
Setelah sholat Maghrib. Mereka keluar untuk makan malam. Baru saja di pertengahan tangga. Mereka di sambut oleh godaan Zahra.
" Aduh..aduh..pengantin baru ga tau waktu, ngapain aja sih di kamar. Perasaan dari tadi siang ga nongol-nongol, bikin iri aja"
"Husst... Anak kecil ga boleh tau" ledek Zahwa semakin mendekatkan dirinya memeluk lengan Akhtar
"Aa... Bunda.. lihat mereka.." ucap Zahra menutup matanya
"Sudah..sudah..ayo duduk biar kita makan" ucap Ayah Ali sedari tadi tersenyum melihat anak-anak dan menantunya.
"Wah..udah pada ngumpul aja" tiba-tiba Azzam datang entah dari mana.
"Loh abang?"
" Kenapa? Kaget? Sama Abang juga, haha"
" Tadi Ayah telpon, kalau kamu datang ke rumah, dan suamimu ini sedang tidak ada, jadi kami datang. Eh.. ternyata dia yang lebih dulu sampai" ucap Azzam sembari menggeser kursi untuk istri dan putrinya
"Emm"
"Alhamdulillah.. tidak di rencanakan, kita berkumpul sekarang di sini" ucap Ayah Ali dengan perasaan bahagia
Kini makanan sudah terhidang di atas meja. Dan semua juga sudah mulai memakan makanan masing-masing.
Tapi tidak dengan Zahwa, ia hanya menatap segala jenis makanan. Tidak ada yang menggugah seleranya. Rasanya ia sangat kenyang hanya melihat makanan itu.
"Dek..kamu tidak makan?" Tanya Helwa
Kini tatapan semua orang beralih pada Zahwa
"Kenapa tidak makan sayang.." tanya Akhtar
"Em? Enggak, kenyang" ucap Zahwa membuat Helwa menyerngit
"Tapi perutnya harus tetap di isi sayang..."
"Iya Bib, Bunda.. jus nya Wawa masih ada kan?"
"Masih sayang.. ada di kulkas"
"Yasudah, Wawa ngambil itu aja"
Zahwa pergi ke dapur mengambil jus miliknya lalu meminumnya.
***
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Sayang..." Bisik Zahwa memainkan kerah kaos Akhtar
Ya, saat ini Zahwa sedang berada di pangkuan Akhtar.
"Hemm.." balas Akhtar memainkan ujung rambut Zahwa
"Kenapa bisa pulang sekarang? Bukannya sayang tidak bisa di hubungi ya? Apakah semuanya sudah aman di sana?" Tanya Zahwa mendongak
"Jadi... Semalam"
FLASHBACK ON
Akhtar sedang duduk di kursi kerjanya, ia baru saja selesai mengerjakan beberapa berkas data Ma'had yang harus di perbarui . Ia memijit pelipisnya, kepalanya terasa pusing.
Tiba-tiba ponselnya menyala, ia meliriknya. Matanya menangkap jaringan full di bagian kiri atas ponselnya.
"Alhamdulillah.. ada sinyal" gumam Akhtar berbinar.
Ia segera mengambil ponselnya dan men-dial nomor Buya.
"Assalamu'alaikum Bi"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullaah...akhirnya kamu menelpon juga Zi"
"Iya Abi.. tiba-tiba ada sinyal, Zi langsung menelpon Abi"
"Mengapa kamu tidak menelpon istrimu saja? Andai kamu tau bagaimana keadaannya saat kamu tak kunjung memberi kabar, ponsel mu tidak bisa di hubungi. Sampai-sampai sakit bahkan pingsan juga karena merindukanmu" jelas Buya mengatakan hal yang terjadi pada Zahwa
"Ya salam... Istriku sampai sakit? Ya Allah... Abi.. Zi harus bagaiamana? Setelah Kiyai pergi, tidak ada beliau meninggalkan wasiat apapun tentang Ma'had ini. Zi tidak mengerti apa yang harus Zi lakukan. Bagaimana mungkin Zi pergi meninggalkan Ma'had ini begitu saja, tanpa da yang membantu memegangnya." Ucap Akhtar Frustasi.
