
Assalamu'alaikum Hai Hai Hai....
i'm comeback membawa...cerita lah apa lagi
Oh iya
Terimakasih buat yang nunggu ceritanya. Terimakasih yang sudah baca dan tidak lupa ai selalu mengingatkan agar like nya jangan di tinggal ya....ππ»ππ»ππ»
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·...
...H A P P Y R E A D I N G...
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·...
Perlahan ia membuka lem pelekat pada amplop polos
surat itu. Ia membuka surat tersebut dan ingin mulai membaca satu per satu kata yang akan ia baca. Perlahan ia memicingkan matanya dan..
Matanya membulat, mulutnya ia tutup dengan salah satu tangannya.
.
.
.
.
"Hah?kosong!!!?" Pekik Zahwa
Ia membolak-balik kertas itu, dan ZONK!!
Kertas itu putih bersih tidak ada noda tinta sedikitpun.
"Apa-apaan ini?" Lirih Zahwa. Dengan perasaan jengkel ia memasukkan kembali surat itu emm bukan kertas kosong tersebut pada amplopnya.
Saat ia ingin beranjak keluar dari hammam, ia merasa ada sebuah kertas kecil dibawah kaki nya. Ia mengangkat kaki nya dan benar ada sebuah kertas yang di lipat persegi. Ia merunduk dan mengambil kertas itu.
Mengapa ada dua kertas?
Ahh..sudah basah karena terkena air. Ia membuka kertas itu pelan agar tidak robek.
Matanya menyipit
"A..afwan..ji..ka anti..ke..ke..z..kez..kesal dan marah..karena...su..rat..ini..kosong" eja Zahwa
"Hmm ga kesel-kesel amat sih, tapi penasaran" ia lanjut membaca tulisan pudar itu
"...da..ri..hamba...Allah...ikh..wan..aa..em..pe..pa..y..."
"Ikhwan? Berarti surat ini dari seorang ikhwan Ya Allah bisa riuwet ini kalau ketahuan" gumam Zahwa terkejut
Ia melihat lagi ada tulisan yang tintanya sudah tercampur alias tak ter eja lagi.
"Huuf...susah bacanya karena kertasnya basah . Tinta nya sudah memudar apalagi tulisannya sudah tidak jelas...akh...bikin penasaran saja" gumam Zahwa pusing mengeja kalimat yang memudar itu...
"Tapi ikhwan ini siapa? Siapa yang di maksud tulisan ini?" Gumam Zahwa melamun
DORR..DORR...DOR..DORR....
"HALOO APA ADA ORANG???" suara gedoran pintu dari luar menyadarkan Zahwa. Dia sudah terlalu lama di dalam sini.
Ia buru-buru melipat kembali kertas itu dan menyembunyikannya di kantong nya .
"I..iya..sebentar.." ucapnya sedikit panik
Tak lama ia keluar dan melihat sudah ada Linda di sana
__ADS_1
"Loh...anti toh Zah?ngapain aja di dalam ha? Lama bener dah"
"Ya maa~ "
"Dah..awas..awas..minggir...ana udah kebelet" ucap Linda menyingkirkan badan Zahwa kesamping.
****
Keesokan harinya ia mendapat surat lagi dari orang yang sama, ketika ia ingin menanyakan perihal surat pertama yang ia terima. Namun ia tak mendapatkan jawaban, Kang Santri tersebut langsung pamit pergi
Kali ini ia juga membuka suratnya dan lagi-lagi ia terkejut, sama seperti yang sebelumnya surat ini hanya berisi kertas kosong tetapi di ujung kertas itu sebuah yang ia yakini inisial nama ditulis samar dengan pensil.
"MFAH"
"Hah? Nama siapa ini?" Ucap Zahwa bertanya-tanya.
"Hoooo, apakah ini inisial nama ikhwan yang di maksud oleh surat yang kemarin? Tapi ana tidak tau siapa dia?"
Zahwa tidak dapat menebak siapa orang nya, siapa ikhwan yang mungkin pernah bertemu dengannya. Tidak mau pusing Zahwa kembali melanjutkan harinya seperti biasa. Ketika ia keluar dari kelas ada yang memanggilnya. Sontak ia menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Assalamu'alaikum ukhty Zahwa" ucap salah seorang santriwati yang ia yakini adalah adik kelasnya
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ya khayr" ucap Zahwa tersenyum ramah
"Emm..Anti di panggil oleh Ustadzah Rifa ukht, diminta agar ke kantor sekarang juga" ucap Santriwati tersebut menunduk.
"Beik, emmm ada apa ya?"
"Aseef, kalau itu ana tidak tau ukhty"
"Ah syukron ukhty, ana akan ke sana segera"
"Afwan ukhty, na'am ana pamit assalmu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Setelah Santriwati tersebut pergi, Zahwa melangkah ke kelas Linda dan juga Dini. Oh iya mereka tidak sekelas belajar tetapi se kamar di asrama Jeddah.
"Emm Lin, ana mau pergi ke kantor dulu, ini ana nitip yah taruh di atas lemari saja" ucap Zahwa menyodorkan buku tulisnya
"Loh...memangnya anti mau ngapain Zah?"
