Salah Khitbah

Salah Khitbah
96. SK 2 : ASTAGHFIRULLAH TRIO PELAKOR


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, Zahwa pun sudah kembali ke rumah. Ia mendapati Umi sedang bersiap, tengah merapihkan khimarnya pada sebuah kaca besar di ruang tengah.


"Assalamu'alaikum Umi..." Ucap Zahwa masuk ke dalam


"Wa'alaikumussalam, sudah pulang nak?"


Zahwa mencium tangan Umi


"Sudah Umi"


Umi terlihat kesulitan menyematkan jarum pentul karena kainnya tebal.


"Mary bantu Umi" kini jarum pentul itu berpindah pada Zahwa.


"Selesai!"


"Terimakasih sayang" Umi mengambil tasnya


"Tidak mengapa 'khan, disini sendiri?"


"Iya Umi"


Tiitt...titt...


Bunyi klakson terdengar dari ke dalam rumah.


"Nak sepertinya teman Umi sudah datang. Umi pergi ya. Assalamu'alaikum"


"Iya Umi, Umi hati-hati ya. Wa'alaikumussalam"


Setelah mobil yang dinaiki Umi tidak terlihat lagi. Zahwa menutup pintu dan naik ke kamar nya.


Zahwa membuka jendela besar yang dulu pernah ia buka juga saat pertama kali masuk ke kamar ini.


Ia menatap hamparan hijaunya sawah dengan duduk di sofa bawah jendela itu.


Ia menatap sepasang suami istri yang sudah lansia berboncengan menaiki sepeda. Membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke belakang.


Bayangan kenangan di rumah kayu semalam terlintas di pikirannya. Seketika ia mengingat suaminya yang pergi beberapa jam yang lalu.


"Apakah suamiku sudah sampai?" Gumamnya. Ia teringat akan pesan Akhtar yang mengatakan akan mengabarinya jika nemu waktu yang pas untuk menelfon.


Dengan segera ia mengambil handphone nya di meja rias, lalu kembali duduk di sofa jendela.


Ia menghidupkan ponselnya. Matanya menangkap 10 panggilan tak terjawab dari suaminya.


Sepertinya Akhtar kembali menelponnya saat di perjalanan ketika pesannya tidak di baca, dan membuatnya khawatir.


"Astaghfirullah..sayang pasti khawatir" ucap Zahwa menatap nomor Akhtar.


Baru saja jarinya akan menelpon Akhtar, panggilan masuk mendahuluinya.


Hatinya tersenyum lega ternyata 'Zauji❤️ is calling..'


Dengan segera ia menggeser icon hijau ke samping kanan.


"Alhamdulillah..di angkat" gumaman Akhtar terlebih dahulu terdengar di telinga Zahwa. Ia sungguh merasa bersalah sudah membuat Suaminya khawatir saat dirinya berada jauh darinya.


"Assalamu'alaikum..Queen..." Suara lembut Akhtar bernafas lega terdengar memulai obrolan.


"Wa-wa'alaikumussalam warahmatullah Bib.." jawab Zahwa mengelap keringat di pelipisnya.


"Sayang..kamu kemana saja? Saya khawatir terjadi sesuatu pada mu, mengapa tidak mengangkat telpon dari saya?" Cercar Akhtar

__ADS_1


"Ee..em..maaf Bib, a-aku tadi keluar tidak membawa handphone"


"Kamu pergi kemana?"


" Tadi, saat Dzuhur, Umi ajak sholat di Masjid, terus setelah selesai, kami bertemu dengan Ustadzah Rifa, Sayang tau? Beliau kaget saat tau aku menantu Umi. Hihihih wajah terkejutnya itu sangat lucu. Beliau peluk-peluk aku dan cium-cium pipi aku berkali-kali..hihi seperti tidak bertemu bertahun-tahun saja, hahaha" Zahwa bercerita dengan sangat antusias.


Akhtar tersenyum mendengar celotehan istrinya.


"Jadi? Beliau sudah tau ya kalau kamu itu Zaujati.." tanya Akhtar


"Ish..apaan sih Bib. Iya..beliau sudah tau tadi" jawab Zahwa merona.


"Sayang yah, saya sedang tidak berada di sampingmu. Kalau iya, mungkin sekarang saya sudah melihat wajah mu memerah tomat" goda Akhtar membuat Zahwa berlari ke ranjang. Dan memeluk bantal guling nya.


"Ih...sayang..." Rengek Zahwa malu


Akhtar terkekeh


"Queen..mulai dari sekarang kamu harus bersiap-siap. Setelah semua orang tau akan banyak hal yang akan terjadi" ucap Akhtar membuat Zahwa terdiam


"Akan terjadi apa?"


"Ya..adalah..nanti. Kan belum saatnya"


"Hemm.. baiklah" tiba-tiba.."astaghfirullah.."


"Ada apa sayang?"


"Bu-bukan, maaf Bib.. Wawa lupa tanya, sayang sudah sampai atau belum?" Tanya Zahwa melupakan tujuan utama nya sejak awal untuk menanyakan keberadaan dan keadaan suaminya ketika suaminya menelpon.


'hufftt..' Akhtar bernafas lega. Ia pikir ada sesuatu.


