
"ABANG....." Ucap Zahwa riang
"Iyaaa adikku sayang..." Senandung Azzam lalu mendekati Zahwa. Tangannya mengelus puncak kepala Zahwa dan menciumi keningnya.
Matanya memicing saat bertemu tatapan elang pria di sebrang nya. Dalam hati ia tertawa geli.
"Hahahaha... Cemburu saja, wajah mu tetap datar. Tapi matamu tidak bisa bohong adik ipar. Haha" batinnya tertawa jahat
Akhtar memalingkan wajahnya, tapi sesaat kemudian senyum tipis muncul di wajahnya saat merasakan tangannya di genggam dan di elus tangan lembut milik istrinya.
Azzam mendengus sebal melihat itu, kembali ia memeluk Zahwa, menenggelamkan wajah imut itu di dadanya.
Ada yang panas tapi bukan Api, Akhtar kembali meradang saat Azzam memeluk Zahwa. Tapi sebisa mungkin ia menetralkan wajahnya agar tidak terlihat seperti seorang yang sedang cemburu.
"Bang.. Istriku tidak bisa bernafas, pengap. Awas.." tegur Akhtar dengan muka datarnya.
"Wlee..." Ledek Azzam
Tapi sedetik kemudian, gelak tawa menggelegar di seluruh ruangan.
"Tidak ada yang lucu!" Ketus Akhtar
"Cup..cup..cup.. Adik ipar ku yang ganteng ini tapi lebih gantengan ane. Sedang hareudang ternyata. HAHAHA" Akhtar melengos
"Ssst.. sudah sudah. Azzam, Akhtar, ayo ikut Ayah keluar sebentar" ucap Ayah Ali
Keduanya mengangguk dan mengikuti langkah Ayah Ali keluar dari ruangan.
" Bagiamana?" Tanya Ayah Ali ketika mereka sudah keluar
"Apa Yah?"
"Jangan becanda Zam. Katakan!"
" Zam tidak tau dia siapa, tapi yang jelas. Tim kita sudah mencari tau siapa dia"
" Ternyata benar ya. Rejal atau Hareem?" Tanya Akhtar
"Hareem" singkat Azzam
"Coba selidiki lagi, apakah anta memiliki musuh atau orang-orang yang sekiranya... Apa gitu?"
__ADS_1
"Tidak ada Bang, Saya lebih banyak menghabiskan waktu di Turki bukan di Indo. Jadi saya merasa tidak miliki musuh atau semacamnya"
"Lalu bagaimana?"
"Entah lah. Kita tunggu konfirmasi dari tim penyelidikan dulu Yah"
Ayah Ali mengangguk
"Baiklah, mari kita masuk lagi. Wawa tidak perlu memikirkan ini"
Mereka mengangguk paham, setelah itu Azzam lebih dulu masuk dan menyisakan Ayah Ali yang akan menyusul
"Yah.." panggil Akhtar
" Jangan sekarang nak, ini masa lalu sudah lama. Dan Wawa hanya syok saja masuk Rumah sakit karena ia tidak pernah sakit parah sampai harus masul RS. Ayah harap kamu mengerti" ucap Ayah Ali, lagi-lagi membuat Akhtar pasrah.
***
Kini di ruang rawat kelas VVIP itu menyisakan sepasang insan yang tengah menonton acara kartun di televisi.
Zahwa sesekali cekikikan sendiri melihat kelucuan tokoh kartun yang ditontonnya. Entah kenapa ia tiba-tiba ingin menonton kartun saat melihat televisi. Ini masih hal yang masuk akal, jadi Akhtar sah-sah saja untuk menurutinya. Dan langsung mencari siaran yang menayangkan cinema special anak.
"A.." titah Akhtar mendekatkan sendok ke bibir Zahwa
Beruntungnya dia memiliki suami seperti Akhtar Qabeel AlFarizi ini. Tangannya yang bebas dari infus itu mengusap lembut rahang tegas itu dan semakin naik ke atas menyentuh pipi, alis, hidung dan berakhir di bibir tebal itu.
Akhtar merasa sedikit tidak percaya dengan sikap Zahwa, biasanya ia masih malu-malu bahkan untuk bertatapan dengannya saja, Zahwa tidak tahan berlama-lama, ia pasti akan memutus kontak matanya dan mencari objek lain yang lebih menarik untuk di lihat.
Hmm.. mungkin efek kehamilannya yang membuat ia semakin agresif akhir-akhir ini. Baiklah mari kita nikmati sentuhan manja bumil ini.
"Ada apa? Sudah kenyang? Atau mau tambah lagi?" Tanya Akhtar lembut
Zahwa menggeleng, kemudian ia meraih gelas yang langsung di bantu Akhtar dan meminumnya.
