Salah Khitbah

Salah Khitbah
132. SK 2 : HATI YANG TERSENTIL


__ADS_3

1 bulan kemudian


Kini kandungan Zahwa sudah memasuki bulan keempat. Dan Akhtar semakin memperketat penjagaannya kepada Zahwa, karena ini adalah waktu yang spesial saat dimana, ruh di tiupkan kepada janin yang ada di dalam rahim sang istri.


Doa tak pernah berhenti mengalir dari seluruh keluarga, juga doa dari para santri yang mengadakan doa bersama. Baik dari pesantren pihak Akhtar tapi juga dari pihak Zahwa, beserta cabang-cabang nya.


MasyaaAllah... Seneng banget banyak yang doa'ain dede bayi. Ummm


Dapat di lihat, pipi Zahwa semakin lebih berisi, karena ***** makannya selalu bertambah. Bahkan beberapa gamis yang ia punya baik sewaktu masih gadis atau awal-awal hamil sudah tidak muat. Membuat ia sering mendesah kecewa ketika membuka lemari pakaian tapi tidak ada baju yang muat di badannya.


"Hufftt... Mending uang nya di simpan saja buat nanti Bib, aku masih bisa pake baju Bunda loh" tukas Zahwa setelah mereka selesai berbelanja


Ya memang, sejak pakaiannya tak terpakai saat ini, Bunda Fatimah memberikan gamis-gamis longgarnya dulu kepada Zahwa. Karena memang masih sangat bagus dan...biasalah ya bu ibu, baju warisan.


" Ssst... Sudah lah, jangan menolak. Lagian kamu tidak pernah membeli baju loh Queen kalau bukan saya yang belikan. Uang yang saya berikan juga dari dulu tidak berkurang malah semakin menumpuk di rekeningmu. Kenapa tidak di pakai??" Tanya Akhtar


"Ya.. karena aku merasa tidak terlalu penting, baju aku masih bagus-bagus kok. Kalau ada bedak atau skincare aku yang habis Habibie udah stok duluan sebelum aku beli. Lah trus kapan ke pake uangnya, suami ku sayangggg????" Ucap Zahwa panjang lebar dengan mendengung di akhir kalimatnya


Akhtar hanya menggelengkan kepalanya, akhir-akhir ini Zahwa semakin cerewet. Entah apapun itu kalau tidak pas ia akan selalu berkomentar.


Astaghfirullah.. turunan dari mana, jika nanti anaknya mengikuti perilaku ibunya yang cerewet semasa hamil. Secara mereka tipe yang tidak cerewet atau bisa di bilang sesuai porsinya. Akhtar mengelus dadanya.


Bukan tanpa alasan Akhtar melakukan ini, ia membelikan kembali pakaian Zahwa dari atas sampe bawah, yang di dalam juga yang di luar. Karena akan memudahkan mereka saat nanti berada di tanah suci.


Ya, minggu depan adalah keberangkatan mereka untuk Umroh. Sesuai dengan janji Akhtar waktu itu. Karena usia kandungan Zahwa sudah empat bulan seperti kesepakatan di awal, maka inilah saatnya mereka pergi Umroh beserta keempat orang tua mereka.


"Sudah, sana baring" titah Akhtar


"Hemmm.. hoaammm aku ngantuk Bib" ucap Zahwa serak berjalan malas ke ranjang


" Tunggu, ga boleh tidur dulu. Muraja'ah dulu Al-Mulk nya juga" ujar Akhtar memperingati


"Loh.... Tadi kan di suruh baring"


"Kan baring Queen.. bukan tidur.." sahut Akhtar mendekat


Ia mendudukkan diri di samping Zahwa. Mengambil Al-Qur'an dan siap-siap mendengarkan.


"Ayo mulai"


"Hemm.. Bib.. besok aja ya.."


"Tidak!"

__ADS_1


"Ayo lah.. aku ngantuk"


"Mulai!"


"Yank...kali ini di tunda dulu ya..besok numpuk deh iya "


"Tidak! Sekarang mulai cepat!"


"Bib.. ihh... Satu juz itu lama muraja'ah nya" rengek Zahwa yang langsung mendapat tatapan tajam dari Akhtar


"Emm.. setengah juz aja ya.." tawar Zahwa dengan suara pelan


" Tidak!"


" Tida per dua Juz, berarti delapan lembar"


" Bib.. ayolah.. " ucap Zahwa merengek mengait lengan Akhtar


"Sayang.. dengar. Muraja'ah itu tanda syukur nikmat yang besar. Bila menghafal Al-Qur'an adalah cita-cita, maka muraja'ah adalah tugas seumur hidup"


Zahwa menunduk, walaupun Akhtar mengatakannya dengan lembut, tapi ia merasakan sentilan di sudut hatinya.


