Salah Khitbah

Salah Khitbah
116. SK 2 : ALEEYA STORY (2)


__ADS_3

"hiks..hiks... Maaf.. kakak sudah berprasangka buruk padamu.. hiks.."


Tangan Zahwa terulur menghapus air mata Aleeya yang keluar tanpa di sadari nya selama iaberceriya. Terbukti saat kulit Zahwa menyentuh wajahnya ia kaget.


"Eh..eheheh Kak... Kenapa menangis.. tidak apa-apa. Akuu mengerti kok. Hehe.. sudah ah jangan nangis lagi. Nanti Kak Akhtar datang dan dia akan memarahi ku, ayo kak hapus air mata mu sebelum dia datang. Jika tidak.. nanti ak- "


"Ada apa ini"


Glek! Aleeya mematung mendengar suara di belakangnya memotong ucapannya. Ia berbalik secara perlahan dengan mata terpejam, lalu membukanya hati-hati.


"Eh.. Kakak.. sejak kapan?" Tanyanya cengar-cengir


"Leya... Mengapa istri ku menangis, apa yang kau lakukan pada nya" tanya Akhtar geram lalu duduk di samping Zahwa dan memeluknya posesif


"Ihh.. Kak ngertiin dikit napa. Aku tidak apa-apain kok.. Kakaknya aja yang sensitiv, tanyain aja"


"Sayang.. kenapa menangis , hem?" Tanya Akhtar lembut mengusap pipi Zahwa


" Tidak ada, aku hanya terharu karena kisah Leya" jawab Zahwa tersenyum.


Mendengar jawaban Zahwa, membuat Akhtar menatap Aleeya dengan senyum sedih.


"It's OK " ujar Aleeya tersenyum sambil menyatukan jari jempol dan telunjuknya.


"Sini" panggil Akhtar lembut sambil merentangkan tangannya.


"Aa.." dengan cepat Aleeya beranjak pindah lalu masuk dalam kapitan Kakanya.


Akhtar memeluk kedua wanita yang sangat ia sayangi. Lalu mengecup pucuk kepalanya bergantian.


"Uhh.. Kak.. aku jadi melow. Hiks.. " Aleeya mengusap air matanya lagi.


Cukup lama mereka berada dalam posisi tersebut.


"Oh iya, Kak, aku belum menyapa keponakan ku" Aleeya bangkit lalu kembali duduk di samping Zahwa .


Aleeya menunduk dan mendekatkan wajahnya pada perut Zahwa.


"Assalamu'alaikum.. calon keponakan Onty... Perkenalkan ini Onty Liya, oke, hafalkan itu di dalam sana ya.."


"Udah berapa lama di perut Umma? Ha? Cehat-cehat di cana ya cayang.. biar bisa main sama Onty ya nak ya... ummuuachh" celoteh Aleeya membuat Zahwa tersenyum dengan sendirinya.


"Kak.. udah berapa bulan?"


"8 minggu kata dokter tadi"


"Wuh.. pantesan yah. Kak di jaga baik-baik ya kandungannya.. itu semua di peroleh dari gaya hidup sehat si ibu nya. Memang qadarullah tidak ada yang tau, tapi kita tetap harus berhati-hati bukan?"

__ADS_1


Zahwa mengangguk membenarkan ucapan Aleeya


" Jangan sampai Kakak mengalami apa yang aku alami. Kehilangan untuk selamanya itu tidak ada obatnya" ucap Aleeya dengan nada berubah sendu lalu tersenyum kecut


Dahi Zahwa menyerngit, lalu menatap Akhtar dan Aleeya bergantian namun Akhtar mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Sayang.. Leya.. sebenarnya sudah menikah, tapi Qadarullah Ia dan suaminya mengalami kecelakaan saat baru saja pulang dari Majlis. Menurut laporan dari kepolisian, itu.. kecelakaan yang di rencanakan. Dan.. karena kecelakaan itu keadaan mereka cukup parah, suaminya meregang nyawa dan ia luka-luka. Saat itu Leya tengah mengandung. Dan.. ia mengalami keguguran akibat benturan yang keras di perutnya. Sehingga.. ia kehilangan suami dan anak nya bersamaan"


"Hiks.." setelah Akhtar bercerita, Aleeya langsung berlari keluar dari kamar. Saat Zahwa akan menyusulnya, tangannya di tahan oleh Akhtar.


"Biarkan saja, Leya tidak akan menangis meraung-meraung atau sampai melakukan hal yang tidak wajar seperti dulu. Ia hanya membutuhkan pelukan Umi di saat seperti ini. Tenanglah, ia pasti sedang bersama Umi saat ini"


Zahwa menatap pintu dengan perasaan iba. Lalu balik menatap Akhtar.


"Apakah maksudnya.. Aleeya pernah depresi?" Tanya Zahwa


Di balas anggukan oleh Akhtar.


.


FLASHBACK ON


Aleeya memutuskan untuk menikah muda karena tidak ingin terjerumus zina oleh perasaanya sendiri kepada salah seorang Gus Pesantren sebelah.


Awal mulanya adalah, ketika ia di ajak oleh Umi untuk menghadiri sebuah kajian di Masjid kota.


