
Hari berganti hari, bulan pun silih berganti bulan. Usia kandungan Zahwa pun sudah memasuki bulan terakhir tinggal menunggu beberapa hari lagi sebelum waktunya ia melahirkan.
Kondisi Zahwa yang kemarin sudah sampai di telinga seluruh keluarga, membuat mereka khawatir dengan keadaan Zahwa. Jadi seluruh keluarga berencana akan terbang ke Turki saat usia kandungan Zahwa memasuki delapan bulan. Ibu juga Ibu mertuanya ngotot ingin ikut serta menjaga putri mereka.
Namun, Qadarullah keberangkatan mereka harus tertunda karena ada halangan juga acara penting.
Sebulan yang lalu, Zahra resmi telah lamaran dengan Ustadz Fakhri. Karena semua keluarga sudah setuju juga sudah saling cocok, agar tidak menimbulkan fitnah di antara keduanya mereka setuju menerima lamaran Fakhri yang datang bersama keluarganya.
_ _ _ _
FLASHBACK ON
Tiga minggu setelah hari ulang tahun Zahra, ia mendapat kabar bahwa Ustadz Fakhri sudah kembali dari luar kota. Seminggu setelahnya, Ustadz Fakhri dan Ibunya datang bersilaturrahmi ke rumah Syeena setelah sebelumnya mereka bertemu dengan Ayah Ali juga Bunda Fatimah di jalan dan menawarkan agar mereka main ke rumah Syeena. Fakhri tidak bisa langsung menyetujui karena ia belum yakin bahwa ada jadwal kosong untuknya minggu ini.
Mereka mengiyakan tapi tidak memeberitahu pasti kapan mereka akan datang.
Tepat di saat Zahwa tengah bersantai di ruang tv bersama Humairah, bel berbunyi pertanda ada tamu yang datang. Zahra buru memakai khimarnya, lalu berjalan ke pintu, membukanya untuk mengetahui siapa yang datang.
"Wa'alaikumussa-" ucapan Zahra menggantung ketika siapa orang yang berada di hadapannya saat ini.
"K-kak Fakhri" ucapnya lirih
"Siapa Zahra?" Tiba-tiba suara Bunda Fatimah menyahut di belakang dan berjalan mendekati pintu.
"Loh.. kok ada tamu tidak di suruh masuk nak?" Tanya Bunda Fatimah menggeleng kepala
"Emm.. ee... Yuk mari masuk Kak, Ibu.." ucap Zahra sopan.
Fakhri dan Ibunya tersenyum "Terimakasih Dik" "Terimakasih nak"
Setelah di persilahkan masuk mereka kemudian di persilahkan duduk. Tak lama kemudian Ayah Ali datang bergabung.
Selama tiga jam bereka bersilahturrahmi ke rumah Zahra hingga akhirnya mereka pulang. Sejak kedatangan tamu, Zahra sama sekali tidak ingin keluar kamar setelah menyajikan teh dan cemilan untuk mereka.
Saat makan malam selesai, Zahra langsung beranjak dari kursinya tapi titah Ayah Ali menghentikannya.
"Tidak ada yang meninggalkan meja makan" keduanya menatap Ayah Ali lalu Zahra kembali duduk seperti semula.
"Zahra? Tau alasan nak Fakhri datang ke sini?" Zahra menggeleng. Karena sesungguhnya ia pun sangat terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba tiba.
"Mau silaturrahmi biasa 'kan?" Jawab Zahra
__ADS_1
"Jadi, Ayah langsung saja, Nak Fakhri mempunyai niat dan i'tikad baik untuk mengenal Zahra lebih jauh" Zahra semakin serius mendengar ucapan Ayah Ali.
"Tapi... Ayah juga tau kalau kalian itu sudah lama mulai saling kenal mengenal, oleh karena itu Ayah meminta pertanggung jawabannya apakah ia bersedia meminta Zahra langsung kenapa Ayah dan Bunda "
Zahra diam mematung, "apakah ini mimpi?" Batinnya
"Ayah bilang apa?" Tanya Zahra penasaran
"Ayah menentukan tanggal lamaran dua minggu lagi dan mereka setuju"
"Secepat itu?" Tanya Zahra tak percaya
"Lebih cepat lebih baik"
"T-tapi..."
"Ayah tau apa yang ada di pikiran mu, nanti Ayah atur jadwal untuk kalian berbicara dengan di dampingi Kakak mu Azam juga Helwa" Zahra mengangguk setuju
"Sudah nak, kamu ke kamar saja, Biar Bunda yang membereskan mejanya"
"Ti-tidak apa-apa Bunda, biar Zahra bantu"
Usai membersihkan meja makan dan mencucumi seluruh piring kotor, Zahra izin masuk ke kamar. Ia menghidupkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Zahwa.
"Kenapa aku menjadi bimbang ? Gumam Zahra sambil mondar mandir di depan meja toiletnya. Sejenak ia menatap pantulan dirinya di cermin, berkaca seraya bertanya pada hatinya "apa yang membuat ku ragu?"
