Salah Khitbah

Salah Khitbah
72. SK 2 : PAGI YANG INDAH TAPI MENYEBALKAN


__ADS_3

***


Azzam mendekat pada Akhtar dan berbisik


"Bagaimana semalam? Anta tidak menyakiti adik ku kan? Oh iya baju nya berguna tidak??" Ucap Azzam dengan senyum menggoda


Blush!


Akhtar memerah seketika.


Azzam menahan tawa nya melihat Akhtar menunduk. Dan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal


***


Di rumah


"Bunda..Zahwa nya koq ga keliatan" tanya Linda sudah siap dengan mukenanya.


" Mungkin sebentar lagi turun" jawab Bunda Fatimah tersenyum


Namun yang di tunggu-tunggu tak juga turun. Hingga mereka selesai sholat Zahwa juga belum nampak batang hidung nya.


Sedangkan di kamar.


Zahwa baru terbangun dari tidur nya. Ia tersenyum saat menyadari dirinya kembali berada di atas ranjang.


Ia melihat jam di dinding. Ia matanya melebar waktu subuh sudah lewat.


"Ya Allah..pasti kalau aku turun semua akan meledek ku " gumam Zahwa frustasi.


Ia merapihkan ranjangnya lalu membersihkan dirinya. Setelah selesai dengan ritual mandinya. Ia menatap dirinya di cermin.


"Bismillah..Wawa kamu bisa, kalau ada yang meledek mu tidak usah di tanggapi. Jangan sampai salah tingkah" ucap Zahwa berbicara pada dirinya sendiri lewat cermin.


Setelah merasa dirinya siap ia turun ke bawah.


Ia melihat semua orang sedang berada di dapur. Kehadirannya langsung di sambut godaan oleh Dini si peka.


"Wahh...pengantin baru udah turun guys..." Teriak Dini


"Akhirnya nongol juga, Zahwa ngapain aja di kamar mulu dah. Mentang-mentang pengantin baru" ledek Linda


"Kak, koq di pake hijab nya. Nanti rambutnya bau loh, masih basah 'kan? koq udah di tutup" celetuk Zahra


"Aww...Bunda sakit" pekik Zahra saat mendapat pukulan pelan dari Bunda Fatimah di lengannya


"Zahra bisa aja ngomong nya gitu" ucap Bunda Fatimah menggeleng kan kepalanya.


" Nak, sini jangan diam saja" panggil Umi Alya


"Emm, iya Umi" Zahwa mendekat dan berdiri di samping Helwa yang sedang memisahkan sayur dari batang nya.


"Capek banget ya dek. Sampe kesiangan" bisik Helwa dengan senyum jahil nya.


Sedangkan yang lain yang mendengar itu terkekeh geli melihat Zahwa yang memerah


"Iya Kak. Capek" ucap Zahwa sekenanya.


"Ahahaha" Zahra, Linda dan Dini tidak bisa menahan tawanya.


"Iya capek bener, hanya akad saja kalian sampai ngundang kerabat 1 kabupaten. Dan kalian juga tidak ada memberikan aku makan, kalau bukan karena suamiku yang membawa makanan mungkin aku juga lupa makan karena kalian, huh" batin Zahwa bersungut-sungut kesal


Zahwa mendengus kesal, ia hentakkan kaki nya dan beralih memeluk sang Bunda


"Bunda..." Rengek Zahwa


"Apa?" Tanya Bunda Fatimah terkekeh


"Itu..lihat mereka" ucap Zahwa manja


"Kenapa sih Wa. Atau jangan-jangan itu benar ya" ucap Bunda Fatimah menggoda Zahwa


"Ihh...Bunda.." rajuk Zahwa ketika Bunda Fatimah juga ikut-ikutan


"Hey..malu tuh sama mama mertua. Ahaha"


Mendengar itu Zahwa menatap Umi Alya yang sedang menata hidangan yang sudah jadi.