"Alhamdulillah..saya sudah sampai. Dan nanti 1 jam lagi baru ke rumah Kiyai Kholid"


"Alhamdulillah...sayang aman kan saat perjalanan? Tidak mabuk kan? Tidak terjadi sesuatu kan saat di jalan tadi? Udah makan siang belum? Vitaminnya udah di minum tidak sewaktu makan siang tadi?Sayang tid~"


"Kalau bertanya itu satu-satu sayang...kalau begini saya bingung mau jawab yang mana dulu"


"Ehehe iya maaf bib..aku kan khawatir sama kamu sayang.."


"Cup...saya sangat senang kamu khawatir pada saya. Tenang, Alhamdulillah..saya aman di perjalanan dan tidak ada kendala apapun. Sudah makan juga dan seperti perintah nyonya bos vitaminnya juga susah di minum. Jadi..nyonya cantik ini tenang saja ya.." ucap Akhtar menjawab pertanyaan beruntun Zahwa


"Xixixi...Alhamdulillah...syukurlah..jangan cape-cape ya sayang.. kesehatannya di jaga, jangan telat makan, istirahat yang cukup juga ya, nanti sakit. Trus malah tidak jadi pulang ke sini"


"Harusnya saya yang ngomong begitu, tapi..kamu juga ya.."


"Iya Sayang..."


"Tapi.."


"Tapi apa sayang?" Tanya Zahwa


"Saya tidak bisa janji bisa tidur dengan baik"


"Loh kenapa?"


" Tentu, karena patner tidur saya kan sedang tidak bersama saya, siapa yang akan memberikan saya pelukan dengan tubuh mungil nya itu"


"Emm...sama dong. Aku juga begitu disini" jawab Zahwa terkekeh...


" Sayang..maaf ya..untuk beberapa waktu kedepan saya tidak bisa memberikan nafkah batin kepada mu"


Zahwa tersenyum malu walau tidak bisa di lihat oleh Akhtar

__ADS_1


" Ih..sayang, masih aja pikiriannya..ih.."


"Loh? Itukan kewajiban saya menafkahimu lahir batin"


"Iya..iya..tidak apa-apa sayang..bukan di sengaja kan"


"Baiklah, nanti malam saya telpon lagi jika bisa yah"


"Hum...sudah selesai ini?"


"Maaf sayang, tidak bisa berlama-lama. Ingin pun tetap tidak bisa. Saya akan mencoba lagi malam. Jika tidak, maka bersabarlah sampai saya mendapatkan sinyal yang bagus."


"Ummmmh" gumam Zahwa menahan air matanya.


Hanya bisa mendengar suara nya saja sudah syukur dibanding tidak bisa bertukar sapa sama sekali.


" Jangan menangis okey..cantik. Saya pergi dulu ada keperluan sebentar. Nanti kita sambung ya.."


"I-iya, baiklah. Hati-hati ya..",


"In Syaa Allah..assalamu'alaikum"


"Wa-wa'alaikumussalam warahmatullahi wabara- "


Tet...sambungan telpon terputus sendiri sebelum salah satu diantara mereka memutusnya.


"Katuh" lirihnya menyambung.


Hufftt...Zahwa menenangkan dirinya. Menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.


Ia membasuh wajahnya, setelah itu ia memutuskan untuk ke dapur.


Ternyata ada disan ada beberapa yang membantu memasak. Atau sekedar belajar memasak.


Iya merasa bosan, lalu ingin beranjak keluar.


Namun langkahnya terhenti saat mendengar percakapan beberapa santri.


"Duh..ternyata Anak nya Buya sudah menikah, dan dengar-dengar istrinya beliau alumni sini loh" si A


"Oh ya? Eh tapi ana juga dengar, yang menyebarkan berita ini itu adalah salah satu Ustadzah dari geng 3 serangkai" si B


"Kok bisa ketiga Ustadzah itu mengetahuinya?"si C


"Tidak tau, tapi memang dari dulu awal ana masuk ke pesantren ini. Ketiga Ustadzah itu adalah orang yang..


"Ssst...tidak boleh membicarakan hal buruk tentang orang lain, apalagi mereka adalah guru kita " ucap si D menutup mulut si B


"Iya sih, tapi ya sekarang itu tuh lagi musim yang namanya pelakor. Semoga saja deh ketiga Ustadzah itu tidak mengganggu kehidupan rumah tangga Ustadz rahasia itu . Jika tidak mereka akan menjadi...


"Astaghfirullah..trio pelakor!!!" Pekik mereka kompak


Zahwa tersentak karena teriakan mereka. Bahu sampai bergidik sangking kaget nya.


"Hah? Se-semua orang su-sudah tau?" Gumam Zahwa tanpa bersuara


"Bagaimana bisa?" Ia menoleh untuk melihat santri itu lagi namun ternyata mereka sudah tidak ada. Mereka segera pergi takut ada yang mendengar ucapan mereka.


Zahwa memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dengan menyisakan satu pertanyaan di pikirannya.


Selma berjalan otaknya bekerja menerjemahkan


"Pelakor itu apa?"

__ADS_1


. . . . . . .


Jangan lupa tinggalin jejak nya yaa...biar Author semakin semangat up nya 💪🏻✨


__ADS_2