
***
"Na'am. Umi sakit"
"Subhanallah...Umi Sakit?" Zahwa terkejut mendengar kabar itu. Pasalnya tadi ia melihat sendiri bahwa Umi Alya baik-baik saja.
Tanpa pikir panjang, ia segera pergi berlari menuju ndalem untuk melihat keadaan Umi Alya. Kedekatannya selama ini dengan beliau sudah sangat dekat sehingga i sudah menganggap Umi Alya seperti ibu kandungnya sendiri. Itulah mengapa ia sangat khawatir kala mendengar Umi Alya sakit, pikirannya langsung membayangkan jika Bunda Fatimah yang berada di posisi itu.
"Mbak..tunggu"ucap mbak santriwati tersebut melihat Zahwa sudah melesat jauh.
"Allah..Allah....ana harus berlari lagi. Ya Allah..ini saja masih capek rasanya" keluh mbak santriwati tersebut.
Zahwa berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
"Astaghfirullah..ayo mbak.." ucap Zahwa lalu kembali berlari
"Huhh..huh..huh..." Nafasnya memburu tenggorokannya sangat kering.
Ia segera masuk ke dalam setelah mengucapkan salam. Ia masuk ke ruang keluarga dan terlihatlah Umi Alya sedang duduk setengah berbaring di bale-bale.
"Umi.." panggil Zahwa. Ia dapat melihat Umi Alya menyeka air matanya. Lalu tersenyum menyambutnya.
"Assalamu'alaikum Umi..."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Sini nak Mary" ucap Umi Alya melambaikan tangannya kepada Zahwa.
Zahwa mendekat, ia mencium tangan Umi Alya.
"Ya Allah.. Umi demam?" Tanya Zahwa panik
"Nak..." Belum sempat Umi menyelesaikan ucapannya, Zahwa sudah melesat pergi ke belakang untuk menyiapkan kompres untuk Umi Alya.
Air mata Umi Alya kembali menetes. Dalam hati ia membatin
"Nak..kapan kamu pulang...Umu merindukan mu...sudah tidak ingat kah dirimu pada Umi mu ini" Umi Alya menahan sesak di dada nya. Segera ia hapus air matanya sebelum Zahwa datang.
Tak lama kembali dengan baskom berisi air dingin dan handuk kecil.
"Umi..Zahwa boleh izin kompres Umi ?" Tanya Zahwa ragu-ragu
Umi Alya tersenyum menatap haru pada Zahwa dan menganggukkan kepala nya sebagai jawaban.
"Maaf Umi.." Zahwa mulai meletakkan kompres itu di kening Umi Alya.
"Sungguh mulia hati mu Nak. Kamu bukan putri kandung ku. Tapi perhatian, ke khawatiran dan kasih sayang mu. Seperti kasih sayang seorang putri kepada ibunya." Batin Umi Alya terenyuh mendapat perhatian Zahwa
1 jam kemudian. Umi sudah tertidur setelah beberapa kali mengganti handuk Kompress nya .
Tak lama setelah itu Abuya datang.
"Assalamu'alaikum..." Buya Firman datang setelah selesai mengisi kajian di Kabupaten sebelah
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bu-buya..." Zahwa menundukkan kepalanya.
"Subhanallah...apa yang terjadi nak?" Tanya Buya yang kaget melihat Umi terkulai lemah di sana.
Zahwa menceritakan apa yang ia tau. Lalu Biya mengangguk paham.
"Pantas saja dari tadi perasaan ku tidak enak" batin Buya Firman
"Ma syaa Allah...sungguh mulia hati mu nak. Terimakasih karena telah sudi merawat Umi" ucap Biya Firman
"Tidak apa-apa. Sama-sama Buya" Zahwa menunduk sopan
"Kalau begitu ana bisa balik ke asrama ya Buya" ucap Zahwa hati-hati
"Iya silahkan nak. Jangan khawatir nanti malam akan ada dokter yang akan memeriksa Umi" ucap Buya mempersilahkan
Saat akan beranjak. Tangan lemah Umi menahan Zahwa yang hendak pergi.
"Nak Mary disini saja ya. Temani Umi.." lirih Umi Alya memohon
Zahwa menatap ragu pada Buya Firman yang tampak berfikir.
"U-umi.."
"Iya nak. Kamu disini saja dulu ya. Umi kesepian" ucap Buya dengan nada lirih di ujung kalimatnya.
"B-baiklah Buya"
__ADS_1
"Nak.. istirahat di kamar yang kemarin ya" ucap Umi Alya
"Kamar itu..."
"I-iya Umi"
"Alhamdulillah... Terimakasih nak"
"Sama-sama Umi. Kalau begitu ana pamit bebersih dulu Umi..Buya.."
"Iya nak.."
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Setelah Zahwa pergi. Keheningan melanda Umi dan Buya.
"Mi....kenapa sampai jatuh sakit seperti ini?" Tanya Buya mengelus lembut pucuk kepala Umi Alya dan mencium keningnya.
"Abi pasti sudah tau alasannya" jawab Umi Alya sedikit ketus.
Mendengar itu. Buya Firman hanya bisa menghela nafasnya.
****
Keesokan harinya
"Mbak tolong pegangin" ucap salah satu petugas ndalem menyerahkan serok sampah pada Zahwa
Pagi ini seperti yang Umi Alya pinta kemaren agar Zahwa tetap di ndalem. Dan saat ini ia sedang membantu mbak petugas menyapu halaman.
Karena Umi Alya belum keluar ia tidak tau ingin mengerjakan apa. Karena semua sudah ada petugas nya masing-masing.
