Salah Khitbah

Salah Khitbah
38. SK : MELEPAS RINDU


__ADS_3

...H A P P Y R E A D I N G...


...****************...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Saat keluar ke taman belakang, Zahwa terperangah melihat taman belakang yang sudah di hias sedemikian rupa. Warna gold dan putih mendominasi dekorasi tersebut.


Matanya berdecak kagum melihat melihat dekorasi yang terpampang indah dan jelas di depannya.


"Zahwa...sini.." panggil Bunda Fatimah


"Eh..iya Bunda" Zahwa tersadar lalu ia duduk di antara Bunda Fatimah dan Bibi Fatya


Melihat brownies coklat kesukaannya, langsung saja tangannya meraihnya.


"Bismillahirrahmanirrahim, hap" satu potongan sedang brownies masuk ke dalam mulutnya.


" Bagaimana mondok nya Zah?" Tanya Bibi Fatya


"Alhamdulillah..baik Bi. Semua lancar" jawab Zahwa. Lalu meraih teh nya dan meminumnya.


"Lalu kapan nyusul Bang Azzam"


"Byurr, hek! "


"Uhuk...uhuk..." Setengah minuman itu hampir keluar dan setengahnya lagi tertahan di tenggorokannya hingga ia terbatuk-batuk.


"Hmm...pelan-pelan sayang..." Bunda Fatimah menepuk-nepuk kecil punggung Zahwa


"Zahwa baik-baik saja?" Tanya Bibi Fatya dan mendapat anggukan dari Zahwa.


Pikirannya kini melayang pada seseorang yang sudah menitipkan perasaannya padanya 1 tahun lalu.


Bagaimana kabarnya?


Apakah dia masih mengingatnya?


Apakah ia akan benar-benar mendatangi kedua orang tuanya dan memintanya secara langsung, dua tahun lagi?


Atau dia sudah menemukan akhwat lain di sana?


Entahlah pikirannya berkelana, berusaha meyakinkan hati nya saat ini. Apakah hati juga memang sudah terpaku oleh nama seorang Much. Fatih Aliyyu Humam


"Sayang..." Bunda Fatimah menepuk pundak Zahwa untuk menyadarkannya.


"I-iya Bund"


"Kau baik-baik saja Sayang..?"


"Emmh...iya Bund. Zahwa baik-baik saja.


"Zahwa..sudah jangan pikirkan ucapan Bibi tadi ya... Bibi hanya bergurau saja. Lagi pula Azzam saja baru akan menikah, tidak mungkin Zahwa akan kebelet nikah karena melihat Bang Azzam kan"


"Ahahahha" Bunda Fatimah dan Bibi Fatya tertawa bersama


Zahwa tersenyum manis


"Tidak apa-apa Bi, akan ada saat nya Zahwa merasakan seperti yang Abang rasakan saat ini"

__ADS_1


"Ohh..sayang..." Bibi Fatya memeluk Zahwa. Disusul oleh Bunda Fatimah. Mereka bertiga berpelukan bersama.


Dari atas tepatnya di balkon yang menghadap ke taman belakang. Dua pria paruh baya yang sedang duduk berbincang di temani secangkir kopi tersenyum bahagia melihat interaksi ketiga wanita yang sangat berharga dalam hidup mereka itu.


"Oh iya, Rizki sama Ridwan dimana, Bi?" Tanya Zahwa pada Bibi Fatya setelah melepas pelukan mereka


Rizki dan Ridwan adalah anak-anak dari Bibi Fatya. Rizki masih berumur 10 tahun dan Ridwan berumur 5 tahun. Kedua bocah laki-laki itu sangat menggemaskan dengan sifat yang berbanding terbalik. Sejak awal masuk ke dalam rumah, pasal nya dia tak melihat kedua pangeran tampan itu.


Biasanya jika mereka berkunjung ke rumah, pasti sudah bermain di halaman atau di ruangan khusus bermain. Tapi dia tidak melihat kedua batang hidung itu ada di sini.


