
***
Kini Zahwa dan Fatih duduk di bangku taman dengan saling membelakangi. Sedangkan Azzam duduk di kursi sendiri dengan jarak pada mereka.
"Emm..Gus.." Zahwa memulai percakapannya.
"Hmmm" singkat Fatih
Dada keduanya berdebar-debar, ada rasa tak terjabar kan saat mereka akan memulai pembicaraan.
"Anta sudah tau kemana arah pembicaraan ini 'kan?" Ucap Zahwa pelan
"Na'am"
"Se-sebenarnya... A-a-a..."
"Katakanlah jangan ragu. Jujur saja walau pahit, itu lebih baik" ujar Fatih. Ia pun sama, ia harus mengalah karena memang mungkin ini sudah jalannya.
"Tadi malam..ana...sudah melakukan istikharah kesekian kalinya"
"Ana juga begitu"
"Ta-tapi...Gus..."
.
.
FLASHBACK ON
Setelah membaca pesan dari Zahra. Hatinya mulai risau, ia berpikir apakah Zahra memang belum ikhlas dengan semua yang dia ucapkan. Dan kini Zahra memilih untuk menginap di rumah temannya.
Hatinya tak tenang. Rasa bersalah, gelisah, tak enak-an, ragu, bercampur aduk.
Setelah bergelut dengan pikirannya selama tiga puluh menit akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada seseorang.
^^^📤Assalamu'alaikum ^^^
Sudah dua puluh menit ia menunggu balasan namun tak kunjung datang. Setiap menit ia mengecek hp nya untuk melihat notifikasi yang masuk. Tapi tidak sesuai harapan.
Sepuluh menit setelahnya. Layar hp nya menyala.
Suara getaran menandakan ada notifikasi yang masuk.
Dengan segera ia meraih handphone nya. Dan benar kali ini adalah notifikasi yang sejak tadi di tunggu-tunggu.
📩Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa?
tertera pada layar handphone
Zahwa segera membalasnya
__ADS_1
^^^📤Gus...afwan. Ana ingin menyampaikan sesuatu mngkin ini akan sangat menganggu tapi kalau tidak ana sampaikan hati tak tenang rasanya. Apakah boleh?^^^
3 menit kemudian pesan di balas dari sebrang
📩Ada apa? Tafadhdholy
Membaca itu Zahwa ragu-ragu. Setelah meyakinkan hatinya ia kembali mengetik pesan
^^^📤Ana masih ragu-ragu Gus... Ana tau setelah penantian panjang akhirnya hari itu tiba. Tapi entah mengapa semakin mendekati hari itu, ana rasanya gelisah dan tidak percaya diri. Seperti ada yang mengganjal dan membuat ada menjadi ragu kembali. Ana tidak bisa memutuskan sendiri dan ana memutuskan untuk istikharah lagi.^^^
Tak di duga pesan langsung di baca
Sedang di sebrang sana sedikit melotot kan matanya melihat pesan yang masuk.
"Mengapa sama?" Batinnya lirih
Keduanya mulai gelisah. Rasa takut kini menyeruak ke dalam sanubari.
"Lebih baik jujur saja. Dia sudah menyampaikan kerisauannya, maka ini saatnya untuk terbuka" batinnya mantap. Setelah itu ia mengetik pesan lagi.
📩Kalau boleh jujur ana pun begitu. Padahal ini adalah saat yang ana nanti-nantikan sejak dulu. Mungkin kita memang harus istikharah lagi. Dan itulah jawaban yang sesungguhnya
Melihat pesan yang masuk badan Zahwa seakan lemas setelah membacanya.
^^^📤Ya khayr. Ana akan istikharah^^^
^^^ ^^^
📩 Na'am. Semoga apapun jawabannya kita bisa sama-sama menerimanya
Zahwa memutuskan untuk istikharah lalu tidur setelahnya. Begitu juga dengan Fatih di sebrang sana.
Mereka memutuskan untuk sama-sama memantapkan hati lagi guna menghilangkan keraguan yang tiba-tiba datang.
FLASHBACK OFF
.
.
"Apa jawaban dari istikharah anti?" Ucap Fatih menatap pada kumbang yang hinggap pada setangkai bunga.
Zahwa memberi isyarat pada Azzam agar mendekat. Azzam menurut. Ia berdiri di tengah-tengah mereka.
