Salah Khitbah

Salah Khitbah
131. SK 2 : MAIN


__ADS_3

"Alhamdulillah.. semua sudah selesai. In syaa Allah mudah-mudahan kedepannya tidak ada terjadi hal seperti ini lagi" ucap Ayah Ali


"Aamiin ya Rabbal 'Alamiin"


Kini mereka tengah berada di ruang tv rumah keluarga Syeena. Karena Zahwa tiba-tiba ingin memeluk boneka kucing nya yang berukuran jumbo yang ada di kamarnya.


Sebelum mereka tidur kemarin malam, itulah permintaan Zahwa pada Akhtar.


" Yank" bisik Zahwa membuat Akhtar menoleh dan mendekatkan dirinya pada Zahwa


" Apa hem?"


" Dedenya pengen main"


Mata Akhtar sedikit melotot dan tiba-tiba saja pipinya memanas


"Yank, bisa tidak ngomongnya nanti saja di kamar. kalau ada yang dengar gimana?" Bisik Akhtar memerah


"Loh, kenapa? Gapapa juga"


Lagi-lagi Akhtar melotot kini ia melipat bibir ke dalam dengan matanya melirik panik, khawatir ada yang mendengar percakapannya dengan Zahwa


"Yank, yang benar saja, his. Jangan sekarang, nanti yaa"


"Kapan Yank.. ihhh ga sabar aku tuh"


Akhtar mengelus dadanya mendengar rengekan zahwa.


"Heh, kalian berdua kenapa sih bisik-bisik?" Tegur Azzam memperhatikan kedua orang tersebut.


"Tidak ada Bang-"


"Ih, ini Bang. Dede mau main sama Abinya. Tapi suami ku ga mau.. hiks" adu Zahwa memotong ucapan Akhtar


Semua orang terkejut akan ucapan Zahwa. Akhtar sudah menunduk menahan malu.


"Hempt, bwahahahahah. Tar, pegi sono bawa tu bini ente ke atas. Main aja gapapa, kita ga bakal ganggu kok. Ahahahaha" ledek Azzam sambil memegangi perutnya


"Abi ih" "Bang..." Ucap Akhtar dan Helwa bersamaan


"Engga mau.. mau nya di sini" ucap Zahwa membuat semua orang melotot


"Dek, yang bener aja dong. Seriusan mau main di sini? Kalau mau main kita yang bubar deh. Silahkan pake tempatnya sampe puas"


"Ihh Abang tidak ada yang boleh bubar, tetap di sini. Aku mau- emmppt"


"Queen, kamu apa-apaan sih" bisik Akhtar malu


"Hah!" Zahwa melepas tangan Akhtar yang membekap mulutnya


"Kalian kenapa sih, aku kan mau main game sama kalian semua. Dedenya bosen katanya, kenapa malah mau pergi" dengus Zahwa dengan bibir cemberut


Seketika semua orang memijat tengkuk mereka yang tak gatal. Mempermalukan otak mereka sendiri yang salah mengartikan 'Main' yang Zahwa maksud.

__ADS_1


"Ohh.. mau main toh dek. Ya bilang dong kalau mau ngajak nge-game " ucap Azzam menahan tawanya


" Kalian kenapa sih.. ihh.. emang tadi kiranya apa?" Tanya Zahwa


"T-tidak ada" jawab mereka kompak membuat Zahwa cengo


"Apa Bang?" Desak Zahwa


Azzam mendekat dan membisikkan pada Zahwa


"Kirain tadi kamu ngajak suami mu sunnah rasul dek" ucap Azzam di iringi tertawa geli di akhir.


"Iihh... Apaan siiihhh. Aaaaa Bundaaaaa" rajuk Zahwa dengan pipi memerah. Ia memeluk Akhtar dan menyembunyikan wajah di dada bidang itu.


"Ahahahha, Bunda lagi di kamar mandi dek. Hahaa"


"Eh? Kenapa ini? Wawa kenapa?" Tanya Bunda Fatimah yang baru saja datang


"Ini Bund, tadi Wawa-"


"Aww... Sakit dek" jerit Azzam saat pinggangnya di cubit Zahwa


***


"Assalamu'alaikum.." ucap Zahra yang baru saja datang


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


"Iya Bunda" ucap nya lalu menyalimi semua orang satu per satu.


"Gimana hari ini dik?" Tanya Helwa


"Ya.. begitulah kak. Ngajar seperti biasa" ucap Zahra lesu lalu meneguk minuman di depannya


"Dek, serius Abang nanya. Setelah ini kamu mau gimana sih?" Tanya Azzam


"Ga tau Bang" singkatnya


"Kok ga tau, emang ga ada sesuatu yang ingin kamu wujud-in gitu?"


