Salah Khitbah

Salah Khitbah
113. SK 2 : SATU KATA


__ADS_3

Setelah sampai di kediaman keluarga Syeena.


"Yank.. " tahan Akhtar saat Zahwa akan membuka pintu mobil


Zahwa menghentikan gerakannya, tanpa berbalik menatap Akhtar.


Akhtar memencet sebuah tombol yang membuat seluruh tirai di setiap jendela tertutup. Setelah itu ia membuka niqab Zahwa.


"Jangan turun dulu"


"Kenapa?" Tanya Zahwa tak kalah dingin


" Saya mau ngomong"


"Ohh.. ya sudah ngomong aja" jawab Zahwa ketus


Akhtar menarik lembut bahu Zahwa agar berbalik menghadapnya.


"Dosa bicara sama suami tidak menatap wajahnya, apalagi membelakanginya" ucap Akhtar lembut menghapus air mata Zahwa


"Maaf" ucap Zahwa pelan


"Hufftt.. baiklah tidak apa-apa. Emm begini, setelah ini kita balik ke Ponpes ya"


"Nanti malem?" Ucap Zahwa menatap mata Akhtar lekat


"Tidak, sekarang juga"


"Kenapa?"


"Em.. itu. A-ada yang menunggu saya di rumah"


"Hah? Siapa?" Kening Zahwa berkerut


"Kamu akan tau sendiri nanti" ucap Akhtar


"Hem, baiklah. Terserah kamu saja" ucap Zahwa tidak suka. Lalu memutar badannya membuka pintu


" Stop! Kenapa bicaranya begitu?"


"Tidak apa-apa, biasa saja"


" Masih berani berbohong sama saya"


"Ah.. sudah lah, terserah. Aku mau tidur"


"Yank.. berhenti jangan turun" cegah Akhtar


Setelah itu ia keluar dari mobil dan menghampiri pintu Zahwa.


Ia memasukkan setengah badannya ke dalam mobil. Mendorong pelan tubuh Zahwa hingga bersandar di kursi.


Mengukung Zahwa dengan satu tangannya lalu menatap lekat wajahnya. Perbuatan Akhtar membuat jantung Zahwa kembali dugem di dalam sana.


"Kalau suami bilang itu nurut "


Cup


"Kamu jangan marah sama saya, saya tidak ada berbuat apa-apa"


Cup


"Buang jauh-jauh pikiran buruk mu itu. Kamu mau Su'udzan pada suami mu?"


Zahwa menggeleng


Cup


" Setelah ini mau ya pulang ke Ponpes, Umi dan Abi belum tau juga kan"


Zahwa mengangguk setuju


Cup


"Anak pintar, yasudah ayo masuk ke dalam. Eh.. sebentar"


Cup


Akhtar sekali lagi mengecup bibir Zahwa sebelum ia memakaikan kembali niqab itu ke wajah Zahwa.


Setelah selesai, ia membawa Zahwa ke gendongannya. Lalu berjalan masuk ke dalam.


"Huuft... Entah apa yang akan terjadi nanti"batin Akhtar frustasi


"Loh? Ada apa ini? Wawa kenapa? Kakinya sakit?"


"Tidak apa-apa Bunda, Aku baik-baik saja. Ini inisiatifnya sendiri tidak membiarkan aku berjalan sendiri" gerutu Zahwa membuat Bunda Fatimah terkekeh


Setelah puas berbicara dengan Bunda, akhirnya mereka izin untuk pulang ke Ponpes saat ini juga. Awalnya mereka juga kaget, namun setelah Akhtar mengatakan bahwa ada yang menunggunya di rumah, mereka semua mencoba untuk mengerti.


Terlebih Zahwa dan Akhtar belum mengatakan berita kehamilan Zahwa pada Umi dan Abi selaku orang tua Akhtar. Jadi mereka mencoba memaklumi.


Ayah Ali yang sedang berada di kantor langsung pulang setelah mendengar putrinya akan balik ke Ponpes.


Zahwa mendapat banyak wejangan dari orang tua dan kakak-kakaknya. Zahwa menampungnya dengan senang hati.


Beruntung Humaira sedang tidur, jadi tidak harus melewati drama tangis menangis lagi sebelum mereka pergi.


"Wawa..ingat pesan Bunda tadi ya. Nak Akhtar, jaga istrimu dan anak kalian yah"


"Tentu Bunda"


Bunda Fatimah melepas pelukannya dan membiarkan Zahwa memeluk Ayah Ali.


" Ayah, Wawa balik dulu ya"


"Iya nak, jaga kesehatan mu ya. Jangan lupa untuk berkunjung ke sini"

__ADS_1


"Iya Ayah. Do'akan Wawa ya, Wawa juga mendo'akan Ayah"


"Pasti sayang" Ayah Ali mencium kepala Zahwa


Setelah berpamitan pada semuanya, kini Azzam menunggu mobil mereka pergi di depan gerbang.


