
Malam pun tiba, kini anak-anak sudah duduk di mejanya masing-masing. Mereka duduk dengan tertib menunggu makan malam di hidangkan.
Tak lama kemudian Zahwa dan Akhtar turun dari lantai atas dan melihat semua anak- anak sudah berkumpul.
"Bubu... " Panggil si anak lelaki bermata biru . Zahwa tersenyum melambaikan tangannya kenapa anak tersebut.
Akhtar melepaskan gandengan Zahwa dan berjalan mendekati meja mereka. Dengan penuh kasih sayang Akhtar mencium pucuk kepala anak-anak tersebut satu per satu. Dan bagi yang sudah dapat ciuman maka akan membalas kecupan di pipi Akhtar. Tetapi untuk anak perempuan mereka hanya memeluk Akhtar saja.
Hati Zahwa terasa adem melihatnya. Lengkungan tipis tercetak di bibirnya saat menyaksikan hal manis di depannya kini.
Makanan sudah di hidangkan mereka makan dengan tertib dan ber-adab. Zahwa kembali tersenyum takjub melihat kepatuhan dan sikap anak-anak tersebut.
"A.."
Zahwa menoleh lalu menerima suapan dari Akhtar. Ya mereka makan di satu piring dan satu gelas. Tapi mereka makan dengan tangan Akhtar. Zahwa menurut saja ia di suapi oleh suaminya.
Setelah sholat Isya, seluruh anak-anak tersebut kembali pulang ke panti asuhan. Mobil panti sudah menunggu dari tadi.
Mereka menyalami dan mencium Zahwa sebelum mereka pergi, tak lupa berpamitan kepada dedek bayi.
Mereka serentak mengangguk saat menerima nasihat dari Akhtar. Jika ini adalah jadwal tidur mereka di temani Akhtar, mulai saat ini mereka harus terbiasa tidur tanpa Akhtar. Karena Ayah mereka kini sudah memiliki istri yang secara tidak langsung menjadi Ibu mereka.
"Setelah di tinggal selama setengah tahun di Indonesia, saya yakin mereka sudah terbiasa tidur tanpa anda, Pak" ucap sang ibu pengasuh
"Saya harap juga begitu, Bu. Saya titip anak-anak bantu saya merawat mereka ya Bu" ucap Akhtar
"Sudah menjadi tugas saya Pak" ucap ibu tersebut hormat
Setelah itu ia pamit dan naik ke mobil. Perlahan lahan mobil panti mulai meninggalkan halaman rumah Akhtar menuju Panti Asuhan.
***
"Yank... Kamu mendirikan panti asuhan berawal dari mana?" Tanya Zahwa menyenderkan kepalanya ke bahu Akhtar
"Mau dengar?" Lirik Akhtar sambil terus mengelus perut istrinya yang menghadap bintang di langit, kakinya terus mengayunkan ayunan yang terletak di teras atas tersebut.
"Mau mau mau" ucap Zahwa antusias
"Dulu, saat pertama kali saya kuliah disini. Saya sering bertemu anak-anak jalanan yang terlantar di pinggiran jalanan belakang kampus. Memang banyak yang bersedekah kepada mereka. Tapi mereka masih kecil dan mereka pasti memiliki rasa ingin dan rindu pada kasih sayang orang tua dan sekolah.
Saat itu saya sudah merintis usaha saya di sini. Sejak ada waktu luang saya akan menyempatkan waktu untuk bermain dan membuat mereka puas bisa menikmati masa-masa kecil mereka. Tidak peduli seberapa banyak biaya yang saya keluarkan, niat saya hanya satu, membahagiakan anak-anak yatim itu dan memberikan kehidupan yang layak pada mereka" Zahwa mengecup pipi Akhtar sesekali. Ia sangat bangga memiliki suami yang sangat baik hatinya.
"Dan MasyaaAllah Tabarakallah sejak saya merawat mereka, rezeki saya selalu di permudah dan di perlancar oleh Allah.. mungkin itu adalah balasan dari Allah atas seutas senyum yang saya usahakan muncul di wajah mereka. Dan benar, sejak saat itu saya mengembangkan usaha saya dan ketika dananya cukup saya membangunkan sebuah panti asuhan. Mereka tinggal di sana, sampai sekarang masih ada yang menitipkan anaknya ke panti asuhan"
"Mereka memang tidak punya orang tua ya Bib?"