Kreeekk....
Pintu pagar terbuka. Terlihat Umi Alya yang sudah rapi dan cantik duduk berjemur di teras.
"Loh..Umi..sudah rapi ingin kemana?" Tanya Zahwa
"Umi berencana ingin belanja ke pasar, nak"
"Persediaan akan habis nak"
"Emm..bagaimana kalau ana yang gantiin Umi?"
"Beneran?"
"Hmmm lumayan kan bisa jalan-jalan. Ehehe" batin Zahwa
"Iya Umi. Umi istirahat saja yah biar cepat pulih. Ana minta catatannya aja ya Umi"
"Tidak apa-apa?" Tanya Umi ragu
Zahwa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum meyakinkan.
"Boleh ya Mi?" Bujuk Zahwa
"Baiklah..tunggu sebentar ya" ucap Umi Alya tersenyum menyetujui sambil mengelus lengan Zahwa. Setelah itu Umi Alya masuk dan mengambil catatan beberapa keperluan lainnya.
"Ini nak" Umi Alya menyodorkam selembar kertas yang sudah berisi seluruh persediaan dapur yang habis. Juga uang yang sudah Umi masukkan dalam sebuah dompet
"Nanti kamu ikut sama mbak Fira ya. Supir nya sama Mang Asep saja" ucap Umi Alya
"Beik Umi"
Tak lama Mbak Fira datang bersama mobil pesantren yang di kemudikan oleh Mang Asep.
"Umi. Ana pamit yah. Umi istirahat di rumah saja. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
****
45 menit kemudian
Ciiiitt....
Mobil berhenti di parkiran pasar tradisional.
__ADS_1
" Mbak, ini banyak nih yang mau di beli. Gimana kalau kita pencar saja beli nya?"
"Boleh tuh"
Zahwa meneliti setiap yang tertera di kertas itu.
"Emm...mbak. Ini ada dua bagian nih. Ada sayur sama lauk"
Zahwa membagi dua kertas itu. Dan memberikan salah satu pada Mbak Fira.
"Mbak, ana yang cari bumbu nya ya. Untuk lauknya baru kita cari bersama"
"Beik. La ba'sa, lagi anti baru ini kan pengalaman belanja. Nanti kita ketemu di sini lagi ya" ucap Mbak Fira. Zahwa mengangguk.
Setelah itu mereka berpencar. Tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan pergerakan mereka berdua. Mata nya membulat sempurna saat melihat sesuatu yang sangat ia dambakan.
Zahwa mulai mencari bahan-bahan sebagai bumbu dapur.
Saat ia sudah menyelesaikan tugas nya. Ia pergi ke luar di tempat mereka janjian untuk bertemu kembali setelah selesai berbelanja.
Ia berdirienunggu mbak Fira. Saat ia sedang lengah.
Tiba-tiba tas nya di tarik oleh seseorang. Ia menoleh
"ohohohoho Ya Allah. Perampok!!" batinnya
"Tolooonggg....tolooonng....." ucap Zahwa
Ia saling tarik-tarikan dengan perampok di hadapannya. Belanjaan di tangannya sudah jatuh ke tanah.
Ia mencoba menginjak-injak kaki si perampok itu namun tidak mempan. Nampaknya tidak ada rasanya untuk si perampok. Ingin sekali ia melawan dan melumpuhkan perampok ini namun karena rok nya ia tidak bisa bergerak bebas untuk melawan si perampok itu.
"HEYY....LEPAS!!" Ucap Zahwa kesal. Ia hampir kewalahan, tenaga nya hampir habis karena tarikan paska itu. Namun
Tiba-tiba...
"BUUGHH...BUGH..BUGHGGHH...." Seseorang datang dan langsung menekuk lutut di perampok hingga ia berlutut di lantai. Si perampok ingin melawan namun orang itu kembali melawannya
"AAKHH...." jerit si perampok saat tangannya di pelintir ke belakang
"PLAAKK..BRUKK.." orang itu menohok lengannya hingga ia tidak bisa berkutik. Seketika tubuhnya di dorong dan ambruk ke belakang.
Orang itu melapiskan tangannya dengan kain sorban yang melilit di kepalanya dan menarik tangan Zahwa untuk menjauh dari tempat itu .
Ia membawa Zahwa bersembunyi di balik sebuah tong besar.
"M-maaf" lirih Zahwa melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.
Seketika orang itu sadar dan menarik tangannya.
"Terimakasih banyak karena sudah menolong saya" ucap Zahwa tulus seraya menunduk
"hmm"
Ia menatap orang yang menolongnya. Keduanya terlibat eye kontak untuk beberapa saat. Terdapat reaksi keterkejutan dari keduanya.
"Mata itu?"
Zahwa meraba dadanya yang sesak tiba-tiba. Ia capek karena harus berlari.
Pria yang berjubah hitam dan menggunakan masker itu. Langsung pergi meninggalkan Zahwa sendirian.
Beruntung Zahwa memakai niqab hingga muka cengo nya saat ini tidak bisa dilihat oleh siapa pun Ia heran melihat orang baik itu.
Sedangkan pria itu segera meninggalkan pasar itu dan kembali masuk ke dalam mobil.
Ia menepis peluh yang menghiasi pelipisnya.
"kenapa aku panas dingin? siapa mata itu?"
.
.
MAAF BILA BANYAK TYPO YAK
BESOK UP ATU LAGI DEH..
JEJAK NYA JANGAN TINGGAL YAA
__ADS_1