
Keesokan harinya
Kini Umi dan Zahwa sedang menata sarapan pagi ini di atas meja. Setelah itu Buya datang dan duduk di kursinya.
"Sarapan bersama saja nak" ucap Buya menahan Zahwa yang ingin beranjak pergi
Zahwa menatap Umi, Umi mengangguk sambil tersenyum. "Iya, nak. Kita sarapan bersama ya"
Zahwa mengangguk, setelah itu ia mendudukkan dirinya di kursi sebelah Umi.
Mereka makan dengan tenang tidak ada pembicaraan hanya dentingan sendok yang terdengar.
Setelah selesai makan, Zahwa mengangkat piring kotor ke westafel dan mencucinya. Lalu membawa tutup mangkuk makanan yang tidak habis ke meja makan.
"Nak..duduk dulu" ucap Buya setelah Zahwa selesai menutup seluruh makanan di atas meja.
"Iya Bi"
"Abi tau kamu pasti merasa bosan disini. Kamu juga tidak diperbolehkan oleh suami mu untuk mengajar kan?"
"Iya Bi"
"Untuk sementara waktu... Bagaimana kalau kamu mengunjungi orang tua mu? Mungkin bisa membuat mu lebih baik setelah bertemu dengan ibu mu, dan berkumpul dengan keluarga mu yang lainya" ujat Buya
Zahwa terdiam sejenak. Ia memikirkan perkataan Buya. Dalam hati ia sangat ingin menerima tawaran Buya, tapi di sisi lain... Otak nya sedang berfikir macam-macam..
"Bagaimana nak?" Tanya Umi membuyarkan lamunan Zahwa
"Abi...tidak sedang mengembalikan Mary ke orangtua Mary kan, Bi?" Tanya Zahwa dengan raut muka khawatir.
Umi dan Buya saling tatap, lalu menahan tawa mereka. Tidak habis fikir dengan pikiran menantunya ini.
"Tidak..nak..Abi hanya tidak ingin kamu merasa bosan disini. Kamu tidak boleh keluar dan berkegiatan kan oleh Zi? Dasar anak itu. Abi fikir kamu bisa lebih baik setelah bertemu keluarga mu"
Zahwa menatap Buya lalu beralih pada Umi.
"Tenang saja nak..masalah Zi nanti Abi yang mengurusnya" ucap Umi membuat Zahwa mengangguk.
"Baiklah Bi, Mary mau"
"Alhamdulillah... Nanti jam 11 kita berangkat ya nak"
"Iya Bi.. terimakasih Bi"
"Sama-sama nak"
Setelah sarapan pagi itu, mereka bubar kembali ke kamar masing-masing.
***
Pukul 11 siang..
"Bagaimana nak? Kamu sudah selesai?" Umi datang menghampuri Zahwa ke kamar nya.
"Sudah Umi.." ucap Zahwa mengambil sling bag nya.
"Baiklah, ayo kita berangkat"
Mereka berangkat hanya betiga, Buya tidak meminta bantuan supir untuk mengemudi. Buya memilih mengemudi mobilnya sendiri.
__ADS_1
Selama perjalanan, Zahwa menatap senang pada jalanan luar jendela. Ada rasa bahagia di hatinya sebentar lagi dia akan bertemu keluarga nya. Juga selama dua bulan lebih, baru ini ia keluar sejauh ini. Biasanya perjalanannya hanya keliling pesantren dan pondok pengajian ibu-ibu kampung.
Di balik niqab hitamnya, senyum tak pernah pudar dari wajahnya. Umi ikut tersenyum melihat menantunya lewat spion.
30 menit perjalanan, kini mobil sudah berada di depan rumah keluarga Syeena.
Buya menekan klaksonnya, Mang satpam yang melihat mobil Buya langsung membuka gerbang seraya tersenyum dan sedikit membungkuk.
Ciitt.. mobil berhenti. Mereka keluar dan menuju pintu.
Tok..tok..tok...
"Assalamu'alaikum.." salam Zahwa dengan semangat.
Tok..tok..tok..
"Assalamu'alaikum.."
Zahwa menunggu balasan, namun tak kunjung ada. Sampai tiga kali ketukan dan mengucap salam. Pintu tak kunjung di buka.
Zahwa mendekat pada Umi dengan wajah lesunya.
"Umi..." Adunya.
"Tidak ada orang? Lalu bagaimana?" Zahwa menggeleng
"Kita pulang saja?" Tanya Umi lagi.
"Hem?" Zahwa menatap Umi, lalu mengangguk lemah..
Mereka berbalik dan bersiap-siap untuk pulang.
