
Silahkan baca bab sebelumnya agar tidak bingung dan lupa alurnya
.
"Aaaa...."
Tubuhnya terasa melayang dalam sekejap. Matanya tak mampu menyaksikan apa yang ada di depan matanya . Terlalu menyedihkan!
Kucing yang ia khawatirkan kan di tabrak, kini naas terjadi di depan matanya.
Tadi saat ia sudah berada di tengah tengah jalan, ia kembali meminggir karena teringat akan pesan sang suami.
saat ia berbalik, kucing tersebut sudah dalam keadaan berdarah-darah. Orang- orang yang berada di taman tersebut segera tanggap dan mengangkat kucing itu ke pinggir. Tak lama seorang wanita muda dan anak kecil datang dengan air mata. Ternyata kucing itu milik mereka.
Akhtar yang juga penasaran mengapa ada keramaian, segera mendekat. Matanya tertuju pada seorang wanita yang masih shock dan hanya mematung di tempatnya. Tak menunggu lama lagi, Zahwa terperanjat tangannya di tarik menjauhi kerumunan. Tersadar saat namanya di panggil, Zahwa menatap Akhtar dalam-dalam.
" Kita pulang " titah Akhtar dan langsung di angguki wanita cantik itu .
Sesampainya di rumah, Zahwa hanya diam saja. Tidak banyak bicara atau bertanya seperti biasanya. Melakukan aktivitas seperti biasa Zahwa memasak untuk makan malam, sekaligus menyiapkan bekal untuk Akhtar.
Suaminya itu sedang ada urusan mendadak yang membuat nya harus lembur malam ini dan meninggalkannya di rumah seorang diri. Jujur saja ada ketidakrelaan dalam hati kecilnya untuk melepas suaminya pergi, buka karena ia keberatan di tinggal sendiri tapi terang saja perasaannya tidak enak.
Apapun itu, ia selalu berusahan mengingat ucapan Akhtar yang menyuruhnya untuk tetap berhuznudzan dalam keadaan apapun.
Tidak ingin membuat suaminya khwatir Zahwa berusaha menunjukan senyum terbaiknya di depan Akhtar. Ia tidak ingin karena kegelisahannya suaminya utu jadi berat langkag meninggalkan rumah, dan itu tidak baik !
"Sayang.. jaga dirimu baik-baik, sepertinya saya akan tidur di kantor saja. Tidak usah menunggu ya.. kamu istirahat saja" ujar Akhtar sambil membersihkan pinggir bibirnya dengan tissue.
"Baiklah... Sayang juga begitu, kalau sekiranya tidak sanggup hentikan saja, tidak baik untuk kesehatan Habibie nanti"
"Siap istriku.."
Cup
__ADS_1
Kecupan hagat mendarat di keningnya. Merka berjalan beriringan hingga pintu depan. Akhtar dengan setia memeluk pinggang istrinya.
Zahwa membenamkan wajahnya di dada Akhtar, meraup sebanyak-banyak nya aroma sang suami yang akan membuatnya rindu malam ini. Menikmati dekapan hangatnya yang tidak kan ia dapat kan saat tidur nanti. Merasakan belaiannya dan menikmatinya yang mungkin saja tengah malam tidak ia dapatkan ketika tidurnya tidak nyaman.
Setetes air mata membasahi pipinya, kegelisahan itu semakin terasa, tidak ikhlas melepas suaminya pergi. Naun tanggung jawabnya sangat besar saat ini, nyawa ribuan orang berada di tangannya. Entah harus bagaimana Zahwa memendam kesedihannya. Dengan cepat ia menghapus iar mata itu sebelum ia tergugu dan membuat suaminya sadar kalau ia sedang menangis.
Zahwa mengangkat kepalanya dan tersenyum manis kepada Akhtar dan di balas tak kalah manis pula olehnya. Akhtar menciumi seluruh wajah Zahwa lalu kembali memeluknya erat.
Mata mereka saling memandang, mendalami rasa yang ada. Melihat cinta mereka yang nyata di setiap detik kontak mata itu. Perlahan Akhtar mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak antara wajahnya dan wajah sang istri. Hingga akhirnya hidung mereka bersentuhan, kedua pasang mata itu tak melepas pandangannya sedikitpun. Sampai mata Zahwa tertutup merasakan hangatnya ci u man sang suami berikan. Ia membuka jalan untuk suaminya semakin memperdalam ci u man nya. Keduanya menikmati momen tersebut sampai puas untuk menyetok rindu beberapa jam kedepan.