"Ehehehe..maaf Umi" Ucap Zahwa mendekat pada Umi Alya


"Tidak apa-apa sayang.. sini" Ucap Umi Alya merangkul Zahwa


"Hemm Umi baik, tidak seperti kalian bisa nya meledekku saja" ucap Zahwa dengan senyum bangga


Namun seketika senyum itu memudar saat Umi Alya melanjutkan kata-katanya

__ADS_1


"Apa anak Umi menyakiti mu tadi malam?"


"Ahahahahaha" semua tertawa


"Ihh..Umi..kalian semua sama saja" ucap Zahwa memanyunkan bibir nya


Ia duduk dan tertunduk. Tak terasa pandangan nya blur, mata nya memanas dan siap-siap meneteskan air mata.


Ia merasa sedih, pasti suaminya kecewa padanya. Ia merasa bersalah belum bisa melaksanakan kewajibannya memberikan hak suaminya. Ia sangat malu pada suaminya, apa lagi ia yakin bahwa Azzam juga akan menggoda suaminya seperti nya dilakukan Azzam padanya. Entah bagaimana perasaan suaminya saat ini.


"Assalamu'alaikum..." Terdengar suara para kaum adam dari pintu.


Zahwa segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah pintu.


Para istri mendekati suami masing-masing dan menyambutnya.


"Nak Bunda boleh minta tolong kan"


"Tentu saja Bunda" ucap Zahra, Linda dan Dini kompak.


" Sedikit lagi tolong di lanjut nya, Bunda mau ke Ayah dulu"


"Siap Bunda" kompak mereka menghormat pada Bunda Fatimah.


"Baiklah terimakasih ya" ucap Bunda Fatimah tersenyum


"Zah..pergi sono sambut tuh suami nya. Kasian sendiri ga ada yang nyambut " ucap Dini dengan bada meledek di ujung kalimatnya


"Huh" dengus Zahwa yang masih kesal lalu dengan pelan ia melangkah mendekati Suaminya.


Yang lain sudah ke kamar masing-masing, tinggal lah Akhtar dan Zahwa yang masih di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Zahwa


Ia mencium punggung tangan Akhtar yang sudah menggantung di udara. Akhtar tersenyum samar.


Akhtar meninggikan lehernya untuk melihat sekitarnya terlebih dahulu. Setelah di pastikan tidak ada orang. Ia menarik pinggang Zahwa lalu mengecup puncak kepalanya dan mencium keningnya.


Baik Zahwa atau Akhtar sama-sama memejamkan mata merasakan darah yang berdesir. Setelah itu mereka pergi ke kamar.


"K-kak..eh Bib, i-ini pakaiannya. Di ganti dulu" ucap Zahwa menyodorkan sebuah pakaian pada Akhtar


Zahwa berjalan ke balkon kamar nya. Ia menikmati semilir embun pagi di sana. Memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam.


Menatap hamparan rumput hijau yang membentang.


Tubuhnya menegang kala merasakan sesuatu yang melingkar di perutnya. Juga kepalanya yang di timpa sesuatu. Ia hanya diam saja saat kepalanya di kecup berkali-kali.


Air matanya menetes, tak sengaja mengenai tangan suaminya.


"Kamu menangis sayang?" Tanya Akhtar masih belum mengubah posisinya .


Zahwa menghapus air matanya. Dan memberanikan diri berbalik menghadap suaminya.


"B-bib.." ucap Zahwa pelan, suara sedikit serak


"Ya sayang.." hati Zahwa tersentuh plus merona saat mendengar jawaban lembut yang keluar dari mulut suaminya.


"Maaf" lirih Zahwa menunduk


Diam!


"M-maaf Bib"


Tes buliran bening itu kembali terjatuh.


"Untuk apa?"


Zahwa mendongakkan kepalanya memberanikan diri menatap Akhtar


"U-untuk...untuk.."


"Hm?"


