
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, para readers SALAH KHITBAH. Setelah cerita ini tamat akan ana revisi lagi yak, karena masih Untuk itu tetap dukung Author dengan like, komen,rate 5 nya yah. Bagi kembang atau kopi juga ya...tenang...ana ga minta vote kok cuma itu dong. Ana sadar cerita ana tak sebagus yang lain, jadi pergunakan saja vote itu untuk karya yang memang bagus dan keren bagi kalian. Okee🙈
SELAMAT MEMBACA
***
"Khemm...Ya Allah...sabar. Orang sabar di kasih jodoh. Humaira....aunty minta minum dong... Di sini panas" ucap Zahwa mengibas-ngibaskan tangannya. Kalau ia sedang sendiri saat ini, ia mungkin sudah guling-guling baper melihat itu.
Ia berjalan memasuki dalam rumah dan mencari keponakannya itu. Ya, sejak kejadian itu dan Azzam memutuskan untuk menikahi Helwa. Dengan segala cara dan kemampuannya Azzam dapat membuat Helwa nyaman dan bisa menerima dirinya. 5 bulan pernikahan, mereka di kasih kepercayaan oleh Allah, Helwa positif hamil. Dan setelah satu bulan anniversary pernikahan mereka yang pertama Helwa melahirkan seorang putri cantik yang cantik seperti umi nya dia sendiri yang di beri nama Avro' Humaira.
Bagaimana tidak kebahagiaan Azzam bertambah ketika mengetahui bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Ohh...Humaira ku...dimana kamu nak...Aunty kepanasan disini...apa Bang Azzam tak bisa membelikan AC di rumah ini" ucap Zahwa lagi-lagi menyindir Azzam dan Helwa.
Pasutri itu terkekeh geli melihat Zahwa.
"Huaa....oekk..." Tak lama terdengar tangisan dari sebuah kamar.
"Ah..dia menangis" gumam Zahwa
"Kak..dimana Humaira?" Tanya nya
"Pada siapa kamu bertanya Dek?" Ucap Azzam terkekeh. Pasalnya Zahwa memanggil 'Kakak'' pada keduanya.
"Pada....ahh..dua-duanya" ucap Zahwa tak sabaran
"Ihihihi"
"Ada di kamar tamu dek" ucap Helwa. Karena tadi Azzam sedang pergi ke bandara menjemput Zahwa dan Helwa sedang memasak di belakang. Takut Humaira terbangun ia memindahkannya ke kamar tamu agar lebih dekat dan kedengaranbila Humaira terbangun
"Oke..kak Wawa tidur di situ saja ya..Humaira...aunty datang..." Zahwa berlari menuju kamar tamu dan segera membuka pintu .
Dan terlihat lah Humaira sedang menggeliat di dalam kelambunya.
Dari pintu saja aroma baby nya sudah tercium apalagi jika menciumnya langsung..ah..Zahwa memang sangat menyukai anak-anak karena memang dia sangat lembut tidak seperti Zahra yang terkesan seenaknya.
"Assalamu'alaikum Humaira..." Ucap Zahwa lembut. Ia berbinar menatap Humaira yang ahh..sangat menggemaskan.
__ADS_1
Zahwa masuk ke dalam kelambu itu dan mencium baju Humaira dengan gemash berkali-kali. Hingga membuat baby girl itu merasa geli dan menepuk-nepuk kepala Zahwa dengan tangan mungil nya.
"Ahahaha....ahh.gemesh..gemesh..gemeshh..." oceh Zahwa.
Tak tahan lagi ia menggendong Humaira dan menimangnya sesekali memepermainkan nya.
"Ciluk...ba..."
"Utututututu...." Zahwa menoel-noel pipinya membuat Humaira tertawa ala bayi.
"Hihihihi..geli ya May..hem...geli ya..? Hah? Ahaha" bermain dentanHumaira sungguh senang rasanya, ia dapat melupakan kondisi hati nya saat ini untuk sementara.
"Em...sini..sun aunty dulu sini..." Zahwa mendekatkan kepala Humaira kepipinya dan menempelkan bibi Humaira di sana.
"Ah...terimakasih sayang...ummuach..ummuacch..ummuachh..." Di kecupinya sekilas seluruh wajah Humaira.
"Ihi..hihihi" bayi mungil itu hanya terkekeh geli karena perbuatan auntynya.
Ceklek~
Pintu terbuka, dan nampaklah Azzam disana denganmembawa kopernya. Oh Ya Allah..dia melupakan kopernya.
"Cup..cup..cup..sini sama Abi. Biar Aunty Wawa bersih-bersih dulu" ucap Azzam mengambil alih Humaira dari Zahwa.
"Ihh...Abang kok di rebut sih"
"Apanya yang di rebut Wa?? Ahahaha Humaira kan putri Abang" ujar Azzam
"Ih..kan Wawa masih mau main Bang..ish.." ucao Zahwa bersungut
"Nanti lagi, adek bersih-bersih dulu. Sana mandi biar segar" titah Azzam
"Ih...Abang.."
"Makanya...nikah sana" ledek Azzam
"Nanti, belum ada calonnya"
__ADS_1
"Kasihan~" ejek Azzam
"Ih...Abang.." Zahwa melempar sebuah boneka pada Azzam yang segera kabur dari hadapannya.
" Cepat mandi abis itu kita makan" ucap Azzam yang masih terdengar
"Huuftt..."
Zahwa segea menuruti perkataan Azzam lalu pergi ke ruang makan. Dan mereka makan bersama disana, setelah itu sholat berjama'ah.
***
Hari-harinya sangat menyenangkan bermain bersama Humaira. Sudah 12 hari dia di rumah Azzam. Melihat keromantisan yang terpampang di depan matanya kadang membuat Zahwa merasa iri. Tetapi melihat keharmonisannya dia ikut turut bahagia.
Hari ini sedang di tinggal berdua dengan Humaira. Azzam dan Helwa pergi sejak pagi, entah apa acara mereka hingga keduanya enggan memberi tahu Zahwa.
Ia mencoba tak ambil pusing. Ia hanya menurut saja. Ia menjaga Humaira seharian. Hingga pada saat memasuki Azan dzuhur Humaira lelah dan tertidur.
Setelah selesai melaksanakan sholat Ashar. Zahwa mendapat telpon. Ia segera meraih hp nya yang berdering di atas nakas. Melihat nama yang tertera di layar Zahwa tersenyum lebar dan segera mengangkatnya, karena takut Humaura terbangun karena terganggu dengan suara dering ponselnya.
Selama sambunyan telpon tersambung senyum Zahwa tak pernah pudar. Hingga beberapa menit kemudian senyum yang merekah tadi kini sirna. Di gantikan dengan Air mata yang jatuh tanoa permisi.
Tubuhnya luruh ke lantai, dadanya sesak hingga ia kesulitan bernafas. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan isak tangis yang sangat pilu itu agar tak menimbulkan kecurigaan pada orang di sebrang sana.
Air matanya terus mengalir, ia menangis dalam diam menahan sesuatu yang menghantam, dan menusuk di dalam sana.
Hatinya bagai tersayat, di cabik-cabik meninggalkan luka yang amat mendalam. Tak lama kesadarannya pun perlahan mulau hilang. Pandangannya blur, dalam hitungan detik
Bugh! Ia pingsan
"Wawa!"
.
.
.
__ADS_1
.
jejak jangan lupa ya