"Tidak tau, tapi tadi ada yang menyampaikan kalau ana di panggil oleh Ustadzah Rifa ke kantor"
"Ohhh beik, la ba'sa. Nanti ana sampaikan pada Dini"
"Hu'um, kalau begitu ummuachh ana pergi dulu. Assalamu'alaikum" setelah itu Zahwa pergi ke kantor.
Selama di perjalanan tak sedikit santriwati yang menyapa dan memberi salam padanya. Karena hampir seluruh Santriwati kenal dengan Zahwa. Hafidzah pertama tahun ini, di tahun keempatnya Zahwa menimba ilmu di Al-Anshor ia menjadi orang pertama yanga sudah dapat mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an 30 juz , Ma Syaa Allah..
Zahwa membalas dan menjawab sapaan dan salam mereka dengan ramah dan tersenyum tulus. Itu lah yang membuat mereka merasa senang bila mengenal Zahwa karena orang nya ramah, baik, dan tidak sombong.
Zahwa : " Untuk apa sombong kalau jangankan di hadapan Allah, di bandingkan dengan malaikat saja kita seberti butiran debu"
Setelah sampai di kantor ia masuk dan ternyata semua Ustadzah sudah ada disana. Ia tertegun apakah ini tidak keliru?
Melihat kedatangan Zahwa Ustadzah Rifa memanggilnya dan mempersilahkannya masuk.
"Zahwa? Sini masuk"
Zahwa tersadar dan tersenyum canggung
"Assalamu'alaikum" ucap Zahwa lalu masuk diiringi jawaban salam dari semua orang yang berada disana.
"Sini Na" panggil Ustadzah Rifa yang nyaman memanggil Zahwa dengan Na dari ujung namanya EqueeNa.
Zahwa mengangguk dan duduk di kursi yang ditunjuk oleh Ustadzah Rifa.
__ADS_1
"Jadi, kita mulai saja yah. Sesuai dengan yang sudah di rencanakan kita akan mempersiapkan acara ini dengan semaksimal mungkin. Dan untuk tugasnya sudah di bagi, sekarang sudah bisa di mulai mengerjaknnya" jelas Ustadzah Rifa.
"Acara?" Gumam Zahwa
Ustadzah Rifa mendengar itu tersenyum dan lebih mendekat pada Zahwa
"Anti pasti bertanya-tanya kan?" Tebak Ustadzah Rifa
"Emm na'am Ustadzah" ucap Zahwa tersenyum kikuk.
"Jadi, lima hari lagi kan ada acara maka dari itu mulai dari sekarang kita harus mempersiapkan nya, karena tamu dari Al-Hikmah juga akan hadir"
"Acara besar kah?" Gumam Zahwa
"Na'am"
"Acara apa ya Zah? Dan untuk apa ana di panggil?" Tanya Zahwa
"Ohh...anti belum tau"
Zahwa menggeleng
"Masa sih, Thayyib mungkin ant i memang tidak tau. Ini adalah acara pengajian pelepasan Gus Fatih ke Kairo jadi Buya Firman mengadakan acara ini untuk berdoa bersama mengharap keselamatan dan kelancaran Gus Fatih yang akan berangkat"
DEG!!!
Zahwa membeku
"Ternyata acara ini untuk nya" batin Zahwa lesu
"Na..." Panggil Ustadzah Rifa
"Eh..iya Ustadzah. Jadi tugas ana apa?" Tanya Zahwa sambil tersenyum simpul
"Tugas anti adalah mengisi kartu undangan yang akan di sebar ke Sahabat Buya Firman dari Pesantren lain. Tulisan kaligrafi anti kan Ma Syaa Allah...jadi ana meminta anti untuk menulisnya Yah" ucap Ustadzah Rifa
"Eh...tidak Zah, tulisan ana biasa saja. Alhamdulillah syukron pujiannya" ucap Zahwa tersipu malu. Melihat rona merah di wajah Zahwa membuat Ustadzah Rifa merasa gemas, ia susah menganggap Zahwa seperti adiknya sendiri.
"Jadi bagaimana?" Tanya Ustadzah Rifa merangkul Zahwa
Zahwa mengangguk setuju. Tentu Ustadzah Rifa merasa senang.
"Alhamdulillah...sebentar ana ambil Undangannya dulu ya"
Setelah Ustadzah Rifa berlalu, Zahwa menatap nanar ke sembarang arah. Entah mengapa hatinya terasa nyess setiap mendengar berita bahwa Kang Fatih kan pergi. Ia sadar bukan siapa-siapa tetapi ia juga tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
Ia takut rasa ini malah menggoyahkan imannya, membuatnya lalai, ia berusaha agar tak selalu memikirkannya. Sepersekian detik ia tersadar dan segera mengusap Wajahnya dan beristigfar berkali-kali.
"Astagfirullahal'adziim"
"Astagfirullahal'adziim"
"Astagfirullahal'adziim"
..
..
..
..
..
..
..
__ADS_1
Like nya jangan tinggal nya
Terimakasih banyak buat yang baca novel iniππ»π