"Saya sudah selidiki, beberapa ada yang masih punya dan sebagian besar memang tidak punya"
"Lalu yang masih punya bagaimana?"
__ADS_1
"Saya mendatangi orang tuanya, dan alhamdulillah mereka mau menerimanya"
" Humm..."
"Mau tanya apa lagi?"
"Tidak ada"
"Baiklah kalau begitu saya yang bertanya"
"Mau tanya apa ?"
"Apakah kamu..."
"Hemptt" Zahwa tiba-tiba mual
"Kenapa?"
" Hemmppt...huuftt..," Zahwa mengehmbuskan nafasnya perlahan
"Kita masuk ya" ajak Akhtar karena memang udara di luar akan semakin dingin
"Hmm"
Ketika sudah sampai di lantai dua, Zahwa tiba-tiba berhenti
"Aku mau mie"
"Loh? Tadi kita udah makan banyak loh"
"Mauu miee.." rengek Zahwa
Akhtar mengerjapkan matanya menatap Zahwa, sedetik kemudian dia kembali merubah ekspresinya.
"Mau mie tapi yang manis"
"Hah? Bagaimana itu mie tapi manis"
" Mau mie, titik" ucap Zahwa tiba-tiba merajuk
"Eh.. eh.. iya iya... Kamu duduk di sini ya.. biar saya buatkan"
"Perasaan tidak pernah begini, kok tiba-tiba permintaannya aneh" batin Akhtar sambil berjalan ke dapur.
Akhtar membuka lemari dan mengambil semua bahan-bahan yang di perlukan. Setelah itu ia mulai mengeksekusi seluruh bahan yang di depannya.
Zahwa merasa jenuh hanya duduk menunggu Akhtar. Ia turun mengelilingi rumah, dan berakhir di ruang keluarga. Ada televisi dan dua kuri pijat disana.
Zahwa menghidupkan televisi dan duduk di kursi pijat sambil menonton.
__ADS_1
"Hahh... Pegal-pegal nya langsung ilang" ucap Zahwa pelan menikmati pijatan di seluruh badannya.
Sesekali ia tertawa melihat aksi lucu yang di tampilkan di layar televisi, sesekali ia juga marah dan mengomel-ngomel sendiri ketika menyaksikan peran antagonis memainkan perannya.
Yaa Bumil cantik, nikmatilah waktu mu. 😌
Lima belas menit kemudian, mie sudah matang. Persis sesuai dengan keinginan Zahwa. Akhtar menambahkan segelas susu untuk sang istri tercinta. Ia membawa nampan ke tempat Zahwa duduk tadi.
"Yank... Yank..."
"Sayang..." Akhtar panik saat Zahwa tidak ada
Ia mencari Zahwa ke seluruh ruangan bahkan ke kamar pun tidak ada.
"Yankkk..." Seru Akhtar
" Queenn... Dimana?"
Akhtar dengan cepat menuruni tangga dan mencari di setiap ruangan.
"Yank... Sayang..." Jantung Akhtar berdetak cepat.
Dimana istrinya itu berada.
Tersisa satu ruangan lagi yang Akhtar belum periksa.
"Ruang olahraga!"
Dengan langkah besar Akhtar pergi men-cek ke ruang olahraga. Berharap istrinya itu benar-benar ada di dalam rumah ini.
"Sayang...!"
"Astaghfirullah.. pergi kemana kamu Yank.." lirih Akhtar saat tidak ada siapa-siapa di ruang olahraga.
Tangannya sudah bergetar memegang nampan berisi mie permintaan istrinya ini. Bahkan susu yang ada di gelas sudah bertumpahan di pinggir-pinggirnya.
Akhtar menoleh ke ruang televisi. "Mungkin Bibi lupa mematikan tv saat anak-anak sudah selesai menonton tadi" batin Akhtar
Ia berjalan ke sana berniat ingin mematikan tv yang masih menyala.
"Ahahahha"
Langkahnya terhenti saat melihat orang yang ia cari sejak tadi sedang duduk bersantai di balik kursi pijat.
.
.
maaf bolong up author sering ketiduran, jaringan juga sering lola, dan hp author lagi masa nge-lag² nya. 🙏🏻
__ADS_1