"Mau bobo..ngantuk" ucapnya manja
"Ngantuk sayang??? Tayyib, baca doa dulu, setelah itu pejamkan matanya. Saya di sini tidak pergi" tangan kekar itu mengelus lembut surai hitam dan panjang itu. Memperlakukannya seperti anak kecil yang akan di bobokan oleh ibunya.
Memang Zahwa meminta agar hijab nya di lepas, karena kepalanya pusing rambutnya di ikat seharian. Akhtar memperbolehkannya, tapi sebelum itu ia sudah meminimalisir resiko yang akan terjadi, seperti meminta kunci ruangan ini, menutup segala akses untuk mengintip dari luar, dan yang paling penting ia menyiapkan bel bagi siapa saja yang akam masuk. Baik itu perawat atau bukan.
Lagi-lagi Zahwa menggeleng, membuat Akhtar kembali menyerngit bingung
__ADS_1
"Kenapa hem? Ada yang sakit?" Tanya lembut
"Peluk" rengek Zahwa mendayu. Ia tidak bisa tidur jika tidak membentur dada bidang yang pelukable itu dan mencium aroma semerbak dari tubuh gagah yang sangat di sukainya itu. Lagi pula disini hanya ada mereka berdua, seluruh keluarga mereka pulang beberapa jam yang lalu.
"Hem... Gemesh banget sih. Sebentar" Akhtar menyempatkan mencium pipi cubby Zahwa sebelum beranjak mengunci pintu ruangan itu tak lupa menutup rapat seluruh jendela dan membentangkan tirai sehingga tidak menyisakan celah sedikitpun.
Setelah semua di rasa aman, ia mendekati istrinya dan memperbaiki posisi tidur Zahwa rerlebih dahulu. Kemudian ia naik setelah menyetel ranjang. Ia berbaring menyamping dan menarik kepala Zahwa berbantalkan lengannya.
"Ssshhh..." Desis Zahwa
"Kenapa sayang?? Ada yang sakit? Saya melukai mu?" Tanya Akhtar panik
"Tidak, tidak. Aku hanya kesusahan menggeser badan ku sayang.. rasanya kaku sekai berbaring di sini seharian "
"Hufttt.. Queen saya khawatir kamu kenap-napa. kalau ada yang sakit, cepat katakan. Okey?" Zahwa mengangguk antusias
Setelah itu ia mulai membenamkan wajah Zahwa di dadanya dan melingkari pinggang wanita itu. Sesekali menciumi kening dan pucuk kepala wanita yang sangat di cintainya.
Tak lama kemudian, deru nafas teratur dan badan yang perlahan melemas ia rasakan dalam pelukannya, itu tandanya istrinya ini sudah masuk ke alam mimpi.
Ia mengeratkan pelukannya tapi tetap menjaga jarak aman dengan perut sang istri. Menggesekkan beberapa kali hidung mancungnya ke rambut harum itu. Dan berakhir menempelkan pipinya di sana.
Tatapannya sendu menatap kosong ke sembarang arah. Pikirannya tak menentu, hatinya juga selalu berdebar. Ia sangat mengkhawatirkan keluarga nya terlebih istrinya
"Sebenarnya siapa yang ingin mencelakai mu sayangku. Siapa yang ingin mengusik kehidupan rumah tangga kita. Queen, apa pun itu saya tidak akan membiarkan terjadi apa-apa lagi padamu. Tidak ada yang lebih berharga di banding hidup kalian berdua saat ini. Percayalah sayang.. saya sangat mencintai mu" batin Akhtar sebelum ia memejamkan matanya menyusul sang istri.
***
Sedangkan di ruangan lain, seorang wanita menggebrak meja di depannya. Sehingga membuat dua orang di belakangnya terjengat kaget.
Kilatan amarah terlihat jelas di matanya, wajahnya memerah padam, tangannya terkepal kuat dan siap meninju apa saja jika ia ingin. Giginya bersatu keras dan ..
"****! Dia berhasil meretas data ku. Berani-beraninya dia mencoba menangkapku. Aku tidak akan mati sebelum Abil jatuh kedalam pelukan ku. Tidak ada yang boleh memiliki nya selain aku. TIDAK!! HAAAAARRRGGGGHH!" jeritnya histeris
Namun berselang lama, suara tawa menggelegar terdengar sangat menakutkan mengepung udara di ruangan itu.
"HAHAHAHA"
"Kalian itu berhasil, tapi bodoh. HAHAHA. Gaya-gayaan ingin melacak keberadaan ku, apa mereka pikir setelah itu bisa menangkapku? HAHAHA, cuih" ia tertawa jahat, menatap remeh pada monitor persegi itu.
"Heh, kalian! Cepat ganti dan pindahkan data asli ke brankas data pribadi milik ku" titah nya kepada dua orang bodyguard sekaligus IT yang ia sewa untuk memalsukan data dirinya.
__ADS_1
"Baik, Nona. Siap laksanakan" patuh mereka langsung menarik kursi dan menjalankan perintah dari sang girlboss
Jangan lupa tinggalin jejaknya