Merasa ada sengatan hangat di seluruh tubuh, Akhtar melepas pagutannya. Jika masih di teruskan dia takut tak bisa menahan diri dan akhirnya tak jadi pergi.
Ibu jarinya mengelus bibir ranum itu, lalu mengecupnya sekali. Sebelum bibir nya mengucapkan kata pamit.
Mata Zahwa terus menatap mobil sang suami yang semakin menjauh dari tempat nya berdiri. Dalam hatinya ia terus berdoa agar Akhtar selamat sampai tujuan dan kembali ke rumah bersamanya.
Setelah mobil Akhtar sudah tak nampak lagi, Zahwa mengunci pintunya dan mengecek seluruh rumah. Setelah memastikan semuanya aman, ia kembali ke kamar.
Satu jam berlalu, Zahwa tetap merasakan perasaannya tidak enak. Ia memutuskan mengambil handphone nya ingin menghubungi Bunda Fatimah. Belum sempat ia membuka hpnya Bunda Fatimah terlebih dahulu menelfonnya. Bibir nya tersenyum tipis. Ikatan batin mereka sangat kuat. Ibunya merasakan kegelisahannya.
Ia mengatakan seluruh keluh kesahnya, semua perasaanya ia tumpahkan pada Bunda Fatimah. Ia yang paham akan apa yang di rasakan sang anak mencoba terus memberikan hal hal positif yang membuat ia sedikit lebih tenang, mereka terus mengobrol hingga larut malam.
Bunda Fatimah berjanji akan menemaninya sampai tertidur. Ketika ia sudah terlelap barulah Bunda Fatimah mematikan telfonnya.
Di Indonesia, Bunda Fatimah merasakan kelegaan hati setelah mendengar keluh kesah sang putri. Karena ia juga merasakan gelisah yang entah kenapa langsung teringat akan Zahwa. Itulah sebabnya Bunda Fatimah langsung menghubungi Zahwa untuk menanyakan keadaannya.
Tiga jam kemudian, seperti biasa di tengah malam seperti ini Zahwa akan merasakan pegal di pinggangnya. Perutnya akan terasa tak nyaman hingga mengganggu tidurnya.
Jika Akhtar akan menemaninya begadang dan akan memberikan sentuhannya pada Zahwa, tapi kali ini tidak. Ia hanya sendiri tanpa siapapun di sampingnya.
Zahwa menggerakkan badannya ke sana kemari, mencari posisinya yang nyaman. Namun tidak berhasil setelah beberapa kali mencoba.
Tubuhnya berkeringat padahal hari sangat dingin, Zahwa menyerah. Ia beranjak dari tempat tidur dan duduk di sofa dekat jendela.
__ADS_1
Kini pikirannya tak lepas dari sang suami. Bagaiamana keadaannya sekarang. Apakah masalahnya sudah selesai? Rasanya sangat lama sekali menunggu esok hari.
Dengan melipat kedua tangan di bawah dagunya, Zahwa berhasil menemukan posisi ternyamannya.
Tak berselang lama, Zahwa tersentak kaget hingga dadanya membusung kedepan. Ia seolah sedang terhempaskan dan dadanya tiba-tiba sesak dan perutnya terasa nyeri.
"Awww... Aarrgghhh"
"Ahhh"
"Aduh.. nak ada apa?? Umma kesakitan.. kamu kenapa nak.. tenang ya..."
"Aarrgghh" kram di perutnya kembali menekan
Driingg..driinggg.. dringg...
Ponsel nya berbunyi, secercah harapan di hubungi suami menerbitkan senyum Zahwa.
Namun senyum nya perlahan luntur melihat nomor tidak di kenal menghubunginya di dini hari seperti ini. Ia tidak berani mengangkatnya, jadi ia abaikan dan kembali duduk seperti posisi tadi.
Zahwa memejamkan matanya, memaksa tubuhnya untuk beristirahat.
Pukul tiga dini hari, Zahwa kembali di bangunkan oleh suara dering telponnya. Melihat nomor yang sama kembali menghubungi Zahwa memberanikan diri mengangkat telfon tersebut.
"A-assalamu'alaikum" ucap Zahwa pelan
"Wa'alaikumussalam.. "
"Ini si-siapa?"
"Saya...."
"APAA!?? INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJI'UN..." "Ha,habiib... Hiks... Habiib... Bib.. ta Allah.. sayang.. hikss.. hiks.. sayang.. hiks.."
__ADS_1