
***
#Sebelumnya.
Ceklek~
Akhtar membuka pintu dengan perlahan. Ia takut jika Zahwa sedang beristirahat dan akan terganggu karenanya.
Ia melihat Zahwa sedang berdiri menatap jejeran kitab pada rak buku di salah satu sudut khusus di kamarnya.
Dengan langkah pelan ia mendekati Zahwa. Ia melihat istrinya itu tidak menyadari kehadirannya. Ia dengan tenang memeluk Zahwa dari belakang.
Membuat istrinya itu tersentak kaget sebentar namun tak lama kemudian Zahwa bisa mengontrol dirinya.
"Kenapa belum tidur hm?" Bisik Azzam meletakkan dagunya di bahu Zahwa.
"Belum ngantuk" ucap Zahwa mengelus pipi Akhtar yang memeluknya.
"Yakin, belum ngantuk? "
Zahwa terdiam sejenak. "Sebenarnya aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak ada, Bib..hadehh itu saja tidak mengerti" gumam Zahwa dalam hati
"Hu'um" Zahwa mengangguk.
"Di sini, ngapain?"
"Tidak ada, hanya ingin melihat. Awalnya begitu melihat semua kitab ini ingin sekali membacanya, tapi bingung mau mulai dari mana" ucap Zahwa
"Sebentar yaa.. hmm...nah itu dia. Baca itu saja" tunjuk Akhtar pada sebuah kitab.
"Ohh yang itu?"
"Iya"
"Memangnya mengenai apa Bib?" Tanya Zahwa sebelum mengambil kitab itu.
"Kisah-kisah pada Zaman Rasulullah SAW, tau kisah layla majnun 'kan?"
"Sedikit"
Kemudian Akhtar menceritakan kisah dimana ada seorang orang gila yang berhasil membuat Rasulullah tertawa.
Zahwa dan Akhtar pun tertawa membayangkan itu. Ingin membaca kisah lain, Zahwa meraih kitab tersebut dan kemudian menurunkannya. Siapa sangka, ternyata buku itu berhubungan dengan buku yang lain. Hingga teman-temannya jatuh dan menimpa tangan dan kaki Zahwa.
"Aaa..sakit Bib..." jerit Zahwa sangat sebuah ujung buku mengenai tulang jari kaki nya.
"Tahan lah..ini hanya sebentar..jangan ribut..tenang ya.." Ucap Akhtar mengangkat kitab-kitab tebal itu. Saat Zahwa mengaduh sakit.
Ia menyuruh Zahwa tenang agar ia tidak menjerit meringis terlalu keras, jika ada yang mendengar pasti bayangan mereka tentang kejadian yang sebenarnya terjadi sangat berbeda.
"Hiks..hiks..Bib.." ringis Zahwa
__ADS_1
"Kenapa lagi?" Tanya Akhtar. Merasa karena buku tebal yang bercover keras itu sudah ia angkut semua.
Zahwa menunjuk kakinya.
"Astaghfirullah..maaf sayang.." ucap Akhtar lalu mengangkat kaki nya yang menginjak kaki Zahwa yang sakit. Ia terus meringis tulang jari-jari kakinya masih terasa sakit.
Akhtar membawa Zahra duduk di kursi toilet.
"Tenang sayang..." Ucap Akhtar mengelus pipi Zahwa. Lalu mengurut kaki Zahwa pelan.
"Aaa..pelan-pelan Bib, sakiit.."
Tanpa mereka sadari ada yang mendengar percakapan mereka itu.
Abi Firman berencana mengambil berkas pesantren di ruangan atas yang satu lantai dengan kamar Akhtar. Namun saat akan menaiki tangga ketiga terakhir.
Abi Firman menelan ludah nya suara percakapan itu. Kaki nya menggantung satu di udara. Ia mengusap telinga nya dan terkekeh mendengar apa yang ia dengar barusan.
