesit ia merapihkan barang-barang yang kiranya tertinggal. Satu jam lagi pesawat akan terbang.
Butuh waktu empat puluh lima menit agar bisa sampai di bandara. Sesampainya ia di sana, ia langsung melakukan segala prosedurnya lalu masuk ke dalam pesawat.
Dengan langkah yakin dan dengan izin Allah ia akan kembali ke tanah air Indonesia. Kembali ke rumahnya, kembali kepada kedua orang tuanya.
Dengan hati yang mantap juga jawaban dari Istikharahnya, ia siap menyanggupi permintaan orang tuanya untuk berta'aruf dengan seorang wanita pilihan mereka.
Tidak ada alasan bagi Fatih untuk menolak, setelah melihat CV wanita tersebut. Ia sangat yakin, bahwa ini adalah awal ia memulai kisahnya yang baru.
Yang lalu biar lah berlalu. Cinta lama biarlah hilang seiring berjalannya waktu. Mungkin itu adalah pemanis dalam hidupnya agar ia bisa melihat seisi dunia dengan mata lebar bahwa wanita bukan hanya dia saja.
Ia juga berhak bahagia, dan bahagianya di tentukan sendiri oleh nya. Jadi ikhlaskan yang tlah pergi, relakan ia menjadi milik orang lain, kita mempunyai masa depan yang menanti, untuk kita menuai bahagia di suatu hari nanti.
Ngiiiunggg....~ pesawat pun take off, terbang bersama awan, menghantarkan seorang Muhammad Fatih Aliyu Humam yang telah move on dengan masa lalunya, kembali ke Indonesia untuk menulis kisah barunya.
__ADS_1
~Fatih end~
***
Seorang pria mengirimkan pesan kepada sang Ibunda yang berisi :
"Ibu? Apakah kurir tersebut sudah mengirim fotonya pada mu?"
Tak berapa lama balasan dari si Ibu pun datang
"Sudah nak. Kau ingin melihatnya? Nak Zahra sudah menerima kedua hadiahnya"
Jemarinya kembali bergerak mengetik " Tidak, Tidak perlu Bu. Cukup Ibu saja yang melihatnya itu sudah meyakinkan ku. Jangan kirim kan foto nya pada ku"
"Baiklah nak. Jaga dirimu baik-baik.. cepatlah pulang.. keponakan mu sepertinya rindu padamu"
"Ri usahakan pulang secepatnya Bu" setelah mengirimkan pesan terakhirnya. Ia keluar dari obrolannya dengan sang Ibu. Ia beralih membuka obrolan dengan sang kurir yang ia tugaskan untuk mengantarkan buket kepada Zahra.
"Assalamu'alaikum. Maaf Pak. Saya dapat laporan kalau fotonya sudah dikirim"
Sepertinya si kurir sedang online, pesan dari Fakhri langsung di centang dua berwarna biru.
"Wa'alaikumussalam. Iya Pak, sudah beres" balas si Kurir
"Baiklah, kalau begitu saya mohon bapak hapus foto yang di hp Bapak ya.. saya takut tersebar fotonya"
"Ooh.. Bapak percaya saja sama saya.saya tidak akan menyebarkannya. Tidak ada untungnya buat saya Pak hehehe 😄. Tapi karena Bapak menyuruhnya saya akan hapus🙏🏻" - Kurir
"Bukannya apa-apa Pak, saya hanya was was saja"
"Aman pak, nih.. sudah saya hapus" balas kurir tersebut sembari mengirimkan screenshot-an foto terakhir di galeri hp nya untuk meyakinkan Fakhri
"Baik Pak.. terimakasih banyak" balas Fakhri kini sudah merasa tenang.
__ADS_1
Sedangkan ia saja tidak berani melihat wajah Zahra barang hanya satu foto saja. Bagaimana mungkin ia membiarkan orang asing menyimpan foto Zahra.
"Begini aku lebih tenang" batinnya