
Kini semuanya sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Zahwa sedang mengulek bumbu tumis, Linda dan Dini sedang memetiki sayur dari batangnya. Dan yang lainnya mengerjakan hal lainnya bersama-sama dengan berbagi tugas agar pekerjaannya cepat selesai, tentunya akan lebih cepat makan.
Canda tawa menghiasi kegiatan mereka, hingga sebuah kalimat yang di lontarkan salah seorang dari mereka kembali mengusik pikiran Zahwa
"Eh...antunna sudah tau tidak? Kabarnya Kang Fatih bakal ke luar negri..."
Suara riuh histeris membahas objek tersebut yang tak lain adalah Kang fatih.
Linda dan Dini mendekat kepada Zahwa
"Itu emang bener ya?" Tanya Linda
"Hmm..itu benar " jawab Dini
Zahwa dan Linda kini menoleh pada Dini.
"Koq anti tau Din?" Tanya Linda. Sedang Zahwa hanya diam saja, ia hanya menyimak. Enggan dan berat rasanya jika ikut bergabung pembahasan.
"Ya taulah " ucap Dini dengan logat sunda nya
"Aihh..iya..tapi dari mana??" Geram Linda. Zahwa melirik keduanya
"Dari orang"
"Bisa bicara yang bener ga Din?" Desis Linda
"Lah?? Ini kan bener ngomongnya" protes Dini. Sontak mendapat tatapan tajam dari Linda
"Iya..iyaa jadi tadi tuh pas ana ke hammam(kamar mandi), pas lagi antre kan. Ada seseorang yang biasanya bantu-bantu di ndalem tuh, bilang kalau Kang Fatih bakal pergi"
"Nguping?"
"La(tidak), Hiya(dia) tidak sengaja mendengarnya. Saat Hiya(dia) berjalan mengantar teh ke ruang tamu, nah..disitu dia mendengarnya. Sangking terkejutnya dia menjatuhkan nampan teh nya, Allah kareem" ucap Dini geleng-geleng kepala.
"Truss dia dengernya apa aja?" Tanya Linda antusias
"Dia mendengar kalau Kang Fatih bakalan lanjut menimba ilmu ke Kairo dan S2 nya ke Turki. Ma syaa Allah.." ucap Dini berbinar.
Hag
"Awwsh..astagfirullah.." rintih Zahwa. Pergelangan tangannya keseleo saat ingin mengangkat batu ulekan.
"Huuuhu...sakitt..." Ringis Zahwa, karena tak fokus tanganya jadi salah gerak. Ya iyalah Zahwa bakal keseleo wong raganya doang disini tapi pikiran dan fokusnya mah melalang buana entah kemana.
"Allah kareem...Zah" ucap Linda dan Dini bersamaan.
"Tangannya kenapa neng?" Tanya Bi Sum yang entah dari kapan datangnya
"Emm keseleo dikit Bi..Awwhh"bals Zahwa
"Emm ke klinik dulu sana ambilin minyak urut , mungkin itu tulangnya kaget kegeser neng" saran Bi Sum
"Nah..iya bener..ke klinik dulu saja Ukhty..biar di urut sama perawat disana" ucap teman yang lain
Zahwa mengangguk setuju.
"Ayo Zah.." ucap Dini mencoba membantu Zahwa
"Ehh tidak usah, ana sendiri saja. Yang sakit tangan ana bukan mata atau kaki ana sehingga harus di tuntun, ehehe. Antuma di sini saja bantu masak biar cepet selesainya yah" jelas Zahwa
"Serius?? Bener ini"
"Na'am, La ba'sa" (ya , tidak apa-apa)
Ucap Zahwa tersenyum meyakinkan.
"Ana pergi dulu yah, afwan tidak bisa membantu sampai selesai..awhh..Assalamu'alaikum" pamit Zahwa. Ia mencoba memutar pelan pergelangan tangannya berharap akan lebih baik.
"Hati-hati Zah"
"Iya neng"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
****
__ADS_1
Zahwa berjalan ke klinik , saat di lokasi bebas umum. Ahh maksudnya lokasi tertentu antara santri dan santriwati boleh melintas di tempat yang sama.
"Huff huff" Zahwa masih menggerak-gerakkan tangannyayang keseleo sesekali menghembusnya.
"Huff..hufff...hu- "
DEG
Tak sengaja matanya menangkap satu sosok yang dari tadi mengganggu pikirannya. Masih dengan rasa yang sama, deg deg-an bila melihatnya. Jangan bertemu langsung tanpa sengaja melihatnya saja jantung nya sudah berdegup tak karuan.
Matanya menatap nanar sembarang arah, entah mengapa ada rasa sedih saat ia memdengar kabar bahwa orang yang dia kagumi, orang yang berhasil mencubit hatinya akan pergi untuk waktu yang lama menurutnya.
Itu artinya ia tak akan berjumpa dengannya, ohh bukan. Maksudnya ia tak akan dapat melihatnya lagi di Pesantren ini. Dua tahun lagi atau 4 semester lagi Zahwa tidak akan berada disini lagi.
Dan mereka tidak akan pernah bertemu lagi, hiks...kecuali Qodarullah..dipertemukan oleh Allah.
Zahwa tersenyum kecut, tanpa diduga saat ia menoleh mata mereka bertemu. Dengan perasaan bekecamuk ekspresi keduanya berubah.
tik..
tik..
tik...
