Salah Khitbah

Salah Khitbah
111. SK 2 : KEGIATAN BARU


__ADS_3

"Yank.. jangan tidur dulu" ucap Akhtar saat melihat Zahwa akan berbaring dan memejamkan matanya


Ya mereka sudah kembali ke kamar, karena sudah waktunya istirahat.


"Kenapa?" Tanya Zahwa kembali menegakkan badannya.


Akhtar naik ke atas tempat tidur lalu mengangkat Zahwa dan memindahkannya ke sofa.


"Loh? Ngapain sayang"


"Tunggu sebentar" ucap Akhtar


Setelah itu Akhtar mengambil sebuah sapu lidi yang biasa ia gunakan untuk menepuk kasurnya sebelum tidur, untuk mengusir setan yang sedang baring di sana, sembari membaca "Bismillah Allahu Akbar"


“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan, 'bismillaah,' karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al-Bukhari, no. 6320, dan Muslim, no. 2714).


Dalam Syarah Shahih Muslim diterangkan, bahwa seseorang hendaknya mengibaskan kasurnya sebelum tidur, baik dengan tangan, sapu lidi, kain sarung atau sejenisnya. ... Bagi orang yang bangkit dari tidurnya dan kemudian kembali lagi, berdasar pada Hadist riwayat Tirmidzi, maka hendaknya ia kembali mengibas kasurnya lagi.


Zahwa tersenyum, ia sampai lupa hal itu. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik Akhtar sampai selesai.


Setelah itu Akhtar mendekat kepada Zahwa dan mengangkatnya kembali. Sambil berjalan ke ranjang, Akhtar sesekali mencium pipi Zahwa.


Ia meletakkannya di ranjang seperti semula, kemudian ia ikut duduk di sana.


"Sekarang, muraja'ah juz 1" titahnya


Glek!


Zahwa menelan ludahnya kasar. Menatap netra Akhtar yang juga menatapnya serius.


"Ayo.. mulai" ucap Akhtar kembali


Zahwa masih menatapnya, ia salah tingkah sendiri di perhatikan seperti itu. Ia mengambil bantal guling lalu memeluknya di pangkuannya sambil menggesekkan kedua kuku jempolnya.


"Emm..a-aku.."


"Cepat, Bismillah. Mulai Yank" ucap Akhtar serius menatap Zahwa yang menunduk


" Emm..sa-sayang...a-aku" ucap Zahwa terbata-bata


Akhtar tersenyum manis, tangannya terulur mengelus kepala istrinya. Lalu ia angkat dagu itu dengan jari telu juk dan jari jempolnya. Kini mata mereka kembali bertemu, mencoba untuk menyelam semakin dalam menatap satu sama lain.


"Saya tau kamu bisa, jangan sembunyikan lagi. Kamu bisa melakukannya sendiri diam-diam, sekarang sudah ada saya, kenapa tidak mau?" Ucap Akhtar lembut


Ya, Akhtar sudah tau kalau Zahwa istrinya adalah seorang hafidzah, sebenarnya sejak hari pertama menikah pun Akhtar pernah memergokinya tengah me-muraja'ah hafalannya dengan sangat lancar.


Tetapi saat Akhtar mengajaknya untuk mengaji, Zahwa membaca biasa saja, menahan bibirnya agar tidak membaca dengan cepat dan lancar. Dari gerak gerik dan suara Zahwa, sebenarnya Akhtar sudah tau kalau Zahwa sedang menutupinya. Tapi ia biarkan sampai saat nya nanti tiba. Dan sekarang, inilah saatnya.


"A-aku bukannya tidak mau..tapi.."


"Tidak apa-apa, saya akan mengawasi memperbaiki bacaan yang salah, kita belajar sama-sama" ucap Akhtar lagi membuat Zahwa tersenyum haru


"Sudah siap?"


Zahwa mengangguk yakin.


"Mulailah" titah Akhtar


Melihat Suaminya tidak memegang Mushaf membuat ia yakin, bahwa suaminya juga seorang Hafidz Qur'an. Ma Syaa Allah... Sungguh indah.


'Nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan'


Mereka sama-sama merahasikannya saat ta'aruf karena ingin menjaga hafalannya agar ia tidak ujub dan malah akan merusak hafalannya.


