
Sedangkan di tempat lain...
Akhtar sedang di panggil ke kantor untuk mengecek data-data Ma'gad Kiyai Kholid tersebut.
"Alhamdulillah..ternyata semua aman dan berjalan baik tidak ada masalah" ucap syukur Akhtar setelah mengecek semua dengan sangat detil.
"Terimakasih Ustadz, sudah menjaga amanah Ma'had ini selama Kiyai Kholid sedang butuh bantuan" ucap Akhtar tulus pada Ustadz Maulana, orang kepercayaan Kiyai Kholid sekaligus orang kedua yang mengemban amanah Ma'had ini.
"Sama-sama Ustadz, memang sudah tugas saya. Kiyai Kholid sendiri sudah saya anggap sebagai ayah saya sendiri, saya tidak mungkin diam saja saat beliau sedang membutuhkan bantuan" jawab Ustadz Maulana sedikit membungkuk.
Akhtar mengangguk sambil tersenyum.
"Mari Ustadz, kita ke gubuk saya. Kita nge teh dulu sejenak" ajak Ustadz Maulana
"Baiklah, mari"
Keduanya berjalan beriringan sambil bercerita tentang awal mula Kiyai Kholid mulai sakit-sakitan.
Setelah sampai di rumah Ustadz Maulana, perbincangan mereka terhenti.
"Assalamu'alaikum.." ucap keduanya , lalu masuk kedalam rumah.
"Silahkan Ustadz, beginilah tempat tinggal kami. Maaf bila tidak senyaman rumah Ustadz, anggap saja rumah sendiri ya Ustadz" Ustadz Maulana mempersilahkan Akhtar duduk
"Tidak..tidak..ini sudah luas, dan insyaaAllah..nyaman untuk siapa saja"
Tak lama datang seorang wanita muda tinggi semampai, putih dan berwajah ayu. dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa camilan ringan.
Akhtar menundukkan pandangan saat wanita itu mendekat.
Teh sudah berada di depan mereka masing-masing.
"Silahkan Ustadz" ucap Ustadz Maulana mempersilahkan.
Akhtar tersenyum tipis sambil mengangguk. Wanita yang sedang meletakkan cemilan itu tak sengaja melirik senyum Akhtar yang menawan, membuat jantung nya berdebar-debar.
__ADS_1
Tangan Akhtar terulur mengambil cangkir teh miliknya di atas meja. Aroma parfum Akhtar menusuk ke indra penciuman wanita itu, membuat tubuhnya seketika gugup dan gemetaran. Hingga tak sengaja ia menjatuhkan tutup toples yang langsung di tangkap oleh Akhtar.
"M-maaf" lirih nya pelan mengambil tutup toples itu lalu mengangkat nampannya ke dapur
"Maaf ya Ustadz, memang putriku itu sangat pemalu" ucap Ustadz Maulana.
"Tidak masalah Ustadz"
Keduanya melanjutkan perbincangan mereka yang sempat terhenti tadi. Sampai pada sebuah topik yang melenceng dari urusan Ma'had.
"Bagaimana pendapat Ustadz melihat putri saya tadi?" Tanya Ustadz Maulana hati-hati.
"Saya tidak tau Ustadz, tapi sepertinya dia gadis yang baik, memiliki sopan dan santun juga" ucap Akhtar tidak berpendapat lebih.
"Sebenarnya saya menyukai Ustadz sejak pertama kali bertemu. Dan saya juga sudah tau Ustadz seperti apa. Kebetulan putri saya belum ada yang ia terima pinangannya. Apakah~?"
"Maaf Ustadz...bukannya ingin memotong. Tapi saya sudah menikah, saya sudah memiliki istri. Dan kami baru menikah sekitar 2 minggu yang lalu" jelas Akhtar memotong ucapan Ustadz Maulana yang ia tau pembicaraan ini mengarah kemana.