"Ehehehe...aduh...aduh..dasar pengantin baru!" Ucap Abi Firman.
Lalu Buya Firman balik kanan(grak!) Memutuskan untuk turun ke bawah dan mengurungkan niat awalnya naik ke lantai atas.
Ia berpikir bahwa anak dan menantu nya itu sedang melakukan sesuatu yang ada di fikirannya sejak mendengar suara itu. Ia tidak ingin menganggu acara keduanya dan kembali ke kamar nya.
Sesampainya di kamar..
"Loh Abi? Mana berkas yang ingin di bawa besok?" Tanya Umi Alya
"Kenapa?"
"Ka-karena di-di atas..."
"Apa, Bi? Memangnya ada apa di atas?"
"Itu Umi..itu...ah sudah lah kita tidur saja" ucap Buya Firman lalu naik ke atas ranjng dan memeluk Umi Alya.
" Ohhh...Umi tau" ucap Umi sumringah
"Hm?" Jawab Abi dengan mata terpejam.
"Kita akan segera memiliki cucu ya, Bi?" Ucap Umi dengan semangat.
Buya Firman tersenyum kecil. Cup! Buya Firman mencium Umi sekilas
"Kita do'akan saja" gumam Abi Firman.
***
Kembali lagi pada pasangan pengantin baru itu.
"Bagaimana? Sudah tidak nyeri lagi 'kan?" Zahwa mengangguk.
__ADS_1
Akhtar menyimpan minyak kayu putih itu di meja rias lalu berdiri di belakang Zahwa.
"Hijab nya di buka ya" izin Akhtar. Zahwa mengangguk.
Iya, Zahwa memakai hijab instannya karena di rumah ada mertuanya jadi ia memakainya.
Akhtar mengambil sisir lalu menyisir rambut panjang Zahwa. Jangan ditanya bagaimana jantung keduanya saat ini. Tidak terkontrol lagi, bahkan keduanya dapat mendengar detak jantung mereka yang beradu.
Zahwa tidak berani menatap Akhtar lewat pantulan cermin. Ia menundukkan wajahnya.
"Selesai" gumam Akhtar saat melihat rambut Zahwa sudah lurus dan rapih.
Akhtar menciumi rambut Zahwa, sesekali ia mengecup belakang telinga Zahwa.
"B-Bib..geli.."
"Hm?"
"Geli Bib.." ucap Zahwa pelan.
Akhtar melingkarkan tangannya di bahu Zahwa.
"Queen..."
"Iya Bib?"
"Mari kita shalat 2 rakaat dulu "
Zahwa yang mendengar itu seketika konek kemana arah pembicaraan Akhtar.
"Baiklah... A-aku mau berwudhu dulu" Akhtar melepas pelukannya. Zahwa dengan cepat pergi ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi ia menguncinya dan bersandar di pintu sambil memengangi dadanya yang dag dig dug.
"Huhh..huh..ya Allah..apakah Habibie akan meminta hak nya sekarang?" Batin Zahwa. Ia melirik kakinya yang gemetaran sama seerti tangannya.
***
Assalamu'alaikum, apa kabar?
Nungguin ya?😌
Nulis ini tuh kemaren begadang, sampe telat sahur. Ehh ga up, review nya lama. Sampe 3 hari, belum up juga.
Pas tadi datang pemberitahuannya. Ehh..di tolak. Siapa sih yang ga kesel😌. Akhirnya langsung Author revisi dan jadi lah ini.
Harusnya bab ini tuh ada 2k620 kata. Ehh sekarang.. hm... Sudah lah. Jadilah othor buat jadi 2 bab, mana tau lebih cepet gitukan review nya ehh..sama aja:)
Maaf telah membuat kalian menunggu. Author tau koq, kalian bukan ga sabar nunggu author up tapi ga sabar nunggu part ZaTar kan? Haahh😌
Oke deh sekian babayy
Jejak nya jalan tinggal yaa✨
__ADS_1