
***
"Maka dari itu Zahra ingin menyatukan kalian. Kak Zahwa sudah sangat menyayangi Zahra, jika nanti gara-gara ini kasih sayang Kak Wawa pada Zahra akan berkurang, maka Zahra tak ingin itu terjadi. Maka dari itu, Kak Zahwa menikahlah dengan Kak Fatih"
ucap Zahra tenang dengan senyum kecil terbit di bibir mungilnya.
JEDEERRRRRR!!!
Sungguh hatinya hancur mengatakan itu semua, ia ingin egois seperti yang ia katakan kemarin namun hati nya kembali bimbang. Melihat wajah Zahwa tadi pagi mampu melelehkan hatinya yang keras seperti batu.
Tatapan kosong Zahwa melayang pada manik hitam Zahra. Tak terasa air matanya meluruh begitu saja.
Sedangkan Fatih ia terpaku dalam diam nya. Ini tidak Zahra yang ia kenal. Yang mana sifatnya berbanding terbalik dengan Zahwa. Tapi kini di hadapannya, ia mendengarnya dan ia menyaksikan sendiri. Kalau Zahra mengalah pada Zahwa. Sungguh ini adalah suatu keajaiban.
"Z-za-zahra..." Ucap Zahwa tergugu
"Iya Kak.. Kakak percayalah. Zahra serius dan sungguh-sungguh. Ini murni keinginan Zahra Kak.. "
"Zahra ka-kamu..."
"Kakak bahagia?" Tanya Zahra yakin
Tanpa sadar Zahwa mengangguk kecil. Dan itu membuat senyum Zahra terangkat sedikit.
"Alhamdulillah...Syukurlah kalau Kakak bahagia. Aku juga bahagia" ucap Zahra sambil mengelus halus tangan Zahwa
"Eh...tidak..tidak..Kakak..ti-tidak.." Ucap Zahwa setelah tersadar akan jawabannya.
"Tidak mengapa Kak. Aku paham kok" kini Zahra mengalihkan pandangannya pada Fatih
"Kak..Zahra titip Kak Wawa ya" ucap Zahra sambil menatap serius
"Kamu serius?" Tanya Fatih tak kalah serius
"Hu'um. Zahra serius " ia menganggukkan kepalanya.
"Zahra..kamu dengerin Kakak dulu. Kamu membuat keputusan ini sendiri. Dan kamu meminta Ka- "
"Huusttt.... Zahra tidak ingin ada penolakan. Sudah lah Kak. Percaya pada Zahra. Zahra baik-baik saja" ucap Zahra meyakinkan
"Tapi hati mu tidak baik-baik saja dek" batin Zahwa menyambung.
"Kakak hapus air matanya. Jelek tau, malu di lihat sama Kak Fatih, ehehe"
"Kakak nanti ha- "
Tiba-tiba pintu terbuka. Ayah Ali dan Abi Sam masuk ke ruangan mereka. Dengan segera Zahwa menghapus air matanya.
"Loh.. ada apa ini?" Tanya Ayah Ali mendekat pada Zahwa. Ia melihat putrinya itu menangis.
Mereka memutuskan untuk masuk kembali kedalam karena mereka pikir sudah cukup waktu yang mereka berikan untuk anak-anak mereka bicara.
"Tidak ada apa-apa Yah" jawab Zahra sambil menunjukkan senyum manisnya
"Lalu apa keputusan kalian" tanya Abi Sam
"Om..Ayah...Kak Wawa dan Kak Fatih akan menikah. Dan besok adalah khitbah resmi nya" tukas Zahra
"A-apa.." Ayah Ali dan Abi Sam cukup terkejut mendengar itu. Sungguh ini di luar dugaan mereka. Mereka pikir Zahra akan bersikeras itu lah sebabnya mereka mempertemukan mereka agar saling terbuka satu sama lain.
"Iya Ayah, Om. Besok ya "
"Kamu serius nak? Apa yang sudah kalian bicarakan sejak tadi?" Tanya Ayah Ali
"Iya Ayah.. aduhh kenapa kalian semua tidak percaya sih. Zahra itu sungguh-sungguh. Kami hanya bicara biasa saja dari tadi. Iya kan Kak"
Fatih dan Zahwa hanya mengangguk.
"Bicara apanya, hanya kau saja yang bicara banyak sejak tadi" batin Fatih
"Ini benar. Zahra sudah ikhlas?"
Zahra melamun.
__ADS_1
"Dek?"
"Ah iya ada apa?"
"Kamu ikhlas?" Ulang Ayah Ali
"Belum sepenuhnya Yah. Hati Zahra sangat sakit"batin Zahra
Ia menatap Ayah Ali dan tersenyum manis seraya mengangguk.
Mereka berbicara banyak hal di sana. Zahra sesekali hanya tersenyum dan mengangguk. Ia sedang mencoba untuk menata hatinya yang hancur berkeping-keping
Saat mereka ingin membahas rencana pernikahan Zahwa dan Fatih. Ia tak sanggup lagi menahan sesak. Dan air matanya yang mendesak keluar membuat ia mencari akal agar bisa terlepas dari pembicaraan yang sangat menyesakkan ini.