Namun, saat Akhtar akan masuk ke mobil. Azzam menarik tangan Akhtar lalu membisikkan sesuatu.


"Tar, anta tanya ga tadi "


"Tanya apa?" Jawab Akhtar bingung


"Itu... Masalah ekhem"


"Hah? Ekhem?"


"Iss.. Ustadz kok lemot. Hubungan suami istri" ucap Azzam membuat pipi Akhtar memanas


" Tidak"


"Kenapa?"


"Ya malu lah, Bang"


"Ishh.. itu adalah salah satu pertanyaan yang sangat wajib di tanyakan. Emang anta tidak pengen"


"Ya.. em..ya.. yaiyalah bang. Kan kebutuhan" jawab Akhtar gelagapan.


"Itu makanya.. gini ya, boleh kok main, asal hati-hati, jangan kebablasan. Ntar adek ana sampe pingsan, awas.."


"Astaghfirullah.. Bang.. "


"Tar, ana peduli sama anta. Karena kalau bumil itu makin berisi makin aduhai.. ana yakin anta sih ga bisa nahan. Jadi jangan nimpa anak kalian ya kalau mau main sama si baby. Hati-hati, ingat tuh, hati-hati"


"Iya..iya.. Bang. Aduh..tapi makasih banyak Bang"


"Oke, sama-sama. Udah sana, nanti Wawa kelamaan nunggu, nanyain lagi"


"Iya Bang,kalau begitu kami pamit ya. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Akhtar masuk ke dalam mobil dan membawa Zahwa meninggalkan kediaman keluarga Syeena.


***


1 jam perjalanan


Kini mereka sudah memasuki gerbang Pesantren Al-Anshor. Akhtar memasukkan mobilnya ke dalam parkiran khusus ndalem.


Ciitt...kreekk..


Akhtar menarik tuas rem tangan, tanda mobil sudah berhenti.


Mereka keluar dari mobil, sebelum berjalan Akhtar mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Huhh..semoga tidak terjadi apa-apa setelah dia tau yang sebenarnya" gumam Akhtar


"Ti-tidak Yank, ya sudah ayo masuk" jawab Akhtar gelagapan


Lalu menautkan jari-jari mereka dan berjalan memasuki pekarangan rumah.


Tok..tok..tok..


"Assalamu'alaikum..."


Tok..tok..tok..


"Yank.. sepertinya tidak ada orang" ucap Zahwa berbalik melihat pekarangan pesantren yang lumayan sepi


"Mungkin Umi se-"


Ceklek...


Ucapan Akhtar terhenti oleh suara pintu yang terbuka.


" Wa'alaikumussalam..." jawab seseorang yang baru membuka pintu


Zahwa mematung menatap seorang wanita cantik di hadapan mereka. Matanya tidak berkedip, entah dari mana bidadari ini turun ke hadapannya.


"Loh mas.. Sayang.. kamu sudah pulang" suara lembut itu terdengar jelas di telinga Zahwa.


Ia menyerngit menatap wanita itu.


'Kenapa ia menatap Akhtar dengan tatapan mesra penuh cinta. Apakah dia tidak melihat keberadaan ku disini' itulah yang ada di benak Zahwa saat ini


"Mas.. kok diam aja" suara nya sangat halus itu kembali terdengar. Ia meraih tangan Akhtar lalu menciumnya.


"Jangan di luar ya, yuk masuk ke dalam. Kamu pasti lelah kan"


Mata Zahwa semakin memanas melihat wanita itu dengan berani memeluk suaminya dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Mba.. ayo silahkan masuk" ucapnya pada Zahwa lalu membawa Akhtar masuk ke dalam


'apa ini? Kenapa Akhtar diam saja di perlakukan seperti itu?' dada nya sesak. Tetapi ia mencoba untuk baik baik saja mengikuti langkah mereka masuk ke dalam


"Aleeya sayang.. siapa yang datang??" Ucap Umi yang tiba-tiba datang


'Hah? Umi juga?'


"Ini Umi.. Mas Zi datang" jawab Wanita itu tanpa melepaskan pelukannya pada Akhtar


" Umi" Zahwa menyalim tangan Umi Alya.


"Sayang.. kamu capek ga? Mau aku buatin minum?" Tanya wanita itu manja


"Tidak terima kasih" jawab Akhtar singkat

__ADS_1


"Oh iya mas, kamu belum cium kening aku loh mas, aku udah nyalim kamu tadi. Biasanya kan gitu, kamu peluk aku lalu cium kening aku. Iya kan mas?" Wanita itu mengeratkan pelukannya


Membuat Akhtar langsung mencium kening wanita itu.


