
"Hahahaha... Yank, aku yang makan pedes kamu yang mules. Hahaha" bumil satu ini puas menertawai suaminya
Akhtar terlihat berfikir sejenak, memikirkan kembali keanehan ini.
" Hahaha aduh haha..Yank muka nya jangan begitu, lucu kamu hahaha" Zahwa memegang perutnya yang terasa kram
"Sayang.. Abba yang mules, padahal Umi yang makan, hahaha pinter ya kamu hahaha" ucap Zahwa berbicara pada perutnya
" Sshttt..." Keluh Akhtar memegang kepalanya. Tiba-tiba tawa Zahwa terhenti mendengar desisan suaminya.
" Ehh.. Abba kenapa ? Bib.. kamu kenapa?" Tanya Zahwa khawatir
"Kepala saya sakit, ini pusing sekali, ssshttt"
Zahwa memberikan air hangat miliknya tadi pada Akhtar, sambil mengelus kepalanya.
"Yank.. masih sakit ga? Sini aku pijitin" Zahwa mengangkat kepala Akhtar dan memindahkannya ke atas pahanya
Tangan mulus itu mulai memijat kepala sang suami, sambil berharap agar pusing nya cepat hilang.
Mata Akhtar terpejam menikmati sentuhan lembut dari tangan sang istri, entah mengapa setiap berdekatan dengan Zahwa keadaannya baik-baik saja. Tetapi ketika ia jauh dari Zahwa, kepalanya akan terasa pusing, badannya lemas, dan rasanya makanan yang ia makan tadi akan keluar.
"Yank.. kamu jangan jauh-jauh.. makin pusing" keluh Akhtar memeluk pinggang Zahwa, membenamkan wajahnya pada perut Zahwa
" Hem, baiklah. Istirahatlah sebentar, mungkin dengan itu sayang akan merasa lebih mendingan" ucap Zahwa mengelus rambut hitam pekat itu.
Dan benar saja, tak lama suara dengkuran halus dan hawa nafas teratur mulai terdengar. Membuat senyum Zahwa terbit.
"Sayang..terimakasih telah hadir dalam hidup ku, aku mencintai mu"
Cup
Zahwa menghadiahi kecupan di kepala Akhtar.
***
Saat makan malam tiba.
"Nak.. Bunda sudah masak makanan kesukaan kamu, kamu makan yang banyak yah" ucap Bunda Fatimah menyerahkan piring Zahwa
"Iya Bunda" jawab Zahwa tersenyum
Matanya berbinar menatap seluruh makanan yang tersedia di atas meja. Dengan semangat ia mulai mengambil beberapa makanan yang ia ingin kan ke dalam piringnya.
Setelah membaca doa Zahwa mulai menyuapkan sesuap nasi dengan udang saos padang. Namun, belum sempat Zahwa memakannya. Tiba-tiba Akhtar menahan tangannya.
"Jangan di makan" larang Akhtar dengan wajah pucat
__ADS_1
"Anta kenapa Thar?" Tanya Azzam
" Kan aku pengen makan ini" ucap Zahwa manyun
Ia kembali mulai akan menyuapkan makanan itu, namun lagi-lagi di tahan oleh Akhtar
"Saya bilang jangan di makan, sa- emmmpptt.." belum selesai ia bicara, Akhtar berlari ke kamar mandi belakang.
"Hoekk..emmppt..hoekk.."
Akhtar berkumur-kumur di westafel, lalu membasahi wajahnya yang terlihat pucat.
Ia sandarkan badannya ke tembok dengan kaki lemas. Nafas nya ngos-ngosan, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bib.."
Akhtar melirik tangan yang menyentuh lengannya. Lalu menatap sayu pada Zahwa.
" Hm?"
"Kamu tidak apa-apa?"
" Badan saya lemas sekali, kepala saya juga sangat pusing" ucap Akhtar lemah menjatuhkan kepalanya ke pundak Zahwa.
" Thar, mari saya bantu" tiba-tiba Azzam datang dan membantu Akhtar membopongnya duduk di kursi.
Zahwa memberinya air hangat, yang langsung habis sekali teguk. Selagi ia minum, Zahwa membantu mengelap keringat di dahi dan pelipis Akhtar
" Hm sudah lumayan" ucapnya memijat pangkal hidungnya.