Sekecil apapun amalan yang kau lakuakan, diam dan simpan hanya engkau dan Allah yang tau. Ketika ada yang mengetahuinya dan memujimu, itu adalah ujian untuk mu agar tidak berbangga diri sehingga lupa diri. Dan malah justu menghilangkan nilai pahala ibadahmu tersebut.


" A'uudzubillahiminasysyaithoonirrajiim... Bismillahirrahmaanirrahiim.... AlifLaaaaammmmiiiiiim....dzaalikal kitaabu laa raiba fii hudallil muttaqiin.....dan seterusnya"

__ADS_1


Akhtar menyimak setiap ayat yang Zahwa bacakan. Sesekali ada yang salah, maka dengan lembut Akhtar memperbaikinya. Seperti itu hingga habis 1 juz.


Setelah itu, nereka membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur sambung menyambung secara bergantian.


Empat puluh menit kemudian


"Shodaqallaahul 'adziim" ucap mereka bersamaan.


"Alhamdulillah.. sudah kholas" ucap Zahwa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


" Sayang... Kita melakukan ini setiap hari ya. Muraja'ah 1 juz satu hari lalu di sambung Surah Al Mulk. Agar calon anak kita terbiasa mendengar Kalam Allah" ucap Akhtar lembut mengusap perut Zahwa


"Baiklah Sayang.. mohon bimbingannya" jawab Zahwa tersenyum


Ngantuk sudah mendera, Zahwa sudah tidak tahan lagi. Setelah itu mereka tidur dengan saling berpelukan.


***


Keesokan harinya.


"Bundaa...."


"Auh..." Azzam menggesek telinganya


"Bunda...." Teriakan Zahra kembali terdengar


" Ra.. jangan teriak-teriak masih pagi. Ntar di kira kita lagi perang dunia di sini" ucap Azzam


"Hehehe... Maaf Bang" ucap Zahra cengengesan


"Oh iya Bang, Bunda dimana sih?" Tanya nya oada Azzam


"Baru aja masuk ke kamar, ngurusin Ayah" jawab Azzam santi lalu menyeruput teh nya


"Trus.. Kak Wawa sama Kak Helwa juga dimana?"


"Huh...kok pada sibuk semua sih, Andai Kak Wawa bekum menikah pasti sekarang sudah aku ajakin ke taman komplek, bete tau sendirian mulu" keluhnya mendudukkan diri pada kursi yang ada di hadapan Azzam.


Mendengar keluhan adik keduanya, Azzam terkekeh melihat wajah badmoodnya


"Makanyaa nikah, enak tuh, bisa ibadah bareng-bareng..kemana-mana ada yang temenin, dapat manis-manisnya lagi" ucap Azzam menggoda Adiknya


"Tidak semudah itu Abang, ihh.. dari kemarin nikah mulu ah males. Calonnya aja masih di awang-awang tidak tau entah dimana" ucap nya semakin kesal


"Xixixixi, kan Abang udah bilang. Abang punya calon buat kamu. Tapi kamunya nolak. Ya sudah silahkan tunggu seseorang untuk meminangmu"


"Huffttt...bla..bla..bla.." Zahra menutup telinganya kesal


"Uh.. ada apa ini ribut-ribut" ucap Bunda Fatimah yang baru saja keluar dari kamar bersama Ayah Ali.


Tak lama, disusul oleh Zahwa dan Akhtar yang juga baru turun dari kamar mereka.


" Ini Bun.. Zahra lagi badmood soalnya dia kesel sendiri, disaat semua orang sibuk ngurusin pasangan masing-masing. Dia sendirian tidak ada teman main" jawab Azzam


"Ya sabar Ra. Sementara kamu begini dulu. Hehehe" sahut Zahwa


"Sudah..sudah.. ayo kita makan dulu. Ayah harus berangkat ke kantor. Ada meeting setelah ini" ucap Ayah Ali membuat semua orang patuh dan langsung duduk dan bersiap untuk makan.


Para istri menyiapkan makanan untuk para suami mereka, dan lagi-lagi Zahra yang harus sendirian menonton keuwu-an di hadapannya.


***


Pukul sembilan pagi


Kini Zahwa dan Akhtar sudah berada di rumah sakit Metta Medika seperti ucapan Bunda Fatimah.