"Astagfurullah ..." Seketika mereka tersadar dan memutus pandangannya.
Krekk...
"Aduhh...ya Allah.." tanpa sengaja pergelangan tangannya ia putar, membuat ia terkejut meringis menahan sakit.
Ia melirik, seseorang di sebrang sana tampak melirik memperhatikannya dengan perasaan dan mimik wajah khawatir. Ia segera beristighfar , apa sebenarnya yang terjadi?
Tak tahan lagi, ia segera berlari ke klinik.
****
Beberapa hari berlalu
Akhir-akhir ini Zahwa banyak melamun dan bengong, ia tak atau ada apa? apa yang terjadi pada dirinya? kenapa dirinya sedih tanpa alasan? sungguh ia heran dengan dirinya saat ini.
Saat ini mereka sedang di taman belakang, mereka duduk berdampingan di kursi taman tersebut. Sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang hadir menerpa wajah wajah ayu mereka.
"hmmm iya Din" ucap Zahwa tanpa menoleh, karena ia sudah bisa mengenali suara Dini saat memanggilnya tadi.
"anti akhir-akhir ini kenapa sih Zah? ada masalah? ada pikiran kah?" tanya Dini lembut penuh perhatian.
(Linda : "Hellowww othor, ana kenapa tidak di ikutkan, heyy"
othor : "si Linda protes guyss"
Linda :" hmm dimana ada Dini disitu ada Linda"
othor : " husstt..diem!!!, nyuci aja sono yang bener!!!"
Linda : " glek...i..iya..si..siap mak" tergelak abis di bentak ahahahaha
Othor : "hmm...baguss, yang bersih ya. Awas kalau engga bersih, tak ihh" )
Zahwa terkekeh " eheheh ya iyalah Din, kalau ana tidak punya pikiran, mana bisa belajar. Ada ada saja anti"
"Allah Allah... bukan begitu maksud ana Zah..tapi-"
"hmm, tidak ada. Ana hanya sedang tidak mood saja " elak Zahwa
"Koq ana ragu ya" tukas Dini
"Anti percaya deh sama ana, lagi ga mood aja serius.." ucap Zahwa meyakinkan
Dini tak bisa memaksa Zahwa
"hmm baiklah ana percaya deh, tapi kalau ada apa-apa atau pengen cerita. Cerita aja yah, ana siap mendengarkan" ucap Dini tulus memegang tangan Zahwa
"emm..iyaah Syukron Din.."
"na'am, kaya sama siapa aja Zah"
__ADS_1
****
Pagi itu seperti biasa sudah jadwalnya. Zahwa kebagian piket menyapu perbatasan lagi. Saat sampi di lokasi matanya terbelalak kaget, melihat banyaknya sampah daun berserakan dimana mana. Entah dari mana itu semua berdatangan, padahal tiap pagi bergilir membersihkan tempat ini.
"Allah...Allah... semalem yang piket siapa? koq seperti sudah tidak di sapu tiga hari saja" ucap Zahwa geleng-geleng kepala.
"huufft...Bismillah.."
Ia mulai membersihkan halaman itu, semua sampah dedaunan yang berserakan mulai ia kumpulkan.
Beberapa waktu kemudian semua sudah selesai, halaman sudah bersih, sampah sudah ia buang.
Ia mendudukkan diri di sebuah bangku yang terbuat dari kayu
"huuhh"punggung tangannya tergerak menyingkirkan peluh di dahi, bawah mata, dan antara hidung dan bibirnya.
Kepalanya celingak-celingukan, seperti mencari seseorang.
"loh..koq tidak ada Kang Santri yang mengantarkan tong air minum. Ini sudah sangat lama, tetapi tidak ada yang datang. Apakah kami tidak akan di beri minum hari ini?" tanya Zahwa melihat kesana kemari. Tenggorokannya sudah terasa kering.
Lelah menunggu, ia putuskan untuk kembali ke asrama. Ia membalikkan badannya, dan melangkah ke asrama.
"mbak..tunggu.." panggil seseorang dari belakangnya.
Zahwa berbalik dan...
"ohh..iya Kang.." Zahwa langsung membuka kunci pagar. Yang datang adalah Kang santri yang tadi ia nanti untuk mengantar minum.
"koq baru datang sekarang Kang?" tanya Zahwa
"emmm..Mbak yang namanya Zah bukan?" tanya Kang santri tersebut ragu-ragu menjawab pertanyaan Zahwa
"ihh..ini orang di tanya apa di jawab apa, eh kok dia nanyain ana?" batin zahwa
" mmm Tayyib Kang, itu ana" ucap Zahwa menunduk.
Memang di asrama mereka hanya dia yang bernama awalah Zah, dan memang tidak ada lagi, hihihi kebetulan banget. Bisa-bisanya cuma sendirian.
"Alhamdulillah...benar, syukurlah langsung pada orangnya" gumam orang itu tapi masih terdengar oleh Zahwa
"ada apa ya Kang?" tanya Zahwa
"emm..ini Mbak, ana dapat amanah"
"amanah?"
"iya"
"hmm..apa Kang?"
"ini ada titipan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Like komen rate kembang seikhlasnya , di tunggu ya.
__ADS_1
hmm🙂👉🏻👈🏻