Salah Khitbah

Salah Khitbah
52. SK : TIKUNG MENIKUNGG


__ADS_3

S E L A M A T M E M B A C A


***


"Hiks...hiks..." Ia terisak di dalam dekapan Azzam.


"Kenapa Wa..kenapa?"


"Hiks..hiks..Abang..hiks..hufftt,..." Zahwa menghela nafasnya dan membuang nya pelan.


"Ayo Wa..kontrol diri dan perasaan mu" batin Wawa menyemangati dirinya


"Huuffttt" perlahan tangis nya mulai mereda. Ia melepas pelukannya pada Azzam.


Ia menarik beberapa lembar tissue dan membersihkan wajahnya. Setelah itu ia kembali menunduk.


"Kenapa Wawa ga cerita, hah?" Tanya Azzam kembali


"Sudah lah...katanya Zahra mau menikah. Ayo pesan tiketnya" Zahwa beralih mengambil kopernya dan memasukkan barang-barang nya.


"Tidak penting kah bagimu sekedar berbicara pada Abang Wa?"


Zahwa menghentikan aktivitasnya


"Apa lagi yang mau di bicarakan Bang? Bukan kah semua sudah jelas?" Ucap Zahwa membalik badannya menghadap Azzam sebentar.


Azzam terus memperhatikan apa yang di lakukan Adiknya nya itu. Hingga beberapa saat kemudian koper Zahwa sudah berada di dekat pintu.


" Abang tau apa yang kamu rasakan saat ini. Maaf Abang menjadi orang tak berguna saat kamu hancur seperti ini"


"Ingat! Masih ada Zahra"


"Yakin lah dek, ada rencana Allah yang lebih indah dari yang kamu pikirkan. Mungkin saat ini kamu menderita tapi nanti kamu akan menemukan kebahagiaan mu. Jangan bersedih adikku" Azzam membawa nya ke pelukannya dan mencium pucuk kelapanya lama.


Setelah itu ia kembali ke kamar menemui anak dan istrinya. Zahwa merosot ke lantai. Air matanya kembali menetes tanpa aba-aba. Sesak rasanya masih kental terasa. Kata-kata Azzam membuat ia merasa kalau Fatih memang pantas untuk Zahra bukan dirinya.


"Ayolah Wa...terima saja..hiks.."


***


Sedangkan di tempat berbeda


Kairo, Mesir


Fatih sedang menatap hamparan luas gurun pasir di hadapannya. Tatapannya kosong, pikirannya kacau. Kedua sisi dirinya saling berdebat tak berujung.


Ia meneguk teh yang ia siapkan tadi. Ia menatap rembulan yang bersinar terang. Seolah tak ada cacat kegelapan sedikit pun.


Ia mencoba mengingat-ingat kronologi proses Khitbah yang di ceritakan oleh Ummah. Zahra? dia adalah Gadis bawel yang pernah ia temui seumur hidupnya.


"Mengapa takdir ku menyeretku pada nya? Apakah hanya karena perkara nama semuanya jadi kacau? Apa kah ini hanya ujian sementara saja? Atau memang sudah ini jalannya? Tetapi mengapa harus dia??" Batinnya saling sahut menyahut.


Angannya melayang pada beberapa tahun lalu.


Seperti biasa jika di sore hari akan ada yang menjemputnya dan mengantarnya ke kantor Abi nya. Saat itu ia baru saja turun dari mobil. Langsung ia melihat seorang gadis kecil yang sedang memarahi seorang anak yang umurnya jauh di bawah nya.


"Hehh, gara-gara kamu. Bola ku jadi hilang. Balon ku juga kau lepas. Menyesal aku meminjamkan nya padamu " ia terus mengomeli bocah di hadapannya yang hampir menangis itu.


"Maaf Kak.."


"Maaf.. maaf... Memangnya maaf mu itu bisa mengembalikan semua nya? Heh" ucapnya berkacak pinggang

__ADS_1


"Hiks..hiks.." bocah itu mulai menangis.


"Kenapa kau menangis? ingin mempermalukan ku Hah?. Ingin semua orang mengira aku telah melakukan kejahatan pada mu? hah?"


Tak tahan melihatnya Fatih langsung mendatangi keduanya.


"Hey..ada apa ini? Kok Adek menagis?" Tanya mengelus puncak kepala bocah itu


"Abil, di malah-malahrin sama Kakak itu" ucapnya menunjuk Zahra yang tersipu malu menjadi melotot kan matanya.


" Hei..tidak boleh begitu. Tidak lihat kah kau kalau dia jauh lebih muda darimu?" menunjuk bocah yang mengaku bernama Abil itu.