Bukannya ia tak ingin muraja'ah tapi kantuk yang sedari tadi selalu menerjangnya, meluluhkan pertahanannya.


" Aku tidak bisa janji bisa seperti biasa, tapi alu akan coba semampuku" Akhtar mengangguk


Dan mulailah ia membaca kalimat demi kalimat yang di muliakan itu, dengan perjuangan mengingat dan menahan kantuknya.


Benar saja baru empat lembar yang ia lewati, tubuhnya sudah ambruk ke bahu sang suami. Akhtar yang fokus melihat bacaan Zahwa di Al-Qur'an kaget saat bahunya di sentak sesuatu yang keras.


Ia menutup bacaan dan meletakkan Al-Qur'an ke tempat semula. Di raihnya kepala sang istri, menurunkannya pelan-pelan hingga mendarat di bantal. Meluruskan kakinya dan menggeser pinggangnya sedikit.


Setelah di pastikan istrinya dalam posisi ternyaman, ia berjalan mematikan lampu dan memastikan pintu sudah di kunci, menyetel suhu pendingin ruangan, lalu menarik selimut ikut bergabung bersama sang istri dengan memeluknya dari samping menuju alam mimpi.


***


Sedangkan di sudut ruangan lain, Zahra sedang termenung memikirkan apa yang ia dengar di aula tadi.


Benar-benar mampu memporak-porandakan hatinya, juga jiwa nya. Entah bagaimana ia sekarang sungguh dirinya merasa harus menyetel ulang semuanya dari awal.


Potongan-potongan perkataan yang sangat menyentil hatinya, membayang-bayangi pikirannya sampai saat ini, semua sangat jelas terngiang-ngiang


"Sudah benarkan yang ku perbuat?"

__ADS_1


***


Rasulullah Saw., bersabda, “Barangsiapa yang membaca (menghafal) Al-Quran, maka sungguh dirinya telah menyamai derajat kenabian hanya saja tidak ada wahyu baginya (penghafal). Tidak pantas bagi penghafal Alquran bersama siapa saja yang ia dapati dan tidak melakukan kebodohan terhadap orang yang melakukan kebodohan (selektif dalam bergaul) sementara dalam dirnya terdapat firman Allah.” (HR. Hakim).


Ubay bin Ka'ab adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Ubay merupakan sahabat yang mampu menghafal Al-Qur'an. Dia dipercaya menjadi sekretaris Nabi untuk penulisan wahyu dan surat-surat Nabi.


Ubay adalah seorang sahabat yang berasal dari kaum Anshar dari suku Khazraj. Ubay selalu berada di sisi Rasulullah. Dia ikut dalam Bai'at Aqabah, Perang Badar, dan perang-perang lainnya.


Ubay juga merupakan sahabat yang bertakwa kepada Allah SWT. Dia selalu menangis setiap kali menyebut Allah. Orang-orang yang mendengar Ubay membaca Al-Qur'an juga ikut menangis


Suatu hari, Rasulullah pernah bersabda kepada Ubay.


"Wahai Ubay bin Ka'ab, sesungguhnya aku diperintahkan untuk menunjukkan Al-Qur'an kepadamu," kata Ubay


Mendengar ucapan Rasulullah, Ubay pun penasaran bertanya.


"Wahai Rasulullah, apakah namaku disebut kepadamu?" tanya Ubay


Rasulullah pun menjawab bahwa nama Ubay disebut penduduk langit.


"Benar, nama dan nasabmu (disebutkan) di penduduk langit," ungkap Nabi Muhammad.


Semasa hidupnya, Ubay juga dikenal sebagai panutan. Umar bin Khattab pernah menyebut Ubah adalah junjungan kaum Muslimin.


Kepergian Ubay bin Ka'ab, sahabat penghafal Al-Qur'an ini menyisakan duka yang mendalam bagi umat Islam.


Saat wafat, banyak umat Islam memenuhi jalanan mengantar jenazah Ubay bin Ka'ab


MasyaaAllah...😖😢💙


***


Wahai para manusia... jangan lah kalian terperdaya oleh tulisan. Ane tidak ada salah ketik, tidak ada lupa atau pun menggantung cerita



⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️⬆️


Itu bukan ane yang tulis, itu editor yang tulis. Memangnya ane ada bilang kalau ini udah tamat? belum kan?


Kalau udah tamat, pasti udah ada kata tamat di akhir bab degan tulisan sendiri. 😖🤭


Jadi gausah pikirin label atau tulisan yang paling bawah, huruf kecil di tengah itu yak.

__ADS_1


Yang penting itu kalian baca, kalian terhibu, seneng, Abis itu like, tinggalin jejak.. behhh udah, fix sama-sama senang kita. Jangan jadi SIDERS okeeyyy 👌🏻


__ADS_2