"Bukan anta yang ana lihat di mimpi ana" lirih Zahwa.
NYEEESSSS......SEERRRR!!
Perih, sakiit... Ya memang. Pahit? Apalagi. Tapi sudahlah lebih baik katakan secara gamblang dari pada harus memendam nya sendiri yang akhirnya membuat sakit hati berkepanjangan.
Hening! Azzam juga terkejut, namun ia berusaha tenang. Ia tau setelah ini adiknya itu pasti akan terguncang.
__ADS_1
"Sama! Bukan anti yang hadir untuk di takqir kan menjadi pasangan hidup ana" ucap Fatih setelah beberapa saat diam
BYUURRRR....
Bagai di sambar petir, keduanya mencoba kuat menerima apa yang di hadapkan pada mereka.
"Abang harap kalian bisa menerima apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Mungkin kalian tidak bisa bersama dalam ikatan suci pernikahan. Tapi kalian masih terikat hubungan persaudaraan. Ini adalah qodarullah yang sudah Allah tetapkan 50.000 tahun sebelum kalian ada di dunia ini. Mungkin ini hanyalah ujian bagi kalian, seberapa besar ketabahan dan ketawakkal-an kalian terhadap ketetapan Allah. Ini hanya lah bumbu dalam cerita hidup kalian. Semoga kalian bisa Ikhlas, yakinlah rencana Allah lebih indah dari rencana kita sebagai manusia. Dan itu semua sudah Allah siapkan untuk kalian di masa depan" ucap Azzam panjang lebar mencoba memberikan pengertian pada keduanya. Ia tau ini berat dan mereka harus menerima.
"Ya. Ana mengerti terimakasih karena telah sudi menunggu ana. Terimakasih atas penantian anti. Ana harap kita bisa sama-sama menerima. Dan ana harap kita akan seperti biasanya dan tidak ada yang berubah setelah ini"
Mendengar penuturan Fatih, Zahwa hanya mengangguk.
"Terimakasih atas Nasehatnya Bang. Ana pamit dulu. Assalamu'alaikum" Fatih berangkulan dengan Azzam sebentar setelah itu menangkup kan tangannya pada Zahwa yang juga membalasnya setelah itu ia pergi.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Setelah Fatih pergi tak terlihat lagi. Zahwa beralih pada Azzam.
"A-abang..." Lirihnya
Azzam langsung membawa Zahwa pada pelukannya. Ia menguatkan adiknya yang mulai terisak.
"Sudah...sudah..kamu sendiri yang melihat jawabannya 'kan? Ikhlas ya... Ada yang menunggu mu. Adik Abang sayang..."
Zahwa mengangguk.
.
.
.
Penantian selama 2 tahun 6 bulan lebih berbuah pahit. Tidak semua yang di rencanakan itu akan berakhir indah. Tidak semua yang di harapkan itu akan terwujud sempurna.
Ada saatnya semua harapan dan impian itu hancur guna menguji ketabahan dan keikhlasan kita dalam menerima apa yang di suguhkan kepada kita. Untuk melihat apakah kita berhak mendapatkan kebahagiaan, impian dan taqdir yang sesungguhnya.
Teruslah memperbaiki diri agar kita mendapat pasangan yang baik. Yang lalu ambil sebagai pelajaran guna sebagai bekal untuk menerjang masa depan.
Tidak ada yang tau apa yang akan kita hadapi esok hari. Husnu'dzan pada sang pemberi hidup agar kita lebih di kasihi dan di berikan yang terbaik.
Teruntuk Fatih dan Zahwa...mungkin dari tragedi salah khitbah yang kalian alami sudah menunjukkan kemana arah taqdir kalian akan di bawa. Kejadian demi kejadian, kesalahpahaman,hingga perdebatan, yang kalian lalui itu sudah menjadi tanda bahwa kalian memang bukan di taqdir 'kan untuk bersama.
Dan semua yang kalian alami itu hanyalah sebagai bumbu dalam kisah kalian.
Dari awal kalian bertemu hingga akhir dari penantian kalian itu belum apa apa. Yakinlah yang sesungguhnya sedang menanti kalian.
.
.
.
__ADS_1
.
JEJAKNYA JANGAN TINGGAL YAA :)