"Dia duluan yang bikin aku kesal" ucap Zahra mengatap jengah


"Seharusnya kau mengalah, ayo minta maaf. Sayanglah pada yang lebih muda darimu dan hormatlah pada yang lebih tua dari mu" titah Fatih sambil menatap Zahra yang sedang menatapnya penuh damba


"Aduh... Untung ganteng kalau engga udah ku cobek-cobek tuh mulutnya, hiiih..tapi good looking biasalah..ehehe" batinnya cekikikan sendiri


"Maaf ya dek" ucapnya menatap bocah itu malas


Bocah itu mengangguk dan berlari.


"Heeh..kamu siapa sih. Kenapa suruh aku minta maaf harusnya dia dong.. kan dia yang buat aku marah"


"Diam kau bawel" ucap Fatih singkat dan berlalu meninggalkannya


DEG


Entah mengapa hatinya berdebar tak karuan saat di juluki 'Bawel'. Bukannya kesal ia malah deg-deg an.


"Ahh..ga boleh lepas ini. Tampan, pintar, sopan, baik, kurang apa lagi. Mas perfect aww " batinnya kegirangan


Sejak saat itu lah, di awal petemuan mereka. Zahra suka pada Fatih dan semakin gencar mengejarnya.


Ia selalu saja kecentilan, cari perhatian, dan selalu mencoba untuk menarik simpati Fatih. Dengan segala ucapan absurd nya tingkah bar-barnya. Membuat Fatih pusing setiap bertemu dengannya.


Bahkan tak malu ia pergi ke kantor Abinya Fatih, Abi Sam. Hanya untuk bertemu mengabsen wajah Fatih. Sungguh membuat Fatih jengah hingga pernah suatu ketika Zahra sedang menceritakan kekesalan yang di alaminya saat di sekolah pada Fatih yang sedang sibuk dengan pelajaran-pelajaran mengenai kantor yang di berikan Abinya, hal itu membuat Fatih kesal.


"Bawel" ucapnya memotong cerita Zahra dan meninggalkan Zahra yang bersungut kesal.


Fatih melihat arloji yang melingkar di tangannya, ia memutuskan untuk tidur.


Sepertiga malam.


Ia terbangun karena sudah terbiasa.


Ia membaca doa bangun tidur lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat tahajjud.


Ia berdoa dengan sepenuh hati. Ia curah kan segala yag menganjal di hatinya di atas sejadah. Ia bersimpuh memohon petunjuk dan meminta keridhoan atas langkah yang akan ia ambil. Ia meluapkan segala isi pikirannya pada sang Khaliq. Setelah selesai ia lanjut membaca Al-Qur'an sembari menunggu waktu tubuh.


Azan berkumandang. Ia pergi ke Masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.


Setelah itu ia kembali dan sarapan . Pukul delapan nanti adalah jadwal keberangkatannya. Ia segera mempersiapkan kembali barang-barangnya.


Ia memperbanyak dzikir untuk menenangkan hatinya yang gelisah tak menentu.


***


Zahra?


Ia sangat antusias bagaimana tidak? Lamaran resmi akan diadakan tidak lama lagi. Kali ini tidak hanya orang tua saja. Melainkan seluruh keluarga dan tak lupa calon suaminya juga akan turut hadir. Hatinya yang berbunga-bunga kini bermekaran.

__ADS_1


"Ya Allah... Emang bener yang di TingTong itu. Kalau kita mencintai seseorang . Pinjam saja namanya dan tikung dia di sepertiga malam. Dan ternyata berhasil. Allah menjawab doa ku. Sebentar lagi aku akan menikah dengan orang yang aku cintai" gumam Zahra terlonjak riang memeluk bantal guling nya dan berguling-guling di atas ranjangnya.


***


.


.


.


.


Tanpa mereka ketahui, selama ini ada seseorang di ujung dunia yang sedang mempersiapkan diri dan menggadaikan nama seseorang di sepertiga malamnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Oh Ya Allah....jadi tikung menikung toh? Oalah..


Doa kalian kurang kenceng dari Zahra. Ada seseorang yang harapannya mulus...di ujung sana.


Maaf up nya lama-lama, ini lagi mikirin buat nyambung ceritanya biar bisa nyatu ma ending yang udah di siapin sejak awal. Dan akhirnya dapet wangsit cus..langsung nulis..


SPOILER NEXT EPS


"Ya Allah..kok jadi begini?? "


"Kita harus bicara sama dia, kasihan Wawa"


"ya benar. Nanti kita akan bicara agar dia mele- - "


tiba..tiba...


BRAAKK....


Y**uk biar ana semangat nulisnya, tau dong harus ngapain**.


like


komen


kembang and kopi nyaa yaa 💓💓

__ADS_1


Tabarakallah💙


__ADS_2