
Setelah kurang lebih dua minggu berada di negri Arab, ini saatnya mereka kembali ke tanah air.
Dengan segala persiapan yang sudah di siapkan, mereka tinggal membawa badan untuk pulang ke tanah air esok hari.
"Bunda, kasihin ke Humairah ya. Mairah pasti suka, dan ini untuk Kak Helwa" ucap Zahwa menunjukkan oleh-oleh yang sudah ia beli kemarin.
"Iya sayang.. lagian kamu sudah memberi nama di setiap tas nya 'kan"
"Iya sih.. tapi Wawa belum puas kalau engga kasih tau langsung"
"Dasar anak Bunda"
"Hehehe"
Bunda Fatimah menatap Zahwa lekat, tangannya tak hentinya mengelus tangan Zahwa. Lama kelamaan penglihatannya mulai mengabur, sebelum Zahwa menyadarinya ia seka air matanya terlebih dahulu.
Bertepatan dengan Zahwa yang berpaling, ia kembali tersenyum.
"Bunda kenapa? " Tanya Zahwa saat melihat mata sang Bunda memerah.
"Tidak apa-apa sayang.. Bunda hanya sedang memandangi wajah mu secara leluasa. Karena, setelah besok Bunda tidak akan bisa bertemu dengan mu secara langsung seperti ini, Bunda tidak akan bisa menggenggam tangan mu lagi seperti ini, Bunda tidak akan bisa melihat senyumnya secara langsung lagi, Bunda tidak akan bisa mendengar suaramu seperti ini lagi, Bunda tidak yakin bisa menahan untuk tidak memelukmu dan... Hikss"
"Bunda.. cukup.. hiks.." hentikan Zahwa memeluk Bunda Fatimah.
"Jika boleh jujur, sebenarnya sejak kemarin Zahwa ingin mengatakan bahwa Zahwa juga sama seperti Bunda, Zahwa akan rindu pada Bunda, Zahra, Bang Azzam, Ayah, dan yang lain juga. Tapi Zahwa tidak ingin Bunda sedih hiks..hiks...." Isak Zahwa di dekapan sang Bunda
"Sayang... Bunda baru menyadari kita tidak memiliki banyak waktu berdua seperti ini, dan hanya Zahra lah yang paling sering menemani hari-hari Bunda di rumah.
Wawa dan Abang Azzam memilih untuk mondok meninggalkan rumah. Dan sekarang baru terasa ketika mengingat besok kita akan terpisah jarak dan waktu. Maafin Bunda yang merasa lebih perhatian pada Zahra, tapi sesungguhnya Wawa tau kasih sayang Bunda tidak ada yang berat sebelah kepada salah satu di a ntara kalian. Hikss hikss"
"Bunda.. Wawa juga minta maaf jika belum bisa menjadi anak yang baik, belum bisa menjadi seorang anak yang Bunda inginkan, belum bisa membahagiakan Bunda hiks hikss"
"Wawa ngomong apa? Wawa sudah menjadi anak yang baik. Bunda yang minta maaf jika Bunda tidak seperti Bunda yang Wawa inginkan. Bunda sayang Wawa.. anak Bunda.. hmm"
"Wawa juga sayang Bunda... Terimakasih sudah membesarkan dan menyayangi Wawa sampai sekarang"
"Iya sayang... Semoga kalian selalu bahagia. Sehat-sehat di sana cucu Jiddah.. Jiddah menyusul sebentar lagi ya.." ucap Bunda Fatimah mengelus perut Zahwa
__ADS_1
"Hmm iya Jiddah, jangan lama-lama ya. Nanti Umma kangenn.. " balas Zahwa menirukan suara anak kecil
"Ahaahaha" lalu mereka tertawa bersama.
****
"Bib... "
"Iya sayang..." tangan Akhtar mengalys surai hitam Zahwa
"Memangnya kita beneran akan ke Turkey ya?"
"Iya.. kenapa?"
"Harus tinggal di sana?"