" Sekarang anta mau makan apa, anta harus makan malam nanti masuk angin. Paksakan ya" bujuk Azzam
"Saya bisa makan apa saja, tapi Wawa jangan makan udang. Saya tidak sanggup mencium bau udang dan tidak ingin melihatnya makan udang, saya eneg " jelas Akhtar
Azzam beralih menatap Zahwa
" Dek, kamu makan-
"Iya Bang. Sayang.. yuk kita makan, aku akan makan yang lain" potong Zahwa terlebih dahulu
"Hem, baiklah" Azzam mengangguk
Setelah beberapa menit, Mereka kembali ke meja makan. Terlihat udang saos padang yang tadi sangat menggugah selera sudah di singkirkan dari hadapan mereka.
" Nak, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ayah Ali dan Bunda Fatimah bersamaan.
" Saya tidak apa-apa, Ayah, Bunda. Kalian jagan khawatir" ucap Akhtar
__ADS_1
"Sekarang lanjut makannya" titah Ayah Ali
Semua menurut lalu kembali sibuk dengan makanan masing-masing.
"Om danteng kenapa?" Ucap Humaira tiba-tiba
" Om tidak apa-apa sayang.. lanjut makannya yah" jawab Helwa cepat. Membuat Humaira mengangguk.
Karena jika di jelaskan pum Humaira tidak kan mengerti apapun, dan nantinya kita akan terjebak sendiri dengan perkataan kita, jika kita melawannya bicara. Jadi cukup diam.
Setelah gulai Udang Saos Padang sudah tidak ada di atas meja. Akhtar dan Zahwa makan dengan lahap tanpa gangguan apa pun.
Membuat semua orang senang, karena mereka baik-baik saja.
***
Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga
" Nak, kamu yang ngidam yah?" Tanya Bunda Fatimah pada Akhtar
"Tidak tau Bunda, tapi setau saya ibu hamil itu akan mengalami yag namanya mual-mual dan muntah di trimester awal. Tapi.. sepertinya Wawa hanya sekali saja merasakan itu. Selebihnya justru saya yang kebanyakan pusing, mual dan muntah" jawab Akhtar polos, membuat Azzam gemas dan memukul lengannya
"Yaudah, itu artinya Wawa yang hamil anta yang ngidam. Anta yang mengalami morning sickness." Ucap Azzam geram
"Oh iya ya. Hm begitulah" ujar Akhtar membuat semua orang terkekeh
"Ya sama, sama Ayah. Dulu ketika Bunda hamil kalian bertiga juga yang ngidam Ayah. Dan di situ Ayah bisa merasakan apa yang di rasakan ibu hamil yang mengalami morning sickness sendiri"
" Ya, Ayah benar. Jadi perempuan itu tidak mudah dan tidak segampang yang di pikirkan. Ketika mereka mengandung anak kita itu sudah menjadi pengorbanan yang besar, apalagi bagi ibu yang merasakan semuanya sendiri. Dan saya bersyukur, karena bukan istri saya yang mengalaminya. Ternyata rasa nya itu sakit, dan saya tidak bisa bayangkan jika dia yang mengalami nya. Seberat dan sesakit apa pun itu, akan saya jalani untuk istri yang sangat saya cintai" sahut Akhtar membuat Bunda, Zahwa dan Zahra yang mendengarnya meleleh baper.
"Aaaa... Makasih sayang..." Ucap Zahwa manja memeluk Akhtar
" Sama-sama" jawab Akhtar tersenyum dan balik memeluknya kaku. Ya Akhtar akan berbeda di depan orang lain kecuali pada Umi Alya sebagai Uminya dan Zahwa istrinya.
"Uhhh... Co cwwiiittt... " Ucap Zahra heboh
"Gitu dong, kan adil istri yang ngandung, suami yang muntah-muntah. Yaaa walaupun tetep 1000 banding 1 sih sampai nanti lahiran. Tapi ya tetep aja si istri tidak akan kesusahan melewati trimester awalnya. Aahh ikatan cinta kalian sungguh kuat" ucap Zahra lebay
"Dih.. tau apa kamu dek tentang beginian, anak kecil juga. Lah kamu,, ikatan cinta mu mana?" Ledek Azzam
Zahra mendengus lalu manyun menatap sebal pada Azzam.
" Kan katanya aku masih anak kecil" sindirnya dengan hati dongkol
"Ahahahaha"
***
__ADS_1
Gimana? Mau cerita Zahra di selipin juga?
Jangan lupa tinggalin jejaknya yaa....