"Maaf aku belum bisa melaksanakan kewajiban ku" lirih Zahwa malu. Sebenarnya berat untuk mengatakannya, rasa malu, bersalah juga tak enakan bercampur jadi satu.


" Kata siapa?"


"E-e-emm.."


"Tatap saya" titah Akhtar


Dengan wajah masih memerah ia menatap Akhtar. Sebenarnya Akhtar ingin terkekeh lucu melihat wajah istrinya saat ini. Pipi basah dan merona.

__ADS_1


Zahwa tak sanggup, ia berniat untuk memalingkan wajahnya lagi. Namun secepat kilat, Akhtar menahan dagu nya. Dan menghapus air matanya.


" Kata siapa hm? Kamu tidak salah, kamu menjalankan kewajiban mu dengan baik. Kewajiban seorang istri terhadap suaminya tidak hanya melayaninya di ranjang, sayang. menyiapkan pakaian, keperluan, menyenangkan hati suami juga sudah masuk dalam kewajiban. Dan kamu sudah melakukan itu" ucap Akhtar


"Benarkah?"


"Hemm"


"Ta-tapi.."


"Tidak semua pasangan pengantin baru akan langsung melakukan itu di malam pertama nya, sayang."


Blush! Zahwa membenamkan kepalanya ke dada Akhtar, menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Tanpa Zahwa sadari, Akhtar tersenyum manis di atas nya. Ia memeluk Zahwa menenangkannya.


"Apa masih ada yang mengganjal di hati mu, Queen??"


Zahwa menggeleng.


"Terimakasih, Terimakasih karena mengerti keadaan ku" ucap Zahwa


" Sama-sama. Akan ada saat itu terjadi"


"Biib..." Rengek Zahwa memukul pelan dada Akhtar yang masih saja menggodanya.


"Apakah dia berfikir aku sangat menginginkannya, huh menyebalkan" gumam Zahwa dalam hati


Akhtar terkekeh kecil


"Boleh saya tanya sesuatu?"


"Apa?" Zahwa mendongak


"Tadi pagi mimpi kasur nya pindah ya?" Tanya Akhtar dengan jail nya


"Iihh..Biib..." Zahwa menutup wajahnya dengan kedua tangannya


" Dapet keberanian dari mana?" Ucap Akhtar semakin gencar menggoda istrinya


" Tidak ada. Hanya kebetulan saja. Besok tidak lagi" ucap Zahwa sedikit cemberut


"Oh ya? Baiklah. Tapi setiap hari juga boleh"


"Ha?"


"Saya suka" ucap Akhtar. Dengan cepat ia menyambar pipi Zahwa dan mengecupi bakpao itu bergantian.


"Ahahaha udah Bib..udah.." pinta Zahwa karena tidak bisa keluar dari pelukan suaminya.


Akhtar menghentikan kegiatannya dan mencium singkat kening Zahwa. Setelah itu ia melepaskan pekulannya.


"Ayo Bib kita turun sekarang, nanti semua orang menunggu" ucap Zahwa yang baru sadar waktu, berjalan di depan.


Merasa tidak ada yang mengikutinya ia berhenti


"Bib..Ayo" ucap Zahwa berbalik


Ia menatap aneh suaminya yang masih berdiri bersandar di balkon dengan tangan di kedua sakunya, kaki menyilang dan pandangan tertuju padanya.


Di lihat seperti itu Zahwa menjadi salah tingkah.


"Ayo Bib..semua orang sudah menunggu.." ajak Zahwa kembali. Alasan menghilangkan kegugupannya.


Akhtar melirik lengan kirinya. Dan akhirnya Zahwa mengerti, ia mendekat lalu melingkarkan tangannya ke lengan suami nya.


Akhtar mengecup singkat pipi Zahwa lalu mereka berjalan beringingan keluar dari kamar menuju meja makan


_


_


_


_


_


_


Jejaknya jangan tinggal bunda.


Semiga puasanya lancar yaa. Kahfi time jangan lupa💙


Tabarakallah💙

__ADS_1


__ADS_2