"Entah lah Bang, Zahra masih merasa nyaman gini-gini aja" dengan santai ia memakan kue lapis legit yang di sodorkan Helwa


" Atau kamu mau menerima lamaran teman Ayah, Ra?" Tanya Ayah Ali


Membuat Zahra on seketika " Ayah... Enggak! No. Zahra ga mau dekat sama siapa pun"


"Loh kok gitu?"


"Terus gimana dong?"


Zahra terdiam sesaat


"Emm.. Zahra.. mau mondok boleh ga?"

__ADS_1


"APA?!" Pekik Azzam dan Zahwa


"Ihh Abang.. Kak Wawa.. biasa aja kenapa sih"


"Seriusan dek?" Tanya Azzam tak percaya


"Iya Bang..emang muka Zahra terlihat becanda ya?"


"Engga sih" jawab nya polos


" Udah lurusin niat nak? Udah yakin?" Tanya Bunda Fatimah


"Iya Bunda, Zahra menyesal dulu ga mau mondok. Sekarang baru merasakan. Gimana? Ayah, Bunda izinin tidak?"


Semua saling memandang, Ayah Ali tampak menghela nafas nya.


" Terserah Zahra saja" senyum Zahra melebar seketika


"Mau mondok dimana nak?" Tanya Bunda Fatimah


Sepertinya sekarang ia harus mempersiapkan diri untuk kesepian, karena biasanya Zahra yang selalu menemaninya di rumah ini. Kini ia akan berdua saja dengan Ayah Ali, jika Zahra sudah masuk pondok.


"Emm dimana ya? Di ponpes bibi aja deh. Tapi Zahra mau jadi santri biasa aja. Ga mau di kenal orang sebagai ponakan Ning mereka"


Semua mengangguk


"Baiklah, nanti akan Ayah bicarakan pada Paman mu" ucap Ayah Ali


Zahra mengangguk senang, senyum lebar itu terukir di wajah manisnya.


"Maaf Kak, aku belum merasa pantas untuk menjadi seorang istri. Jika kau memang menginginkan ku. Biarkan aku mencari diri ku yang sebenanarnya dulu. Aku ingin memantaskan diri, merubah diriku menjdi pribadi yang lebih baik dari diriku yang sebelumnya. Jika kau memang serius terhadapku, maka kau akan siap menunggu ku" adu batin Zahra di balik senyum nya


Ya, begitulah seorang Zahra, wanita yang sangat plin-plan dan tidak memiliki rasa percaya pada dirinya sendiri. Yang menolak untuk di ajarkan pada hal kebenaran, dan memilih di tempat lain.


Ketika semua orang sibuk dengan yang namanya hijrah diri, ia justru malah asyik menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang.


Namun, pengakuan dan lamaran Ustadz Fakhri sepertinya menyadarkannya akan pentingnya ilmu bagi seorang wanita, perbaikan diri dan perubahan segala pemikiran kekanak-kanakan yang lebih sering ia gunakan.


Kehadiran seorang Fakhri sekaan menjadi tamparan keras bagi nya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Sejak pertama bertemu dengan Fakhri, ia sudah mulai menaruh rasa pada Ustadz Fakhri. Entah dari segi mana ia bisa menyimpulkan itu, tapi itu adalah saat dimana ia membawa semuanya masuk di campur perasaan.


Hingga kini ia hanya memikirkan tentang orang yang akan menjadi pendamping hidupnya, tanpa melihat dan memperbaiki dirinya.


Tapi, sekarang ia sudah paham semua, sudah mengerti semua. Ia meresa minder dan sangat rendah jika si sandingkan dengan Ustadz Fakhri selaku guru agama yang berani melamarnya secara langsung. Dari segi mana saja ia kalah telak, melihat dari penampilannya saja, ia sudah merasa tidak percaya diri untuk penjadi pendampingnya.


Belum lagi nanti ilmu nya yang Ma Syaa Allah di banding otaknya yang Astaghfirullah. Membayangkannya saja membuat bulu kuduknya merinding.


Ia sudah bertekad untuk merubah dirinya menjadi lebih baik, secara perlahan dan usaha gigih yang akan dilakukannya. Ia merasa di sentil, dengan eksprektasi tinggi menikah dengan seorang guru agama, dengan kepribadiannya yang seperti itu. Ia merasa tidak pantas, dan belum siap.


Ia merasa malu, jika mengingat betapa egoisnya dia dulu kepada Kakaknya sendiri. Yang bersikeras dengan orang yang salah mengkhitbtah, yang juga seseorang yang di kaguminya. Ia merasa malu, malu, malu sekali. Tidak bisa di bayangkam seperti apa ia jadi nya jika menikah dengan perilakunya yang dulu.


Sama sekali tidak pantas!

__ADS_1


__ADS_2