"Mereka di Pesantren nak, besok baru ke sini" jawab Bibi Fatya


"Pantas saja mereka tidak kelihatan dari tadi, Zahwa sudah merindukan mereka"


"Besok mereka akan datang"


"Bunda..Bibi..Zahwa mau ke dalam dulu ya, Zahwa mau mandi dulu" pamit Zahwa


"Iya nak, silahkan"


Setelah itu ia masuk ke dalam rumah dan naik memasuki kamar nya. Ternyata sudah ada Zahra yang tidur di ranjang nya.


"Oh, astaghfirullah.." ia baru ingat kalau tadi Zahra mengatakan bahwa ia menunggunya di kamarnya. Tetapi ia lupa karena melepas rindu bersama Bunda juga Bibi Fatya


Sekarang lihat lah, Zahra dengan posisi berantakan sudah menghancurkan ranjang Zahwa. Sprei kusut, bantal berjatuhan, selimut terhempas, entah mimpi apa yang mendatanginya kala ia tidur. Ck..ck..ck...


Zahwa memilih membersihkan badannya, ia masuk ke kamar mandi, setelah itu ia ke ruang ganti untuk mengambil gamis rumahannya. Ia mengambil khimar instan dengan warna senada.


Setelah selesai ia mengambil bedak bayi dan mengusap nya ke wajahnya. Kini ia kembali ranjang, Zahra sudah sangat lama tidur, sedangkan senja sudah menyapa. Akhirnya ia putuskan untuk membangun kannya.


"Ra...Zahra..bangun..bentar lagi Maghrib. Ra.."


"Eeuunggh..." Zahra menggeliat seperti bayi dan mengucek-ucek matanya. Zahwa terkekeh kecil melihat adiknya itu.


"Pagi...Kak"


"Oh..maaf..selamat sore menjelang malam Kak Wawa.."ucap Zahra meralat ucapannya


"Bangun gih, mandi sana bau tau. Bentar lagi kita sholat maghrib"


"Ih..ngusir ya....mau ga mandi seumur hidup juga aku tetap wangi Kak.." ucap Zahra dengan PeDe nya.


"Iya..iya..wangi...wangi ikan asin! Ahahahh"


"Ihh..." Zahra cemberut


"Sudah sana pergi mandi"


"Hmm.."


Zahra beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar Zahwa. Tak lama langkahnya terhenti


"Eit...tunggu! Ini rapihin lagi" Zahra yang mendengar itu langsung kabur


"Tadi Kakak suruh mandi 'kan, okee. Da.. Kak Wawa... Zahra mau mandi dulu" Zahra langsung berlari ke kamar nya.


"Sabar..." Zahwa mengelus dadanya dan membereskan tempat tidurnya. Setelah itu ia turun dan menghampiri Bunda di dapur.


"Loh..sudah masak Bunda?"


"Iya nak, sudah siap tinggal di sajikan saja"


"Sini biar Wawa bantu Bund" ia mengambil alih pekerjaan Bunda Fatimah. Menata menu makan malam nanti. Setelah itu mereka semua berkumpul di Mushalla untuk melaksanakan sholat maghrib berjama'ah yang di imami oleh Ayah Ali.


Setelah itu semua makan malam bersama di iringi canda tawa untuk mencairkan suasana dikarenakam saat ini ada satu aura yang beku.


***


BERBICARA KETIKA SEDANG MAKAN

__ADS_1


Berbicara ketika makan ternyata hal yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Sehingga ini bukan adab yang tercela sebagaimana disangka oleh sebagian orang yang terpengaruh budaya orang barat. Bahkan berbicara ketika makan adalah adab yang mulia karena menimbulkan kebahagiaan bagi orang-orang yang makan.


