Salah Khitbah

Salah Khitbah
112. SK 2 : CALON ORANG TUA


__ADS_3

"Nah.. sekarang kita akan mengetahui sudah berapa lama dia ada disini. Emm.. untuk ukurannya yang sudah lumayan besar sepertinya sudah cukup lama" ucap Dokter Andara


Zahwa dan Akhtar mengangguk.


"Masih ingat, kapan terakhir haid?"


Zahwa menggeleng " tidak tante"


"Hem.. baiklah tidak apa-apa"


Setelah beberapa saat Dokter Andara kembali berucap.


"MasyaaAllah..ini sudah delapan minggu, usianya sudah delapan minggu"


"Hah? Delapan minggu?" Ucap Zahwa kaget


"Hu'um, sudah delapan minggu Wa"


"T-tapi, sudah selama itu, aku tidak merasakan apa-apa tante" ucap Zahwa mulai khawatir


"Benarkah? Tidak merasa sakit di bagain bawah perut atau nyeri pinggang, mudah lelah, atau payudara kadang-kadang perih?" Tanya Dokter Andara


Zahwa terlihat berfikir sejenak


"Emm.. kalau sakit di perut bagian bawah, pernah sih tante tapi aku kira itu karena kebelet pipis. Kalau nyeri pinggang juga pernah, karena ada acara di Ponpes, aku ikut bantu-bantu seharian di dapur umum, dan malemnya ya sedikit lelah karena bekerja seharian. Kalau payudara perih tidak pernah tante"


"Kecuali kalau dimainin sama suami aku, Tan" sambung Zahwa dalam hati


"Nah, itu juga sebenarnya sudah termasuk gejala kehamilan yang tidak kamu sadari secara nyata. Dan sekarang kamu sudah tau jadi tolong agar berhati-hati ya nak. Bersyukur janin mu kuat, lihat lah pertumbuhan dan perkembangannya sangat baik, dan pekerjaan berat yang kamu lakukan tidak berpengaruh besar padanya" jels Dokter Andara membuat Zahwa dan Akhtar tersenyum lega


"Alhamdulillah.." mereka berucap syukur. Akhtar mengelus kepala Zahwa dengan penuh kasih sayang.


"Sudah cukup melihat baby nya?"


Zahwa menatap Akhtar yang mengangguk


"Sudah Tante"


Setelah itu Zahwa menurunkan gamisnya dan turun dari ranjang pasien. Dan mereka kembali ke meja Dokter Andara.


Akhtar tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu duduk gelisah. Perbuatannya itu membuat Zahwa menoleh


"Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Em? Ah tidak ada" jawab nya gelagapan


"Ada apa Ustadz? Ada yang ingin di tanyakan?" Ucap Dokter Andara peka


"Huftt.. begini Dok. Kemarin istri saya makan makanan yang sangat pedas sekali, istri saya memang tidak merasakan apa-apa tapi saya yang merasakan mules nya. Apakah itu tidak berpangaruh pada kandungannya?" Tanya Akhtar akhirnya


Dokter Andara mengulum senyumnya sebelum menjawab.


"Ustadz sedang ngidam saat itu. Memang bukan Zahwa yang mules, tapi makan dengan banyak cabai juga tidak baik untuk kesehatan. Terlebih Zahwa sedang mengandung, jadi lebih baik Zahwa di beri cemilan sehat ya. Sepeti buah, sayur, dan susu nya jangan lupa. Dan makananya juga harus di jaga ya. Supaya ibu dan anaknya sehat"


Mendengar penuturan Dokter Andara, Akhtar memicingkan matanya menatap Zahwa yang juga menatapnya. Memperingatkan lewat isyarat matanya.


"Baik Dok"


"Hem.. Zahwa apakah ada keluhan lain?" Ucap Dokter Andara sambil mencatat sesuatu di buku kehamilan Zahwa.


"Tidak ada Tante, hanya saja suamiku yang sering pusing dan mual"


Lagi-lagi Dokter Andara tersenyum


"Ustadz yang sabar ya, demi anak dan istri" ucap Dokter Andara


"Tentu saja Dokter"


"Iya tante,kami akan berhati-hati"


"Dan ini resep vitamin dan penguat kandungan. Memang kandunganya sudah kuat tetapi tante hanya berjaga-jaga saja, untuk alasannya... Tante tidak bisa katakan sekarang. Tapi jangan terlalu di pikirkan, Insyaa Allah semua baik-baik saja"


"Terimakasih banyak Tante, Terimakasih Dokter"


"Kalau begitu kami pamit dulu, Assalamu'alaikum"


Mereka keluar dari rumah sakit dengan perasaan lega dan bahagia.


***


Dalam perjalanan pulang


Zahwa terus menatap gambar baby hasil USG yang di cetak tadi. Bibirnya tak henti tersenyum, jempolnya mengusap gambar itu dengan lembut.


"Yank, kamu mau sesuatu?"


"Tidak Yank, tidak ingin apa-apa" jawab Zahwa tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas kecil itu

__ADS_1


"Baiklah kita langsung pulang ya?"


" Iya Yank, aku ingin cepat-cepat istirahat" jawab Zahwa


10 menit kemudian


Kriingg....kringgg....kringgg...


Bunyi dering ponsel Akhtar, mengalahkan alunan sholawat yang terdengar di mobil itu.


Zahwa melirik ponsel Akhtar, melihat siapa yang menelpon


'Aleeya 🥀 is calling..'


Zahwa mengalihkan pandangannya, menahan rasa sesak di dadanya.


Nama itu mengingatkannya pada sebuah nama yang dia temukan di rak buku Akhtar. Ia sangat ingat nama itu.


Ia hanya diam, memikirkan siapa dia? Kenapa hanya nomor ponsel dia wanita asing di ponsel suaminya kecuali Umi dan nomornya sendiri.


Melihat siapa yang menelpon, Akhtar dengan cepat meraih ponselnya dan menepikan mobilnya.


"Yank, saya mengangkat telpon dulu ya" Izin Akhtar lalu turun dari mobil


Apa yang Akhtar lakukan saat ini sungguh membuat Zahwa menitikkan air matanya tiba-tiba. Entah kenapa buliran bening itu mendesak keluar.


Kenapa harus di luar? Apakah sepenting itu? Siapa dia?


Itulah yang ada di benak Zahwa saat ini.


Tak lama kemudia, Akhtar masuk. Segera Zahwa mengahapus air matanya dan mengubah ekspresinya.


"Sudah siap Yank?" Tanya nya


"Sudah" jawab Akhtar tiba-tiba dingin


Zahwa kembali diam. Dalam hati ia mengutuk dirinya yang tiba-tiba cengeng.


***


Maaf bila ada kesalahan🙏🏻


Yuk tinggalin jejaknya. Kalau banyak jejak Author up cepet dan sebaliknya✨

__ADS_1


__ADS_2