Akhtar menghentikan gerakannya sesaat. Lalu melanjutkannya kembali. " Kamu tidak setuju kalau kita tinggal di Turkey hmm?" Tanya Akhtar lembut
"Emm.... A-aku..akhh sudahlah lupakan saja" Zahwa mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya
"Sayang... Pekerjaan dan tanggung jawab saya semua di Turkey, saya tidak pernah ingin melanjutkan kepemimpinan pesantren, karena saya punya pondok tahfidz dan ma'had yang saya bangun dengan jerih payah sendiri. Ada panti asuhan dan pekerjaan lainnya yang menjdi tanggung jawab saya di sana. Emang kalau saya di Turkey kamu di Indo mau? Tentu saja saya tidak mau. Bagaimana pun saya suami kamu, dan saya ingin kamu selalu berada di samping saya" ucap Akhtar menjelaskan.
"Kita bisa vidio call setiap hari agar tidak putus komunikasi. Dan beberapa bulan lagi semua akan menyusul kita saat anak kita lahir"
"Iya sayang... Hoaam.. aku sudah mengantuk. Bib.. sayang. Ku.. cintaku... Murajaahnya bolos dulu ya.. hoamm.."
Tangan Zahwa mengelus-elus rahang Akhtar lembut. Perlahan kakinya naik menimpa kaki Akhtar.
"Tidak boleh Tidur dulu"
"Hmm.. kenapa?? Aku ngantuk sayangg ish" Rengek Zahwa dengan mata berat. Bujukannya tidak berhasil ia melepaskan pelukannya dengan kesal.
" Baca doa dulu " ucap Akhtar menahan tawa setelah berhasil mengganggu Zahwa
"Ihh... Kamu mah.. ah"
"Ahahahaha"
__ADS_1
" Sudah..sudah.. baca doa dulu, baru kita tidur. Tapi siap-siap terima hukuman malam ini di rumah nanti" Akhtar tersenyum smirk
GLEK!
"Ihh.. Habibiee...!!!"
"Ahahahha" Akhtar tertawa luas lalu menarik Zahwa kedalam pelukannya
***
Keesokan harinya
Semua sudah berada di Bandara. Pesawat yang membawa para orang tau kembali ke Indonesia akan terbang terlebih dahulu.
" Ayah, kabari jika sudah sampai di rumah ya"
" Iya nak, pasti Ayah kabari" jawab Ayah Ali mengelus puncak kepala Zahwa
" Jaga menantu Umi baik-baik, Umi sudah meminta pada Mbak untuk menghubungi Umi jika terjadi sesuatu pada nak Mary"
" InsyaaAllah Umi, kami minta do'a nya saja"
" Zi, jaga diri baik-baik, apalagi Mary sedang mengandung seperti ini. Jangan tinggalkan dia sendiri, jaga bayi kalian. Kalau ada apa-apa jangan lupa beri tau, cepat hubungi kami"
"Iya Bi, InsyaaAllah... Abi juga jaga kesehatan, jika jadwal Abi terlalu padat. Sebaiknya kurangi saja dulu, nanti Abi drop lagi" ucap Akhtar
Buya Firman tersenyum kecil, dalam hati ia sangat senang. Tapi melihat sifat anaknya yang sangat dingin sama seperti dirinya dulu. Membuatnya sedikit ingin tertawa ketika, tidak ada sedikit pun nada khawatir yang di tunjukkan Akhtar.
"Baiklah, kami akan masuk ke dalam pesawat. ingat pesan pesan kami tadi. Kami pergi, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Nasihat dan peringatan dari para orang tua sudah mereka simpan dan ingat. Drama pelukan dan tangisan melepas ke empatnya kembali terjadi. Setelah bersalam pepisahan para orang tua masuk ke dalam pesawat.
Tak lama kemudian, Pesawat di kabarkan akan take off. Akhtar memeluk pinggang Zahwa sembari melihat pesawat yang tadinya masih berada di atas tanah kini sudah mulai terbang tinggi di langit.
"Hiks.."
__ADS_1
"Jangan menangis" tangan kekar itu menghapus air mata Zahwa yang menumpuk di pelupuk mata.
"Hmm"