
Setelah menunggu dua jam dari keberangkatan pesawat ke Indonesia, kini sepasang suami istri ini tengah duduk manis di kursi pesawat yang akan membawa mereka ke rumah mereka yang sebenarnya.
Pramugari sudah berkoar mewanti-wanti kepada seluruh penumpang agar mengikuti arahan yang akan di ucapkan nya.
Ketika pesawat miring akan terbang menggapai awan, seperti biasa wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Zahwa akan merasa tegang. Ia kembali menutup mata dan menggenggam erat tangan Akhtar di sampingnya.
Setelah sudah mendingan, pesawat bergerak datar di udara, barulah ia kembali merasa tenang dan tidak setakut tadi.
"Yank saya mengantuk, kita tidur aja ya. Kamu juga harus istirahat"
"Sayang duluan saja, aku mau lihat pemandangan dari sini" ucap Zahwa tanpa mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Baiklah, kalau butuh sesuatu. Bangunkan saja ya"
"Iya sayang.."
Mata Akhtar terpejam tapi tangannya masih tetap menggenggam tangan Zahwa. Sesekali masih mengelusnya.
Melewati waktu sekitar empat jam. Kini Pesawat sudah menderat di Bandara. Seluruh penumpang sesudah keluar dari Bandara beberapa menit yang lalu setelah melewati prosedur yang ada.
Zahwa selaku orang baru yang akan menetap di negri ini hanya diam saja, dan terus menempel pada Akhtar. Ia takut tersesat jika ia jauh dari Akhtar.
Saat Akhtar berjalan, ia ikut berjalan. Saat Akhtar berhenti ia pun berhenti juga. Lucu sih tapi mau bagaimana? Ia tidak tau apa-apa di sini.
"Sayang.. berapa lama lagi kita berdiri di sini?" Ucap Zahwa sedikit mengekuh karena pingganya sudah tidak nyaman, kakinya pun terasa kebas.
"Ayo, jemputan kita ada di sana" ajak Akhtar setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
"Ini?" Tanya Zahwa menunjuk mobil di hadapan mereka
"Iya, ayo masuk" Akhtar membukakan pintu pada Zahwa setelah itu ia duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Langsung ke rumah saja ya, Sob!"
"Siapp, Stadz"
Zahwa menoleh pada Akhtar "pake bahasa Indo?"
"Ya..dia teman saya blasteran Indo-Turki. Ia salah satu pengurus Ma'had, jadi tau dan mengerti"
"Hmm" Zahwa mengangguk
Pandangannya beralih keluar jendela. Melihat setail pepohonan dan bangunan-bangunan yang berdiri kokoh.
Tidak menyangka sampai saat ini, jika ia akan menetap di Turki ikut suaminya tinggal bersama di sini.
Turki adalah negara impiannya. Sejak dulu ia selalu memimpikan ingin tinggal di sini. Dan atas izin Allah, Akhtar membawanya terbang ke Turkey.
Sekitar 1 jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Mobil melaju dengan pelan saat akan memasuki sebuah rumah.
Mereka turun dari mobil dan membawa barang-barang mereka juga.
"SELAMAT DATANG BUNDA.."
"SELAMAT DATANG IBU.. KAMI MENYAYANGIMU❤️"
"HALO... MAMMAA" mereka serentak mengucapkan selamat datang pada Zahwa, tulisan di kertas, juga yang tertulis di pakaian mereka. Ada yang di tulis dengan menggunakan bahasa arab, inggris, dan Turki juga
"Sayank..." Panggil Zahwa meminta penjelasan
"Kamu punya anak-anak lain selain dari aku hm? " Tanya Zahwa yang langsung overthinking
"Bicara apa sih, mereka memang anak-anak saya dari panti asuhan.."
__ADS_1
Pletak!
Akhtar menyentil kening Zahwa pelan, merasa gemas dengan pikiran Zahwa yang bukan-bukan.
"Hmm hehehe maaf" ucap Zahwa memeluk pinggang Akhtar
"sana sarılabilir miyiz ?" (Bisakah kami memelukmu?) Tanya seorang anak laki-laki yang memiliki mata indah berwana biru.
"Elbette" (tentu saja) Zahwa merentangkan tangannya dan anak lelaki itu memeluk Zahwa dengan erat.
"çok sıkı olmayın. sonra annenin karnındaki bebek kız kardeş ağrıyor" (jangan terlalu kencang. Kemudian adik bayi dalam kandungan ibu sakit.) Ucap Akhtar lembut memperingatkan
Seluruh anak-anak diam menatap Akhtar dan Zahwa bergantian, lalu beralih menatap perut Zahwa.
"burada gerçekten bebek var mı?" (Apakah benar-benar ada bayi di sini?) tanya anak laki-laki tadi sambil menunjuk perut Zahwa.
"Evet doğru tatlım" ( iya benar sayang) ucap Akhtar tersenyum
"Buna dokunabilir miyim?" ( bolehkah aku menyentuh ini?) tanya bocah itu lagi
"Hmm.." ucap Zahwa mengangguk lalu membawa tangan anak itu mengelus perutnya.
"Hi!" Ucap anak itu berbisik lembut
Mata Zahwa berkaca melihat ketulusan dan keluguan anak laki-laki di hadapannya ini. Hatinya tersentuh, di sini banyak yang menyayanginya dan juga calon anaknya.
Anak-anak tersebut bergantian mengelus dan mencium perut Zahwa bahkan tak segan untuk memeluk Zahwa selaku Bunda baru mereka yang sesungguhnya. Karena Ayah mereka, Akhtar kini sudah menikah.
Akhtar merangkul lengan Zahwa dan mengeluanya lembut. Ia sangat bahagia, melihat istrinya bahagia.
Tidak salah keputusannya menyuruh Bibi membawa seluruh anak-anak ke rumahnya untuk menyambutnya
__ADS_1
***
Maaf semalem bolong up. Author ketiduran hehe