
***
"Hikss..hiks.."
"Ssttt...sudah sayang..jangan begini yah. Kamu pikir cuma kamu yang berat di tinggalkan? Hanya sebentar, ini juga qodarullah musibah pada Kiyai Kholid, sayang.."
Zahwa mengangguk
"Bib...hiks..hiks.a-aku.."
"Saya juga tidak ingin ini terjadi. Saya juga tidak tega meninggalkan kamu di sini. Bagaimana saya tenang jika separuh jiwa saya ada di sini. Percaya sama saya ya, hanya sebentar, bantu do'anya sayang.."jelas Akhtar
"Baiklah Bib, terserah saja. Aku tidak mungkin dan tidak bisa melarang, aku juga akan bersama Umi di sini, tenang saja. Tadi aku hanya sedih, kaget mendengar beritanya. Maaf ya sayang. Habibie sayang..pergilah rawat Kiyai Kholid sampai beliau sehat kembali. Setelah itu kita akan berkumpul lagi" ucap Zahwa mengelus rahang Akhtar
" Tentu sayang..tunggu saya kembali" Akhtar memeluk Zahwa yang juga membalasnya. Sesekali mengecupi bibir ranum itu.
***
"Queen..." Suara berat di belakang nya membuat Zahwa terperanjat.
"Ehh..Bib.."
"Kenapa masih di sini? Umi nyariin kamu di depan. Abi akan berangkat sekarang"
"Oh astaghfirullah..maaf sayang. Ayo kita ke luar sekarang"
"Tunggu!"
Zahwa menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Kamu kenapa?"
"Aku?"
"Iya sayang..kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa Bib"
" Bohong!" Desis Akhtar. Ia mendekat dan mengusap sudut mata indah Zahwa yang berair.
"Ini apa?" Ucap Akhtar menunjukkan ibu harinya yang basah
"Air"
"Air mata! Kenapa menangis"
"Ah sudah lah Bib. Tidak ada, tadi mengiris bawang jadi masih terasa perih nya saat mencuci pisau bekas memotongnya tadi"
"Kamu tidak bisa bohong sayang..sudah lah. Ayo kita ke depan. Dan setelah itu nanti jam 3 sore saya akan jemput"
" Mau kemana?"
"Ada"
__ADS_1
***
Setelah kepergian Akhtar dan Buya Firman. Umi dan Zahwa memutuskan untuk ke taman belakang yang penuh dengan tanaman hias Umi.
"Nak..sini"
Panggil Umi
"Iya Umi"
" Kamu tidak mengajar lagi 'kan?"
"Iya Umi, Kak Akhtar tidak mengizinkan"
"Bagus nak, turuti saja apa kata suami mu. Lagian pengajar disini juga cukup" ucap Umi tersenyum.
"Iya Umi" sahut Zahwa sambil terus memperhatikan tanaman Umi
"Ohh iya nak, nanti Umi ada pengajian seperti biasa, tapi kali ini Umi di undang ke rumah Bu RT desa ini. Bagaimana? Kamu ingin ikut? Di sini nanti juga tidak ada kegiatan" tanya Umi
" Emm..maaf Umi, tadi Kak Akhtar bilang akan jemput pukul 3 sore. Jadi Mary tidak bisa..maaf ya Umi..Umi jadi sendirian.."
"Ohh begitu kah? Kenapa lama sekali? Bukannya 2 jam saja sudah bisa sampai sini? Kenapa lama sekali jam 3 sore?"
"Tidak tau Umi, Kak Akhtar juga cuma bilang begitu. Mungkin masih ada acara Umi"
"Ohh bisa jadi. Tidak apa-apa sayang ...kamu pergilah menghabiskan waktu berdua dengan suami mu. Lagi Umi tidak sendiri, Umi pergi dengan beberapa Ustadzah kok" ucap Umi tersenyum
" Alhamdulillah..iya Umi"
***
Zahwa menatap penampilannya di cermin. Beberapa kali ia berputar melihat penampilannya.
"Ini cocok 'kan? "
"Kayanya ini sudah pas! "
"Habibie tidak akan malu dengan jalan dengan ku seperti ini?"
Begitulah gumaman-gumaman Zahwa melihat dirinya yang sudah selesai.
"Assalamu'alaikum..Kita pergi sekarang sayang.." ucap Akhtar baru saja masuk ke dalam kamar
"Wa'alaikumussa-lam, e-eh..i-iya Bib" ucap Zahwa gugup saat melihat Akhtar diam terpaku mentap ke arah nya.
"Ma syaa Allah.. Zaujati hareem hally" batin Akhtar dalam hti memuji kecantikan alamai sang istri
Membuat ia salah tingkah, pipinya memerah di tatap seperti itu
"B-bib..ka-katanya mau pergi..." ucap Zahwa menyadarkan lamunan Akhtar
"Ah? Iya sayang"
Zahwa berjalan terlebih dahulu. Saat akan membuka handle pintu
__ADS_1
"Tunggu!"
Gerakan Zahwa terhenti. Ia berbalik lalu mendekat pada Akhtar.