"Wa'alaikumussalam..warahmatullahi.. wabaraka-tuh" " Wawa?"
Zahwa menoleh "Bundaa..." Ujarnya
Lalu berjalan memeluk Bunda Fatimah setelah mencium tangannya.
"Loh? Maaf, maaf sekali Ustadz...saya tidak mendengar ada yang datang, sejak tadi kami berada di taman belakang..mari masuk.. Umi besan.. Ustadz.." ucap Bunda Fatimah
Setelah mereka masuk, Bunda Fatimah membuka pintu lebar-lebar.
"Apa kabar Bu..?"
"Alhamdulillah..bi khayr Umi besan.."
"Maaf sebelumnya, apa terjadi sesuatu sehingga datang tiba-tiba?" Tanya Umi
" Em..begini. Sebaiknya tunggu Kak Ali datang saja"
"Bunda, Ayah dimana?"
" Ayah sedang di kantor, sebentar lagi pulang" ucap Bunda Fatimah.
Mereka berbincang ringan, dan sambil memakan makanan yang di sajikan di atas meja.
10 menit kemudian, suara deru mobil terdengar dari luar. Tak lama, Ayah Ali datang menampakkan diri di pintu utama.
"Assalamu'alaikum.."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab mereka semua
"Ada besan rupanya" ucap Ayah Ali lalu berjalan berjabat tangan dengan Buya Firman. Lalu mendudukkan diri di kursinya.
"Sudah lama?"
"Tidak, baru beberapa belas menit yang lalu" jawab Buya
" Hem..baiklah... Ada apa? Ada sesuatu?" Tanya Ayah Ali yang heran dengan kedatangan mereka yang dadakan
"Begini, sebenarnya nak Mary akan tinggal sementara disini, mungkin ia akan merasa lebih baik setelah berkumoul dengan keluarganya" ucap Buya Firman
Ayah Ali dan Bunda Fatimah saling tatap.
"Maksud nya apa? Kamu tidak bermaksud untuk memulangkan putriku padaku kan?" Ucap Ayah Ali yang sepemikiran dengan Zahwa saat pertama kali mendengat ucapan Buya. Membuat Buya tertawa.
Ayah dan Anak sama saja, pikirnya
"Ahahaha...tentu tidak. Menantu sebaik ini harus di kembalikan, tidak. Suaminya belum memberi kabar apapun, aku hanya takut menantuku ini bosan dan tidak betah selalu berada di pesantren. Sedang ia juga tidak di beri izin mengajar dan pergi kemana pun oleh suaminya. Jadi.. mungkin ia bisa refreshing di sini. " Jelas Buya
"Ohh begitu... Baiklah. Semoga Akhtar segera memberi kabar" ucap Ayah Ali menatap sendu pada putri pertamanya itu.
Setelah pembicaraan inti, mereka masuk pada pembicaraan lain yang menyebabkan tercipta dua kelompok.
Satu kelompok bapak, dan satu kelompok ibu. Tentu saja, karena pembahasan mereka berbeda dan tidak di minati oleh kelompok satu sama lainnya.
Sekitar 2 jam Umi dan Buya berkunjung kesana. Kini sudah tiba saatnya mereka kembali. Karena setelah ini Buya masih ada acara. Sebelumnya mereka sudah sholat dzuhur berjamaah tadi.
"Nak..Umi pulang dulu ya.. jangan lama-lama ya disininya. Nanti Umi rindu, dan kesepian lagi" ucap Umi memeluk Zahwa
"Maafkan Mary ya Umi..Kalau Mary ikut kembali ke pesantren juga tidak apa-apa kok"
" Tidak nak.. kamu disini saja dulu ya.. Umi tidak apa-apa.. setelah ini..juga Umi akan menemani Buya dakwah ke kota sebelah" ucap Umi mengelus pipi Zahwa
"Baiklah Umi.. fii Amanillah..hati-hati di jalan.." Zahwa mencium tangan Umi Alya lalu beralih kepada Buya.
"Iya nak.. Umi pergi ya..." Zahwa mengangguk
"Kak.. kami pamit, terimakasih.. titip menantu ku"
"Hey..jangan lupa kalau dia itu putri ku- "
" Tetapi bukan lagi milikmu sepenuhnya " sambung Buya membuat semua orang menggeleng-geleng
"Kami pergi ya Bu Besan"
"Iya Umi..hati-hati di jalan. Semoga perjalannya lancar"
"Aamiin.."
" Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Mereka menatap kepergian mobil Umi dan Buya hingga tak terlihat. Setelah itu barulah mereka masuk ke dalam.
****
*Up satu bab lagi, je**jaknya ya jangan lompat ya... ✨*
__ADS_1