Mereka sedang menunggu no antrian, dengan duduk di ruang tunggu yang sudah di siapkan.

__ADS_1


Akhtar menautkan tangan mereka lalu membawa kepala Zahwa di pundaknya.


Karena ia merasa pusing mencium aroma khas rumah sakit, sehingga ia mendekatkan Zahwa agar bisa mencium aroma tubuhnya. Ya karena itulah obatnya.


"Saudari Zahwa Mary Equeena" setelah setengah jam menunggu akhirnya nama Zahwa di panggil oleh suster


"Silahkan masuk ya mba, Dokter Andara sudah menunggu" ucap sang perawat ramah membukakan pintu untuk Zahwa.


"Terimakasih Suster"


"Sama-sama mba"


Mereka masuk setelah mengucap salam dan langsung di sambut oleh Dokter Andara yang memang sudah menunggu mereka.


"Wa'alaikumussalam. Zahwa? Tante sudah menunggu mu, Bunda sudah menghubungi tante kemarin"


"Iya Tante" jawab Zahwa balik membalas pelukan Dokter Andara. Berbeda pada Akhtar, mereka saling menangkupkan tangan.


"Silahkan duduk" Dokter Andara mempersilahkan Zahwa dan Akhtar untuk duduk


" Makasih tante"


"MasyaaAllah..semoga istiqomah ya Wa" ucap Dokter Andara melihat Zahwa memakai niqab


"Aamiin, terimakasih tante"


"Oh iya, selamat untuk kalian karena Allah telah memberi amanah kepada kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua. Dan kata Bunda, usianya belum di ketahui ya?"


"Iya tante, tau nya juga baru semalam. Selama ini aku tidak tau kalau aku sedang hamil"


"Ya sudah, tidak apa-apa. Mari ikut tante"


Dokter Andara mengajak mereka ke sudut ruangan yang sudah tersedia ranjang pasien dan alat-alat lainnya.


"Silahkan, baring di sini"


Zahwa naik dibantu oleh Akhtar lalu membaringkannya dengan hati-hati. Lalu menyuruh Akhtar untuk menyingkap pakaian Zahwa. Kini perutnya terpampang jelas.


Setelah itu perut Zahwa diberi jelly lalu di oleskan untuk menghilangkan lapisan udara di atas kulit perut yang dapat memantulkan kembali gelombang suara dari transduser. Kemudian, alat usg digerak-gerakkan di atas perut Zahwa.


Kini alat itu mulai berfungsi dan citra janin terlihat pada layar monitor.


"Assalamu'alaikum.. halo... Calon baby .. " ucap Dokter Andara ketika menangkap kantong janin yang terlihat di monitor


"Nah.. ini dia. Zahwa.. Ustadz.. ini adalah nak kalian, perhatikan baik-baik" ucap Dokter Andara dengan begitu antusias


"Hah... Assalamu'alaikum anak Ummi... Sayang.. itu anak kita Yank.." ucap Zahwa menunjuk layar monitor sambil mendongak ke atas.


Zahwa menangkap Akhtar yang tengah mengusap sudut matanya yang berair.


Lalu ia tersenyum menatap Zahwa.


"Iya Sayang.." ucap Akhtar tertahan ia sungguh tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dadanya sesak akan kebahagiaan yang melimpah. Ini nyata, ia melihat sendiri calon anaknya. Kini ia sangat sangar yakin dan sadar ia akan menjadi seorang Abba


.


.


***


Emm.. sekedar informasi Author gabungin cerita Zahra di sini saja yah, tidak bikin novel baru🙏🏻 Dan Author sudah hapus label end nya agar lebih enak di lihatnya 😂🙏🏻


Dan setelah ini konflik yang kedua akan segera hadir...


Kalau kalian sadar kemarin Author pernah bilang bakal end di angka 105 atau 110? gitu kan? iya kan? Author juga lupa dah,hehehe. Pokoknya segitulah... nah dan sekarang malah lanjut ga jadi end🤦🙏🏻😂 Atau cukup sampai disini saja? 😂 Kalian lupa atau memang ga inget? malah ada yang bilang sampe 110 aja kan? gimana?😂


Tetap dukung Author dengan meninggakkan jejak setelah membaca yaa... Budayakan like sebelum atau sesudah membaca ✨

__ADS_1


__ADS_2