Zahwa yang menonton drama itu sudah tidak tahan lagi, dengan kasar ia meletakkan oleh-olehnya di sofa. Lalu berlari ke kamar mereka.


"Hikss..hikss.." air matanya sudah tidak tertahan lagi


Dadanya semakin sesak, melihat suaminya menyentuh wanita lain di depan matanya sendiri.


"Sayang tunggu, ini bukan seperti yang kamu pikirkan" teriak Akhtar mengehentikan Zahwa


Zahwa yang sudah akan sampai pada tangga terakhir berhenti dan menoleh sedikit ke belakang.


"Mas... Aku masih kangen tau" ucap Wanita itu sangat manja


"Hiks..hiks.. kamu jahat.. hiks.hiks.." Zahwa membuka kasar pintu kamarnya. Lalu duduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan bantal


"Hiks..hikss..."


Akhtar melepaskan pelukan wanita itu dengan kasar, lalu mengejar Zahwa ke atas.


Dan bodohnya, Zahwa tidak mengunci pintunya membuat Akhtar mudah masuk kedalam.


Akhtar langsung memeluk Zahwa dan meminta maaf.


"Sayang.. maaf.. ini bukan seperti yang kamu pikirkan"


"Hiks..hiks..pergi.. kamu jahat..hiks.." ucap Zahwa memberontak sehingga pelukan Akhtar terlebas


"Sayang.. dengerin dulu"


"Awas.. lepas hiks.. hiks.."


"Kamu dengerin dulu, saya akan jelasin"


"Hiks...hiks.. tidak ada yang perlu di jelasin lagi hiks.. hiks.. pergi..hiks.."


"Sayang.. sudah.. jangan menangis" Akhtar memeluk Zahwa dengan erat tidak peduli jika Zahwa akan memberontak


Zahwa yang sudah lelah, hanya diam dan memukul dada Akhtar.


"Hiks..hiks..kamu jahat.. hiks.." racau nya dalam dekapan Akhtar


"Hiks..hiks.."


"Hiks..hiks.."


"Sstt.. sayang kamu tenang dulu, nanti saya akan jelaskan yang sebenarnya"


"Kamu jahat.. hiks.."


"Hiks.."


Setelah beberapa saat, Zahwa mulai tenang. Akhtar menghapus air mata Zahwa di kedua pipinya.


"Hiks.." hanya isakan kecil lah yang terdengar


Tiba-tiba..


Bugh


Zahwa mendorong Akhtar sekuat tenaga hingga jatuh ke bawah. Lalu setelah itu memeluk bantal sofa itu menjaga jarak dengan Akhtar.


Akhtar yang melihat itu hanya bisa diam menunduk.


"Sayang...a- "


Zahwa memalingkan wajahnya cepat


"Ahahahaha....hahaha..." Suara tawa terbahak dari arah pintu mengalihkan perhatian keduanya, terutama Zahwa


Dahinya berkerut, menatap Aleeya yang tadi sudah berani memeluk suaminya kini tertawa terbahak-bahak


"Ahahaha... Kasian banget Kakak aku. Sini aku bantu bangun" ucapnya mendekat dan membantu Akhtar duduk di sofa


"Kakak?" Gumam Zahwa heran


"Sudah puas?" Ucap Akhtar ketus pada Aleeya


"Sangat puas.." jawab nya mendekat pada Zahwa


"Kak, aku boleh melihat wajah istrimu kan?"


"Hem" dehem Akhtar dingin


"Wah..wah..wah..Ma Syaa Allah.. mata sembab, hidung bibir merah saja istrimu tetap cantik, Kak. Nemu di mana ini, MasyaaAllah" ucapnya mengambil tissue dan me-lap muka Zahwa


Zahwa hanya menatap aneh padanya. Ia diam saja saat tangannya di raih oleh Aleeya.


"Hai Kak, perkenalkan aku Aleeya. Madu mu "


Dengan cepat Zahwa menarik tangannya.


"Eits.. salah adik ipar mu maksudnya. Hahahaha" ucapnya kembali menggenggam tangan Zahwa


Zahwa menatap tajam pada Akhtar, membuat Akhtar merinding dan segera keluar dari kamar itu.


"Sa-sayang maaf, saya keluar dulu. Leya kamu bereskan ini, kalau tidak. Awas saja" setelah itu Akhtar turun ke bawah meninggalkan mereka berdua.


Melihat Akhtar turun ke bawah dengan memegang dadanya yang berdetak kencang, wajah pucat. Membuat Umi Alya menggeleng melihatnya.


"Zi..Zi.. sudah pada besar juga masih saja tidak berubah" ucap Umi Alya


*****


Jeng..jeng..jeng...

__ADS_1


Satu kata Author 🤣🤣


Jangan tinggalin jejak yaaa ❤️❤️❤️


__ADS_2