"Kenapa Bib? Butuh sesuatu?"
"Kamu tunggu di sini" ucap Akhtar setelah itu ia pergi mengambil sesuatu yang Zahwa sendiri juga tidak bisa menebak.
Tak lama Akhtar datang, ia melihat istrinya menunggu di kursi toilet.
Tak..tak..tak..
Bunyi langkah kakinya mendekat membut Zahwa mengangkat kepalanya.
Akhtar menatap seluruh lekuk wajah Zahwa. Ia ingin melukiskan wajah itu dalam pikirannya.
Deg..deg..deg...
Detak jantung keduanya berdetak, saat wajah Akhtar mendekat, hingga hembusan nafas itu menerpa seluruh wajahnya dan kedua tangan Akhtar sudah berada di kedua sisinya bersandar pada meja di belakangnya
Entah apa yang terjadi kini bibir keduanya saling menempel menikmati kelembutan masing-masing. Cukup lama di posisi itu, Akhtar ******* sebentar benda kenyal itu sebelum akhirnya melepaskannya.
"Kamu sangat cantik, Queen...bagaimana saya sanggup berbagi kecantikan ini dengan orang lain. Tidak akan pernah! Saya berharap kamu bisa menjalankan sunnah ini sayang.." bisik Akhtar sebelum diakhir menutupi wajah sang istri dengan sehelai kain, lalu mengikat nya ke belakang.
Zahwa terkejut sesaat setelah itu ia tersenyum. Ia memutar tubuhnya membelakangi sang suami dan menghadap ke cermin.
Ia merapikan beberapa bagian agar lebih rapi. Setelah itu mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
Akhtar memeluknya dari belakang setelah mencium keningnya.
"Queen...? Bersediakah kamu memakai kain niqab ini ? bukan karena saya tapi dari hatimu sendiri agar kamu lebih terjaga saat saya tidak ada. Saya akan lebih tenang juga lebih menyukai kamu seperti ini" bisik Akhtar
Zahwa mengangguk. Memegang kedua tangan suaminya yang melingkar di dadanya. Lalu berucap
"Tentu Bib. Bismillah aku melakukan ini karena keinginanku. Aku bersedia menjalankan sunnah ini dari hati ku"
"Terimakasih sayang... semoga kamu istiqomah dengan pilihan mu. Jika kamu tidak ingin jangan paksakan. Saya hanya mengutarakan keinginan saya saja, tidak da maksud memaksa kamu secara halus" ucap Akhtar menjelaskan takut istrinya salah paham menhira bahwa ia sengaja berkata seperti itu agar menuruti keinginannya.
"Kamu tau sayang? Sebenarnya aku ingin memakai niqab ini sejak awal menikah kalau bisa saat kita menikah."
"Kenapa tidak bilang?"
"Sebenarnya, karena saat itu kita ta'aruf kurang komunikasi, terlebih aku yang tidak pernah dekat dengan lelaki membuat ku enggan untuk mengutarakan niat ku"
(Mereka komunikasi lewat chat ya guys..ada grup yang berisi mereka berdua juga Azzam dan Helwa. Agar tidak fitnah chat berdua. Tetapi jika ada pertanyaan atau yang ingin di sampaikan secara pribadi maka mereka chat juga dari pribadi bukan dari grup ta'aruf tersebut. Walaupun begitu setiap Zahwa chat berkomunikasi dengan Akhtar dia selalu di dampingi oleh Bunda Fatimah. Jadi tidak ada hal-hal yang lain yang menyimpang atau rahasia berdua saja ya.. )
"Andai kamu mengatakannya sejak dulu, tentu saya akan menyetujuinya"
"Tidak apa-apa lah sekarang saja. Terimaksih sudah mengizinkan aku memakai niqab Bib. Minta ikhlas minta Ridhonya" ucap Zahwa mencium punggung dan telapak tangan Akhtar berkali-kali.
***
Minta jejak nya dunggg💙
NB: ga ada poligami-poligami yaa...Author tidak sanggup bep juga tidak berkenan ada istri kedua dll. Sudah pernah Author jelasin yak di komentar dulu, sekarang di ingetin lagi deh. Sudah banyak citra pada 'Alim dan pendakwah yang sedikit berkursmg respek terhadap mereka karena di katai MAAF tukang kawin lah, kerjanya poligami lah, itu lah , itu lah. Author kurang setuju, karena tidak semua begitu, kita tidak tau masalah apa yang mereka alami, apa jalannya sehingga poligami? Kan kita tidak tau? Banyak yang cap seperti itu. Padahal itu urusan pribadinya, kan mana tau juga ada yang terpaksa. Kita tidak tau tergantung orang nya. Jodoh dan takdir sudah mutlak ada, jadi kita jangan men-cap begitu aja.
__ADS_1
Dan Author tidak ingin Ayang Akhtar di katain begiu jugaa huwaa... Maaf yaa ini hanya opini mana tau kalau kalian ada pernah dengar hal yang sama juga, bagaimana pendapat kalian? Jujur Author tydakk sanggup. Jejak jangan lupa jejak ya ✨