"Maaf semua, Zahra izin ke toilet" ucap nya setelah itu pamit dan pergi ke toilet.
Beruntung toilet sedang sangat sepi. Tak tertahan lagi, air matanya seketika itu tumpah. Ia memukul dada nya berkali-kali dengan keras berharap sesak nya berkurang.
Ia melayangkan tinjunya pada dinding. Bukannya merasa lebih baik, kini tangannya juga ikut sakit, buku-buku jari tangannya memerah.
Ia terduduk lemas pada sebuah bangku keramik yang ada di sebrang wastafel. Ia menangis tanpa suara di sana.
Ia merogoh tas slempang nya dan mengambil ponsel nya di sana. Ia membuka aplikasi berwarna hijau. Dan mengetik pesan untuk Senia.
^^^📱Zahra^^^
^^^📤 Assalamu'alaikum. Nia...^^^
📱Senia
📩Wa'alaikumussalam. Yaaaww ada apa Ra?
^^^📱Zahra^^^
^^^📤 Masih mau nonton ga?^^^
📱Senia
📩Beneran ini?
^^^📱Zahra^^^
📱Senia
📩Really? Okeyy aku akan bersiap
^^^📱Zahra^^^
^^^📤 Ya.. cepat lah. Kalau kau tidak datang dalam lima belas menit, batal.^^^
📱Senia
📩syiaapp, ohh iya bukannya kamu tadi sama Ayah kamu ya?
^^^📱Zahra^^^
^^^📤Waktu mu tinggal 13 menit lagi^^^
📱Senia
📩ehh iya iya siap bu Nyai.. tungguin yak
^^^📱 Zahra^^^
^^^📤hm.^^^
📱 Senia
📩Nghookey
TIK. Kembali ia masukkan Handphone nya ke dalam tas. Lalu ia membasuh muka nya. Setelah itu ia keluar dan mencari taksi. Sembari menungu taksi datang. Ia mengirim pesan pada Zahwa untuk memberitahu nya.
📱 Zahra
__ADS_1
📤 Kak..Zahra ga ikut pulang ya. Zahra duluan, buru-buru ada urusan. Temen Zahra ada yang masuk rumah sakit.
Setelah memberitahuanya dengan alasan yang tidak benar. Ia masuk ke dalam taksi yang sudah berhenti di depannya.
Setelah sampai. Ia melihat Senia dengan senyum tipis. Ternyata Senia lebih dulu sampai dari pada dirinya.
Mereka masuk ke bioskop setelah memesan tiket. Selama film di putar Zahra hanya diam, bengong dan banyak melamun. Mubadzir tiketnya karena ia tidak menikmati film nya.
"Ra..ra..liat deh tuh. Nenek nya baik banget. Di restuin Fia sama Doni. Aaah nenek idaman" ucap Senia mengoceh tidak berhenti. Karena dari tadi ia tidak mendapat jawaban dari Zahra ia menoleh.
Jleb!
Ia terkejut melihat Zahra yang melamun diam dengan tatapn kosong.
"Ra..." Panggilnya pelan
"Ra.."
"Ra..."
Zahra tersentak " ah..iya.. Ayo nonton jangan liatin aku"
"Apaan film nya sudah selesai kali, Ra"
"Hah? Udah selesai ya? Kok aku ga tau,cepet banget" gumam Zahra pelan namun masih di dengar oleh Senia
" Ya iyalah kamu ga tau. Wong dari tadi kamu melamun sepanjang film " cebik Senia
"Kamu kenapa si Ra? Ada masalah?" Tanya Senia saat mereka sudah keluar dari gedung bioskop.
Terlihat hari sudah sore. Jingga melukis senja.
"Hah? Ti-tidak"
"Tuh kan bengong lagi. Cerita dong Ra"
"A-aku tidak apa-apa. Aku pulang duluan ya..." Zahra meninggalkan Senia yang menaruh khawatir padanya.
Ia terus berjalan menunggu taksi yang lewat. Sudah 1 jam ia berjalan namun tidak ada taksi yang lewat.
Ia tersadar saat merasa sekitarnya sepi. Benar saja, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Astaghfirullah... Aku dimana? Kok aku di sini?" Ia seperti orang linglung melihat kesana kemari
Ia memutar badannya mencari taksi
"Taksi.!!!! Taksii!!!" Teriak Zahra saat melihat Taksi lewat.
Namun Taksi itu berlalu. Ia mengejarnya, karena tidak tau daerah itu. Ia mengejarnya berharap akan menemukan jalan besar.
"Taksii!!! Pak taksii pakk!!!"
Tiba-tiba..
.
BRAAKKKKK!!!!!
.
.
.
MAU DI LANJUTT GA NIH??
KALAU LANJUT TAU DONG HARUS NGAPAIN YA KAN! KENCENGIN
LIKE
KOMEN
KOPI MA KEMBANGNYA YA...
__ADS_1
SELAMAT MENUNGGU....BUDAYAKAN LIKE SEBELUM ATAU SESUDAH MEMBACA🌻
Tabarakallah💙