๐Ÿ’“Dari Abu Hurairahย radhiallahuโ€™anhuย ia berkata:


ุฃูุชููŠูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุจูู„ูŽุญู’ู…ู ุŒ ููŽุฑูููุนูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุฐู‘ูุฑูŽุงุนู ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูุนู’ุฌูุจูู‡ู ุŒ ููŽู†ูŽู‡ูŽุณูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู†ูŽู‡ู’ุณูŽุฉู‹ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฃูŽู†ูŽุง ุณูŽูŠู‘ูุฏู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู โ€ฆ


โ€œSuatu hari Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam dihidangkan makanan berupa daging, kemudian disuguhkan daging paha untuk beliau. Dan beliau sangat menyukainya. Maka beliau pun menyantapnya. Kemudian beliau bersabda: โ€˜Aku adalah pemimpin manusia di hari kiamatโ€ฆ'โ€ย (HR. Bukhari no.3340, Muslim no.194).


๐Ÿ’“Dari Jabir bin Abdillahย radhiallahuโ€™anhuย ia berkata:


ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฃูุฏูู…ูŽ ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง: ู…ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฎูŽู„ู‘ูŒ . ููŽุฏูŽุนูŽุง ุจูู‡ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ู ุจูู‡ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: ( ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูุฏูู…ู ุงู„ู’ุฎูŽู„ู‘ู ุŒ ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูุฏูู…ู ุงู„ู’ุฎูŽู„ู‘ู )


โ€œNabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam meminta โ€˜udm (lauk; makanan pendamping makanan pokok) kepada istrinya. Maka para istrinya menjawab: kita tidak punya apa-apa selain cuka. Maka Nabi pun meminta dibawakan cuka tersebut dan makan dengan cuka itu. Kemudian beliau bersabda: udm yang paling nikmat adalah cuka.. udm yang paling nikmat adalah cuka.. โ€œย (HR. Muslim no. 2052).


Dalam hadits-hadits di atas dan juga hadits-hadits lainnya, Nabiย Shallallahuโ€™alaihiย Wasallam saling berbicara ketika makan. Menunjukkan hal ini diperbolehkan. Bahkan dianjurkan jika dapat mencairkan suasana dan menyenangkan orang-orang yang makan bersama.


Maka tidak tepat adab makan ala barat (dan orang-orang yang meniru mereka) yang melarang berbicara ketika makan.


Walaupun demikian, hendaknya tetap menjaga adab ketika berbicara ketika makan, tidak sampai melebihi batas. Syaikh Al Albaniย rahimahullahย mengatakan:


ุงู„ูƒู„ุงู… ุนู„ู‰ ุงู„ุทุนุงู… ูƒุงู„ูƒู„ุงู… ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ุงู„ุทุนุงู… ุ› ุญุณู†ู‡ ุญุณู† ุŒ ูˆู‚ุจูŠุญู‡ ู‚ุจูŠุญ


โ€œBerbicara ketika makan, hukumnya seperti berbicara di luar makan. Jika pembicaraannya baik, maka baik. Jika pembicaraannya buruk, maka burukโ€ (Silsilah Huda wan Nuur, 1/15).


***


.


.


.


Setelah selesai makan malam, rumah kembali di dekor sederhana. Melihat itu Zahwa kembali bersedih bahkan calon kakak ipar nya saja ia tak mengetahui siapa dan bagaimana orang nya.


Zahwa memilih duduk di sebuah ayunan rotan gantung di halaman rumah. Ia menatap bintang di langit, tidak tau apa yang ia rasakan saat ini. Dirinya masih saja di penuhi tanda tanya, ia menunggu ada yang menjelaskan padanya tetapi nihil, tidak ada yang membuka suara. Semua terkesan menghindar untuk yang satu itu.


Merasa tiba-tiba ada hawa panas di sampingnya, dengan cepat ia melirik. Mengetauhi siapa yang datang ia berdiri, beranjak dari duduknya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


PANTENGIN TERUS YAA, TERIMAKASIH SUDAH MENUNGGU๐Ÿ’“..... KITA DOUBLE UP


...LIKE...


...KOMEN...


...KEMBANG...


...KOPI...


...BAGI-BAGI DUNGS.......


...JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YAA...


...JANGAN LOMPAT YA LIKE NYA ๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2