Jawaban Akhtar membuat Ustadz Maulana dan seseorang di balik dinding tersentak. Cukup mengejutkan memang. Tapi..itukah kenyataannya
Sebatang tubuh melemas seketika mendengar penuturan pria yang baru saja di kagumi nya.
"Ahm? Benarkah itu? Barakallah..selamat Ustadz, maaf saya tidak tahu hal itu" ucap Ustadz Maulana tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Ustadz"
"Maaf, saya mendengar pembicaraan kalian, dan maaf menyeka sedikit. Ustadz, bukankah dalam islam boleh beristri lebih dari satu?" Ucap istri Ustadz Maulana tiba-tiba datang ikut nimbrung. Membuat Ustadz Maulana menatap tajam istrinya.
Tapai sang istri tidak mengindahkan tatapannya.
Akhtar melapangkan dadanya dan menjawab dengan penuh keyakinan hati
"Benar, Islam memang memperbolehkan memiliki istri tidak lebih dari empat orang istri. Tapi, saya tidak ada keinginan untuk menikah lagi. Cukup satu istri yang saya CINTAI, tanggungan saya di dunia dan di akhirat. Dan tidak pernah terpikir sedikit pun di benak saya untuk memberikan madu untuknya. Saya tidak akan sanggup melakukan hal itu kepadanya" jawab Akhtar dengan tenang , tanpa ada rasa marah atau kesal sedikit pun.
"Manusia tidak bisa mengukur kemampuannya sendiri Ustadz, Allah yang tau kemampuan hambanya. Tidak ada salahnya menjalankan sunnah 'khan?"
__ADS_1
"Umi!" Ucap Ustadz Maulana dengan tegas
"Sunnah benar sunnah, tapi tanggung jawab nya itu dangat berat. Terlebih hati lembut itu akan saya hancurkan seketika. Tidak ada wanita yang rela di madu, sekalipun itu istri Rasulullah, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar, karena kecemburuannya pada madunya membuat ia tidak termasuk pada pemuka wanita ahli syurga. Bagaimana dengan istriku yang hanya sekrang wanita biasa. Begitu pun dengan saya. Saya akn tetap pada keteguhan hati saya, dengan menjadikan istri saya seorang di hati saya" ucapan Akhtar membuat Istri Ustadz Maulana jengkel dan pergi ke belakang.
"Baiklah kalau begitu"
Akhtar mengangguk.
"Umi" lirih putri Ustadz Maulana pada Uminya yang datang dengan wajah kesal
"Mengapa Umi mengatakan hak itu, malu Umi..malu..Aku tidak apa-apa.." ucapnya dengan derai air mata.
"Umi tau kamu menyukainya. Umi hanya membantu mu. Tapi, maaf Umi tidak berhasil"
"Umi...hiks..hiks.." ia memeluk Uminya dengan keadaan terisak.
Hatinya hancur menerima kenyataan bahwa ia kalah sebelum berjuang. Juga memikirkan bagaimana penilaian Akhtar setelah ini padanya.
Sungguh ia malu sendiri dengan perasaannya.
Ia berniat dalam hati untuk memendamnya, tapi ia kalah cepat dengan Uminya yang memang suka main blak-blakan.
Sedangkan di depan..
"Ustadz, Maafkan istri saya. Dia memang begitu. Maaf..sekali. Saya bukan bermaksud.."
"Saya maklum Ustadz.." jawab Akhtar tersenyum
'ahh..istriku. Saya merindukanmu, ingin memeluk dan mencium mu saat ini juga. Ya Zaujati..' batin Akhtar di balik senyumnya
. . . . . .
, "Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulallah SAW, Khadijah binti Khawailid dan Asiyah." (HR. Hakim dan Muslim)."
Minta jejak nya Bunda...kalau like nya ga normal, males nulis bund, he'em serius dah. Jadi kiranya udah pada ga suka gitu loh. so jangan lupa tetap tinggalin jejak nya
__ADS_1