Buta mendengarkan keluh kesah Akhtar yang juga sedang bingung.
"Lalu bagaimana? Apa kah berkas-berkas penting Ma'had itu sudah aman Zi?"
"Sedikit lagi akan siap Abi"
"Kalau begitu kapan kau akan kembali? Ingat Zi kamu bukan sendiri lagi, ada istri mu yang menunggumu, kamu sudah memiliki tanggung jawab yang lebih penting disini. Jangan lupakan itu "
"Sekarang apa yang harus Zi lakukan Abi, dan.. bagaimana istri Zi di sana" Akhtar meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
" Kamu selesaikan dulu masalah yang ada di sana, jangan sampai Ma'had itu di gusur dan tanah wakaf itu jatuh ke tangan yang salah. Abi hanya ingin memberi saran. Dan untuk istrimu, Abi tidak ingin menantu Abi merasa bosan karena kamu kurung di rumah. Kamu tidak memperbolehkannya melakukn apapun, ia pasti merasa bosan. Jadi Abi berfikir, bagaimana jika menantu Abi berkunjung ke rumah nya? Mungkin dia bisa lebih ceria jika berkumpul bersama orang terdekatnya dari pada harus diam di rumah tanpa melakukan apapun" ucap Buya panjang lebar
Akhtar berfikir sejenak
"Baijlah Bi, Zi setuju. Zi akan menyelesaikn masalah ini dulu, jika memungkin kan Zi akan pulang seminggu atau dua minggu lagi karena Zi harus memantau ini juga. Dan untuk usul Abi.. Zi setuju. Bawa saja Istri Zi ke rumahnya, agar ia merasa lebih baik" ujar Akhtar
"Baiklah, besok Abi akan mengantarnya."
Setelh berbicara sekian belas menit, akhirnya telpon terputus.
Akhtar mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Kepalanya semakin berdenyut. Nafasnya memburu. Keadaan nya yang sangat gelisah ini membuat seseorang langsung masuk setelah bergumam di hatinya.
"Afwan, Ustadz... Saya melihat Ustadz sedang sakit kepala?"
"Eh, Ustadz Maulana. Iya, ada apa Stadz"
" Ustadz, saya rasa tugas Ustadz sudah selesai di sini, mungkin ini sudah saat nya Istadz kembali ke kota untuk bertemu dengan keluarga Ustadz yang pasti sekarang sedang menunggu"
"Saya juga ingin seperti itu Ustadz, tetapi bagaiaman saya akan meninggalakan Ma'had ini begitu saja"?"
Akhtar terdiam sejenak " iya benar juga, Ustadz Maulna kan tangan kanan Kiyai, pasti beliau sudah tau banyak tentang Ma'had ini. Tentulah akan lebih mudah untuk meneruskan Ma'had ini. Kenapa tidak kepikirian dari kemarin?" Batin Akhtar
"Benarkah Ustadz? Saya akan sangat senang jika da orang yang mu mengemban amanah terhadap Ma'had ini"
"Siap Ustadz, saya bersedia. Dan InsyaaAllah, semampu saya, saya akan berusaha untuk membuat Ma'had ini menjadi lebih baik"
"Alhamdulillah...syukron Ustadz..Syukron...Jazakallahu Khayr" ucap Akhtar sanvat merasa bersyukur
"Aamiin..waiyyaka Ustadz, anta bisa pulang besok pagi"
"Na'am. Alhamdulillah." Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah Akhtar.
Dengan semangat ia menyusun barang-barangnya. Dan menyimpan seluruh data penting pada sebuah Flashdisk. Setelah pekerjaannya selesai. Dengan semangat ia mengemas barang-barang nya untuk ia pulang besok.
