Salah Khitbah

Salah Khitbah
94. SK 2 : KETAHUAN!


__ADS_3

"Allahu Akbar...Allahu Akbar.."


Sayup-sayup terdengar suara adzan Dzuhur. Yang berhasil membangunkannya dari tidurnya.


"Euuggh.." lenguhnya saat merasakan badannya terasa pegal-pegal


"Astaghfirullah.. aku ketiduran" ucap Zahwa terduduk.


Dugh!


"Awws..." Ringisnya saat buku itu jatuh kebawah dan mengenai dua jari kakinya.


Kaligrafi itu terpampang jelas di atas lantai, dan nama pena itu kembali menjadi titik fokusnya.


"Siapa dia??" Pertanyaan itu selalu berkecamuk di dalam otaknya, berputar-putar tidak jelas tanpa mendapatkan jawaban.


Lelah pikiran, akhirnya ia membereskan buku itu dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu ia turun ke bawah untuk melihat Umi.


Baru saja akan mengetuk pintu kamar Umi, Umi sudah terlebih dahulu muncul membuka pintu.


"Alhamdulillah..Umi sudah bangun. Baru saja Mary ingin membangunkan Umi"


"Iya sayang , Umi baru saja bangun. Kalau gitu kita pergi ke Masjid sekarang ya"


"Beik Umi"


***


Sedangkan di tempat lain,


Akhtar tengah berada di sebuah Masjid, singgah sebentar untuk melaksanakan shalat Dzuhur.


Akhtar mengambil ponsel nya dan mencoba menghubungi istrinya.


'Tut..tut..nomor yang anda tuju sedang tidak aktif' suara operator menyambut panggilan Akhtar.


'mungkin dia sedang Sholat' batinnya.


Setelah itu ia memutuskan untuk masuk dan melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah bersama yang lainnya.


Ketika akan masuk ke mobil, ia merasakan sakunya bergetar. Akhtar mengambil ponsel nya dan melihat notifikasi pesan masuk.


Akhtar mengerjap-ngerjapkan matanya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Dia kembali?"

__ADS_1


• * * •


Umi Alya dan Zahwa berpapasan dengan beberapa Ustadzah yang langsung menyapa keduanya.


"Assalamu'alaikum Umi.." ucap mereka


"Wa'alaikumussalam warahmatullah.."


"Mau ke Masjid Umi?"


"Iya.. Buya tidak di rumah jadi sholat nya jamaah di Masjid saja" jawab Umi ramah


"Oohh..iya Umi. I-ini..??" Ketiga Ustadzah tersebut saling lirik mengisyaratkan sesuatu lalu menaikkan bahu bersamaan tanda tidak tahu.


"Ini menantu Umi" jawab Umi membuat ketiga Ustadzah tersebut barubah pias.


Adzan akan berakhir, mereka segera masuk ke dalam Masjid dan melaksanakan sholat berjamaah.


"Nak, Umi ingin pergi ke rumah sakit menjenguk teman Umi. Tidak mengapa kan kamu sendiri di rumah?" ucap Umi Alya saat mereka sudah di luar Masjid


"Kapan Umi?"


"Nanti nak, jam 3 sore. Karena sekarang pasti banyak yang akan menjenguk, tunggu orang berpulangan dulu agar tidak terlalu ramai"


"Umi pergi dengan siapa? Mary temani ya.."


"Ohh begitu ya Umi. Baiklah Mary akan menjaga rumah nanti"


"Iya nak"


Tiba-tiba Ustadzah Rifa datang menghampiri keduanya dengan menenteng tote bag di bahu kirinya.


"Assalamu'alaikum Umi..mbak.." ucap Ustadzah Rifa mencium tangan Umi Alya. Dan beralih pada Zahwa untuk cipika-cipiki.


"Umi, Umi jarang sekali terlihat, Umi baik-baik saja 'kan?" Tanya Ustadzah Rifa


"Alhamdulillah..Umi sehat kok. Hanya saja mudah kelelahan, faktor umur ya begitu" jawab Umi terkekeh


"Tidak ah, Umi. Umi bisa aja. Oh iya, ini..." Ustadzah Rifa menatap Zahwa. Tentu ia tak mengenali wajahnya, karena Zahwq memakai niqab nya.


"Ini menantu Umi"


"Loh? Umi sudah punya menantu toh? Kapan nikahnya Umi?"


"Kurang lebih dua minggu yang lalu lah" jawab Umi

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..Ustadzah Rifa..." Ucap Zahwa. Membuat Ustadzah Rifa sedikit tersentak dan langsung menoleh padanya jangan lupakan dahinya yang menyerngit.


"Kaya kenal suaranya" gumam Ustadzah Rifa dengan wajah bingung nya. Umi dan Zahwa menahan tawa mereka.


"Oh iya nak, itu di tangan kamu apa?" Tanya Umi menunjuk tentengan Ustadzah Rifa.


"Ha? Oh iya Astaghfirullah..lupakan ana. Duh,, afwan ya Umi. Ana ngomongnya di sini. Tadi anasusah ke rumah tapi tidak ada siapa-siapa di sana, dan bertemunya di sini" jelas Ustadzah Rifa.


Ia beralih mengeluarkan sesuatu dari tote bag nya, dan melihat nama yang tertulis di depannya untuk memastikan bahwa itu benar pada orang yang di tuju. Setelah benar, ia memberikannya pada Umi Alya.


" Ini Umi, mohon doa dan restunya. Rifa akan menikah minggu depan. Rifa mohon sangat, Umi berkenan hadir juga mendampingi Rifa nanti" ucap Ustadzah Rifa lembut


"Barakallah... Selamat ya. Semoga lancar sampai hari H" ucap Umi berselamat senang


"Syukron lak, Umi. Aamiin"


"InsyaaAllah, Umi usahakan hadir ya"


"Alhamdulillah..njih Umi"


"Barakallah....selamat Ustadzah Rifa...akhirnya menyusul juga..." Ucap Zahwa juga turut senang langsung memeluk Ustadzah Rifa yang membeku.


"Ya Allah..MasyaaAllah..Dik Mary?!" Pekik Ustadzah Rifa saat sudah mengetahui suara itu.


"Iya..ini ana " ucap Zahwa mengangguk.


"MaSyaaAllah..hah? Ya Allah.." belum selesai keterkejutannya ia menutup mulutnya dengan satu tangannya.


Umi Alya terkekeh, ia sudah bisa menebak ini akan terjadi. Dan mungkin berita pernikahan Zahwa dan Akhtar ini akan segera menyebar ke seluruh Pesantren.


"Dik Mary!??"


"Umi tinggal ya nak. Kalian lanjut lah. Assalamu'alaikum.." ucap Umi tersenyum di balik niqabnya


"Iya Umi, hati-hati ya Mi. Maaf, Mary tidak mengantar Umi. Wa'alaikumussalam"


"Eh? Astaghfirullah..iya Umi. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" ucap Ustadzah Rifa malu-malu.


"Aaa.. Dik Mary!!" Ustadzah Rifa langsung memeluk Zahwa kembali setelah Umi Alya pergi.


"Hehe, Ustadzah" kekeh Zahwa membalas pelukan Ustadzah Rifa


* * *


mau final di angka berapa nie?

__ADS_1


99/100/110?


__ADS_2