"Akhh...mungkin aku hanya sedikit gugup" ucap Zahra pelan
Benar saja, tinggal seminggu lagi sebelum hari khitbah, team dari Butik Al-Qaf sudah berangkat ke rumah Syeena untuk menyimpat ukuran seluruh anggota keluarga.
Tiga hari sebelum hari H, baju persatuan sudah di kirim kerumah Syeena. Zahra yang dulu sangat antusias belakangan ini menjadi pendiam.
Entah karena ia yang tak bisa mengatasi kwgugupannya atau ia yang kembali meragukan hatinya. Oleh karena itu, setiap malam Zahra selalu shalat Istikharah untuk memantapkan hatinya.
Malam ini adalah malam terakhir, untuk benar-benar meyakinkan dirinya, Zahra kembali bermunajat kepada sang Khalik. Entah apapun itu, yang pasti Zahra ingin semua berjalan lancar besok.
.
Keesokan paginya, semua persiapa sudang rampung. Tinggal menunggu acara di mulai. Zahra yang sudah selesai di rias tipis di dudukkan di sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat acara.
Ketika keluarga Fakhri datang, barulah acara di mulai. Rangkaian kata demi kata sudah mengawali acara. Kini saatnya acara inti, dimana Ustadz Fakgri dengan sigap berbicara lugas kepada Ayah Ali, meminta Zahra untuk ia pinang sebagai istrinya.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Ayah Ali meminta Zahra agar bergabung di tengah-tengah mereka. Helwa datang membawa Zahra yang terus menunduk, lalu mengarahkannya agar duduk di tengah-tengah Ayah Ali juga Bunda Fatimah.
Tangannya berkeringan dingin, langkah kakinya juga sedikit bergetar. Jantungnya berdegup tak terkendalikan. "Tolonglah.. ini baru khitbah tapi aku sudah se-tremor ini.. huwaaa" batin Zahra menjerit
"Karena putri saya sudah berada disini, biarlah Zahra yang memberikan jawaban mengikuti kata hatinya. Saya sebagai seorang Ayah bangga putri saya di minta oleh pria baik-baik seperti nak Fakhri"
"Dik Zahra.. Kakak di sini mempunyai niat baik. Niat yang insyaaAllah menggapai Ridho-Nya. Dik Zahra... Bersediakah Adik menerima pinangan kakak, menjadi khadijah dalam hidup Kakak dan menjadi Umma dari calon anak-anak kita kelak?"
Deg
Deg
Deg
"Bismillahirrahmaanirrahiim... Terimakasih karena Kakak sudah memilih Zahra sebagai calon pendamping hidup Kakak. Atas izin Allah...dan restu Ayah, Bunda, juga kedua Kakak Zahra......"
Semua orang menahan bafas menunggu jawaban Zahra. Terlebih Fakhri yang merasakan tegang di seluruh tubuhnya menanti jawaban sang kekasih hati.
"Zahra siap menjadi calon istri Kakak"
Fyyuhhh...
"Alhamdulillah... Barakallah" seru seluruh orang yang berada dalam ruangan
Zahra telah menerima pinangan Fakhri, dan Fakhri telah lega di terima oleh Zahra. Keduanya sedikit merasa lega, tapi tidak dengan kebahagian penuh. Karena ini adalah awal dimana mereka akan di uji, di tes dengan yang namanya ujian menjelang pernikahan.
Tak dapat di pungkiri ujian sebelum menikah itu sangat banyak, bahkan tak sedikit calon pengantin yang ingin menyerah di tengah tengah ujian tersebut.
Setiap orang mendapatkan masalah yang berbeda, namun hal yang paling umum adalah ketika saat hari pernikahan semakin dekat, semakin banyak sifat asli pasangan yang akan keluar, omongan keluarga di belakang juga cukup mengguncang si pengantin. Dan puncaknya adalah saat adanya keraguan calon pengantin untuk lanjut menikah bahkan memilih tidak jadi menikah. Naudzubillah..
Semoga mereka dapat melalui ini semua sampai tiba akhirnya mereka sah menjadi sepasang suami istri.
Zahra dan Ustdaz Fakhri dipersilahlan berdiri, Ibu Ustadz Fakgri memasabgkan cincin kepada anaknya juga pada Zahra. Setelah itu mereka menyalaminya bergantian. Acara terus berlanjut, tanggal pernikahan sudah di tetapkan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, mereka sepakat Akad nikah akan di laksanakan 6 minggu lagi.
Ini semua di putuskan oenuh dengan pertimbangan, karena mereka merujuk pada kondisi Zahwa yang di perkirakan akan lahiran satu bulan lagi.
Permintaan Zahra jua yang tidak ingin menikah tanpa di saksikan langsung oleh Kakak perempuannya.
Seluruh pendapat dan sanggahan sudah di finalkan, dan hasil akhir sudah di tentukan. Mereka akan menikah dua bulan lagi.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
- - - - -
Seperti acara sebelumya, Zahwa dan Akhtar akan ikut serta hadir dalam acara walaupun lewat virtual. Mereka bersama-sama mendoakan adik adik mereka.