Ustadz Maulana yang melihat itu tersenyum juga ikut merasakan kebahagiannya.
"Beliau sangat mencintai Istrinya, begitu pun sebaliknya. Sampai-sampai mereka dua sakit berbarengan sangkin kuatnya ikatan cinta mereka " batin Ustadz Maulana.
Ternyata saat Akhtar menelpon ia menghiduokan speaker nya sehingga Ustadz Maulana yang memang ingin menemuinya mendengar jelas uacpan Buya. Membuat ia tak tega, dan berinisiatif membantunya.
FLASHBACK OFF
"Hem..begiu ya.."
"Iya "
"Bib..." Bisik Zahwa sambil terus memutar-mutar jari telunjuk nya di dada Akhtar, membuat Akhtar menahan nafasnya berat.
"Sayang..apa yang kau lakukan" ucap Akhtar dengan suara berat
" Tidak ada" singkat Zahwa
__ADS_1
" Ayolah sayang.. katakan saja.." desak Akhtar
"Sayang.. sudah dua bulan lebih, bahkan akan sampai tiga bulan. Tidakkah kau rindu pada ku?" Tanya Zahwa mengelus rahang kokoh itu
""Eeennggrhhh" lenguh Akhtar tertahan
"Sayang..." Desis Akhtar
" Sayang... Aku ingin kau gauli" ucap Zahwa malu-malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Akhtar.
Dalam hati ia merutuki bibirnya yang bisa-bisanya berkata seperti itu.
" MasyaaAllah.. ini yang saya tunggu dari tadi" dengan cepat Akhtar mengangkat Zahwa ke ranjang. Dan memulai ibadah yang macet selama 3 bulan yang lalu.
Malam hari ini, mereka tutup dengan nafas terengah akhir dari kegiatan intim mereka.
****
Nabi Muhammad SAW, berpesan kepada putrinya Siti Fatimah RA “Wahai Fatimah, tiada seorang perempuan yang menyiapkan diri untuk suaminya dengan senang hati kecuali seorang (malaikat) menyeru dari langit: ‘mulailah beraksi’ niscaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang kemudian”
🌈Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka:
Alloh akan mengharamkan dirinya dari api neraka;
memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh;
dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan;
diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga.
🌈Dan siapa saja seorang istri yang masuk bersama suaminya dalam satu slimut, maka Malaikat dari bawah 'Arsy memanggilnya, "Mulailah duluan olehmu perbuatan itu (merangsang suami):
Maka Allah akan mengampuni untukmu dari dosamu yang telah lalu dan yang akan datang;
Dan Allah akan mencatat untuknya pahala seorang yang memerdekan seratus budak;
Dan mencatat untuknya dari setiap sehelai rambut dengan satu kebaikan.
🌈Dan siapa saja seorang istri yang mencium suaminya dengan suka rela maka:
Dia bagaikan menghatamkan Al-Qur'an (dua belas) kali;
Dan dengannya Allah akan mencatat dari setiap ayat dalam Al-Qur’an lima puluh kebaikan; 3. Dan dari setiap ciuman dibangunkan sebuah kota di Surga untuknya.
🌈Dan siapa saja seorang istri yang mencium kepala suaminya, menyisir rambut dan jenggotnya, maka:
Allah akan mencatat untuknya pahala kebaikan dengan bilangan setiap sehelai rambut; 2. Dan ditanamkan untuknya dari setiap sehelai rambut dengan pohon kurma di Surga.
Wallahu a'lam.
(Kitab Uqudul Lujain Syaikh Nawawi AlBantani) .
***
__ADS_1
Jejaknya jangan tinggal ya... jangan lompat juga..
klo like nya ga stabil Author numpuk draf lagi🤭. Udah sengaja loh ini up nya di bedain waktunya, biar kalian ga lupa jejakkk....😬