Dulunya, Aleeya adalah gadis yang pendiam, penurut dan lebih suka menyendiri dengan membaca buku. Apalagi setelah ia mengetahui asal usulnya yang sebenarnya, membuat ia sadar diri, bahwa ia hanya anak angkat, ya.. walaupun mahrom dengan Kakaknya, Akhtar. Namun tetap saja, ia merasa asing.


Ia mengetahui semuanya ketika ia berumur 10 tahun, Aleeya adalah gadis yang pintar, dan mudah menangkap. Dengan ke cerdasannya membuat ia harus memecahkan sebuah teka-teki kehidupannya. Umi dan Buya sebanrnya tidak ingin mengungkit masa lalu Nia alias Aleeya. Tapi, karena Aleeya merengek menagis meminta jawaban, akhirnya ia di beri tahu segalanya.


Berkat perjuangan Umi dan Akhtar yang membujuknya dengan segala upaya dan meyakinlannya bahwa mereka menyayanginya tanpa ada bahasan masalalu. Akhirnya ia kembali mulai terbuka dan tidak canggung lagi bermanja dan bersanda dengan Umi.


Aleeya mengikuti kajian itu dengan khidmat, cara penyampaian dari Ustadz tersebut sangat santai tapi sampai tujuannya. Membuat ia tanpa sadar mulai mengaguminya lewat suara nya mengaji saat muqaddimah, kepandaiannya bertausyiah di depan umum, dan kesolehannya menurut penilaian manusia.


Ia senyum-senyum mengingat suara yang bertausyiah tersebut, sampai ia di panggil oleh Umi namun tidak di jawab.


Greb!


Umi memeluk pinggangnya, membuat ia terjingkat.


"Hayo.. cerita sama Umi. Kenapa dari tadi senyum-senyum terus" goda Umi padanya membuat ia tersipu malu.


"Ti-tidak ada Umi, Leya hanya mengingat tausyiah tadi, sangat bagus dan menarik, Leya suka" jawabnya


"Khem.. suka sama Tausyiahnya atau pen-tausyiah nya??hm?hm? Hayoo ngakuu"


"Pentausyiahnya Umi.. eh.... Umi..bu-bukan seperti itu, tausyiahnya.. ia tausyihanya.. hehehe.. jawab Aleeya keceplosan memerah malu

__ADS_1


"Lalu..? Tuh kan, firasat Umi benar. Anak gadis Umi sudah bisa kagum sama pria ya sekarang"


"Ih.. Umi kan Leya udah dewasa Mi"


" Ohh.. begitu ya?? Berarti kalau begitu kalau Leya di nikahkan sudah siap dong ya"


"Eh? Tidak langsung menikah juga Mi..Leya masih mau deket-deket Umi" jawab Leya memeluk Umi, sayang.


"Ahahaha... Leya..Leya.."


3 bulan setelah itu. Keluarga Buya di undang dalam sebuah acara pernikahan anak Kiyai di luar kota.


Sedampainya di sana, Umi dan Buya berjalan di depan terlebih dahulu. Tinggal di belakang ada Akhtar dan Aleeya.


Akhtar menunjukkan tangannya pada Aleeya yang berada di sampingnya.


"Kenapa Kak" tanya Aleeya mendongak


" Pegangan Leya, nanti kamu hilang. Hitung-hitung, kamu ke kondangan ada gandengan"


"Hilang bagaimana sih Kak, kan di sini cuma ada keluarga inti saja, tidak ada orang asing kok. Bagaimana alurnya Leya bisa hilang"


"Nurut saja, apa susahnya sih Leya" ucap Akhtar dingin. Ia merasa kesal akan ketidakpekaan Leya, ia ingin melindungi adiknya dari mata para santri yang membantu-bantu berlalu lalang menatapnya.


"Emm baiklah. Maaf sudah membuat Kakak kesal" Leya menurut lalu memegang tangan Akhtar.


***


Duduk diam selama tiga puluh menit membuat Leya tidak betah di tengah keramaian. Ia menyegarkan matanya dengan banyak minum, namun dampaknya membuat ia ingin pipis.


Ia meminta izin pada Umi untuk ke kamar mandi.


Ia berjalan ke sana kemari mencari kamar mandi. Hingga ia menemukannya. Namun ia kembali harus di buat bingung. Di depannya ada dua jalan, dan tidak ada tanda arah ikhwan ataupun akhwat.


Karena merasa perempuan selalu benar, ia mengikuti kata hatinya untuk berbelok ke kanan.


Dan benar di sana ada kamar mandi, tanggannya akan membuka pintu dengan memutar pegangan pintu.


"Kenapa anti ada di sini?"


Suara itu berhasil menghentikan gerakannya.


Jantungnya berdetak kencang saat mendengar suara yang sangat tidak asing di telinganya.


Ia meraba dadanya dan merasakan detakan yang sangat keras. Keringat dingin menghampirinya. Tangan dan kakinya bergetar, ia sangat gugup seperti orang tertangkap basah.


***

__ADS_1


Maaf bila ada kesalahan , jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya ✨


__ADS_2